Belajar dari Ayub (Ayub 1-2)

Kisah Ayub merupakan kisah legendaris (bukan legenda) dari seorang manusia yang bertahan menghadapi badai kehidupan yang dahsyat. Sumber pembelajaran yang sangat berharga tentang realita kehidupan yang komprehensif, karena bukan saja memunculkan sudut pandang manusia tetapi juga perspektif surga yang ternyata tidak pernah kehilangan kontrol atas peristiwa-peristiwa dalam dunia ini. Semoga lewat renungan tokoh yang luar biasa ini kita dibekali untuk menghadapi tantangan hidup dalam iman kita kepada Kristus.

Ayub dan harta kekayaannya (1:1-3)
Narator (penulis kitab ini) memperkenalkan tokoh utama kitab ini sebagai seorang yang berasal dari kota Uz dan ia bernama Ayub. Letak persisnya kota Uz tidak dapat diketahui dengan jelas. Kemungkinan nama tersebut adalah nama umum untuk menyebutkan daerah Near East (Timur Dekat, daerah ini mencakup daerah Timur Tengah Kuno pada masa-masa bapa-bapa patriakal). Sementara itu, nama Ayub sendiri tidak memiliki arti yang khusus atau memiliki arti yang tidak jelas. Jadi kedua keterangan awal dari narasi ini bukanlah keterangan yang penting tentang tokoh tersebut (Job is of uncertain meaning, Uz of uncertain location). Namun keterangan yang penting dan dicatat berulang-ulang mengenai tokoh ini adalah karakter moralnya. Ia adalah seorang yang “saleh dan jujur; ia takut akan Allah dan menjauhi kejahatan.” Kalimat ini dituliskan sebanyak 3 kali; 1x disebutkan oleh narator, 2x diucapkan oleh Tuhan. Jadi karakter Ayub tersebut merupakan suatu penekanan, karakter yang dinilai sangat baik oleh Tuhan, sehingga ia dibanggakan oleh Allah dihadapan Iblis. Tidak ada tokoh Alkitab yang lain yang dibangga-banggakan oleh Tuhan di hadapan iblis, selain dari pada Ayub. Kualitas-kualitas inilah yang digunakan oleh narator untuk menjelaskan karakter moral Ayub yang sebenarnya. Harta kekayaan Ayub yang paling utama bukanlah materi yang berada di luar dirinya, tetapi apa yang ada di dalam dirinya.

Selain catatan karakter yang luar biasa, terdapat beberapa catatan lagi mengenai apa yang dimiliki oleh Ayub. Ia mendapatkan 7 orang anak laki-laki dan 3 orang anak perempuan. Selain itu ia juga mempunyai banyak harta kekayaan, di antaranya: 7000 kambing domba, 3000 unta, 500 pasang lembu, 500 keledai betina dan banyak budak-budak. Oleh karena banyaknya harta Ayub, maka ia menjadi orang yang terkaya di daerah Timur. Ayub digambarkan sebagai orang yang sangat kaya dan tidak ada yang lebih kaya dari pada Ayub. Jadi besar kemungkinan Ayub juga sangat terkenal di seluruh daerah Timur. Ayub 1:10 menerangkan bahwa baik anak-anak maupun harta beda dan segala miliknya berasal dari Allah. Namun isteri Ayub tidak termasuk di dalamnya. Satu-satunya catatan tentang isteri Ayub adalah pada waktu Ayub terkena barah busuk dan telah kehilangan semua harta yang dicatat pada bagian pertama ini. Pada saat itu isteri Ayub bukannya mendukung justru sebaliknya menyuruhnya menghujat Allah dan mati (Ayub 2:9).

Ayub dan anak-anaknya (1:14-5)
Selain keterangan mengenai diri Ayub, kitab ini juga mengisahkan anak-anak laki-laki Ayub memiliki kebiasaan berpesta. Mereka suka berkumpul secara berganti-gantian dan menikmati makan dan minum bersama-sama dengan mengundang saudari-saudari mereka. Sebagai orang saleh yang takut akan Tuhan Ayub “menjaga” anak-anaknya dari kesalahan dengan cara datang kepada Allah dengan persembahan korban. Ia memohon pengampunan kepada Tuhan bagi anak-anaknya, jangan-jangananak-anaknya menghujat Allah ketika mereka sedang berpesta sehingga mereka tetap dalam anugerah pengampunan Tuhan. Ayub melakukan semuanya itu secara rutin dan terus menerus. Ia adalah orang tua yang bertanggung jawab terhadap kehidupan rohani anak-anaknya.

Dialog di Surga 1 (1:6-12)
Seperti yang dibahas sebelumnya, narasi pertama meceriterakan tentang Ayub, orang saleh yang terkaya di daerah Timur. Sementara itu, jauh di tempat yang lain, bukan di bumi, terjadi suatu peristiwa yang berhubungan erat dengan bagian narasi yang pertama. Ayub yang menjadi tokoh utama pada bagian pertama masih menjadi pokok pembicaraan pada bagian selanjutnya. Kedua kisah ini bersifat parallel (berjalan secara bersamaan).

Kalimat pembukaan yang digunakan dalam narasi bagian kedua ini adalah “pada suatu hari…” Menunjukkan suatu waktu anak-anak Allah yang secara umum ditafsirkan sebagai malaikat-malaikat kembali ke hadapan Allah di Surga. Namun pada waktu para malaikat itu kembali, Iblis turut beserta dengan mereka dan berjumpa dengan Allah. Terminologi “pada suatu hari” menunjuk pada suatu hari dari alur cerita bagian pertama. Karena bagian pertama diakhiri dengan kalimat “demikianlah dilakukan Ayub senantiasa/ thus Job did continually,” yang menunjukkan bahwa karakter moral Ayub dan tindakannya berkenaan dengan anak-anaknya senantiasa ia lakukan dengan setia.

Dialog antara Allah dan Iblis diawali oleh Allah dengan memuji Ayub dan mengatakan kepada Iblis bahwa tidak ada manusia yang seperti dia di muka bumi ini. Bagi Allah, Ayub adalah seorang manusia yang begitu setia dan hidup menyukakan hati Allah. Alkitab tidak mengatakan bahwa Ayub adalah manusia sempurna yang tidak pernah berbuat dosa. Ayub sama dengan manusia yang lain, manusia berdosa (secara natur). Namun Ayub hidup saleh dan benar sesuai dengan kehendak Tuhan. Ia menjaga langkah kakinya dengan takut akan Allah dan menjauhi apa yang disebut jahat dan Ia menjalankan kehidupan yang benar itu dengan setia.

Iblis meresponi pernyataan Allah dengan mempertanyakan integritas karakter Ayub. Penilaian Allah terhadap Ayub diragukan oleh Iblis dan si jahat itu memandang rendah Ayub di hadapan Allah yang meninggikan Ayub. Karakter moral yang konsisten dihidupi oleh Ayub dianggap sebagai buah yang hanya muncul karena tidak ada krisis dalam hidupnya atau karena Allah selalu memberkati dia. Bagi Iblis, Ayub tidak lebih baik dari kebanyakan orang yang akan menjadi baik ketika semuanya baik, atau menjadi orang yang rohani karena semuanya berjalan lancar dan kondusif. Iblis meremehkan integritas kesalahen Ayub dan menganggap hal itu hanya penampakan semu karena semua yang dibutuhkannya selalu terpenuhi dan ia takut akan Allah supaya berkat-berkat Allah itu senantiasa mengalir dalam hidupnya.

Iblis menghina kerohanian Ayub di hadapan Allah dan menilainya dangkal. Oleh karena itu Iblis menantang Allah untuk mengambil semua berkat itu, seluruh item harta kekayaan yang disebutkan pada narasi bagian pertama, dan “menjamin” bahwa Ayub pasti meninggalkan Allah dan mengutukiNya. Allah menerima tantangan Iblis. Allah menyetujuinya, tetapi iblis tidak boleh menyentuh nyawa Ayub. Peristiwa ini tertutup dari Ayub. Ia tidak menyaksikan atau mendengarkan dialog antara Allah dan iblis tentang dirinya. Namun satu hal penting yang disampaikan oleh bagian ini adalah Allah ikut terlibat, iblis hanya mampu menyentuh milik Ayub tetapi bukan Ayub. Iblis tidak berkuasa untuk sejengkalpun nyawa, tubuh atau harta benda Ayub tanpa Allah turut campur di dalamnya. Allah mengenal dengan baik anak-anakNya, termasuk kita semua yang hidup di jaman ini. Ia tidak akan membiarkan sesuatu terjadi di luar kemampuan kita untuk menanggungnya. Ayub diijinkan Allah menanggung beban yang berat karena Allah tahu ia sanggup menanggung beban tersebut.

Ayub kehilangan harta kekayaannya (1:13-22)
Ketika mendapatkan ijin untuk menguasai segala harta benda Ayub, iblis segera melaksanakan rencananya. Tujuan iblis sangat jelas, yaitu membuat Ayub menghujat Allah dan meninggalkan kesalehan yang dibanggakan Allah kepada iblis. Narator (penulis kitab ini) mempertegas peristiwa kehilangan Ayub dengan mengisahkan bahwa peristiwa tersebut terjadi dalam satu hari. Hanya dalam satu hari saja Iblis menghancurkan semua yang dimiliki oleh Ayub. Narator menggunakan kebiasaan pesta anak-anak Ayub sebagai penunjuk waktu. Pada waktu itu giliran pesta jatuh kepada anak yang sulung dan seperti biasa seluruh anak-anak Ayub berkumpul di rumah si sulung untuk mengadakan pesta. Pada hari tersebutlah Ayub menerima kabar dari berbagai tempat. Lembu sapi dirampas oleh orang-orang Syeba, kambing domba terbakar oleh api dari langit, unta-unta dirampok orang Kasdim, anak-anak Ayub mati ditimpa oleh angin ribut. Semua item yang dicatat pada bagian pertama hilang lenyap dalam sehari.

Narator menuliskan kisah ini secara dramatis dengan menggunakan kalimat “sementara orang itu berbicara, datanglah orang lain dan berkata…” berulang-ulang. Sehingga narasi ini menggambarkan suatu malapetaka yang bertubi-tubi, yang satu belum selesai yang lain sudah datang membawa berita petaka yang lain. Di tambah lagi setiap orang datang dan mengatakan bahwa merekalah satu-satunya yang selamat. Jadi semua apa yang Ayub miliki sudah hilang lenyap, harta benda yang banyak ludes, anak-anak sudah tidak ada lagi, budak-budak yang banyak juga lenyap.

Iblis sangat menanti-nantikan respon Ayub menghadapi krisis ini, itulah tujuannya berbuat jahat kepada Ayub. Ia memandang rendah kesalehan Ayub dan menilainya sebagai orang yang tidak berintegritas. Bagaimana respon Ayub terhadap goncangan yang besar ini? Malapetaka sedahsyat itu tentu saja akan membuat siapapun juga mengalami duka yang dalam. Demikian pula Ayub, Ia berduka dengan sangat dalam, ia mengoyakkan jubanya dan mencukur kepalanya seperti yang biasa dilakukan oleh orang-orang pada masa ketika berduka. Namun narator mencatat tindakan Ayub yang lain pada saat kedukaan itu. Ayub bersujud dan menyembah Allah sambil berkata: "Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!" Pada waktu itu Iblis bungkam, ia kalah. Ternyata Ayub bukanlah manusia berkualitas rendah dan Allah bukan Pribadi yang memuji sembarangan orang.

Harta yang terbesar bukanlah apa yang ada di luar tetapi apa yang ada di dalam diri. Ayub memang orang terkaya dalam hal harta kekayaan di seluruh daerah Timur, tetapi ia hidup benar dihadapan Allah bukan karena ia diberkati dengan harta benda tersebut. Ayub hidup saleh karena karena hatinya sungguh-sungguh terpaut kepada Allah. Kalimat yang keluar dari mulut Ayub, bukanlah kalimat biasa. Kalimat tersebut adalah kalimat agung yang hanya dapat diucapkan oleh manusia yang matang dan sungguh-sungguh mengenal Allah. Ia mengerti apa artinya hidup sebagai manusia, terlahir tanpa apa-apa dan kembali juga dengan tangan hampa. Apa yang ia miliki di dalam dunia ini hanyalah sementara, bukan berasal dari dirinya tetapi pemberian Allah. Ia berhak memberi dan juga berhak mengambilnya kembali. Ayub memuji Allahnya, karena ia percaya kepada Allah yang berhikmat sempurna, Allah yang tahu dengan baik waktu segala sesuatu. Narator sekali lagi menyatakan kekalahan iblis dengan mengatakan “dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dan tidak menuduh Allah berbuat yang kurang patut.” Ayub jauh dari menghujat Allah bahkan Ia memuji Allahnya dalam kedukaan dan ketidakmengertian.

Dialog di Surga 2 (2:1-6)
Kita tidak tahu persis berapa lama jarak waktu antara pasal 1 dengan pasal 2 (1:22-2:1). Sehingga kita tidak tahu persis berapa lama Ayub hidup sebagai orang “miskin” dan tidak memiliki apa-apa lagi kecuali kesehatan dan kesalehannya. Selama kurun waktu yang kita tidak ketahui ini Ayub tetap teguh dalam kesalehannya dan Alkitab mengatakan bahwa ia tidak mengucapkan perkataan yang tidak benar tentang Allah.

Dialog antara Allah dan iblis, seperti yang sudah terjadi sebelumnya, kembali terulang. Iblis datang bersama-sama malaikat-malaikat Allah. Allah kembali memulai dialog dengan Iblis. Narator menuliskkannya dengan pola dan kata-kata yang sama (1:6 dan 2:1). Dalam percakapan tersebut Allah tetap memuji kesalehan Ayub tanpa mengurangi satu katapun, Ayub adalah orang yang “saleh dan jujur, yang takut akan Allah dan menjauhi kejahatan.” Jawaban Allah ini menunjukkan bahwa Ayub tidak kehilangan harta yang terpenting yang ada di dalam dirinya. Iman kerohanian Ayub tidak pernah dibangun di atas dasar berkat-berkat Tuhan yang melimpah melainkan di atas dasar pengenalan pribadi dengan Allahnya. Ayub menyadari apa arti kepemilikan atas harta benda. Ia lahir telanjang, tidak mempunyai apa-apa, dan ia akan mati juga dalam keadaan telanjang. Harta benda bukanlah milik manusia karena manusia tidak pernah mampu memilikinya. Manusia hanya dipinjamkan sementara selama ia hidup di dunia ini. Pada waktu ia mati tidak ada satu benda pun yang mampu dibawanya. Kematangan rohani Ayub membuat ia tetap memuji Tuhan yang memiliki segalanya. Ia adalah Oknum yang memberikan harta benda itu karena itu Ia berhak juga mengambilnya. Ia adalah Allah yang tahu apa yang dilakukanNya. Ia tidak pernah salah dalam bertindak. Kepada atribut Allah inilah Ayub menyandarkan imannya. Allahnya adalah Allah yang setia dan maha bijak, Ia tidak akan pernah meninggalkan perbuatan tanganNya. Ia adalah Allah yang baik.

Sebenarnya integritas Ayub sebagai hamba Allah sudah cukup teruji. Namun Iblis tidak berhenti berusaha untuk menjatuhkan Ayub. Ia memberikan argumentasi yang lain mengenai Ayub: “Kulit ganti kulit! Orang akan memberikan segala yang dipunyainya ganti nyawanya…” Kalimat ini cukup sulit ditafsirkan tetapi para ahli cenderung menafsirkan bahwa iblis berpendapat Ayub masih setia dengan Tuhan karena ia masih memiliki tubuh yang sehat. Seorang manusia masih mungkin setia seperti Ayub kalau cuma hartanya saja yang diambil. Karena mungkin masih banyak orang yang bisa bertahan dengan imannya sampai dengan tahap kehilangan harta benda dan orang-orang yang dikasihi karena ia masih memiliki dirinya sendiri. Tetapi jikalau kesehatannya diambil dan ia menderita di dalam tubuhnya sendiri maka eksistensi hidupnya berubah menjadi penderitaan semata-mata. Ia masih hidup tetapi hidup itu hanya untuk menderita, menurut iblis, manusia akan meninggalkan apapun demi kesehatannya itu dikembalikan.

Iblis kembali menantang Allah dan sesumbar bahwa Ayub akan mengutuk Allah jika daging dan tulangnya “dijamah.” Untuk kedua kalinya Allah menerima tantangan Iblis mengenai Ayub, hamba yang dibanggakanNya. Namun sekali lagi kuasa iblis dibatasi Allah sehingga Ayub tidak akan mati. Iblis hanya boleh menyentuh tubuhnya dan bukan nyawanya. Mengapa Allah mengijinkan hal yang sangat berat ini terjadi atas Ayub? Kita tidak tahu secara persis dan sempurna tetapi dalam konteks keberadaan Alkitab bagi orang percaya kita mengerti bahwa selain karena Ayub sanggup menanggungnya, Allah ingin kita belajar dari tokoh yang besar ini. Dalam goncangan yang sehebat apapun atas dirinya. Meskipun hartanya miliknya, keluarganya dan kesehatannya dihancurkan ia tidak pernah kehilangan kesalehannya. Iblis tidak pernah mampu mengambil hal ini dari Ayub.

Ayub Kehilangan Kesehatannya (2:7-10)
Ayub tetap tidak tahu menahu tentang dialog antara Allah dan iblis. Ia tidak tahu apa sebabnya seluruh harta benda hingga anak-anaknya binasa dan lenyap. Belum lagi selesai duka Ayub menghadapi kehilangan ini, iblis telah datang dengan malapetaka selanjutnya. Ayub ditulahi oleh iblis dengan barah yang busuk dari telapak kakinya sampai ke batu kepalanya. Seluruh tubuhnya penuh dengan luka. Ayub yang dulu kaya raya dan sehat wal’afiat, kini menjadi orang yang sangat miskin. Dulu ia menikmati rumahnya yang nyaman sekarang rumahnya adalah abu dan tanah. Dulu ia dilayani banyak pelayan sekarang hanya beling yang ada untuk menggaruk luka. Dulu baunya semerbak sekarang bau busuk luka-luka. Suatu perubahan yang sangat drastis dan luar biasa.

Penderitaan Ayub semakin mendalam ketika isterinya turut menghina kesetiaannya kepada Allah. Wanita yang tidak pernah disebutkan sebagai “milik” Ayub sejak awal narasi ini berkata: "masih bertekunkah engkau dalam kesalehanmu? Kutukilah Allahmu dan matilah!" Penyakit yang diderita Ayub sebenarnya menyerang bagian dalam dan biasanya dikenal sebagai penyakit kutukan dari dunia supra alamiah, seperti dewa, dsb. Penyakit jenis ini tidak diketahui penyebabnya. Orang-orang hanya tahu dari gejalanya yang membuat si penderita tidak berdaya. Karena itulah orang biasa menghubungkan sakit Ayub dengan dosanya kepada Allah, atau disebabkan karena tangan Allah. Kemungkinan Isteri Ayub mencela kesetiaan Ayub dan menyuruhnya mengutuki Allah karena penyakit tersebut. Namun Ayub yang harus menerima pergumulan sakit penyakit yang parah itu menjaga hati dan mulutnya untuk tidak berdosa kepada Allah. Ia menyebut isterinya seperti perempuan gila. Baginya, wanita itu tidak mengerti jalan-jalan Tuhan tetapi dengan lancang menghina Allah dan menyuruh dirinya mengutuki Allah. Ayub, meskipun bergelimangan harta, tidak pernah melekatkan hatinya kepada harta. Harta, seberapapun banyaknya, tidak pernah mengambil bagian di dalam hati Ayub. Kesehatan bagi Ayub juga adalah anugerah Allah semata yang selama ini ia nikmati karena kebaikan Allah saja.

Ayub memilih untuk tetap berserah kepada Allah yang tidak ia mengerti. Ia masih menyimpan iman yang bergantung penuh kepada Allah; apapun yang terjadi Allah adalah baik, apapun yang terjadi Allah berhikmat sempurna dalam tindakannya, apapun yang terjadi Allah tidak akan meninggalkan anak-anakNya. Karena itu narator menutup bagian ini dengan suatu kesimpulan yang mengokohkan kemenangan Ayub atas tantangan setan: “dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dengan bibirnya.” Iblis kembali kalah dan kemudian lenyap dari seluruh kisah Ayub. Pergumulan selanjutnya adalah antara Ayub dengan Allah. Ayub dituding oleh teman-temannya dan Ayub membela diri dihadapan Allah. Kitab yang indah ini memberikan suatu peneguhan, peringatan dan penghiburan bagi anak-anak kerajaan Allah untuk tetapi setia kepada Allah dan belajar dari ketekunan dan kesalehan Ayub. Tokoh Reformator John Calvin, sepanjang pelayanannya paling banyak mengkhotbahkan ayat-ayat dalam kitab Ayub ini. Bagi Calvin, yang menghadapi banyak tantangan dan perjuangan dalam hidupnya, kitab Ayub memberikan kekuatan dan penghiburan yang luar biasa bagi orang percaya ketika menghadapi pergumulan mengenal Allah dalam realita penderitaan manusia. Apapun yang terjadi kepada anak-anak Allah, seberapa berat dan sulitnya penderitaan itu, Allah tidak pernah lepas kontrol. Allah selalu memegang kendali, tetapi bukan bertujuan agar penderitaan itu tidak menghampiri, tetapi dengan iman kita mengerti bahwa Allah ada bersama-sama dengan kita. Allah menyertai, Allah turut campur, itulah janji yang Allah berikan kepada anak-anakNya. Allah tidak akan meninggalkan anak-anakNya seorang diri, Ia ikut duduk bersama-sama dengan mereka dalam penderitaan dan air mata.

Refleksi Penderitaan Ayub
Dalam konteks pergumulan Ayub, apakah arti kehidupan yang dapat kita pelajari? Dalam kurun waktu tertentu, setelah hartanya habis dan tubuhnya “dijamah” oleh iblis, Ayub menjalani suatu kehidupan penuh penderitaan. Sebagai manusia tentu ia tidak tahu masa depan, jadi Ayub juga tidak tahu kapan pergumulannya ini akan berakhir. Bisa saja hari esok adalah hari terakhirnya tapi bisa juga penderitaan itu akan ia tanggung bertahun-tahun. Ia menjalani hidup dalam kebutaan masa depan.

Apa yang menjadi harapan orang yang menderita seperti Ayub ini? Hidup panjang? Kematian? atau kesembuhan? Hidup panjang berarti penderitaan yang panjang. Kematian adalah “kesembuhan” yang abadi. Tetapi jika saja ia mendapatkan kesembuhan dari sakitnya, Ayub sudah tidak punya apa-apa lagi selain tubuh yang sehat. Harta dan keluarganya telah tiada. Penderitaan Ayub bukan saja oleh karena keterhilangan apa yang ia miliki atau malapetaka yang telah terjadi di masa lampau. Pergumulan Ayub mencakup pengharapan tentang hari depan. Tanpa pengharapan akan hari depan manusia tidak lagi memiliki gairah untuk mempertahankan hidup.

Iblis tidak diperbolehkan oleh Tuhan menjamah nyawa Ayub. Jadi serangan iblis kepada Ayub dibatasi hanya sampai pada tubuhnya. Iblis tahu kalau ia tidak boleh membunuh Ayub ia masih bisa “membunuh” pengharapan hidup Ayub dengan membuatnya seputus-asa mungkin terhadap hidup dan Tuhan. Iblis membuat Ayub menjalani hari demi hari dalam kesakitan. Beratnya pergumulan Ayub digambarkan oleh keterkejutan teman-temannya ketika melihat kondisinya.

12 Ketika mereka memandang dari jauh, mereka tidak mengenalnya lagi. Lalu menangislah mereka dengan suara nyaring. Mereka mengoyak jubahnya, dan menaburkan debu di kepala terhadap langit. 13 Lalu mereka duduk bersama-sama dia di tanah selama tujuh hari tujuh malam. Seorangpun tidak mengucapkan sepatah kata kepadanya, karena mereka melihat, bahwa sangat berat penderitaannya. (Ayub 2:12-13)

Dua ayat ini mendeskripsikan bahwa pergumulan itu bukan pergumulan biasa. Teman-temannya yang datang untuk menghibur terkejut bukan kepalang. Narator mengatakan mereka menangis dengan suara nyaring. Hati mereka tidak tega melihat penderitaan Ayub yang bukan main beratnya. Penjelasan yang lebih dramatis mengenai respon teman-teman Ayub ini adalah mulut mereka terkunci selama 7 malam. Kelu. Mereka tak mampu berkata apa-apa melihat penderitaan Ayub karena penderitaan itu terlalu berat. Bahkan Ayub bersuara di pasal 3 dalam keluh kesah. Dalam keluh kesah di tengah tekanan penderitaan itu Ayub mengutuki hari kelahirannya. Ia menjerit dalam puisi-puisi tersebut. Mengapa ia tidak mati saja pada waktu lahir, mengapa ada buah dada yang menyusuinya, dsb. Dari sini kita dapat melihat betapa beratnya dan sesaknya penderitaan yang ditanggung Ayub.

Sebagai manusia kita akan bertanya-tanya, mengapa Tuhan mengijinkan hal ini kepada Ayub. Bukankah dia orang saleh? Bukankah ia setia mengikut Tuhan? Mengapa Tuhan bersikap tidak adil dengan memperlakukan Ayub hingga sampai menderita seperti itu? Kitab Ayub ini meruntuhkan Teologi Kemakmuran yang menyatakan bahwa Allah pasti memberkati orang percaya dengan berkat jasmani jika kita hidup setia kepada Tuhan. Suatu Teologi yang menyesatkan. Berkat terbesar yang Tuhan berikan bagi orang yang saleh dan setia kepadaNya adalah penyertaan dan pengenalan akan Tuhan. Penyertaan dan pengenalan akan Tuhan selalu memberikan kebahagiaan kepada orang-orang Kristen sejati. Kitab ini membuktikannya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.