“Iblis telah menuntut untuk menampi kamu…” (Lukas 22:31-34; 54-61)

Petrus adalah murid Yesus yang paling menonjol di antara yang lain. Ia adalah seorang murid yang vokal dalam menyatakan pendapat dan pertanyaan-pertanyaan kepada Gurunya. Dalam konteks ini Petrus adalah wakil dari pada rasul menyatakan iman mereka kepada Kristus. Ia mengatakan kepada Yesus “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup,” dan Yesus mengatakan bahwa pengakuan Petrus ini sebagai suatu pewahyuan yang datangnya dari Allah dan bukan dari manusia. Allah yang berbicara melalui Petrus, karena pengakuan tersebut tidak mungkin berasal dari manusia. Ketika Petrus mengatakan hal tersebut Allah sedang bekerja melalui Dia. Ia dipakai Allah mengatakan rahasia Ilahi. Namun demikian, Petrus adalah seorang manusia yang berdosa. Manusia lemah yang memiliki banyak kelemahan. Petrus yang mengakui Yesus Anak Allah adalah Petrus yang juga melarang Yesus menyerahkan diriNya untuk disalibkan. Sehingga Tuhan Yesus menghardik Petrus dengan mengatakan “enyahlah engkau iblis.” Petrus bisa dipakai oleh Tuhan tetapi juga bisa dipakai oleh Iblis.

Kali ini Tuhan memberitahukan Petrus bahwa iblis telah meminta Petrus untuk ditampi seperti gandum. Petrus masuk dalam area pencobaan yang sangat berat. Ia tidak tahu, tetapi Allah tahu. Meskipun tidak ada pernyataan yang eksplisit tentang apakah Allah yang mengijinkan hal tersebut terjadi, namun dari pernyataan “Aku telah berdoa untuk engkau, supaya imanmu jangan gugur” menunjukkan bahwa Allah mengijinkan hal tersebut terjadi kepada Petrus. Ia akan tergoncang. Ia akan menerima pukulan telak dari iblis tepat pada area kelemahannya. Imannya nyaris gugur.

Iblis adalah agen pendakwa dan penggoda yang mencobai anak-anak Tuhan. Ada kalanya mereka menuntut kepada Allah untuk mencobai seseorang dan Allah mengijinkannya (seperti Ayub). Kali ini Petrus mengalami situasi yang serupa dengan Ayub. Iblis menuntut untuk menampi Petrus. Jika pertarungan ini adalah antara manusia dan iblis saja, maka dapat dipastikan iblis akan menang telak. Mengapa? Karena dulunya adalah malaikat Allah namun jatuh dalam dosa dan manusia yang dicobai iblis adalah manusia yang telah jatuh ke dalam dosa dan menghidupi tubuh yang rentan akan dosa. Oleh sebab itu manusia berpikir sebagai manusia berdosa, berbicara dan bertindak sebagai manusia berdosa. Namun Alkitab mengatakan bahwa Allah ada dipihak murid-murid Tuhan. Allah tidak mengijinkan pencobaan yang melampaui kekuatan seseorang untuk menanggungnya. Iblis memang punya kuasa, tetapi kuasa tersebut adalah kuasa yang terbatas. Iblis tidak bisa melakukan apapun yang ia inginkan, kuasa Allah membatasinya. Secara khusus dalam konteks ini pemeliharaan Tuhan dijelaskan dalam penyataan Tuhan yang mendoakan Petrus agar imannya tidak gugur. “jikalau engkau sudah insaf, kuatkanlah saudara-saudaramu” Kalimat ini menunjukkan hasil dari pencobaan tersebut. Kata “jikalau” dalam bahasa Yunani lebih tepat diterjemahkan “ketika,” yang menunjukkan bahwa waktu itu nanti akan datang, bukan sebuah persyaratan. Perkataan Yesus dapat diterjamahkan demikian: “engkau pasti akan melewati masa yang sulit dan menggocangkan. Engkau akan ditampi seperti gandum, jika engkau sudah insaf dari kegagalanmu dalam pencobaan itu, giliranmu adalah untuk menguatkan saudara-saudaramu.” Berarti Allah memberikan suatu jaminan penyertaan dalam masa-masa suram itu. Masa-masa dimana kelemahan Petrus akan terkuak, imannya tergoncang dan kepercayaannya kepada Yesus, Tuhannya menjadi diragukan. Pernyataan-pernyataan imannya dipertanyakan ulang. Tuhan mengenal dengan baik siapa Petrus. Allah tahu bahwa Petrus yang terlihat gagah itu begitu lemah. Karena itu Tuhan memelihara iman itu supaya iman tidak gugur. Allah yang memberikan iman dan Allah pula yang memelihara iman tersebut untuk terus tetap hidup di hati orang percaya.

“Simon, Simon, lihat, Iblis telah menuntut untuk menampi kamu seperti gandum.” Pada saat itu pernyataan Tuhan seperti tidak masuk akal bagi Petrus. Petrus melihat dirinya dalam kondisi yang baik dan “fit” secara rohani. Ia merasa mencintai Yesus dengan mempunyai iman teguh, meskipun kita tidak tahu dari mana sumber perasaan tersebut muncul dalam diri Petrus. Tetapi setidaknya Simon Petrus mengira ia berdiri atas iman yang teguh. Sudah 3 tahun lebih ia mendampingi Sang Guru dan ia masih setia melakukan tugasnya sebagai seorang murid baik. Siapa murid yang lebih berani dari pada Petrus? Siapa yang dipercayakan “kunci kerajaan Sorga”? Namun mengapa Yesus mengatakan bahwa iman Petrus nyaris gugur, apakah Yesus tidak melihat bahwa Petrus adalah murid yang mempunyai kerohanian yang baik?

Petrus merasakan ada sesuatu yang perlu ia tunjukkan kepada Tuhan, demi menyatakan betapa besarnya komitmen seorang Petrus kepada Gurunya. Oleh sebab itu pernyataan Yesus diresponi oleh Petrus dengan suatu pernyataan iman. Suatu komitmen yang sepenuh hati. Simion Petrus bersedia masuk penjara bersama dengan Yesus. Bukan hanya bersedia masuk penjara tetapi juga rela mati bersama-sama dengan Yesus. Hidup menderita dalam penjara? Petrus siap menjalaninya? Harus mati demi Gurunya? Petrus rela meregang nyawa bagi TuhanNya. Hidup ataupun mati, Petrus siap menjalani penderitaan bersama Yesus. Kita yang tahu tentang perbuatan Petrus selanjutnya merasa geli mendengar komitmen-komitmen yang diucapkan Petrus. Apakah Petrus berbicara tanpa berpikir panjang tentang apa yang ia katakan? Apakah ia menilai dirinya terlalu tinggi? Mungkinkah ia terlalu naif? Mungkin “ya.” Tetapi setidaknya itulah yang muncul dihatinya. Hati yang sesaat merasa dekat dengan Tuhan. Namun tidak mampu mengenal sejauh apa hubungannya dengan Allah itu teruji. Karena memang simbol-simbol agamawi dan membuat orang-orang Kristen merasa kenal dengan Tuhan dan teguh di dalam iman. Padahal semuanya itu telah menjadi topeng manusia untuk menenangkan sifat keagamaannya dari tuduhan-tuduhan tidak rohani. Bisa saja hal ini yang terjadi kepada Petrus yang seringkali menunjukkan reaksi yang impulsif.

Mendengar komitmen Petrus yang “wah,” Tuhan Yesus memberikan respon yang sangat mengejutkan. Ia membalikkan pernyataan Petrus 180 derajat. Petrus tidak sekuat apa yang ia pikirkan, tidak sehebat apa yang ia kira. Karena beberapa jam setelah pernyataan ia rela mati bagi dan bersama Yesus, Petrus menyangkal Yesus. Hari itu juga, sebelum ayam berkokok, Petrus sudah menyangkal Yesus 3 kali. Bukan hanya sekali tetapi hingga 3 kali. Lukas memperjelas penyangkalan Petrus ini dengan menuliskan bahwa penyangkalan yang dilakukan Petrus bukan untuk masuk penjara atau mati tetapi sekedar mengenal Yesus. Jangankan untuk dipenjara atau mati bersama Yesus, mengaku mengenal Yesus saja Petrus tidak berani, mulutnya yang menyatakan komitmen yang hebat itu akan menyangkal mengenal Yesus, Guru dan Tuhannya.

Walaupun Yesus disangkali oleh Petrus, Tuhan tetap menyertai dia, mendoakannya, supaya dia tidak jatuh ke dalam pencobaan yang mematikan. Allah tetap memegang tangan Petrus hingga akhirnya ia dapat pulih kembali. Catatan Alkitab tentang Petrus memang sangat dramatis dan menyedihkan hati Tuhan. Roh Kudus menginspirasikan para penulis Injil untuk mencatat kisah ini karena kesalahan Petrus ini bisa menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi orang-orang percaya. Tuhan Memelihara iman orang percaya. Keselamatan adalah karya Allah 100% dan diberikan secara cuma-cuma kepada orang percaya. Tidak ada seorangpun yang dapat mengambil keselamatan itu dari tangan anak-anak Tuhan. Iman yang Allah berikan kepada orang percaya tidak akan pernah gugur oleh apapun, karena Allah akan memelihara iman tersebut. Meskipun terkadang iman itu tergoncang, terombang-ambing, namun iman itu tidak akan mati. Allah yang mengasihi dan memberikan nyawanya bagi orang percaya akan senantiasa memberikan yang terbaik kepada mereka selama-lamanya.

Pernyataan arogan Petrus tidak terbukti di taman Getsemani. Ketika Yesus ditangkap, murid-murid sempat bertanya apakah mereka perlu melawan atau tidak (22:49). Kemudian salah satu dari mereka, menurut Injil yang lain adalah Petrus, memotong telinga seorang hamba Imam Besar. Tetapi uniknya Lukas tidak mengatakan bahwa orang itu adalah Petrus. Ia hanya mengatakan orang tersebut adalah salah satu dari para murid. Petrus yang katanya rela masuk penjara dan mati, tidak terdengar lagi suaranya. Ketika Yesus memberi diri ditangkap, Petrus menghilang sama seperti murid-murid yang lain. Petrus tidak rela ditangkap dan mati bersama Yesus. Ia hanya mampu mengikut Yesus dari jauh (22:54). Ia tidak punya nyali untuk melakukan lebih dari pada itu.

Malam itu juga Yesus dibawa ke rumah imam besar untuk diadili. Petrus yang masih mengikuti perkembangan peristiwa tersebut turut pergi ke tempat itu. Ia duduk di halaman bersama dengan beberapa orang disana sambil mengelilingi api. Ketika ia duduk disana, seorang hamba perempuan mengamat-amati Petrus dan mencoba mengenalinya. Hamba perempuan itu ternyata mampu mengidentifikasi Petrus dan berkata bahwa Petrus adalah salah orang yang bersama-sama dengan Yesus. Pada waktu itu juga Petrus menyangkal bahwa ia mengenal Tuhannya. Padahal orang mengenalinya itu adalah seorang hamba perempuan, bukanlah tentara atau ahli-ahli Taurat yang ingin membunuh Yesus. Tetapi Petrus begitu ketakutan. Ia memilih untuk menyangkal supaya dirinya selamat dari ancaman penjara atau mungkin lebih parah dibunuh. Bukankah ini yang sebelumnya ia katakan, rela masuk penjara dan mati bersama Yesus. Ketika waktunya tiba, perkataan itu menjadi omong kosong. Hanya sesumbar dari mulut orang yang tidak bertanggung jawab.

Jika kita mencoba memahami Petrus yang sedang ketakutan dan berada di sarang musuh, kita melihat bahwa pengakuannya mengenal Yesus mungkin tidak akan membuatnya mati, atau mungkin saja dia dihajar oleh massa, atau oleh tentara atau secara ekstrim kita mengatakan dihukum hingga mati karena Yesus. Hal tersebut memang menakutkan, tetapi dia sudah mengatakan sebelumnya bahwa ia rela dan siap melakukannya. Pernyataan itu pernah terlontar dari mulutnya, bahwa dengan sedikit bukti ia telah menunjukkan komitmennya itu dengan memotong telinga Malkhus (Luk 22:20). Namun realitanya Petrus yang sudah diingatkan itu menyangkal Tuhannya. Hal yang menyedihkan dari kisah Petrus ini adalah keterlambatannya untuk menyadari bahwa ia sudah melakukan sesuatu yang salah. Ia tidak hanya menyangkal sekali saja, tetapi 3 kali. Setelah ia menyangkal Yesus dihadapan hamba perempuan tersebut, ia kembali menyangkal ketika orang yang juga mengenalnya mengatakan bahwa Ia juga bagian dari kelompok Yesus. Kemudian Petrus menyangkal untuk yang kedua kalinya. Ia belum juga sadar. Kemudian sekitar satu jam kemudian Petrus kembali menyangkal Yesus. Lukas memberikan catatan yang sedikit lebih dramatis. Ketika Petrus masih mengucapkan perkataan penyangkalannya, ia mendengar ayam berkokok. Lalu Yesus yang juga ada ditempat itu berpaling kepada Petrus. Yesus melihat muridnya yang ia kasihi itu menyangkali diriNya tiga kali dalam waktu yang relatif singkat. Yesus menatap dalam kepada Petrus, seorang yang tadinya ingin memberi nyawanya kepada sang Guru, kini teringat akan perkataan guruNya. Petrus melangkah keluar dan menangis dengan sedihnya. Tatapan Yesus sesaat setelah ia menyangkal meruntuhkan komitmennya yang kosong.

Petrus tergoncang. Ia malu kepada dirinya sendiri. Ia malu kepada Tuhan Yesus. Ditengah pergumulan Yesus yang berat, bukannya memberikan kebahagiaan kepada GuruNya, malah Petrus menyangkal Yesus di depan mataNya. Ia melihat sendiri muridNya tak mau mengakui diriNya. Padahal beberapa jam lalu Petrus sesumbar ingin mati bagi Yesus. Tetapi meskipun demikian, Tuhan tidak membuang Petrus. Tuhan sudah berdoa kepada Bapa supaya iman Petrus yang tergoncang itu tidak gugur pada waktunya ia dipulihkan kembali.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.