Pemberontakan Miryam dan Harun (Bilangan 12:1-16)

Bilangan 12:1-3
Orang Kush, yang menjadi perdebatan bagi Miryam dan Harun bisa mengacu pada beberapa tempat dalam PL. Kebanyakan para ahli menghubungkannya dengan orang Ethiopia. Namun para ahli yang lain menyatakan bahwa pandangan itu sebenarnya tidak terlalu tepat. Sebab daerah Kush tidak mengacu pada daerah Ethiopia yang sekarang (modern) tetapi pada masa itu mengacu pada daerah sepenjang Sungai Nil, selatan Mesir, Nubi kuno, atau sekarang daerah Sudan. Kemungkinan yang lain orang Kush (Cush) dihubungkan dengan orang Cushan, yang disebutkan oleh Habakuk 3:7. Orang Kush ini ditafsirkan berkulit hitam atau tergolong rumpun negroid.

Teks ini tidak terlalu menjelaskan dengan cukup apa yang menjadi alasan bagi Miryam dan Harus membicarakan Musa berhubungan dengan perempuan Kush ini. Beberapa ahli memberikan kemungkinan tentang hal ini. Bisa jadi Miryam dan Harun tidak menyetujui perbuatan Musa itu karena etnis dari isterinya ini. Karena wanita itu berkulit hitam. Namun tidak ada cukup bukti yang kuat untuk mendukung pendapat ini. Pandangan yang lain mencoba menghubungkannya dengan isteri Musa, Zipora. Mereka menganggap Zipora masih hidup dan Musa mengambil isteri kedua. Jadi Miryam dan Harun tidak setuju karena Musa telah memiliki isteri sebelumnya. Tetapi pandangan ini juga tidak memiliki dukungan teks yang kuat. Jadi kepastian kesalahan Musa tidak terlalu jelas bagi para pembaca. Narator mengabaikan hal ini karena tidak menjadi penekanan narasi tidak mengarah pada hal tersebut.

Pada umumnya penulisan dalam nama-nama dalam PL diawali dengan nama laki-laki kemudian baru diikuti dengan nama perempuan. Jadi jika penulis ingin menuliskan nama Harun dan Miryam, maka nama Harun akan disebutkan lebih dahulu baru kemudian Miryam. Namun pada bagian ini nama Maryam dituliskan diawal untuk menekankan sesuatu. Jadi yang mengawali pembicaraan yang tidak sehat ini adalah Miryam sedangkan Harun turut terpancing pada dalam gosip yang dilemparkan oleh Miryam mengenai Musa, saudara mereka. Kesalahan yang masih mungkin dilakukan oleh Musa dalam kasus ini adalah kebangsaan dari isterinya ini. Ia tidak mengambil isteri dari bangsa Israel, melainkan dari suku bangsa lain. Namun seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, sepertinya penulis kitab ini sedikit mengabaikan “apa yang telah dilakukan Musa” dan mengalihkan perhatian kepada 2 orang saudaranya yang sedang berbicara tentang hal yang tidak baik tentang Musa.

Gosip yang mereka bicarakan itu berkembang hingga pada status Musa sebagai nabi Tuhan. Nabi merupakan perantara antara Tuhan dan umatNya. Perpanjangan lidah Tuhan untuk menyampaikan firman Tuhan. Pembicaraan Miryam dan Harun pada ayat 2, bisa merujuk pada (a) mempertanyakan kredibilitas Musa sebagai nabi atau (b) mereka membenarkan kritik mereka dengan mengatakan bahwa Tuhan bukan hanya bicara kepada Musa tetapi juga melalui mereka. Implikasinya adalah Musa bisa salah dan mereka bisa saja dipakai Tuhan untuk mengoreksi. Namun secara umum penulis kitab ini ingin menyoroti sikap Miryam dan Harun yang bagi Tuhan adalah sebuah dosa yang harus menerima hukuman sakit kusta. Hukuman ini adalah hukuman yang serius karena penderita kusta harus mengalami pengasingan di luar kemah dan semua bangsa Israel mengetahuinya.

Bilangan 12:3
Selipan ayat 3 ini seolah-olah tidak nyambung dengan introduksi yang diberikan oleh penulis mengenai kisah ini. Setelah Miryam dan Harun memposisikan Musa sebagai objek gosip karena menurut mereka Musa telah melakukan kesalahan. Narator kitab ini seperti memberikan pembelaan tentang Musa. Narator tidak membela Musa berhubungan dengan wanita Kush, melainkan menyatakan sebuah kredibilitas dan kualitas seorang nabi bernama Musa. Musa digambarkan sebagai seorang yang sangat lembut hatinya. Seorang yang teachable (mau diajar). Seorang Nabi yang merelakan apa saja untuk mentaati firman Tuhan. Kata “hati yang lembut” dalam Alkitab mengacu kepada teachableness; hati yang lembut untuk dibentuk dan mengikuti kehendak/ firman Tuhan. Musa adalah seorang nabi yang menyukai kehendak Tuhan dan merindukan hal tersebut untuk dilakukan dengan segenap hati. Kualitas seorang yang benar-benar berkenan di hadapan Tuhan. Kelembutan hati Musa yang dijelaskan oleh narator tidak memiliki tandingan, ia memiliki hati yang lembut lebih dari semua orang yang ada di dunia ini.

Dalam kasus yang digosipkan oleh Miryam dan Harun, apakah Musa bersalah? Jika pembelaan narator seperti demikian, masih ada kemungkinan untuk menyimpulkan bahwa Musa sama sekali tidak bersalah. Sangat besar kemungkinan, seorang nabi seperti Musa pasti sudah membicarakan wanita Kush ini kepada Tuhan. Dan Tuhan tidak menilai Musa bersalah. Tidak mungkin Musa melanggar firman Allah dalam hal ini, ia pasti mendapatkan konfirmasi dari Allah untuk menikahi perempuan Kush tersebut. Apabila Musa menikahi seorang wanita Kush, tidak mungkin wanita itu seorang kafir, walaupun bukan orang Israel asli tentulah wanita itu menyembah YHWH. Oleh karena itulah narator memberikan pembelaan yang implisit mengenai kasus ini. Musa kemungkinan besar tidak bersalah. Kontras yang sangat ekstrim ini sepertinya ingin menyatakan bahwa Miryam dan Harun salah dalam menilai Musa.

Bilangan 12:4-8
Tuhan meresponi masalah ini dengan segera. Pada waktu itu juga Musa, Harun dan Miryam di panggil Tuhan ke kemah pertemuan. Allah ingin berbicara dengan mereka bertiga untuk menyelesaikan masalah tersebut. Mereka bertiga ada pemimpin dari suatu bangsa yang tegar tengkuk. Bangsa yang meskipun sudah melihat karya tangan Tuhan yang ajaib tetap saja tidak mengenal Allah mereka dengan baik. Kali ini para pemimpin bangsa tersebut mengalami sebuah “perpecahan.” Miryam dan Harun telah menggosipkan Musa dan bagi Tuhan, perkara ini sangat serius. Kesalahan ini sangat serius di mata Tuhan.

Tuhan memanggil Harun dan Miryam ke hadapan Tuhan yang turun dalam tiang awan di pintu kemah pertemuan itu. Kalimat “dengarlah firman-Ku ini,” adalah suatu imperatif/ perintah untuk memberikan perhatian khusus atau meminta memperhatikan dengan seksama. Apa yang Tuhan firmankan kepada Harun dan Miryam adalah sebuah pembelaan Tuhan terhadap Musa yang sebelumnya telah dipertanyakan status kenabiannya oleh mereka berdua. Di mata Tuhan, Musa bukanlah orang yang sembarangan. Musa adalah seorang hamba Tuhan yang setia dalam pekerjaan rumah Tuhan. Jika seorang nabi hanya mendapatkan penglihatan dan mimpi tetapi kepada Musa Allah berbicara sebagai seorang sahabat. Allah berbicara kepada Musa dengan terus terang, tanpa teka teki. Allah berbicara dengan Musa sangat jelas, tanpa simbol-simbol yang harus ditafsirkan. Bahkan Allah sendiri mengatakan bahwa Musa melihat rupa Tuhan. Siapakah orang yang spesial di mata Tuhan lebih dari pada Musa? Tidak ada. Musa menjadi seorang sahabat Tuhan, seorang yang berkenan di hati Tuhan sehingga Tuhan memberikan dirinya untuk dikenal dan memiliki hubungan yang sangat intim dengan Musa.

Jika Musa begitu dekat dan berbicara terus terang dengan Tuhan, mengapakah Harun dan Miryam masih memandang Musa sebagai orang yang salah dalam mengambil keputusan tersebut? Mengapakah Harun dan Miryam tidak berpikir “dua kali” untuk menggosipkan Musa dalam perkaran isterinya itu? Musa bisa saja bersalah, tetapi dalam perkara yang serius ini (mengambil seorang isteri orang Kush) tidak ia bicarakan dengan Tuhan lebih dahulu. Jika Harun dan Miryam tidak setuju bukankah mereka lebih baik berbicara langsung kepada Musa dan membicarakannya. Namun mereka yang notabene adalah nabi dan nabiah Tuhan telah memilih untuk membicarakan Musa dengan tidak baik di belakang Musa. Tetapi Allah mendengarkannya dan Allah bertindak tegas kepada mereka.

Dalam kasus ini kita bisa melihat dua hal penting yang sebenarnya saling kait mengait. Pertama, pembelaan Tuhan terhadap sahabatnya, Musa, dan kedua, disiplin Allah terhadap hamba-hambaNya yang seharusnya bertindak lebih bijaksana menyikapi masalah tersebut.

Bilangan 12:9-16
Allah murka kepada Miryam. Allah murka karena ia telah berbicara tentang Musa sesuatu yang tidak baik. Kejadian ini mirip dengan apa yang terjadi pada sahabat-sahabat Ayub. Ketika Allah berbicara kepada mereka semua, Allah mendapati bahwa tiga sahabat Ayub berbicara hal yang tidak benar tentang Tuhan (Ayub 42:7). Allah menghukum Miryam dan bukan Harun, karena menurut para rabi Yahudi penulisan nama Miryam lebih dahulu dari Harun menunjukkan bahwa Miryamlah yang mulai mengatai Musa sementara Harun hanyalah “terbawa” dalam pembicaraan yang negatif tersebut.

Allah menulahkan kusta kepada Miryam. Sebuah penyakit yang pada masa tersebut disebut kotor dan najis. Barangsiapa terkena kusta maka orang tersebut adalah orang najis dan barangsiapa bersentuhan dengan mereka maka orang yang bersentuhan itu pun akan menjadi najis juga. Tuhan sangat serius dengan kesalahan Miryam. Ia tidak sekedar memberikan sebuah hukuman. Ia memberikan hukuman yang keras. Sebuah penyakit kusta yang najis. Bentuk hukuman tersebut menunjukkan murka Allah kepada Miryam.

Pada waktu itu Musa digambarkan oleh narator sebagai orang yang pasif. Ia adalah orang yang digosipkan tetapi dia sendiri tidak berbicara. Ia tidak membela dirinya. Ia tidak marah. Tuhanlah yang marah oleh karena gosip itu dan Tuhan pula yang menjatuhkan hukuman kepada Miryam.

Meskipun Harun tidak terkena kusta, namun ia merasa bersalah dalam hal tersebut.Harun sadar bahwa ia dan Miryam telah melakukan kebodohan. Tindakan yang mereka lakukan adalah sebuah kebodohan, ketidakmengertian, sebuah arogansi terhadap pengenalan akan Tuhan. Mereka naif atas tindakan mereka. Mereka mencoba mengkritik, tetapi motivasi kritik tersebut adalah karena mereka merasa layak untuk melakukannya. Pertanyaan mereka di ayat yang kedua menunjukkan bahwa mereka membandingkan diri mereka dengan Musa dan merasa dalam “pengenalan” akan Tuhan dan kehendakNya mereka cukup kompeten untuk mengkritik Musa. Padahal mereka tidak mengenal Musa dan mereka tidak mengetahui pergumulan Musa bersama dengan Tuhan. Sebagai seorang nabiah, seharusnya Miryam dapat bertindak lebih bijaksana, namun realitanya tindakannya sangat bodoh. Harun yang tidak dihukum tersebut masih memiliki kepekaan untuk segera sadar apa yang telah mereka lakukan. Sebuah tindakan yang bodoh. Bagi Harun kejahatan yang mereka lakukan adalah sebuah tindakan yang lahir dari ketidakmengertian dan ketidakdewasaan. Harun menggambarkan hukuman Tuhan itu seperti seorang anak yang gugur dalam kandungan dan keluar dalam keadaan setengah busuk.

Janganlah kiranya Miryam dihukum dalam kebodohannya, karena memang dia tidak terlalu memahami kesalahannya. Dia memang salah, tetapi ia melakukannya dalam ketidakmengertian. Dia masih membutuhkan waktu untuk belajar lebih dalam lagi tentang semuanya itu.
Musa yang sebenarnya menjadi korban gosip tersebut menyadari juga apa yang dikatakan oleh Harun. Karena itu ia juga memohonkan kesembuhan bagi Miryam. Karena kusta berarti diasingkan, dibuang dan terpisah dari komunitas. Dipermalukan dan dianggap najis, jangankan untuk melayani Tuhan, mendekat saja ke perkemahan ia tidak diperbolehkan.

Tuhan mengampuni kesalahan Miryam dan hanya memberikan hukuman pengasingan selama 7 hari. Allah menggambarkan hukuman tersebut seperti seorang ayah yang meludahi wajah anaknya. Suatu tindakah Ayah yang marah kepada anaknya. Gambaran yang Tuhan pakai untuk menjelaskan hukuman tersebut adalah hukuman seorang ayah kepada anaknya. AnakNya telah melakukan kesalahan. Karena itu AyahNya, yaitu Allah sendiri, menghukumnya dengan mengasingkan dia selama 7 hari dari perkemahan umat Tuhan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.