Sarai dan Hagar (Kejadian 16:1-6)

1 Adapun Sarai, isteri Abram itu, tidak beranak. Ia mempunyai seorang hamba perempuan, orang Mesir, Hagar namanya.
Sarai atau Sara (sejak Kej 17:15 namanya diganti menjadi Sara) pertama kali diperkenalkan oleh penulis Kejadian pada pasal 11 (11:29) sebagai isteri Abaraham. Keterangan mengenai Sara diperjelas dengan mengatakan bahwa Sarai adalah seorang wanita mandul. Pasal selanjutnya, pasal 12, narator baru menuliskan tentang panggilan Abram yang akan memiliki keturunan yang sangat banyak. Jadi Allah sengaja memanggil Abraham untuk masuk dalam dimensi baru kehidupan beriman kepada Allah meskipun “fakta” yang ada di depan mata terlihat mustahil. Abraham sejak awal sudah menghadapi persoalan tidak mempunyai anak, karena isterinya mandul, tetapi Allah memberikan janji bahwa ia akan memiliki keturunan yang sangat banyak. Sebelum pasal 17, memang belum ada kejelasan dari mana lahirnya anak yang dijanjikan oleh Tuhan itu, dari Sarai isterinya ataukah dari wanita yang lain.

Namun demikian jika direnungkan dengan seksama maka kemungkinan janji keturunan yang dijanjikan Allah tersebut lahir dari wanita lain, bukan Sara, sangat kecil. Karena akan terjadi inkonsistensi dengan panggilan Allah terhadap Abram untuk hidup bergantung dan beriman hanya kepada Allah di tengah situasi kelihatannya tidak mendukung. Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa sejak awal Allah memang sudah merencanakan bahwa janji Allah itu akan digenapi melaui Abram dan Sarai, isterinya, itulah sebabnya Sarai yang mandul sudah diperkenalkan sejak awal pada pasal 11, sebelum Abram dipanggil oleh Tuhan keluar dari Ur.

Di pasal 16, Sarai diperkenalkan ulang dengan keterangan yang sama persis dengan pasal 11, (1)isteri Abraham dan (2)tidak mempunyai anak. Keterangan ini merupakan pendahuluan dari kisah pertengkaran antara Sarai dan Hagar. Tidak mempunyai anak bukan hanya kegusaran yang ada dalam diri Abram tetapi juga isterinya. Sarai, isteri Abram itu tahu bahwa Allah telah menjanjikan keturunan kepada mereka, sampai pada pasal 16 ini ia mengalami krisis yang disebabkan kemandulannya itu. Namun sayangnya Abram dan Sarai belum memahami apa yang Allah inginkan melalui semuanya itu. Janji Allah tidak hadir begitu saja tanpa membentuk orang-orang yang menerima janji tersebut. Allah selalu menginginkan anak-anakNya bertumbuh secara rohani dan semakin mengenal siapa Allah yang mereka sembah. Karena itu janji keturunan seperti pasir di laut banyaknya tidak diberikan kepada orang yang sudah mempunyai banyak anak, tetapi kepada Abram yang tidak punya anak supaya melalui situasi yang mustahil bagi manusia itu mereka dapat melihat kuasa Allah yang melampaui kekuatan manusia. Cara berpikir yang seperti ini yang tidak dipahami oleh Abram dan Sarai.

Janji Allah adalah pemberian yang harus diterima dengan iman dalam perjalanan iman. Bukan hanya diterima dengan iman kepada Allah tetapi “proses penerimaan/ penggenapan” itu sekaligus akan menjadi perjalanan iman. Artinya janji itu adalah konteks dimana orang-orang percaya masuk ke dalam dimensi iman dan melihat Allah bekerja dengan caraNya sendiri dan bukan dengan cara manusia. Dan dalam proses menuju penggenapan janji tersebut mereka harus berjalan bersama dengan Tuhan dengan iman. Berjalan dengan Tuhan ini akan membawa orang-orang percaya dalam pengenalan akan Allah dan kedewasaan rohani, mereka menjadi semakin matang di dalam Tuhan. Meskipun perjalanan tersebut bukanlah perjalanan yang mudah bagi manusia berdosa.

Narator memperkenalkan nama Hagar sebagai budak dari Sarai. Budak pada masa itu dinilai sama dengan property, hak milik yang sama dengan benda-benda kepemilikan yang lain, seperti: rumah, tanah, dsb. Konsep ini memang jauh berbeda dengan konsep modern yang kita pahami sekarang. Jadi pada waktu itu sang pemilik budak berkuasa penuh atas budak-budak milik mereka dalam melakukan apapun, termasuk melahirkan anak bagi tuannya. Anak yang dilahirkan oleh seorang budak bukanlah hak miliknya sendiri melainkan milik dari tuannya. Dengan demikian sebagai budak Sarai, Hagar berada di dalam kekuasaan Sarai dan anak yang dikandungnya adalah hak milik Sarai.

2 Berkatalah Sarai kepada Abram: "Engkau tahu, TUHAN tidak memberi aku melahirkan anak. Karena itu baiklah hampiri hambaku itu; mungkin oleh dialah aku dapat memperoleh seorang anak." Dan Abram mendengarkan perkataan Sarai. 3 Jadi Sarai, isteri Abram itu, mengambil Hagar, hambanya, orang Mesir itu, yakni ketika Abram telah sepuluh tahun tinggal di tanah Kanaan ,lalu memberikannya kepada Abram, suaminya, untuk menjadi isterinya.
Ayat ini mencatat perkataan Sarai untuk pertama kalinya. Ungkapan yang keluar dari mulut Sarai merupakan manifestasi kegusarannya karena tidak mempunyai anak. Narator menggunakan kalimat yang menggambarkan sikap Sara terhadap situasi ini, “TUHAN tidak memberi aku melahirkan anak.” Kesalahan Sarai berakar pada pemikirannya yang menganggap bahwa Tuhan tidak akan menggenapkan janjiNya melalui tubuhnya. Ia sudah tua dan mandul, jadi kesimpulannya Allah tidak akan memberikan anak kepadanya. Sarai tidak melakukan yang sebaliknya, yaitu menafsirkan situasi ini dari kacamata Tuhan dan janjiNya. Meskipun Sara sendiri mengakui bahwa Allah adalah sumber kehidupan dan seorang anak bisa hadir ke dalam dunia oleh karena karya Tuhan, dalam hal ini ia benar mengenai Allah. Namun ia tidak melihat aspek lain dari Allah yang bukan saja Pencipta kehidupan tetapi juga Allah yang mampu melakukan segala sesuatu yang mustahil bagi manusia. Mandul berarti tidak bisa mengandung dan tua berarti mempersempit kesempatan untuk mengandung karena faktor menopause. Semua konsep ini alami. Tetapi apa yang dimaksud dengan alami? Hukum-hukum alam tidak ada dengan sendirinya tetapi diciptakan oleh Allah. Hukum tersebut berjalan hingga sekarang ditopang oleh kuasa Allah. Dengan demikian Allahlah yang berkuasa atas seluruh hukum alam, dapat berjalan seperti biasa atau luar biasa. Kandungan wanita mandul secara alamiah memang tidak bisa dibuahi, tetapi Allah yang berkuasa atas semuanya itu tentu saja bisa melakukan hal yang sebaliknya.

Sarai percaya bahwa Allah adalah pencipta kehidupan namun mengabaikan aspek lain yaitu kemahakuasaan Allah. Bergaul dengan Allah juga berarti mengenal atributNya dan sebagian dari atribut Allah itu dapat kita kenal melalui perjalanan iman. Menunggu Allah bekerja dengan caraNya sendiri membutuhkan iman. Oleh sebab itu Sarai mengambil langkah yang lain. Langkah yang tidak membutuhkan iman, meminta Abram meniduri Hagar, budaknya, supaya ia mendapatkan anak dari Abraham.

Sarai melakukan kesalahan. Abram juga melakukan kesalahan. Ia tidak terlebih dulu bertanya kepada Tuhan mengenai saran Sarai ini. Hal ini mengisyaratkan Abram mempunyai pemikiran yang tidak terlalu berbeda dengan Sarai, mereka berdua mengabaikan elemen iman. Apa yang terjadi atas Sarai dan Abram sama dengan apa yang terjadi pada Hawa dan Adam. Hawa menawarkan buah terlarang kepada Adam dan ia tidak menolaknya.

Penulisan kisah-kisah Abraham oleh narator memberikan implikasi yang menolong kita memahami lebih dalam teks ini. Dalam pasal-pasal sebelumnya, narator banyak sekali mencatat firman Allah kepada Abram. Allah berbicara kepada Abram dan mengikat perjanjian dengannya. Namun pada pasal 16 ini, tidak ada suara Tuhan yang dicatat. Sepertinya Tuhan memilih diam. Persis seperti peristiwa Adam dan Hawa ketika makan buah pengetahuan, Allah juga diam. Ketika manusia berkonspirasi untuk melakukan apa yang tidak sesuai kehendak Allah, Ia diam. Ke-diam-an Tuhan ini adalah sebuah hukuman. Jika kebenaran Allah tidak disuarakan berarti Allah sedang menghukum. Sebab firman Allah adalah terang manusia yang mampu membuat manusia melihat realita dunia ini dengan benar (perspektif Allah terhadap dunia adalah kebenaran). Tanpa firman Tuhan anugerah Allah juga tidak hadir. Suara penghukuman (firman Tuhan yang menyuarakan penghukuman) lebih baik dari pada tidak ada firman Tuhan. Karena di dalam firman Tuhan yang menghukum itu terdapat anugerah jika manusia berbalik dari jalannya yang jahat. Sebaliknya, jika Allah diam saja, maka manusia tidak sadar bahwa dirinya telah melakukan kesalahan. Karena itu dosa yang dilakukan oleh Sarai dan Abram membuat Allah memilih untuk diam. Allah muncul pada pasal 16 bukan untuk Sarai dan Abram tetapi untuk Hagar yang lari dari tuannya.

4 Abram menghampiri Hagar, lalu mengandunglah perempuan itu. Ketika Hagar tahu, bahwa ia mengandung, maka ia memandang rendah akan nyonyanya itu.
Keputusan Abram dan Sarai memang memberikan mereka kesempatan mempunyai anak. Skenario berjalan seperti yang direncanakan. Hagar hamil dan akan melahirkan seorang anak. Namun sikap Hagar berubah. Ia merasa diri lebih baik dari tuannya. Ia memandang rendah Sarai yang mandul sementara ia mampu memberikan anak kepada Abram. Sama seperti Sarai dan Abram, Hagar turut melakukan kesalahan. Ia lupa akan statusnya sebagai budak masa itu yang tidak mempunyai hak untuk kandungannya bahkan untuk dirinya sendiri.

Sebenarnya Hagar tidak terlibat apa-apa dengan janji Allah kepada Abraham. Ismael, anaknya bukanlah anak yang dijanjikan oleh Tuhan, namun karena dia adalah keturunan Abraham juga maka Allah memberkati Ismael menjadi bangsa yang besar dan hingga sekarang berseteru dengan bangsa keturunan Ishak. Dalam hal ini Hagar memang bersalah. Namun akar kesalahan dari semua permasalahan ini adalah Sarai dan Abram yang bertindak bodoh dengan mengambil Hagar menjadi isteri Abram demi mendapatkan anak dan “menolong” Tuhan menepati janjinya. Secara status dan tradisi Ismael adalah anak Sarai, hak milik Sarai, namun Allah tidak menghendaki cara tersebut. Allah akan melakukannya dengan caranya sendiri dan pada waktuNya sendiri.

5 Lalu berkatalah Sarai kepada Abram: "Penghinaan yang kuderita ini adalah tanggung jawabmu; akulah yang memberikan hambaku ke pangkuanmu, tetapi baru saja ia tahu, bahwa ia mengandung, ia memandang rendah akan aku; TUHAN kiranya yang menjadi Hakim antara aku dan engkau." 6 Kata Abram kepada Sarai: "Hambamu itu di bawah kekuasaanmu; perbuatlah kepadanya apa yang kaupandang baik." Lalu Sarai menindas Hagar, sehingga ia lari meninggalkannya.
“Masalah” yang mau diselesaikan oleh Sarai justru menimbulkan masalah yang baru. Mandul dan tidak punya anak hingga usia seperti itu di mata Sarai adalah masalah, tetapi tidak di mata Tuhan. Kemandulan Sarai bukanlah masalah bagi Allah Yang Mahakuasa apalagi Ia sendiri yang menjanjikan keturunan tersebut. Tentu saja Dia yang akan bertanggung jawab atas “masalah” yang sedang mereka hadapi. Namun sekarang, masalah baru sudah muncul. Hagar, sang budak, melonjak ketika tahu bahwa dirinya hamil. Sarai merasa dihina dan menderita karena perbuatan Hagar. Karena itu ia menuding Abram sebagai orang yang harus bertanggung jawan atas masalah yang baru ini. Sarai merasa dirinya sudah melakukan hal yang benar. Ia berinisiatif memberikan budaknya demi mendapatkan anak yang mereka harapkan, tetapi hasilnya budaknya berbalik menghinanya. Bagi Sarai, Abramlah yang bertanggung jawab atas sikap Hagar itu. Tuduhan Sarai sangat tidak masuk akal. Abram sebenarnya bersikap pasif. Ia berinisiatif adalah Sarai dan Hagar adalah budak milik Sarai, bukan milik Abram. Abram hanya menyetujui mengambil Hagar menjadi isterinya dan ternyata Hagar hamil. Kehamilan tersebut adalah wajar bahkan justru tujuan Sarai adalah Hagar mengandung dan melahirkan anak. Tetapi karena ia disakiti ia membebankan kesalahan itu kepada Abram dan “membawa” suaminya itu ke hadapan pengadilan tertinggi, yaitu Tuhan. Sarai berkata bahwa Tuhan, akan menjadi Hakim atas pertikaian mereka berdua.

Akhirnya Abram bersuara. Ia menjawab tuduhan Sarai terhadap dirinya. Meskipun Abram menjawab, ia masih terkesan bersikap pasif dan tidak bertindak menyelesaikan masalah. Ia mengembalikan semuanya itu kepada Sarai. Ia menekankan bahwa Hagar berada di bawah kuasanya, meskipun Hagar telah diberikan Sarai untuk menjadi isteri Abram. Abram seharusnya memberikan jawaban yang lebih bijaksana karena Hagar bukan saja budak dari isterinya tetapi kini sudah menjadi isterinya. Hagar mempunyai dua status, budak Sarai, tetapi juga isteri Abram. Dalam kasus Ruben yang tidur dengan Bilha (Kej 35:22), Yakub mencabut hak hak kesulungan dari Ruben. Sebab Bilha, meskipun budak dari Rahel, tetapi Bilha adalah gundik ayahnya. Karena itu hubungan Hagar dengan Abram sama dengan hubungan Bilha dengan Yakub. Oleh karena itu Abram seharusnya tidak mengatakan hal tersebut. Ia seperti tidak terlibat dengan masalah itu padahal sesungguhnya ia sepenuhnya terlibat. Walaupun ia berkata kepada Sarai untuk melakukan apa yang ia pandang baik terhadap Hagar tetapi penekanan kalimat Abram adalah Hagar ada dibawah kekuasaan Sarai. Alhasil, Sarai membalas Hagar dengan menindasnya, sehingga Hagar, budaknya melarikan diri dari rumah tersebut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.