Tulisan di Dinding (Daniel 5:1-30)

Ayat 1-6
Menurut kitab Daniel Raja Belsyazar adalah anak dari Raja Nebukadnezar (5:2). Nama Belsyazar berarti “O Dewa Bel, lindungilah raja.” Tidak ada catatan pada bagian lain mengenai Raja Belsyazar dalam Alkitab. Ia hanya dikisahkan sedikit saja yakni mengenai kesalahannya dan Allah menghukum mati dirinya. Menurut catatan sejarah bangsa Kasdim Belsyazar adalah anak Nabodinus, bukan Nebukadnezar. Dalam kitab Daniel hubungan Nebukadnezar dan Belsyazar adalah hubungan dinasti dan digunakan istilah ayah-anak. Pesan bagian ini terletak pada kontras kedua tokoh tersebut. Bagian ini (pasal 5) diletakkan langsung dengan kisah Nebukadnezar yang meninggikan diri kemudian direndahkan oleh Tuhan tetapi ia mengalami pemulihan dan dibagian akhir kisah tersebut Nebukadnezar memuji, meninggikan dan memuliakan Raja Sorga. Tetapi Belsyazar, tidak mengalami titik balik. Ia berdosa kepada Tuhan dengan meninggikan diri dan kemudian mati. Nebukadnezar dan Belsyazar disebut sebagai ayah-anak untuk memberikan perbandingan dan juga persamaan kesalahan yang dilakukan oleh raja-raja Babel, kerajaan yang besar itu.

Yang membawa perkakas Bait Allah sampai di Babel adalah Nebukadnezar. Ia melakukannya sebagi symbol kemenangan atas Allah Israel yang dikalahkan oleh Babel sebagai tradisi perang pada waktu itu. Tidak ada catatan Nebukadnezar salah menggunakan perkakas tersebut. Orang yang bersalah terhadap perkakas Bait Allah itu adalah Belsyazar. Ia menggunakannya untuk berpesta dalam kemabukan dan Ia memerintahkan mengambil perkakas itu juga dalam kemabukan. Penajisan perkakas-perkakas Bait Allah dapat dilakukan dengan menggunakannya tujuan yang salah. Pada bagian ini sangat jelas bahwa Belsyazar menggunakan perkakas-perkakas itu sambil memuji-muji dewa dewa-dewa dari emas dan perak, tembaga, besi, kayu dan batu. Tindakan itu sangat jelas sebagai sikap penghinaan dan penghujatan kepada Allah Israel dan merendahkan barang-barang yang digunakan untuk penyembahan kepadaNya. Itulah sebabnya pada waktu Daniel menterjemahkan makna tulisan di dinding itu Daniel menyebutkan lagi bahwa Belsyazar menggunakan perkakas-perkakas itu sambil menyembah berhala.

Allah langsung menjatuhkan hukuman kepada Raja Belsyazar persis seperti yang Allah lakukan kepada Nebukadnezar. Pada waktu itu Nebukadnezar meninggikan dirinya dan merasa bahwa dirinya adalah orang yang berkuasa atas Babel. Belum selesai Nebukadnezar mengucapkan kata-kata yang sombong itu Allah langsung memberikan interupsi bahwa hukuman yang telah diperingatkan kepadanya mulai dijalankan atas dirinya dan kerajaan yang ia banggakan sebagai karyanya itu diambil alih dari dirinya (4:30-31). Belsyazar seharusnya melihat dan belajar dari pengalaman ayahnya dengan masalah yang sama. Menjadi raja atas Babel, kerajaan yang sangat besar dan kuat, memang memberikan kebanggan dan kemuliaan tersendiri, sulit untuk tidak meninggikan diri dan menikmati kemuliaan untuk diri sendiri dan merasa memiliki kuasa yang tertinggi. Namun Allah penguasa alam semesta tidak berkenan kepada orang-orang yang meninggikan diri karena semua kuasa yang ada di dunia ini berasal dari Allah dan diberikan oleh Allah sehingga tidak seorangpun yang mempunyai hak untuk meninggikan diri terutama kepada Allah. Allah dengan tegas memberikan hukuman kepada raja-raja dari kerajaan super power demi menyatakan bahwa kuasa yang ada di dunia ini tidak dimiliki oleh seseorang karena hebat dan gagahnya dia tetapi karena Allah yang mempercayakannya, Ia berkuasa memberi dan mengambilnya kembali.

Ayat 7-12
Tulisan tak terbaca yang ada didinding istana itu menggelisahkan raja sehingga ia memerintahkan kepada seluruh ahli dan orang-orang pandai di Babel untuk membaca tulisan itu dan memberikan artinya. Tulisan itu berasal dari Allah dan tidak dituliskan dalam bahasa yang dimengerti oleh orang-orang Kasdim bahkan oleh orang-orang pandai. Oleh karena tulisan di dinding itu berasal dari Allah maka hanya Allah saja yang dapat menyingkapkan apa makna tulisan tersebut. Kemisterian tulisan itu, karena tidak ada yang bisa membaca dan mengartikannya memberikan terror kepada Raja Belsyazar. Ia dilanda suatu ketakutan yang amat sangat karena tulisan itu muncul secara supra alamiah, tidak dituliskan oleh manusia tetapi dituliskan oleh sebuah tangan tanpa orangnya kelihatan. Belsyazar merasakan kesalahan ada pada dirinya berhubungan dengan perkakas-perkakas Bait Allah Israel yang digunakannya secara tidak senonoh. Ketakutan yang amat sangat itu muncul begitu kuat karena ia tidak tahu apa yang akan terjadi padanya padahal “hukuman” itu sudah tertera didinding tanpa ia mengerti apa artinya.

Melihat kegundahan yang begitu besar dalam diri Raja Belsyazar, permaisurinyanya mendatanginya dan memberitahukan perihal Daniel. Di sini memang terlihat keanehan yakni Daniel tidak dikenal oleh Raja Belsyazar padahal di era pemerintahan Nebukadnezar, Daniel diangkat menjadi kepala atas seluruh orang pandai. Daniel memiliki kecerdasan 10 kali lipat dari seluruh orang pandai se-Babel, Ia adalah kepala atas mereka, namun ia tidak dikenal sama sekali oleh Belsyazar. Hal ini menunjukkan bahwa Belsyazar tidak pernah belajar banyak peristiwa-peristiwa yang dialami pendahulunya. Permaisurinya saja mengenal Daniel yang sebagai orang yang dipenuhi oleh roh para Dewa tetapi Belsyazar tidak mengenalknya. Padahal dari seluruh orang pandai yang dipanggil ke istana, Daniel tidak terhitung di dalamnya berarti Daniel tidak termasuk sebagai orang pandai yang diakui atau diperkerjakan oleh Istana Belsyazar.

Ayat 13-28
Istilah yang melekat kepada Daniel adalah manusia yang dipenuhi oleh roh para dewa. Di tengah-tengah bangsa yang politeisme Daniel selalu dihubungkan dengan dewa-dewa yang dikenal oleh bangsa Kasdim. Istilah tersebut muncul oleh karena Daniel dapat mengetahui hal-hal yang mustahil diketahui oleh manusia tanpa pengetahuan yang supra alamiah. Pengetahuan tentang mimpi dan maknanya tanpa pernah diceritakan apa isi mimpi tersebut. Daniel mengetahui semuanya itu dari Allah melalui doa-doa pribadinya. Daniel membangun suatu hubungan yang begitu kuat dengan Allahnya, itulah sebabnya Allah menyatakan kepada Daniel berbagai-bagai pengetahuan yang tidak mungkin dijangkau oleh para ahli jampi dan orang-orang pandai di Kasdim.

Raja Belsyazar mendapatkan harapan untuk mengetahui arti tulisan di dinding itu dengan pertemuannya dengan Daniel karena itu ia menjanjikan hadiah-hadiah kepada Daniel, termasuk kekuasaan menjadi orang ketiga di kerajaan itu. Namun narasi ini menyatakan bahwa Daniel dengan tegas berkata: “Tahanlah hadiah tuanku.” Daniel tidak melakukan semuanya itu demi harta dan kekuasaan seperti para ahli dan orang pandai di Kasdim melakukan hal tersebut kepada Istana. Daniel melakukannya karena ia ingin menolong Raja Belsyazar. Daniel tidak tergiur dan tertarik dengan kekuasaan dan hartayang dijanjikan oleh raja kepadanya. Hal ini kembali menegaskan karakter Daniel yang begitu kuat dan takut akan Allah, tidak mencari hormat melainkan kemuliaan Allah semata.

Ketika raja bertanya kepada Daniel mengenai arti tulisan di dinding itu, Daniel menjawabnya dengan suatu pendahuluan yang berhubungan dengan alasan tulisan itu muncul di dinding. Tulisan itu adalah respon Allah kepada Raja Belsyazar sama seperti yang telah Allah lakukan kepada Nebukadnezar. Raja-raja di Babel “menikmati” kekuasaan yang begitu besar, mereka “dapat” membunuh siapa saja yang mereka ingin bunuh, mereka dapat mengangkat siapa saja yang ingin mereka angkat, seolah-olah kekuasaan mereka absolute. Hal ini membuat raja-raja Babel yang besar itu menjadi tinggi hati dan meninggikan diri atas Allah, Pencipta langit yang bumi, yang justru menggengap hidup mereka. Allah tidak membiarkan hal tersebut terjadi, Allah membenci orang-orang yang menghujat Allah dengan meninggikan diri atas segala ciptaan Allah. Kuasa yang ada di tangan manusia hanyalah titipan dan tidak bersifat absolute. Allah telah menghajar Nebukadnezar yang tinggi hati dengan begitu kerasnya bahkan membuatnya sama dengan binatang sampai akhirnya ia mengakui bahwa sesungguhnya Raja Sorga adalah Penguasa yang sejati dan satu-satunya.

Dalam narasi ini, Belsyazar, yang disebut sebagai anak Nebukadnezar, tidak merendahkan diri seperti pendahulunya walaupun sudah mengetahui semuanya ini. Bahkan lebih lagi, Belsyazar telah meninggikan diri terhadap Yang Berkuasa di sorga dengna cara menghina perkakas-perkakas Bait Allah dengan sengajar untuk menyembah berhala-berhala rendahan yang terbuat dari materi logam dan kayu. Di mata Tuhan hal tersebut adalah penghujatan dan penghinaan, oleh sebab itu hukuman yang keras telah dijatuhkan kepada Belsyazar.

Ayat 29-30
Tidak seperti Nebuknezar yang mendapatkan kembali kesadarannya dan berbalik dari kesombongannya dan memuji Allah di Sorga, Belsyazar tidak mendapatkan kesempatan tersebut. Mene mene tekel Ufarsin menyatakan bahwa selain kekuasannya telah diakhiri, Belsyazar telah ditimbang dan didapati terlalu ringan. Belsyazar adalah raja yang tidak memiliki kebaikan yang cukup untuk mendapatkan kesempatan seperti Nebukadnezar yang dicatat dalam kitab ini sempat mengakui kekuasaan Allah Daniel sebelum ia mengalami pembuangan selama 7 masa. Dengan demikian Belsyazar mati pada malam dimana ia mendapatkan arti dari tulisan di dinding itu. Namun sebelum ia mati, ia sempat mengaruniakan kepada Daniel apa yang telah ia janjikan jika Daniel dapat membaca tulisan dan mengartikannya kepada Raja Belsyazar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.