Yesus Membasuh kaki murid-muridNya (Yohanes 13:1-17)

Review Injil Yohanes
Injil Yohanes dibagi menjadi 2 bagian, yakni: “the book of signs/ buku tanda-tanda” (Pasal 1-12) dan “the book of glory/ buku kemuliaan” (13-21). Buku tanda-tanda terdiri dari 7 tanda (mujizat) yang dilakukan oleh Tuhan Yesus di hadapan orang Israel. Yohanes menyebut mujizat-mujizat yang dilakukan Yesus sebagai tanda. Penggunaan istilah ini berbeda dengan penggunaan oleh para penulis Injil Sinoptik (Matius, Markus, Lukas). Yohanes menyebutnya sebagai “tanda” karena hal tersebut mengacu pada sesuatu yang lain (refer to something). Tanda itu diberikan supaya melaluinya orang melihat kemuliaan dan dengan melihat kemuliaan itu mereka percaya bahwa Yesus adalah Mesias dan jika mereka percaya maka mereka akan diselamatkan. Konsep ini dapat diskemakan sebagi berikut: Signs - Glory - Believe - Saved by Jesus’ death

Yoh 13:1-3
C. H. Dodd berpendapat bahwa awal dari the book of passion (atau the book of glory) adalah pasal 13. The book of signs ditutup di pasal 12 (12:36). Ayat-ayat setelah 12:36 merupakan merupakan epilog dari the book of signs dan bisa juga digolongkan sebagai transisi. Hal ini dapat disimpulkan karena tema-tema yang diangkat dalam epilog ini merupakan tema-tema yang telah ada mulai dari prolog hingga keseluruhan the book of signs.

The book of glory diawali dengan penjelasan waktu “before the Feast of the Passover.” Pada penunjuk waktu tersebut Yohanes mengatkan bahwa Yesus mengetahui “His hour had come.” Konsep waktu merupakan hal yang sangat penting dalam Injil Yohanes. Pembagian Injil Yohanes menjadi 2 buku (signs dan glory) dilakukan berdasarkan penyataan Yesus mengenai waktu. Yesus pertama kali menggunakan kata “waktu” pada waktu Maria, IbuNya, meminta pertolongan kepadaNya di pesta perkawinan Kana. Pada waktu itu Yesus berkata “my hour has not yet come” (2:4). Waktu apa yang Yesus maksudkan belum tiba? Apakah makna waktu yang dimaksud di pasal 13 sama dengan waktu yang ada di pasal 2?

Di pasal 2, waktu yang belum tiba tersebut berhubungan dengan kemuliaan. Karena pada bagian akhir narasi perkawinan di Kana Yohanes mengatakan bahwa mujizat air menjadi anggur merupakan tanda yang pertama kali Yesus lakukan supaya murid-muridNya melihat kemuliaan Allah dan dengan melihat mereka menjadi percaya (2:11). Itulah sebabnya narasi pesta perkawinan di Kana menjadi bagian awal dari the book of signs.

Di pasal 7 (7:6,8), Yesus mengatakan “My time has not yet fully come,” tetapi Yohanes menggunakan kata kairos dan bukan hora. Menurut para ahli kata kairos dan hora dalam konteks ini tidak memiliki makna yang berbeda. Kata kairos mengacu pada kemuliaan. Konsep kemuliaan ini muncul karena saudara-saudara Yesus yang tidak percaya kepadaNya menyuruhnya untuk pergi menampakkan diri dan melakukan perbuan-perbuatan ajaib di depan orang banyak bukan di tempat yang tersembunyi.

Pasal 2 dan pasal 7 yang membicarakan mengenai waktu Yesus yang belum tiba semuanya mengacu kepada kemuliaan. Kemuliaan yang membawa orang-orang yang melihat kemuliaan itu percaya kepada Kristus. Pasal 13 memberikan penjelasan waktu yang lebih eksplisit, yakni waktu dimana Yesus akan beralih dari dunia ini kepada Bapa. Jika kemuliaan berarti meninggalkan dunia dan berpaling kepada Bapa, maka Yesus harus mengalami kematian, karena Ia adalah manusia 100% (Logos yang memiliki daging). Namun Yesus tidak mungkin kembali kepada Bapa begitu saja tanpa memiliki arti apa-apa berinkarnasi di bumi ini. Logos datang ke dunia ini dengan misi dan tujuan yang jelas. Keener mengatakan Jesus is God’s agent sehingga iman kepada Yesus sekaligus merupakan iman yang genuine kepada Bapa. Percaya kepada Yesus berarti percaya kepada Bapa. Yohanes memberikan penegasan yang sangat kuat pada bagian akhir the book of signs (12:44-45) dengan menggunakan kata αλλα (but – strong mood). Orang-orang yang percaya kepada seorang utusan tidak percaya kepada utusan tersebut tetapi percaya kepada yang mengutus. Jadi siapa yang percaya kepada Yesus tidak percaya kepada Yesus (saja) tetapi kepada Bapa yang mengutusNya. Penggunaan kata avlla. (tidak) memberikan nuansa bahwa Yesus ingin mengatakan bahwa Ia adalah seorang agen yang bertugas untuk memperkenalkan Bapa kepada dunia. Tidak diragukan nuansa ini cukup kuat dan jelas dalam Injil Yohanes, berulang-ualng kali Yesus disebutkan sebagai utusan (avpo,stoloj) dan Bapa sebagai Pengutus. Kuatnya kesan tersebut dari Injil ini bertujuan untuk mempertegas pesan Yesus sebagai satu-satunya jalan menuju Bapa dan menegaskan Yesus sebagai a new and the only revealer of the Father. Jadi pelayanan Yesus di bumi ini (menurut Injil Yohanes) adalah menyatakan tanda supaya orang-orang melihat kemuliaan Allah dan kemudian mereka percaya (dan diselamatkan). Beralih dari dunia kepada Bapa HARUS menyatakan pekerjaan Yesus di dunia ini selesai. Jika dihubungkan dengan penutup the book of signs maka pelayanan Yesus di depan publik sudah selesai dan tanda-tanda yang perlu Ia nyatakan juga sudah selesai maka bagian pekerjaan Yesus yang belum selesai adalah ditinggikan (3:14-15). Yesus perlu ditinggikan supaya setiap orang yang percaya kepadaNya diselamatkan atau dengan kata lain keselamatan hanya bisa diperoleh orang percaya jika Yesus ditinggikan. Cara Yesus ditinggikan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun (3:14) yaitu dengan cara digantung. Oleh sebab itu maka tugas Yesus yang belum selesai adalah digantung atau disalibkan dan sekarang waktu untuk disalibkan itu sudah tiba, penyaliban itu bagi Yesus adalah ditinggikan, ditinggikan itu bagi Yesus adalah kemuliaan. Konsep ini adalah pemikiran Yohanes yang unik, karena bagi Yohanes salib dipandang sebagi kemuliaan yang begitu agung dan bukan kutuk.

Konsep di atas ditegaskan dan didukung juga oleh kata-kata Yesus yang dikutip oleh Yohanes. Pada waktu Yesus sedang disalib dan menyelesaikan tugasnya yang terakhir, ia berkata tete,lestai (baca: tetelestai). Kata tetelestai merupakan bentuk perfect dari kata to accomplish, yakni kata yang digunaka Yesus ketika mengatakan “My food is to do the will of Him who sent Me and to accomplish His work.” Jadi kata “sudah selesai” merupakan pernyataan bahwa seluruh tugas Logos yang berinkarnasi itu sudah selesai.

Kata “dunia” seperti yang dibahas sebelumnya (pada bagian Prolog) mengacu kepada umat manusia, tetapi sudah dijelaskan juga bahwa Yohanes membedakan antara dunia dengan orang-orang yang menerima Yesus. Pada bagian ini juga Yohanes mengatakan bahwa Yesus memberikan perhatian khusus kepada orang-orang yang ia kasihi. Pembedaan ini sudah jelas sejak awal dan pada penutup the book of signs Yesus meninggalkan pelayanan public (orang banyak) tetapi masih melanjutkan pelayananNya kepada murid-murid. Kelompok ini sangat spesial bagi Yesus bahkan di dalam doaNya, Yesus juga mengingat mereka dan memohon Allah menyertai mereka yang masih tetap tinggal di dalam dunia, dunia yang menolak Yesus (Yoh 17). Yoh 13:1 merupakan prolog semua narasi perpisahan (farewell discourse) Yesus dengan murid-muridNya yang dicatat hingga pasal 16 (Yoh 13-16).

Menurut epilog the book of signs tidak semua orang yang melihat tanda-tanda yang Yesus lakukan menjadi percaya, sebagian di antara mereka tetap tidak percaya (12:37-43) dan menurut kutipan dari nabi Yesaya, ketidakpercayaan itu telah dinubuatkan. Selain ada yang tidak percaya ada juga kelompok orang yang percaya, di pasal 6, dalam narasi pengakuan Petrus, Yesus menyebut murid-muridNya yang 12 orang itu sebagai orang-orang yang Ia pilih sendiri sehingga mereka tetap mengikut Yesus tetapi satu diantara mereka adalah iblis (6:70). Lebih lanjut di pasal 13, Yohanes kembali menghubungkan Yudas dengan iblis. Dalam narasi ini iblis menguasai Yudas dalam 2 tahap. Pertama, iblis meletakkan rencan untuk mengkhianati Yesus dalam hati Yudas. Kata meletakkan dalam konteks ini memiliki makna dengan penggunaan di ayat-ayat ini (Mt 10:34; Mk 7:33; Lk 13:8; Rv 2:14) dan tahap yang kedua adalah Yudas dirasuki oleh iblis (13:27) dan Yohanes menggunakan kata yang sama untuk menggambarkan orang yang kerasukan legion (Mar 5:12). Kepada orang yang seperti ini Yesus masih menunjukkan kasihNya dengan membasuh kaki Yudas. Segala sesuatu telah diserahkan kepada Yesus namun Ia tidak menggunakan hal itu untuk mengalahkan Iblis yang menguasai Yudas, Ia menggunakanNya untuk menggenapi misi yang dari Allah.

Yesus mengasihi murid-muridNya dan Ia akan terus mengasihi mereka sampai kesudahannya. Yesus datang ke dunia ini karena Ia mengasihi dunia yang berdosa dan ia ingin memberikan keselamatan kepada orang-orang yang percaya kepadaNya dan Ia memilih murid-muridNya untuk melayani bersama-sama denganNya. Kasih Yesus kepada murid-muridNya tidak berkesudahan, Ia akan terus menerus mengasihi mereka meskipun Ia tidak ada lagi bersama-sama dengan mereka. Secara khusus Yesus memberikan waktu kepada murid-muridNya sebagai pernyataan kasihNya kepada mereka dan Ia memulainya dengan membasuk kaki mereka.

Yoh 13:4-5
Di Timur Tengah kuno jalan-jalan cenderung berdebu sehingga kaki akan menjadi kotor ketika melakukan perjalanan. Kaki tersebut biasanya akan dibasuh di rumah supaya kaki tersebut bersih dari kotoran. Pembasuhan kaki biasanya dilakukan oleh hamba/ pembantu, tetapi jika tidak ada maka pembasuhan dilakukan oleh orang yang paling muda, bisa anak atau isteri. Tetapi pembasuhan kaki juga merupakan simbol dari hospitality, yakni suatu sikap penerimaan/ pelayanan terhadap tamu. Jikalau seorang musafir yang melakukan perjalanan jauh menumpang atau bertamu di rumah seseorang maka pihak tuan rumah akan melayani tamu mereka dengan membasuh kaki tamu-tamu tersebut, meskipun tidak harus sang tuan rumah yang melakukannya, tetapi pembasuhan dilakukan pihak tuan rumah. Jadi dapat disimpulkan bahwa pembasuhan kaki pasti dilakukan oleh (1) hamba/ pelayan/ dianggap paling muda dan (2) pihak tuan rumah (host).

Yesus bangun dan meninggalkan perjamuan (meja perjamuan), kemudian menanggalkan jubahnya. Suatu sikap yang simbolik dimana Ia sedang melepaskan “ke-guru-anNya” dan mengambil peran sebagai hamba bagi murid-muridNya sendiri bahkan Yesus mengambil kain lenan untuk membasuh kaki dan mengikatkannya pada pinggangNya. Tindakan melepaskan jubah dan mengikatkan kain di pinggang dalam pembacaan Midrash Yahudi menegaskan sikap merendahkan hati yang luar biasa. Sebab dalam catatan Midrash mengenai Kej 21:14 dikatakan bahwa pada waktu Abraham mengusir Hagar, hamba Sara, ia memberikan surat cerai kepadanya dan mengambil syal Hagar dan mengikatkannya pada pinggannya supaya orang-orang mengetahui bahwa Hagar adalah seorang budak. Jadi salah poin penting yang ingin Yesus ajarkan kepada murid-muridNya adalah Ia merendahkan diri dan menjadi pelayan bagi murid-muridNya. Setelah melakukan semuanya itu Yesus mengambil air di sebuah wadah sebagai air pembasuhan lalu ia mulai membasuh kaki murid-muridNya. Karena kaki murid-murid berada di daerah luar maka Yesus melayani pembasuhan kaki itu dengan berjalan memutar berkeliling.

Seperti yang sudah dibahas sebelumnya dalam tradisi masa itu hal yang wajar atau normal adalah murid-muridlah yang bertugas untuk membasuh kaki guru mereka. Kemungkinan dalam keseharian memang murid-muridlah yang membasuh kaki Yesus tetapi kali ini Yesus break the system, Ia melakukan apa yang tidak biasa dilakukan guna memberikan ajaran dan teladan kepada para murid.

Sebagai perbandingan untuk mengerti cara pandang terhadap pembasuhan kaki ini dapat diperoleh dari kisah yang cukup terkenal dalam kalangan Yahudi mengenai Rabi Ishmael. Pada suatu kali Rabi Ishmael pulang dari Sinogoge dan Ibunya ingin membasuh kakinya yang berdebu, tetapi ia menolaknya dengan tegas bahkan rabi ini sampai sujud dan mengatakan kepada ibunya bahwa perbuatan itu adalah perbuatan tidak terpuji. Jadi pembasuhan kaki dari orang yang lebih tinggi adalah hal yang sangat tidak wajar dan tabu untuk dilakukan. Selain itu pembasuhan kaki juga tidak dilakukan oleh orang-orang yang sebaya (atau satu level) kecuali kasus-kasus khusus dimana orang tersebut ingin menunjukkan kasih yang luar biasa kepada sahabatnya yang usianya sama dengan dirinya. Jadi jika pembasuhan kaki oleh orang yang sebaya saja adalah hal yang tidak umum kecuali ingin menunjukkan cinta yang begitu besar maka terlebih lagi jikalau pembasuhan kaki itu dilakukan oleh seorang Guru yang besar seperti Yesus terhadap muridnya. Tuhan kepada cipatanNya. Justru disinilah terletak pesan yang sangat kuat dalam upacara pembasuhan yang dilakukan oleh Tuhan Yesus, pembasuhan tersebut adalah perwujudan kasih Yesus yang begitu besar kepada murid-muridNya.

Yoh 13:6-11
Tindakan pembasukan kaki yang dilakukan oleh Tuhan Yesus sebenarnya menggelisahkan hati para murid, karena hal tersebut sangat tidak wajar. Bahkan Carson mengatakan “doubtless all of the disciples were extremely embarrassed.” Mengenai situasi ini kita tidak tahu apa yang dikatakan murid-murid lain kepada Yesus mengenai pembasuhan kaki ini karena Yohanes hanya menuliskan dialog yang terjadi antara Yesus dan Petrus pada waktu giliran Petrus untuk dibasuh tiba. Petrus mempertanyakan mengapa Yesus mau membasuh kakinya dan ia memanggil Yesus dengan sebutan “Tuhan.” Pertanyaan Petrus mengandung pertanyaan yang implisit, yakni “mengapa Engkau yang adalah Tuhan membasuh kaki kami?” Yesus mengatakan bahwa mereka tidak akan mengerti apa maksud semuanya ini sekarang tetapi nanti mereka akan mengerti. Jawaban Yesus ini memberikan makna bahwa pembasuhan kaki ini mengandung suatu makna yang lebih dalam dari sekedar melayani dan merendahkan diri. Tindakan Yesus tersebut merupakan suatu simbol yang menunjuk pada sesuatu yang belum bisa dimengerti oleh murid-murid sekarang ini.

Dari beberapa pernyataan dan dialog dalam bagian ini setidak pembasuhan yang dilakukan oleh Yesus mengandung beberapa makna: Pertama, berarti spiritual cleansing (penyucian secara rohani) supaya murid-murid tersebut mendapatkan bagian di dalam Kristus. Proses penyucian secara rohani ini tidak mengandung arti bahwa mereka belum bersih. Mereka sudah bersih (Yesus menggunakan analogi mandi) dan hanya perlu membasuh kaki saja dan itulah yang dilakukan oleh Tuhan Yesus bagi mereka. Yesus tidak memandikan mereka tetapi hanya membasuh kaki mereka sebab mereka sudah “mandi” (bersih). Apa maksud telah bersih karena mandi dan hanya perlu membasuh kaki saja? Analogi yang Yesus gunakan merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari orang Yahudi pada waktu itu. Mereka sudah bersih jika mereka mandi tetapi meskipun mereka sudah mandi kaki mereka akan kotor jika mereka melakukan perjalanan. Kaki mereka akan ditempeli oleh debu-debu jalanan. Meskipun demikian mereka tidak perlu mandi lagi untuk membersihkan kaki mereka yang kotor itu, yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi pada masa itu hanyalah membasuh kaki dan mereka menjadi bersih. Jika memang anaologi yang Yesus gunakan mengacu kepada hal ini maka Yesus sedang memberikan contoh suatu pembasuhan/ penyucian setiap hari. Sebab dalam analogi ini kaki mereka akan selalu kotor setiap hari. Murid-murid Yesus bukanlah manusia yang sempurna, mereka adalah manusia berdosa yang mempunyai banyak kelemahan. Oleh karena itu mereka harus terus menerus membersihkan diri dan meninggalkan dosa mereka, diperbaharui hari lepas lari sehingga menjadi semakin serupa dengan Kristus.

Makna kedua berhubungan dengan kalimat “If I do not wash you, you will have no part with me.” Kata “part” atau “mendapat bagian” berasal dari kata meros, yang dalam pemahaman Yahud mengandung arti warisan. Kata ini biasanya ditujukan pada konsep mewarisi tanah perjanjian atau berkat yang bersifar eskatologis (Luke 15:12; Matt 24:51; Rev 20:6). Konsep ini nantinya akan dikembangkan lebih lanjut pada pasal selanjutnya (14:3, 17:24). Jadi makna kedua dari pembasuhan ini merupakan sebuah janji bahwa mereka yang dibasuh kakinya oleh Yesus akan mendapatkan bagian dari apa yang Yesus miliki di rumah Bapa (14:3) dan suatu saat nanti mereka akan berada di mana Yesus berada (17:23). Tetapi dari respon Petrus terhadap perkataan Yesus sepertinya murid-murid tidak mengerti apa yang Yesus sedang bicarakan kepada mereka.

Yoh 13:12-17
Makna ketiga dari pembasuhan ini adalah saling melayani dan merendahkan diri satu dengan yang lain. Setelah Yesus selesai dengan pembasuhan kaki murid-muridNya, Ia bertanya kepada mereka mengenai apa makna semuanya ini? Sebelum mereka menjawab Yesus langsung menjawab pertanyaan yang Ia ajukan sendiri. Yesus adalah Guru (didakalos) dan Tuhan (kurios). Seorang guru seharusnya dihormati oleh murid-muridNya dan yang melayani pembasuhan kaki juga adalah murid-murid. Kurios dalam bahasa Yunani bisa berarti “Tuhan” atau “tuan.” Seorang tuan juga haruslah dihormati oleh hamba-hambanya dan adalah hal yang tidak wajar jika seorang tuan membasuh kaki hamba atau budaknya. Namun Yesus yang adalah keduanya (Guru dan Tuhan) atas mereka semua mau merendahkan diri dan melayani dengan membasuh kaki mereka, termasuk si pengkhianat, maka murid-murid itu wajib melakukan hal yang sama satu dengan yang lain (satu level, sesama murid/ sesama hamba).

Pembasuhan kaki adalah pelajaran pertama bagi murid-murid dalam farewell discourse. Yesus menegaskan kepada murid-muridNya bahwa mereka wajib melakukan hal itu satu dengan yang lain seperti teladan yang sudah diberikan, bahkan lebih rendah dari teladan tersebut karena mereka hanya melakukan hal tersebut kepada sesama murid. Kata yang diterjemahkan LAI “wajib” berasal dari kata opheilo yang mengandung arti “berhutang.” Yesus mengajarkan dan menegaskan kepada para murid untuk melakukan hal ini karena mereka berhutang melakukan semuanya itu satu dengan yang lain oleh sebab itulah LAI menerjemahkannya menjadi “wajib.” Murid-murid wajib melakukan hal itu, tidak boleh tidak, karena hal itu adalah hutang satu dengan yang lain dan mereka tidak mempunyai alasan untuk tidak melakukannya karena Yesus sendiri telah memberikan contoh kepada mereka.

Apa yang dimaksud oleh Yesus di sini bukanlah ritual pembasuhan kaki tetapi semua murid-muridNya harus saling mengasihi, melayani dan merendahkan diri satu dengan yang lain. Seperti analogi tubuh yang digunakan oleh Paulus, pada saat satu anggota sakit maka semuanya turut merasa sakit. Orang-orang percaya bertanggung jawab dan wajib menciptakan suatu kehidupan saling melayani satu dengan yang lain dalam kedewasaan iman, bukan sekedar ritual atau kewajiban agama namun dalam persekutuan kasih antara sesama orang-orang percaya. Jadi pembasuhan kaki bukan saja membawa murid-murid masuk dalam persekutuan pribadi dengan Kristus tetapi juga dengan sesama orang-orang percaya.

Ayat terakhir bagian ini (13:17), Yesus berbicara mengenai respon murid-murid yang diharapkan oleh Tuhan Yesus yakni mendengar dan melakukan. Jika mereka bukan hanya mendengar tetapi juga melakukan mereka akan berbahagia karena mereka akan mengalami apa yang Yesus janjikan jika mereka melangkah dalam ketaatan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.