Analisis Perumpamaan Matius 18:12-14

Tulisan berikut adalah analisis perumpamaan berdasarkan pendekatan naratif. Tesis yang diajukan adalah penggerak kisah narasi yaitu usaha tokoh menjadi tema pembacaan perumpamaan. Berikut analisisnya.


ITB: 12 "Bagaimana pendapatmu? Jika seorang mempunyai seratus ekor domba, dan seekor di antaranya sesat, tidakkah ia akan meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di pegunungan dan pergi mencari yang sesat itu? 13 Dan Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jika ia berhasil menemukannya, lebih besar kegembiraannya atas yang seekor itu dari pada atas yang kesembilan puluh sembilan ekor yang tidak sesat. 14 Demikian juga Bapamu yang di sorga tidak menghendaki supaya seorangpun dari anak-anak ini hilang."

Struktur dan Terjemahan

Apa yang kamu pikirkan?
Jika
seseorang memiliki seratus ekor domba
dan satu dari mereka tersesat,
bukankah
dia akan meninggalkan 99 ekor domba di pegunungan
dan pergi mencari yang tersesat?
Dan jika dia menemukannya,
sungguh aku berkata kepadamu
bahwa dia bersukacita atas 1 ekor domba itu lebih
daripada (bersukacita) atas 99 ekor domba yang tidak tersesat.
Demikian juga itu adalah bukan keinginan di hadapan Bapamu di Sorga
supaya satu dari yang kecil ini binasa

Pengumpulan Data:
(1) Apa pendapatmu? (Pembukaan perumpamaan)
(2) Seorang gembala mempuanyai seratus ekor domba (Kisah Narasi Perumpamaan)
(3) Ada satu ekor domba diantaranya tersesat
(4) Gembala tersebut meninggalkan 99 ekor domba di pegunungan
(5) Gembala itu pergi mencari yang domba yang tersesat itu
(6) Gembala menemukan satu ekor domba yang tersesat itu
(7) Gembala bersukacita atas yang seekor itu daripada yang 99 ekor yang tidak tersesat
(8) Maka, Bapa di sorga tidak menginginkan satu dari yang kecil ini binasa (Penjelasan Perumpamaan)

Analisis Kisah Narasi Perumpamaan
Analisis Peristiwa:
Hilangnya satu domba dalam perumpamaan di atas adalah peristiwa karena merupakan peralihan dari keadaan sempurna kepada keadaan tidak sempurna. Tidak dijelaskan mengapa yang satu ekor domba itu tersesat. Dan si gembala meninggalkan 99 ekor domba di pegunungan juga merupakan peristiwa karena dari keadaan memiliki gembala menjadi tanpa gembala. Kemudian, penemuan domba yang tersesat juga adalah peristiwa karena dari keadaan tanpa satu domba kepada keadaan domba yang kembali lengkap.
Bisa dikatakan rentetan peristiwa itu dapat kita sebut juga episode. Episode adalah serentetan peristiwa yang mengandung suatu keadaan awal, suatu perubahan, seringkali suatu perumitan dan suatu keadaan akhir. Keadaan awal: domba masih utuh, kemudian ada perubahan/perumitan: hilangnya 1 ekor domba dan ditinggalkannya 99 ekor domba, dan keadaan akhir: menemukan domba hilang dan bersukacita. Perumitan yang terkandung dalam proses perubahan menghasilkan proses perbaikan yaitu gembala bersukacita.

Analisis Tokoh:
Tokoh di dalam kisah narasi di atas adalah si gembala. Gembala memiliki kegigihan mencari satu ekor domba yang hilang. Dia berani meninggalkan 99 ekor domba di pegunungan demi 1 ekor domba saja. Hal ini berarti misi menemukan satu ekor domba kembali lebih berharga daripada menggembalakan 99 ekor domba. Bahkan ini ditunjukkan gembala bersukacita atas 1 ekor domba lebih daripada 99 ekor domba yang tidak tersesat.
Tokoh di dalam kisah di atas hanyalah satu yaitu tokoh si gembala. Namun di luar narasi, ada penjelasan perumpamaan. Di dalam penjelasan perumpamaan terdapat tokoh sentral yaitu Allah. Disebutkan, tokoh Allah ini sama dengan tokoh gembala. Jadi perbandingan kedua tokoh tersebut adalah sama. Kedua tokoh tersebut terdapat persamaan.

Analisis Peristiwa dan Tokoh:
Interpretasi kita adalah penentuan tokoh gembala yang kita anggap sebagai pelaku bertujuan dalam kisah. Peristiwa hilangnya satu domba menghadirkan tokoh gembala sebagai pelaku bertujuan. Tokoh mempunyai fungsi bagi lakuan. Apabila membicarakan tokoh, kita menekankan bahwa lakuan mempunyai tujuan. Tujuannya adalah menemukan satu ekor domba yang tersesat. Tujuan itu dicapainya pada akhir cerita, tetapi dalam perjalanan ke arah tujuan itu terjadi peristiwa meninggalkan 99 ekor domba dan mencari 1 ekor domba. Meninggalkan 99 ekor domba dan mencari 1 ekor domba adalah usaha pelaku mencapai tujuan.
Tidak ada tokoh pembantu atau penentang di dalam usaha mencapai tujuan yaitu menemukan satu ekor domba tersesat. Namun yang jelas usaha mencapai tujuan ternyata tercapai. Tokoh si gembala menjadi tokoh utama, sekaligus sebagai kekuasaan. Dalam usaha mencari tidak ada pertentangan, yang ada adalah kekuasaan untuk mencari dan menemukan. Kekuasaan mencari dan menemukan adalah tokoh itu sendiri yaitu gembala. Dan siapa yang mendapat untung atau rugi dari usaha tersebut? Dalam kisah ini, si gembala yang beruntung karena usahanya sendiri. Dia mengalami sukacita sebagai hasil dari usahanya.
Yang paling utama dari model analisis yang menghubungkan tokoh dengan lakuan ini adalah usaha, keinginan pelaku. Usaha tersebut dapat dipandang sebagai penggerak kisah yang berjalan sejajar dengan keinginan pembaca untuk ikut serta dalam perjalanan. Tanpa adanya usaha maka kisah tidak berjalan sampai akhir. Baik pembaca maupun tokoh berusaha mencapai akhir perjalanan.
Jadi usaha mencapai tujuan sebagai penggerak kisah menjadi tema pokok dari kisah narasi perumpamaan ini. Meninggalkan dan Mencari menjadi tema pokok perumpamaan ini.

Konsep Teologis
Perumpamaan di atas membawa tema meninggalkan dan mencari. Afi,hmi ‘meninggalkan’ verba yang sama dipakai oleh Matius ketika Petrus, Andreas, Yakobus dan Yohanes meninggalkan pekerjaan mereka dan kemudian mengikuti Yesus (4:20,22). Meninggalkan pekerjaan mereka yang lazim dan melakukan sesuatu yang lain di dalam dua konteks (murid-murid mengikuti Yesus dan gembala mencari 1 ekor domba tersesat) Matius tadi terjadi karena ada sesuatu yang lebih penting dan mendesak untuk dikerjakan. Matius menggunakan verba ini untuk menggambarkan kepada pembaca bahwa ada dua prioritas atau pilihan yang harus dipilih oleh pelaku. Dan Matius menuliskan jelas bahwa pilihan melakukan sesuatu yang lain menjadi yang terpenting dan mendesak. Dan itu yang dilakukan oleh pelaku. Meninggalkan mengandung makna memilih prioritas yang tepat. Hal ini terjadi karena pelaku menyadari ada sesuatu yang lebih penting untuk dikerjakan. Begitu juga dengan Allah Bapa. Allah tahu ada sesuatu yang lebih penting untuk dikerjakan. Apa itu? Yaitu Allah mencari yang tersesat.
Verba zhte,w dalam konteks ini berarti mencari apa yang hilang. Dalam hal ini berarti usaha menemukan kembali apa yang menjadi miliknya. Di dalam tulisan Matius, arti verba ini hanya terdapat di ayat ini (18:12). Bandingkan juga dengan Lukas 19:10 “Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.” Anak Manusia datang ke dunia untuk mencari apa yang menjadi milik-Nya kembali yaitu orang-orang kudus pilihan Allah. Anak manusia menyelamatkan mereka yang hilang. Hal yang sama juga di dalam konteks Matius ini yaitu Allah berusaha menemukan kembali mereka yang tersesat atau hilang. Mereka di sini adalah orang-orang kudus pilihan Allah atau orang percaya. Allah tidak menginginkan tidak satupun umat pilihannya tersesat sehingga Allah mencari mereka. Semuanya ini menunjukkan kasih Allah yang begitu besar. Mencari mengandung makna usaha menemukan kembali apa yang menjadi miliknya dan usaha mencari ini didorong oleh kasih yaitu keinginan tidak ada seorangpun dari miliknya binasa.

Aplikasi
Aplikasi bagi pembaca kontemporer adalah dua hal yaitu pertama, berani mengambil keputusan meninggalkan sesuatu yang lazim untuk mengerjakan hal yang jauh lebih penting. Jemaat menyadari bahwa mencari saudara-saudara seiman lain yang tersesat adalah jauh lebih penting daripada memprioritaskan hal-hal lain. Mengapa? Karena Allah juga melakukan yang sama. Saudara seiman yang tersesat menjadi prioritas terpenting dibandingkan saudara seiman lain yang tidak tersesat. Kedua, jemaat berusaha menemukan kembali mereka yang hilang yang didorong oleh kasih yaitu keinginan tidak ada seorangpun anggota persekutuannya itu binasa. Mereka bisa tersesat oleh karena faktor luar maupun dalam. Faktor luar seperti ajaran sesat atau hal-hal lainnya. Faktor dalam bisa karena keinginan sendiri meninggalkan persekutuan jemaat (18:8-9) dan tidak lagi pernah masuk di dalam persekutuan. Jemaat harus menyadari dan memprioritaskan mereka untuk menarik mereka kembali di dalam persekutuan. Itulah yang diinginkan oleh Allah bagi jemaat lakukan. Namun ingat dorongan kasih yaitu keinginan tidak ada seorangpun dari milik kita binasa menjadi faktor kunci kita menemukan mereka kembali.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.