Di Rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal (Yoh. 14:1-7)

Jangan gelisah, percayalah (14:1)
Bagian ini diawali dengan perkataan Yesus kepada para murid “jangan gelisah hatimu.” Kalimat ini diucapkan oleh Yesus oleh karena 2 hal, yakni (1) karena Yesus mengatakan kepada Petrus bahwa imannya akan tergoncang dan jika Petrus, yang adalah pemimpin para rasul, tergoncang bagaimana dengan yang lain? (2) Mencakup hal yang lebih luas, yakni suatu kegelisahan dalam diri murid-murid karena perkataan Yesus sebelumnya yang akan meninggalkan mereka. Bahkan pernyataan Petrus yang sesumbar ingin mengikut Yesus kemana pun Ia pergi (13:36) muncul karena sebelumnya Yesus mengatakan “hanya seketika saja Aku ada bersama kamu. Kamu akan mencari aku” (13:33). Dengan demikian pernyataan Yesus tentang kepergiannya untuk meninggalkan para murid benar-benar menimbulkan kegelisahan yang serius sehingga Yesus perlu menenangkan mereka. Memang saat itu murid-murid tidak bisa pergi bersama Yesus, namun Tuhan Yesus berjanji bahwa nanti, suatu saat, mereka akan bersama-sama dengan Yesus.

Oleh karena itu Yesus berkata “percayalah (Yun: πιστεύετε-pisteuete).” Kata πιστεύετε secara gramatikal bisa berbentuk indikatif dan impertatif. Sehingga perkataan Yesus untuk percaya bisa diartikan dalam beberapa variasi: (1) indikatif-indikatif: kamu percaya kepada Allah dan kamu percaya kepadaKu. (2) indikatif-imperatif: kamu percaya kepada Allah dan percayalah juga kepadaku. (3) imperatif-imperatif: percayalah kepada Allah dan percayalah kepadaKu. Konteks perkataan Yesus yang berhubungan dengan kegelisahan para murid memberikan implikasi bahwa Yesus mengajar mereka untuk percaya kepada Allah (imperatif) dan percaya juga kepada Yesus (imperatif). Sehingga dapat disimpulkan Yesus ingin murid-murid percaya kepada kepada Allah dan Kristus. Allah dan Kristus disandingkan untuk menegaskan pesan dalam 7 tanda dan 7 pengajaran Yesus yakni Yesus adalah utusan Allah bagi manusia supaya manusia diselamatkan. Sebentar lagi mereka akan menghadapi situasi yang sulit, Guru mereka akan ditangkap, diadili, dihina, disalibkan dan mati. Mereka harus teguh percaya bahwa Kristus yang nanti akan mati disalibkan itu benar-benar adalah Anak Allah yang diutus oleh Bapa.

Di rumah BapaKu banyak tempat tinggal (14:2-3)
Apa yang dimaksud dengan rumah Bapa? Apakah Kristus benar-benar menyediakan tempat (kavling) untuk orang kristen di rumah Bapa? Teologia kristen secara umum memahami tempat tinggal tersebut sebagai representasi dari tempat tinggal transenden Allah, seperti yang digambarkan sebagai "kota Allah yang hidup, Yerusalem sorgawi" dalam Ibrani 12: 22, atau Kota Allah dalam Why 21:9-22:5. Tujuan Kepergian Yesus adalah untuk menyiapkan tempat bagi para murid di rumah Bapa; yang juga dimengerti sebagai sesuatu yang sudah ada sebelum Kristus turun ke dunia. Namun dengan kematian Kristus, murid-murid dimungkinkan untuk tinggal bersama Yesus di rumah Bapa tersebut. Kepergian Yesus ke rumah Bapa bukanlah kepergian tanpa tujuan atau demi kepentingan diriNya sendiri melainkan demi kepentingan murid-muridNya. Dengan kata lain, Kristus tidak naik ke Surga sekedar untuk tinggal di sana, melainkan menyediakan hal-hal sorgawi yang akan diwariskan kepada orang-orang percaya. Setelah waktunya tiba bagi murid-murid kelak datang ke rumah Bapa, Kristus akan tinggal bersama-sama dengan murid-muridNya untuk selama-lamanya, dengan cara inilah Kristus, yang adalah Kepala, menjadi satu dengan gereja, tubuhNya dalam kekekalan.

Implikasi kebenaran yang diajarkan oleh bagian ini adalah orang-orang percaya tidak masuk ke rumah Bapa oleh kebenaran mereka sendiri melainkan oleh karena mewarisi apa yang diwariskan kepada Anak Allah, mereka mendapat bagian dalam rumah Bapa oleh karena mereka ada di dalam Kristus. Itulah sebabnya Yesus mengatakan “tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku” (14:6). Murid-murid mendapatkan akses untuk memperoleh semua yang dijanjikan itu di dalam Pribadi Kristus. Paulus mengatakan bahwa orang percaya sekarang ini memperoleh Surga di dalam pengharapan (Ef. 1:3) dan semua yang Dia janjikan akan diperoleh pada kedatanganNya yang kedua kali. Melalui kehinaan dan salib yang diterima Kristus dan kemuliaanNya, Kristus mempersiapkan tempat bagi orang tebusan. Tanpa kematian Kristus tidak akan pernah ada tempat bagi manusia berdosa dan tanpa kenaikan ke Surga tidak akan ada Roh Kudus yang datang untuk mempersiapkan orang percaya masuk ke dalam rumah Bapa. Karena hanya oleh pekerjaan Roh Kudus saja, manusia dapat dilahirkan kembali dan percaya bahwa Yesus adalah Mesias, Anak Allah (1 Kor 12:3).

Kapan kalimat “di tempat di mana Aku berada, kamupun berada,” digenapi? Paulus menjelaskan lebih lanjut bahwa kebersamaan dengan Kristus baru akan terjadi setelah kebangkitan, yang terjadi pada waktu Yesus datang untuk kedua kalinya (1 Tes. 4:16-17). Pada waktu itu baik orang percaya yang sudah mati maupun yang masih hidup akan diubahkan menjadi menjadi baru dengan tubuh yang tidak akan binasa lagi (1 Kor. 15:51-55). Orang-orang percaya yang sudah mati, sekarang ini, belum menikmati janji yang Yesus ucapkan ini. Kedatangan Yesus yang kedua kali, yakni pada hari kebangkitan, merupakan hari mulia yang dinanti-nantikan orang kudus sepanjang jaman untuk menikmati keselamatan yang kekal di dalam Kristus.

Kepada murid-muridNya Yesus mengatakan “kamu tahu” JALAN ke tempat Aku akan pergi. Sebab Jalan itu adalah Kristus sendiri. Orang yang percaya kepada Kristus, ada di dalam Kristus dan akan menerima janji keselamatan di dalam Yesus. Murid-murid, meskipun dalam pemahaman tertentu tidak mengerti apa yang Yesus katakan, tahu jalan ke rumah Bapa karena mereka percaya bahwa Yesus adalah Anak Allah. Murid-murid sering kali tidak mengerti perkataan Yesus karena mereka tidak memberikan telinga dengan baik sehingga mereka sangat lambat memahami apa yang Yesus ajarkan. Banyak hal dari perkataan Yesus yang mereka mengerti setelah Yesus naik ke Surga dan banyak hal sudah digenapi.

Yesus adalah jalan, kebenaran dan hidup (14:5-7)
Di ayat 4, Yesus sudah mengatakan bahwa “kamu tahu” jalan tersebut. Tetapi kemudian Thomas memberikan respon yang sangat kontras, “kami tidak tahu... bagaimana kami tahu jalan ke situ.” Perkataan Thomas ini mengandung kesalahan yang nanti akan diresponi oleh Yesus. Kesalahan tersebut adalah Thomas tidak mengerti apa yang Yesus maksudkan dengan rumah Bapa. Ia berpikir bahwa Yesus akan pergi ke tempat lain (di bumi) sehingga tentu saja ia tidak tahu ke mana Yesus pergi, karena mereka tidak diberitahukan lokasi tersebut. Jalan yang dipahami oleh Thomas adalah jalan biasa.

Meresponi keterlambatan para murid untuk memahami semuanya itu, Yesus mengucapkan ayat yang sangat terkenal “Akulah jalan.” Jawaban ini meluruskan jalan pemikiran murid-murid yang tidak mengerti apa yang Yesus katakan. Murid-murid Tuhan dan semua manusia adalah pribadi. Allah yang kudus dan membenci dosa itu adalah Pribadi. Kristus dan Bapa adalah 2 Pribadi yang berada dalam kesatuan yang unik dan tidak terpisahkan. Sehingga dengan menjadi satu dalam persekutuan dengan Kristus maka manusia yang berdosa menjadi satu juga dengan Bapa. Oleh sebab itu tidak mungkin ada jalan lain bagi manusia untuk bisa sampai kepada Bapa kalau bukan melalui Allah Anak (Rom. 5:1, 2). Yesus Kristus adalah Satu Jalan dalam 2 pengertian: Pertama, Ia adalah jalan Allah kepada manusia sebab segala sesuatu telah diserahkan Bapa kepada Anak (Mat. 11:27, 28); Kedua, Dia adalah jalan manusia kepada Allah, sebab tidak ada yang mengenal Bapa selain Anak.

“Akulah... kebenaran.” Sejak pasa 1, ketika Yesus, Sang Logos, diperkenalkan oleh Yohanes sebagai Anak Tunggal Bapa, Ia sudah menyatakan diriNya sebagai kebenaran (1:14). Kemudian Yesus juga mengatakan bahwa kebenaran itu mampu memerdekakan (8:32). Yesus bukanlah bayangan dari kebenaran, Dia adalah kebenaran yang sejati itu yang menjadi manusia. Kebenaran yang dibutuhkan oleh manusia, kebenaran yang menyatakan keselamatan. Kebenaran akan pengetahuan yang benar tentang Allah.

“Akulah... hidup.” Tanda terakhir yang Yesus nyatakan kepada publik adalah membangkitkan Lazarus. Tanda ini merupakan tanda puncak yang juga menjadi alasan bagi orang-orang Yahudi untuk membunuh Yesus (12:9-11). Ia sanggup membangkitkan Lazarus yang sudah mati selama 4 hari. Tubuhnya telah membusuk dan kemungkinan besar berulat. Namun kuasa Yesus sanggup membangkitkan Lazarus yang sudah busuk itu hidup kembali. Bagian pendahuluan Injil ini juga sudah menegaskan siapa Logos yang kekal itu, “dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia” (1:4). Tidak ada seorang pun yang akan tetap hidup jikalau tidak percaya kepada Kristus atau dengan kata lain, semua orang yang tidak percaya dan taat kepadaNya pasti mati. Yesus adalah sumber hidup, Ia yang memegang kehidupan manusia. Oleh karena dosa semua orang akan mengalami kematian, tetapi barangsiapa tinggal di dalam Kristus, mereka akan dihidupkan kembali meskipun sudah mati (11:25).

Yesus dan Bapa adalah satu, tetapi penjelasan Yoh 1:1-3, Yesus dan Bapa adalah 2 Pribadi yang berbeda. Teologi Kristen mengakui Allah yang Esa tetapi bukan 1 Pribadi. Kita percaya Allah mempunyai 3 Pribadi tetapi KetigaNya adalah Esa di dalam keAllahan di dalam kesatuan yang tidak terpisahkan. Oleh sebab itu barangsiapa melihat Yesus, Ia melihat Bapa, karena Yesuslah Anak Tunggal Bapa yang menyatakan siapa Bapa sebenarnya (1:18).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.