Perumpamaan Penemu Harta Terpendam (Mat 13: 44)

Teks (versi ITB):
"Hal Kerajaan Sorga itu seumpama harta yang terpendam di ladang, yang ditemukan orang, lalu dipendamkannya lagi. Oleh sebab sukacitanya pergilah ia menjual seluruh miliknya lalu membeli ladang itu."

Perumpamaan ini adalah cerita yang sangat sederhana. Namun ada berbagai macam tafsiran yang muncul di balik cerita sederhana ini. Ada yang memfokuskan pada harta terpendam di ladang; sukacita sang penemu harta tersebut; penjualannya; sukacita dan penjualannya; dan fokus pada harta dan penjualannya. Saya sendiri menitikberatkan pada keseluruhan tindakan dari sang penemu harta tersebut. Ada argumen yang bisa saya bangun di sini:

(1) Kerajaan Surga sama seperti harta terpendam di ladang yang ditemukan orang, lalu dipendamkannya lagi, karena sukacitanya, dia pergi menjual seluruh miliknya dan akhirnya membeli ladang itu.
(2) Ada harta terpendam di ladang
(3) Ada orang yang menemukannya
(4) Si penemu harta memendamkan harta tersebut
(5) Si penemu harta bersukacita atas kejadian tersebut
(6) Si penemu harta pergi
(7) Si penemu harta menjual seluruh apa yang dimilikinya
(8) Si penemu harta membeli ladang itu
Dari proposisi (1) - (8) ada dua desain dari perumpamaan penemu harta terpendam yaitu :
1. Proposisi (1) adalah rumus perbandingan/perumpamaan Kerajaan Surga
2. Proosisi (2) - (8) adalah narasi perumpamaannya.
Dari proposisi (2) - (8) saya mengamati narasi ini jelas menitikberatkan/fokus pada apa yang dilakukan oleh si penemu harta tersebut bukan pada harta terpendamnya. Awal cerita dimulai dari ada orang menemukan harta terpendam di ladang dan akhir cerita si penemu itu membeli ladang tersebut. Jadi ada proses dari menemukan harta sampai memiliki harta tersebut. Prosesnya inilah yang disebut dengan jalannya cerita/alur. Di dalam alur cerita, jelas dituliskan apa yang dilakukan oleh si penemu harta mulai dari memendamkannya sampai membeli. Jadi saya melihat fokus narasi adalah pada tindakan si penemu harta atau dengan kata lain karakter seperti apa dari si penemu tersebut di balik tindakan-tindakannya.

Apa saja tindakan si penemu: memendamkan harta (4), bersukacita (5), pergi (6), menjual (7) dan membeli (8). Semua tindakannya memiliki satu tujuan yaitu memiliki harta tersebut. Karakter seperti apa di balik tindakan yang dilakukan? Karakter dari si penemu harta adalah tahu atau sadar apa yang paling berharga untuk hidup dan masa depannya. Jelas, di sini dia bisa membedakan mana yang berharga dan tidak, dan membedakan mana yang lebih berharga daripada yang lain (2, 3 & 7). Dan lebih dari sekedar itu, dia tahu apa yang paling berharga/the most valuable thing (7 & 8). Dengan tesis fokus pada keseluruhan tindakan tokoh sekaligus juga menjadi tema narasi, maka saya menafsirkan tema narasi (2) - (8) adalah menyadari apa yang paling berharga di dalam hidup seseorang.

Uraian di atas mengungkapkan tema yang dibawa oleh karakter penemu harta adalah tema menyadari apa yang paling berharga di dalam hidup. Berdasarkan proposisi (1) maka pesan perumpamaan adalah orang percaya seharusnya menyadari bahwa Kerajaan Surga adalah harta yang paling berharga di dalam hidup. Inilah seharusnya menjadi visi bersama seluruh umat Allah. Dan ketika itu telah betul-betul disadari oleh seluruh umat, maka tindakan-tindakan selanjutnya pasti akan mengikuti. Untuk Kerajaan Surga tidak ada yang tidak rela dilakukan atau dikorbankan. Bagaimana bentuk atau bukti kalau Kerajaan Surga adalah yang terpenting? Salah satunya adalah pengurbanan finansial. Seorang umat yang berkurban finansial membuktikan bahwa Kerajaan Surga tidak hanya merupakan prioritas utama dalam hidupnya, juga menyatakan Kerajaan Surga lebih bernilai dari segala sesuatu yang dimilikinya (Mat 6:24). Pemilikan Kerajaan Surga menyebabkan kekayaan, harta dan properti dan segala sesuatunya menjadi tidak atau kurang berharga. Kalau kita lihat peristiwa orang muda kaya dalam Mat 19:16-22 merupakan ilustrasi konkrit tuntutan penyerahan finansial untuk memiliki Kerajaan Surga. Bentuk pengurbanan lain adalah keluarga (10:37; 19:29) bahkan nyawa sendiri (10:39). Seorang umat adalah orang yang mengutamakan Kerajaan Surga di atas segala-galanya. Tidak ada yang lebih berharga dan terutama dalam hidup kecuali Yesus dan Kerajaan-Nya. Relasi umat dan Kerajaan Surga menentukan relasi dengan materi, keluarga dan diri sendiri. Amin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.