Lahir dari air dan Roh

Kita biasa mendengar istilah "lahir baru" atau "dilahirkan kembali," yakni istilah-sitilah yang biasa kita pakai untuk merujuk pada pertobatan seseorang dan keputusannya untuk menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi. Istilah ini berakar dari perkataan Kristus kepada Nikodemus, seorang pemimpinan agama Yahudi, yang datang kepada Yesus di malam hari. Dalam dialog yang hanya dicatat oleh Injil Yohanes tersebut Yesus mengungkapkan kebenaran bahwa hanya dengan cara dilahirkan kembali seorang manusia dapat masuk ke dalam kerajaan Surga. Dengan kata lain, kelahiran kembali adalah syarat mutlak untuk masuk ke Surga. Tetapi mengapa Yesus mengatakan bahwa kelahiran kembali itu harus lahir dari “air” dan “Roh”? Apa arti dilahirkan dari air dan Roh? Dan mengapa keselamatan sangat ditentukan oleh kelahiran kembali?

"Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah. Apa yang dilahirkan dari daging, adalah daging, dan apa yang dilahirkan dari Roh, adalah roh..." (Yohanes 3:5-6).

John Chrysostom (347–407), salah seorang bapak gereja mula-mula, berpendapat bahwa “air” dalam teks Yoh. 3:5 mengacu pada sakramen baptisan. Pendapat ini mempunyai implikasi bahwa keselamatan sangat ditentukan oleh sakramen baptisan, jika ia dibaptis maka ia diselamatkan atau sebaliknya. Dengan kata lain baptisan sama dengan kelahiran kembali. Pandangan ini mengandung kekeliruan yang sangat besar karena keselamatan menjadi sempit dan terjebak dalam ritual agama, padahal Alkitab, melalui Paulus, menegaskan berulang-ulang bahwa keselamatan adalah kasih karunia Allah melalui iman di dalam Yesus Kristus (Ef. 2:5, 8). Catatan Injil juga menyatakan bahwa penjahat yang ada di sebelah kanan Yesus tidak menerima bapitsan air tetapi diselamatkan oleh Tuhan karena ia percaya bahwa Yesus adalah Juruselamat (Luk. 23:40-43). Menafsirkan lahir dari air sebagai baptisan air menghasilkan teologi yang sangat keliru dan merendahkan karya keselamatan Allah dalam Kristus. Oleh sebab itu, lahir dari air tidak boleh dimaknai secara sempit sebagai sakramen baptisan. Di sisi yang lain baptisan juga tidak boleh diabaikan begitu saja seolah-olah tidak mempunyai peran apa-apa, sebab sakramen merupakan perintah Tuhan. Tetapi mustahil keselamatan dibatasi oleh sebuat tanda baptisan.

Menurut Carson penafsiran yang paling masuk akal dari “dilahirkan dari air dan Roh” adalah dengan memahami teks ini secara gramatikal. Kata “dari” (from, Yun: ἐκ) merupakan preposisi untuk kedua kata “air” dan “Roh,” sekaligus sehingga dari keterkaitan dalam satu preposisi ini dapat disimpulkan bahwa kedua kata tersebut sebenarnya mempunyai kesatuan konsep, air-roh merupakan satu kesatuan sumber dari regenerasi atau kelahiran kembali. Oleh karena itu Yohanes menggunakan kata-kata Roh dan air untuk arti yang sama. Kedua kata itu tidak perlu dimengerti secara terpisah.

Senada dengan Carson, Calvin menafsirkan kata air dan Roh sebagai satu kesatuan arti dengan alasan Alkitab cukup sering menyebutkan Roh Kudus bersama-sama dengan unsur air dan api untuk mengekspresikan kuasaNya. Beberapa bagian kitab suci menuliskan bahwa Kristus akan membaptis dengan Roh dan api (Matius 3:11, Lukas 3:16) di mana api yang disebutkan tidak lain adalah Roh Kudus atau bentuk kerja dari Roh Kudus itu sendiri. Sehingga kita memahami bahwa air dalam konteks ini juga adalah Roh yang menyucikan kita menjadi baru dengan “menyebarkan” kuasaNya dan memberikan kepastian hidup dalam KerajaanNya atas orang percaya. Oleh karena itu air yang dimaksudkan adalah pemurnian dan penyegaran batiniah yang dikerjakan oleh Roh Kudus. Calvin menambahkan bahwa penggunaan klausa yang terakhir untuk menjelaskan kata yang didepannya adalah hal yang tidak lazim, itulah sebabnya Yohanes menuliskan “air dan Roh” bukan “Roh dan air.” Pandangan ini semakin diteguhkan karena dalam konteks teks Yohanes 3 ini, Kristus segera melanjutkan dengan memberikan alasan mengapa kita harus dilahirkan kembali, tanpa menyebutkan air. Ia menunjukkan bahwa hidup baru yang Kristus inginkan HANYA dihasilkan oleh Roh Kudus. Pembaharuan, penyucian, pembenaran hanya bisa dimiliki oleh manusia jikalah Roh Kudus menerapkannya dalam hidup orang percaya.

Apakah PL mempunyai konsep yang sama dan mendukung penafsiran di atas? Meskipun bentuk konstruksi “dilahirkan dari air dan Roh” tidak ditemukan dalam PL namun secara konsep atau ide cukup jelas dalam teologi PL. Pada tingkat minor, Israel sebagai umat perjajian Allah disebut juga sebagai “anak-anak Allah” (Keluaran 4:22; Kel. 32:6; Hos. 11:1). Hal ini tentu saja memberikan suatu gagasan tentang “Allah ‘memperanakkan,’” meskipun konsep memperanakkan di sini berbeda, dalam aspek tertentu, dengan konsep memperanakkan Kristus. Dengan demikian, sebagai pengajar Israel, Nikodemus seharusnya mempunyai ide untuk menghubungkan apa yang Yesus ajarkan tentang kelahiran kembali, sebab Israel yang adalah kelompok manusia disebut dalam PL sebagai anak-anak Allah. Pernyataan Yesus kepada Nikodemus mengenai konsep “lahir kembali” merupakan proklamasi penggenapan eskatologis bahwa telah tiba waktunya manusia disebut sebagai anak-anak Allah.

Konsep yang lebih signifikan lagi dalam PL adalah latar belakang mengenai “air” dan “Roh.” Kata Roh, secara konsisten, disebutkan sebagai sumber kehidupan bagi manusia bahkan atas seluruh eksistensi ciptaan (Kej. 2:7; 6:3; Ayb. 34:14). Jadi Roh dalam konsep PL adalah Sang pemberi dan pencipta kehidupan. Tetapi banyak penulis PL mempunyai pengharapan akan pencurahan Roh itu atas umat manusia (Yoel 2:28) supaya berkat dan kebenaran Allah datang (Yes. 32:15-20; 44:3; Ezk. 39:29) dan terjadi pembaharuan batin yang menyucikan umat perjanjian Allah dari penyembahan berhala dan ketidaktaatan (Ezk. 11:19-20; 36:26-27). Ketika air digunakan secara figuratif dalam PL, biasanya hal tersebut mengacu pada pembaruan atau penyucian, terutama bila disebutkan berkaitan dengan Roh . Selain itu konsep “dilahirkan dari air dan Roh” muncul pada ayat-ayat yang menggambarkan “keluar” dari Roh (Bil. 19:17-19; Mzm. 51:9-10; Yes. 32:15; 44:3-5 ; 55:1-3; Yer. 2:13; 17:13; Yeh. 47:9; Yoel 2:28-29; Zak. 14:8). Catatan PL yang paling penting dari semuanya itu adalah Yehezkiel 36:25-27, di mana air dan roh dituliskan bersama-sama secara gamblang untuk menyatakan pentahiran dari kenajisan dan untuk menggambarkan transformasi hati yang memungkinkan seseorang untuk mengikut Allah dengan sepenuh hati.

Mengapa manusia harus dilahirkan kembali?
Secara alamiah manusia melahirkan manusia, makhluk yang menjadi bagian dari kesatuan seluruh umat manusia. Apa yang dilahirkan manusia bukanlah anak Allah, hanya yang dilahirkan oleh Roh yang disebut sebagai anak-anak Allah. Meskipun manusia mempunyai roh, tetapi roh yang dimiliki manusia merupakan bagian dari kesatuan natur manusia. Sebab yang disebut manusia adalah makhluk yang memiliki tubuh dan roh dalam kesatuan. Oleh karena itu roh yang dimiliki manusia tidak menunjukkan bahwa manusia dilahirkan dari roh, manusia lahir dari manusia. Sebagai manusia, kita tidak membawa apa-apa dari rahim selain sifat duniawi (daging). Oleh karena itu secara alamiah kita juga dibuang dari Kerajaan Allah dan kehilangan kehidupan surgawi, tetap berada di bawah kuk kematian. Yesus mengatakan manusia harus dilahirkan kembali, karena manusia yang tidak lahir kembali hanyalah daging. Daging yang dimaksudkan disini mencakup tubuh dan jiwanya dan seluruh bagian dari kemanusiaan itu.

Seluruh manusia adalah anak-anak Adam. Dalam persekutuan dengan Adam seluruh umat manusia mengalami kerusakan dan Allah mengambil dari natur manusia apa yang telah Ia berikan sebelumnya kepada manusia. Manusia berdosa adalah manusia yang kehilangan kemuliaan Allah (Rom 3:23) atau dalam istilah Kitab Kejadian setelah manusia memakan buah terlarang itu manusia itu mati (Kej. 2:17). Oleh karena itu manusia yang berdosa tidak mendapat bagian apa-apa dari Allah karena manusia telah menjadi seteru Allah dan bersifat duniawi (kehilangan sifat surgawi).

Seberapa besar kerusakan yang disebabkan oleh dosa tersebut dan penyebarannya di dalam Adam? Eksistensi manusia secara total tercemar oleh dosa persis sama seperti anggur yang tercampur oleh suatu rasa yang merusakan rasa aslinya sehingga anggur tersebut kehilangan kenikmatan rasa yang baik dan hanya tinggal rasa pahit. Pengetahuan akan Allah pada manusia yang berdosa tetap ada tetapi tidak lain dari sekedar sumber ketakutan pada yang ilahi yang membuahkan penyembahan berhala dan kepercayaan pada hal-hal takhayul. Hal ini terjadi karena kematian akibat dosa membuat manusia buta terhadap Allah yang sejati sehingga semua kesadaran yang ilahi tertumpah kepada ilah palsu.

Di samping hal-hal di atas dalam hal penilaian, manusia berdosa melakukan penilaian, memilih dan membedakan dalam kebutaan dan kebodohan. Segala hal yang kita miliki mengalir ke dalam kesombongan. Kehendak manusia berdosa, dengan digerakkan oleh nafsu kemarahan, segera tanpa dipikirkan melakukan apa yang jahat. Dengan demikian dalam seluruh natur manusia kita yang berdosa ini tidak terdapat setetes keadilan. Maka jelaslah bahwa kita harus diperbaharui oleh kelahiran yang kedua sehingga kita dapat layak masuk ke dalam Kerajaan Allah. Kalimat Kristus tentang kelahiran kembali dapat dimengerti bahwa seorang manusia yang dilahirkan hanya secara duniawi dari rahim ibunya, ia harus dibentuk/ dilahirkan kembali oleh Roh Kudus sehingga ia bisa memulai sesuatu yang rohani.

Karya Roh Kudus yang melahirbarukan manusia merupakan penerapan karya keselamatan Kristus kepada orang-orang pilihanNya. Tanpa manusia dilahirkan kembali maka manusia tidak mungkin mampu meresponi hal-hal yang rohani. Salib hanya akan dilihat sebagai kutuk dan kebodohan, tetapi oleh pekerjaan Roh Kudus maka manusia dapat melihat dengan benar sebab Ia telah diperbaharui dan dijadikan baru sehingga ia menjadi ciptaan yang baru. Tidak ada manusia yang bisa percaya bahwa Yesus adalah Allah dan Juruselamat jika Roh Kudus tidak menyatakan hal tersebut kepadanya. Sehingga pertobatan seseorang atau kepercayaan seseorang kepada Yesus Kristus bukanlah hasil dari pengertian logika semata tetapi oleh pekerjaan Roh yang membuat ia menjadi percaya apa yang dikatakan oleh firman Allah. Tidak pernah ada keselamatan jikalau Roh Kudus tidak pernah melahirbarukan manusia berdosa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.