Penguburan dan Kebangkitan Yesus menurut Injil Yohanes

Injil sinoptik memberikan informasi yang tidak dicatat oleh Injil Yohanes mengenai Yusuf dari Arimatea yang menerangkan bahwa dia adalah anggota Sanhedrin (Markus 15:43). Penulis Injil sinoptik menjelaskan bahwa Yusuf adalah orang yang mencari Kerajaan Allah (Markus 15:43; Luk 23:51); dan juga seorang yang kaya (Mat 27:57). Lukas menyatakan bahwa ia tidak sependapat dengan kebijakan dan tindakan Mahkamah Agama kepada Yesus (Lukas 23:50-51). Matius mengatakan bahwa Yusuf adalah salah seorang dari murid Yesus (Mat. 27:51) namun karena kasus mengenai Yesus ini merupakan kasus yang sangat besar Yohanes menuliskan “Yusuf... sembunyi-sembunyi karena takut kepada orang-orang Yahudi meminta kepada Pilatus.” Karena orang-orang Yahudi sebelumnya telah mengatakan kepada Pilatus bahwa berhubung hari sabat telah dekat, mereka meminta Pilatus untuk menurunkan orang-orang dari salib (Yoh. 19:31) maka Pilatus memberikan ijin kepada Yusuf yang adalah salah seorang pembesar agama untuk mengurus mayat Yesus.

Penguburan Yesus
Korban eksekusi penyaliban biasanya dilempar ke kuburan umum bagi para penjahat dan masyarakat tidak akan berkabung atas kematian mereka. Tetapi catatan Injil menyatakan hal yang berbeda, meskipun Yesus dibunuh sebagai penjahat namun ia diperlakukan berbeda. Hal ini mungkin saja terjadi karena orang yang meminta untuk mengurus mayat Yesus adalah salah seorang pemuka dan memang Pilatus tidak melihat ada kesalahan pada diri Yesus. Proses menguburkan orang mati merupakan tugas penting dan juga berhubungan dengan kesalahen dalam agama Yudaisme. Selain itu penguburan juga sebuah ekspresi dari orang-orang yang mengasihi orang mati tersebut. Tidak menguburkan orang mati merupakan suatu hal yang sangat tragis bagi orang Yahudi bahkan untuk seorang kriminal sekalipun. Berhubung waktu yang tersisa untuk penguburan sangat sedikit maka persiapan penguburan tersebut harus dilakukan dengan terburu-buru. Selain anggota Sanhedrin, Yusuf dari Arimates, muncul juga seorang pemimpin agama Yahudi yang pernah datang kepada Yesus, Nikodemus yang membantu menguburkan Yesus. Untuk persiapan penguburan itu ia membawa campuran minyak mur dan gaharu kira-kira 37 kg (ukuran berat Romawi lebih ringan dari pada standar moderd).

Orang-orang Yahudi tidak membakar mayat para pahlawan mereka yang meninggal seperti orang-orang Yunani dan Roma biasanya lakukan. Mereka biasanya membungkus mayat dengan kain kafan bahkan tidak jarang dengan kafan yang mahal terutama dalam persiapan penguburan. Sumber-sumber Yahudi dengan tegas mengatakan bahwa semua prosesi penguburan tidak boleh dilakukan jikalau orang tersebut sudah dipastikan sungguh-sungguh mati. Hal ini menegaskan bahwa meskipun waktu penyaliban Yesus tidak telalu lama dan tidak ada tulangnya yang dipatahkan tetapi sebagai orang Yahudi Yusuf dari Arimatea, Nikodemus dan semua orang yang terlibat dalam penguburan itu tidak akan melakukan semuanya itu jikalau mereka tidak memastikan bahwa Yesus benar-benar sudah mati. Dalam proses penguburan ini sepertinya mereka lebih cenderung menggunakan potongan kain daripada kain kafan penuh. Tetapi orang-orang Yahudi tidak pernah menggunakan potongan-potongan kain seperti halnya orang-orang Mesir membuat mumi. Jadi semua proses penguburan termasuk pengapanan dan rempah-rempah harus dilakukan dalam sisa waktu yang ada karena waktu yang mereka miliki sangat singkat sebab hari sabat dihitung sejak matahari terbenam pada hari jumaat (sampai dengan sabtu sore, pada waktu matahari terbenam). Rempah-rempah diletakkan sepanjang kain lenan yang menutup luka-luka di tubuh Yesus. Lebih banyak rempah-rempah diletakkan di bawah tubuh dan mungkin dikemas di sekelilingnya.

Hanya Yohanes yang memberitahukan kita bahwa di tempat Yesus disalibkan ada sebuah taman dan makam baru (hampir dapat dipastikan sebuah gua buatan). Kita tidak diberitahu oleh Injil-injil kanonik (Matius, Markus, Lukas, Yohanes) bahwa taman dan makam milik Yusuf dari Arimatea (walaupun itu dinyatakan dalam apokrifa Injil Petrus). Sabat sudah sangat dekat dan jika sabat tiba semua pekerjaan harus berhenti. Posisi kuburan yang dekat dengan lokasi penyaliban menolong mereka untuk menguburkan Yesus secepat mungkin. Yohanes menekankan bahwa makam tersebut bukan saja baru tapi juga pernah ada orang yang pernah dibaringkan di dalamnya. Dari perspektif para pemimpin Yahudi situasi ini tidak menyenangkan mereka sebab orang berdosa yang tersalib seharusnya dimakamkan dalam kuburan bekas (sudah ada mayat yang dibaringkan di sana). Sementara itu bagi Yohanes hal ini sangat penting untuk menyatakan dan mempertegas kebangkitan Kristus (kubur kosong, tidak ada yang lagi mayat dalam kubur tersebut).

Saksi pertama Kebangkitan Yesus
Perkataan dramatis “sudah selesai” (19:30) tidak berarti bahwa segala sesuatu yang berkaitan dengan “meninggikan” Anak itu selesai, perkataan itu hanya mengacu pada “penderitaan” untuk penebusan tersebut sudah selesai sebab ketaatanNya yang sempurna dan kehendak Bapa telah tergenapi di kayu salib. Sesudah itu, peristiwa-peristiwa yang terjadi setelah Yesus mati masih untuk memenuhi Kitab Suci (19:36, 37). Kebenaran kebangkitan tidak perlu diragukan meskipun saksi-saksi pertama tidak memahami hal tersebut pada saat itu. Kebenaran yang perlu Yohanes sampaikan melalui InjilNya adalah Yesus mengambil jalan salib untuk kembali kepada Bapa-Nya (14:28-31; 20: 17) dan puncak pemuliaan (peninggian) Anak bersifat paradoks yakni melalui pemuliaan di atas salib (12:23-28).

Catatan keempat Injil sangat luar biasa dalam memperkenalkan kebangkitan Yesus (bdk. Mat. 28:1; Mrk. 16:2; Luk. 24:1). Mereka semua menyebutkan bahwa Yesus bangkit pada hari pertama (pada minggu itu) dan bukan pada hari ketiga setelah penyaliban (1 Kor. 15:3, 4) meskipun Mrk. 8:31 mengatakan bahwa nubuatan kebangkitan Yesus terjadi pada hari ketiga. Pencatatan yang seragam ini kemungkinan ingin kebangkitan Yesus sebagai awal dari sesuatu yang baru.

Maria Magdalena adalah tokoh yang sangat menonjol dalam catatan mengenai kebangkitan pertama sebab 3 Injil menyebutkan namanya secara khusus. Yohanes menyebutkan hanya Maria Magdalena seorang diri pergi ke kuburan. Matius mengatakan dia pergi bersama Maria yang lain (Mat. 28:1). Markus menuliskan ada 3 orang yang pertama kali pergi ke kubur Yesus, yaitu Maria Magdalena dan Maria ibu Yakobus, serta Salome (Mar. 16:1). Lukas tidak menyebutkan jumlah tetapi menyebutkan perempuan-perempuan (Luk. 23:55-24:2). Catatan tentang Maria Magdalena menunjukkan bahwa ia selalu bersama dengan kelompok wanita yang lain. Perbedaan laporan keempat Injil memberikan polemik untuk menjelaskan apa yang terjadi pada hari kebangkitan Yesus itu dan siapa sebenarnya saksi pertama yang melihat Yesus bangkit. Beberapa kontruksi telah didiskusikan oleh para ahli; kemungkinan Maria Magdalena pergi ke kubur itu sendiri (Yohanes), dan kemudian kembali dengan beberapa wanita lain (Sinoptik) tepat di belakang Petrus dan murid terkasih yang berlari ke kubur. Jika demikian, kita harus mengatakan bahwa Maria Magdalena terpisah dengan yang lain sesampainya mereka di makam yang kosong (ay. 10-18). Banyak yang berpendapat bahwa bentuk jamak “kita” (ay. 2 - kami tidak tahu di mana Ia diletakkan) adalah petunjuk bahwa Maria Magdalena tidak sendirian dalam perjalanan pertama ke kuburan. J.H. Bernard berpendapat bahwa pada masa itu, abad pertama, seorang wanita Yahudi di Yerusalem umumnya tidak berjalan sendirian dalam kegelapan ke tempat daerah bekas eksekusi tetapi mungkin saja karena kesedihan yang mendalam ia mempunyai keberanian yang cukup melakukan hal itu. Pendapat ini didukung oleh Injil Sinoptik yang menyebutkan ada dua atau lebih perempuan yang pergi ke kubur pagi itu. Jadi jauh lebih konsisten jika kita menyimpulkan polemik peristiwa ini dengan mengatakan bahwa ada 2 kali perjalanan ke makan dan Maria Magdalena bertemua dengan Yesus pada trip yang kedua. Pertama-tama dia pergi bersama para perempuan yang lain dan setelah mereka melihat tutup pintu terbuka mereka kembali kepada murid-murid dan setelah itu ia turut pergi bersama Petrus dan Yohanes kembali ke makam tanpa perempuan-perempuan yang lain.

Injil Sinoptik yang menyebutkan wanita-wanita yang pergi ke kubur konsisten menyebutkan nama Maria Magdalena lebih dulu. Hal ini mungkin mencerminkan memori gereja mula-mula akan fakta bahwa dia orang pertama yang melihat Yesus yang sudah bangkit. Namun karena tradisi Yahudi tidak menerima kesaksian wanita maka kesaksian yang diberikan oleh Maria Magdalena mempunyai kekuatan hukum yang lemah (Mishnah Rosh ha-Shanah 1:8). Meskipun demikian para penulis Injil tidak membuang fakta ini, mereka tetap mencantumkannya sebab “apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat, dan apa yang tidak terpandang dan yang hina bagi dunia, dipilih Allah, bahkan apa yang tidak berarti, dipilih Allah untuk meniadakan apa yang berarti” (1 Kor. 1:27-29 ).

Yohanes dan Petrus
Mendengar berita dari perempuan-perempuan yang pergi ke kubur, Petrus dan murid yang dikasihi segera berlari menuju kubur untuk melihat kebenaran yang disampaikan kepada mereka. Catatan Yohanes cukup unik menceritakan peristiwa ini. Petrus berlari lebih dulu tetapi murid yang dikasihi itu sampai lebih dulu karena ia berlari lebih cepat. Tetapi sesampainya di kuburan, murid yang dikasihi hanya menjenguk ke dalam dan melihat kain kafan terletak di tanah. Sementara Petrus langsung masuk seketika ia sampai di kubur. Bagian penting yang muncul pada bagian ini adalah ayat 9. Murid yang dikasihi itu, Yohanes, meresponi peristiwa itu dengan tepat. Ia percaya kepada berita kitab suci meskipun dia belum melihat tubuh Yesus yang bangkit. Kubur kosong cukup baginya untuk percaya bahwa apa yang dikatakan Yesus tentang kebangkitan adalah kebenaran.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.