Hukum Taurat: Hukum ke-2

4 Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi. 5 Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku, 6 tetapi Aku menunjukkan kasih setia kepada beribu-ribu orang, yaitu mereka yang mengasihi Aku dan yang berpegang pada perintah-perintah-Ku. Keluaran 20:4-6

Hukum kedua ini mempunya hubungan yang sangat erat dengan hukum yang pertama. Hukum pertama hanya memerintahkan menyembah Satu Allah, yakni Allah yang sejati, tidak boleh ada yang lain (monoteisme dan menolak politeisme). Hukum kedua berbicara mengenai bagaimana menyembah Allah yang Satu itu dengan benar. Jadi hukum pertama menyatakan OBJEK penyembahan, hukum kedua mengajarkan bagaiman CARA menyembahNya. Allah harus disembah sebagaimana Ia menghendaki manusia menyembahNya. Ia harus disembah dan dihormati seturut dengan kemuliaanNya.

Perintah ini menyerang suatu penyakit yang berakar sangat kuat dalam hati manusia yakni menambahkan embel-embel dan berbagai hal untuk menyembah Allah melampaui apa yang Ia inginkan. Manusia sulit lepas dari materi dan alat-la bantu yang dapat diindera ketika menyembah Tuhan. Itu juga yang menjadi alasan mengapa beberapa konsep abstrak dalam iman sulit dipahami, seperti Allah yang tidak terlihat, kematian akibat dosa, dsb. Namun dengan pertolongan Roh Kudus, orang-orang yang sudah dilahirbarukan mampu mengenal Allah yang tidak terlihat sebagai realitas yang nyata tanpa bantual hal-hal yang dapat diindera. Arthur Pink mengatakan tidak ada orang Kristen sejati yang sungguh-sungguh mengenal Allah masih membutuhkan gambar-gambar sebagai alat bantu untuk berdoa dan menyembah Allah. Mereka yang memiliki persekutuan pribadi dengan Allah tidak membutuhkan satu gambaran apapun tentang Dia. Karena orang benar hidup oleh iman dan bukan dengan melihat.

“Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun…”
Precept (aturan) yang disebutkan untuk hukum ini adalah pelarangan terhadap pembuatan patung, lukisan, gambaran atau apapun bentuknya. Karena semuanya itu bukan kreatifitas dalam menyembah tetapi suatu sikap kebodohan yang dikutuk oleh Tuhan. Allah melarang mereka untuk “sujud menyembah… atau beribadah kepada” semua gambaran tersebut. Konteks yang diutarakan oleh hukum kedua ini bukan penyembahan berhala tetapi penyembahan kepada Allah yang benar. Pelarangan terhadap menyembah ilah lain adalah scope hukum pertama. Jadi Allah melarang segala bentuk patung dan lukisan sebagai pengganti gambaran Allah yang disembah.

Apakah benda atau gambar apapun tidak diperbolehkan sama sekali bagi umat Allah? Setelah perintah ini diberikan, Allah sendiri memerintahkan Israel untuk membuat dua kerub dari emas. Allah berkata “kaubuatlah itu dari emas tempaan, pada kedua ujung tutup pendamaian itu” (Keluaran 25:18). Selain itu juga Allah memerintahkan Musa untuk membuat ular tembaga, supaya siapa yang memandang kepada ular tembaga itu akan tetap hidup. Apakah Allah tidak konsisten dengan perintahNya? Di sinilah terletak poin “sujud menyembah” yang disebutkan oleh hukum ini. Allah bukanlah kerub atau tabut perjanjian. Allah tidak memperbolehkan Israel menyembah tabut perjanjian. Allah juga murka kepada bangsa Israel karena mereka menyembah ular tembaga yang Allah pakai sebagai simbol (2 Raj. 18:4). Allah adalah Roh. Ia tidak terlihat oleh kasat mata dan omnipresent. Pembuatan patung atau gambar sebagai simbol Allah adalah penghinaan atas kemuliaan dan keagunganNya. Image worship adalah salah satu kerusakan yang parah dalam diri manusia. Perintah ini mengingatkan manusia untuk tidak menghina Allah justru pada waktu mereka berniat menyembahNya.

Perintah ini hadir dalam bentuk negative (diawali dengan kata “jangan”). Maka, sesuai dengan prinsip membaca Decalugue, bentuk negatifnya juga berlaku, yakni perintah yang bernuansa positif. Perintah ini tertuang dalam Yoh. 4:24, “Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran.” Apa kewajiban orang percaya dalam perintah ini? Tugas orang percaya adalah menjaga dan memelihara kemurnian seluruh ibadah dan peraturan penyembahan seperti yang telah Allah tetapkan dalam FirmanNya (Ul. 32:46, 47; Mat. 28:20, Kis. 2:42; 1Tim 6:13, 14). Katekismus Westminster menjabarkannya demikan: doa dan syukur dalam nama Kristus (Filipi 4:6, Ef 5:20); Hal berkhotbah dan mendengar Firman (Ul. 17:18, 19 , Kis 15:21; 2 Tim. 4:2, dll); administrasi gereja dan sakramen-sakramen (Mat 28:19; 1Kor. 11:21-30).; sistem pemerintahan dan disiplin gereja (Mat. 18: 15, 17; 16:19; 1Kor. 5); pelayanan dan pemeliharaannya (Ef. 4:11, 12); berpuasa (1 Korintus 8:5); hal bersumpah demi nama Allah ( Ul 6:13), dan nazar (Yes. 19:21; Mzm. 76:11), menentang semua ibadah palsu (Kisah 16:16, 17, dll); dalam konteks tertentu menghacurkan tempat berhal (Ul. 7:5; Isa 30:22). Selain penjabaran yang sudah dipaparkan ini kita juga dapat lebih baik dalam mempersiapkan diri ketika datang beribadah kepada Tuhan (Phk. 5:1) dan melatih mempunyai pemahaman yang tepat dalam tindakan-tindakan relijius, misalnya kita membaca dan mempelajari Firman bukan untuk memuaskan rasa ingin tahu melainkan untuk menyenangkan Allah.

Pelarangan terhadap adanya patung atau gambaran Allah merupakan sebuah larangan terhadap semua bentuk tambahan-tambahan yang tidak ditentukan oleh Allah dalam ibadah. Setiap bentuk ibadah yang bertentangan dan berbeda dari apa yang ditentukan dalam Firman-Nya, dan semua sikap hati yang salah ketika menjalani ibadah dan kecendrungan hati terhadap hal takhyul dalam pelayanan dicela melalui hukum ini. Tidak ada ruang bagi imajinasi manusia dalam aspek ini. Karena itu Kristus mengutuk agama “cuci tangan” yang diributkan oleh orang Yahudi karena gal tersebut adalah peraturan ciptaan manusia. Namun sebaliknya hukum ini juga mengutuk pengabaian ibadah kepada Allah dan menganggap sepi sebuah ibadah bagi Allah. Demikian pula terhadap semua pengabaian hal-hal yang Allah perintahkan ada dalam ibadah.

Firman Tuhan telah menetapkan batas-batas untuk ibadah yang tidak boleh kita tambah dan tidak boleh juga dikurangai. Oleh karena itu sebagai umat Allah, kita harus mampu membedakan dengan baik apa yang tergolong substantial kurang penting dalam ibadah. Hal-hal yang dipaksakan (diharuskan) masuk dalam ibadah tetapi tidak dinyatakan dalam Alkitab, seperti berlutut dalam nama Yesus atau membuat tanda salib, adalah pelanggaran terhadap hukum kedua. Jadi hal-hal yang wajib ada harus ada dan hal-hal yang dilarang ada tidak boleh ada. Modifikasi bentuk ibadah diperbolehkan demi kesesuaian namun tanpa kompromi pada area-area prinsipil yang telah ditetapkan Allah. Pada area pribadi pelanggaran hukum ini terjadi juga, apabila orang percaya dingin akan kasih, pikiran yang tidak fokus pada firman, kurang memiliki semangat yang kudus dalam beribadah atau memuji Tuhan dengan bibir tetapi hati jauh dari pada Tuhan.

Selanjutnya Tuhan memberikan alasan-alasan mengapa hukum ini diberikan, yakni:
Aku, YHWH, Allahmu, adalah Allah yang cemburu
YHWH memperkanalkan diriNya sebagai “Allahmu,” yang menunjukkan adanya hubungan khusus antara Israel dan YHWH. Allah Israel tersebut adalah Allah yang cemburu, Allah yang tidak mengijinkan adanya perselingkuhan umatNya dengan ilah apapun. Penyembahan kepada Allah dengan cara yang tidak sesuai dengan kehendakNya bukanlah penyembahan kepada Allah yang benar sehingga penyembahan itu sendiri berpotensi menjadi penyembahan berhala.

Aku, YHWH, Allahmu… membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya
Kata “membalas” (Ibr:paqad, terj. lain: mengunjungi) adalah ekspresi figuratif yang menjelaskan bahwa Allah tidak pernah mengabaikan atau melupakan dosa meskipun dosa itu sudah dilakukan beberapa waktu yang lalu. Allah akan memberikan ganjaran kepada dosa. Paulus mengatakan upah dosa adalah maut. Jadi pernyataan hingga keturunan ketiga dan keempat adalah metafora untuk waktu yang panjang. Namun pernyataan “kesalahan bapa kepada anak” adalah sistem atau konsep penyembahan yang bersifat “diturunkan.” Artinya cara penyembahan orang tua yang salah akan diteruskan oleh anak cucunya kemudian. Kesalahan orang tua akan menjadi model bagi anak untuk melakukan hal yang sama diwaktu yang akan datang.

Aku, YHWH, Allahmu… menunjukkan kasih setia kepada… mereka yang mengasihi Aku dan yang berpegang pada perintah-perintah-Ku.
Allah tegas terhadap dosa tetapi lebih dari itu mataNya tidak akan melewatkan orang-orang yang mengasihi dan berpegang pada perintahNya. Bentuk kalimat pernyataan ini menyatakan bahwa kasih kepada Allah diwujudnyataan dengan melakukan perintah-perintah Tuhan. Keduanya tidak dapat dipisahkan. Sehingga hal ini kembali menegaskan tentang spirit orang percaya untuk melakukan firman Tuhan adalah kasih. Sehingga hukum yang utama dan terutama berbicara tentang driver manusia untuk melakukan segala perintah Tuhan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Allah ingin manusia menyembahNya sesuai dengan atribut dan kemulianNya, sesuai dengan kehendakNya dan manusia dapat melakukanNya kalau mereka mengasihi Allah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.