Hukum Taurat: Hukum ke-3

Hukum kedua berbicara peringatan untuk menyembah Allah dengan CARA yang benar, hukum ketiga berbicara tentang kerangka sikap orang percaya dalam menghargai dan menghormati Allah dengan ketulusan dan kerendahan hati. Calvin mengatakan bahwa Allah ingin apa pun yang kita pikirkan dan katakan tentang Dia harus menyatakan kemuliaanNya, sesuai dengan keagunganNya yang suci dan meninggikan kebesaranNya. Hukum yang ketiga ini merupakan peraturan dan penuntun untuk melakukan hal tersebut.

"Jangan menyebut nama TUHAN, Allahmu, dengan sembarangan, sebab TUHAN akan memandang bersalah orang yang menyebut nama-Nya dengan sembarangan." Keluaran 20:7

Secara umum nama mengacu pada the person, of his position, of some circumstance affecting him, hope entertained concerning him, sehingga nama seringkali digunakan untuk mewakili pribadi (Kis 1:15; Why 3:4). Dalam dunia timur, khususnya di Ancient Near East, nama bukanlah sekedar sebutan saja, tetapi merupakan suatu ekspresi dari natur yang memiliki nama tersebut, atau sesuatu yang ditunjuk oleh nama tersebut. Sehingga ketika suatu nama disebutkan, nama tersebut akan mewakili natur dari pemilik, atau sesuatu yang ditunjuk oleh nama itu. Nama adalah sesuatu yang personal dan tidak sama dengan angka, bahkan Alkitab seringkali memakai nama lebih dari sekedar identitas. Oleh karena itu Alkitab mencatat beberapa peristiwa yang menunjukkan bahwa sebuah “nama” berhubungan sekali dengan natur pemilik nama tersebut, misal: Adam memberi nama kepada seluruh binatang sesuai dengan natur mereka (Kej 2:19-20), dan Alkitab juga memberikan alasan mengapa seseorang memiliki nama tertentu; misalnya: Hawa (Kej 3:20), Kain (Kej 4:1), Set (kej 4:25), Nuh (Kej 5:29), Babel (Kej 11:9), Ismael (Kej 16:11), Ishak (Kej 21:16), Esau dan Yakub (Kej 25:25), Musa (Kel 2:10), Yesus (Mat 1:21), dan lain sebagainya. Bahkan Alkitab juga mencatat beberapa orang yang namanya, diganti oleh karena alasan tertentu, seperti Abram menjadi Abraham (Kej 17:5).

Nama Tuhan yang kita sebutkan tidak berdiri independen lepas dari apa yang dirujuk. Kita menyebut nama Tuhan untuk menunjuk Pribadi Allah. Dengan cara demikian kita dapat mengenal Allah dan seluruh atribut-atribut yang Ia miliki. Nama Allah sama dengan natur dan eksistensi Allah (Mzm. 20:1; 135:3; Yoh. 1:12). Bahkan nama Allah terkadang digunakan untuk menyatakan keseluruh sistem kebenaran Allah (“…kita akan berjalan demi nama TUHAN Allah,” Mikha 4:5). Dalam doaNya kepada Bapa, Yesus mengatakan “Aku telah menyatakan nama-Mu kepada semua orang” (Yoh 17:6). Nama yang dimaksudkan di sini adalah kebenaran atau pengajaran yang harus Yesus sampaikan tentang Bapa (Yoh. 1:18). Secara umum dan spesifik, nama Allah digunakan untuk memanggilNya dan membuat Ia dikenal. Allah memberitahukan namaNya kepada manusia dalam suatu konteks pewahyuan atau pengungkapan DiriNya. Maka dengan menyebut namaNya berarti kita mengakui Dia sebagai Subjek dan Objek dalam perkataan kita. Jangan menyebut namaNya dengan sembarangan, dalam bentuk positif, adalah mengakui Dia dengan hormat dan sepenuhnya dalam pikiran dan perbuatan.

Dengan sendirinya, hukum ini mengharuskan kita untuk menyebutkan Nama Allah. Mengapa? Karena Dia telah memberi kita anugerah yang begitu besar yakni pewahyuan mengenai diriNya sehingga manusia boleh mengenal Dia. Pengenalan akan Allah adalah harta terbesar manusia, “penemuan” teragung manusia melampaui semua pengenalan dan penemuan manusia yang lain. Sebab Dia, Sang Pencipta, memberikan diriNya untuk dikenal. Mereka yang tidak mempunyai komitemen di dalam iman dan keinginan untuk diajar dan mengenal kemuliaan Allah sesungguhnya bersalah menghina Yang Maha Tinggi. Seolah-olah ada yang lebih berharga dari pada kemuliaan Allah.

Pada waktu kita darang mendekat kepada Allah dalam doa, kita harus mengagungkan KesempurnaanNya dengan kerendahan hati kita seperti yang diteladankan oleh tokoh-tokoh iman seperi Abraham (Kej. 18:27), Yakub (Kejadian 32:10), Musa (Keluaran 15:11), Salomo ( 1Raj. 8:33), Hizkia (2Raj.19:15), Daniel (9:4) dan makhluk-makhluk Surga lakukan (Why. 4:10, 11). Hukum ini melarang semua pikiran yang tidak menghormati Allah, sia-sia, kurang ajar, tidak senonoh, atau penghujatan kepadaNya, menggunakan Firman-Nya dengan tidak sopan, sunguht-sungut terhadap pemeliharaanNya, penyalahgunaan apa pun yang telah membuat diriNya dikenal.

Bagaimana nama Allah digunakan dengan sembarangan? Nama Allah digunakan dengan sia-sia ketika kita menyebutNya tanpa pertimbangan dan hormat. Setiap kali kita menyebutkan namaNya, gunakanlah dengan suatu pemahaman dan hormat akan Dia, Sang Penguasa Surga di mana para seraphim menutupi wajah mereka dan mengucapkan kudus, kudus, kudus. Sehingga pada waktu kita menyebut namaNya, biarlah kita menyebutnya dengan serius sambil menyadari keagungan dan kemuliaan-Nya yang tak terbatas kemudian merendahkan serta sujud kepada Nama itu.

Bagaimana mungkin seseorang bisa berpikir dan berbicara tentang Allah yang besar namun dengan sembarangan menggunakan namaNya tanpa rasa hormat dan penuh dengan kesombongan? Nama Tuhan bukanlah untuk ucapan-ucapan kosong tanpa makna seolah-olah nama itu tidak ada artinya. Nama itu bukan untuk umpatan, bukan untuk ekspresi terkejut, menggunakan nama Tuhan itu hal-hal itu adalah kebiasaan yang menghinaNya. Karena itu langkah yang perlu diambil setelah mengerti betapa agungNya Allah yang ditunjuk oleh nama Tuhan, maka hendaklah setiap orang percaya membentuk kebiasaan yang baik dalam menggunakan namaNya sepatutnya dengan penuh hormat. Selain itu Ia adalah Allah yang cemburu akah kemuliaanNya dan Ia akan membalas kesalahan orang-orang yang menghina kemuliaanNya.

Nama Allah digunakan sia-sia ketika nama itu digunakan secara munafik, artinya ketika orang-orang menggunakan namaNya dan mengakui umatNya padahal bukan. Allah berfirman kepada Israel melalui Yesaya demikian: “Dengarlah firman ini, hai kaum keturunan Yakub, yang menyebutkan dirinya dengan nama Israel dan yang adalah keturunan Yehuda, yang bersumpah demi nama TUHAN dan mengakui Allah Israel tetapi bukan dengan sungguh-sungguh dan dengan tulus hati” (48:1). Israel menggunakan Nama Allah tapi tidak mematuhi pengajaran yang dikandung oleh nama itu sehingga tindakan isterl tersebut merupakan pelanggaran terhadap hukum ketiga (bdk. Mat 7:22, 23). Apabila kita ingin menggunakan nama Allah, kita harus melakukannya dengan cara yang benar, mengerti arti tindakan tersebut dan implikasi-implikasi penggunaan namaNya. Supaya Tuhan tidak berkata: “Mengapa kamu berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, padahal kamu tidak melakukan apa yang Aku katakan?” (Luk. 6:46). Sehingga kita harus lebih berhati-hati supaya tidak jatuh pada dosa yang mengerikan, yakni pada saat kita melakukan pekerjaan Tuhan yang kudus dengan sembarangan dan mekanis dan tidak mempunyai gairah kudus dalam melakukannya. Arthur Pink mengatakan dengan tegas dan keras bahwa berdoa tanpa bertindak (prayer without practice) adalah sebuah penghujatan dan berbicara kepada Allah dengan mulut sementara hati kita jauh dariNya sama dengan tindakan mengejek Allah.

Nama Allah digunakan dengan sia-sia pada waktu namaNya digunakan untuk sumpah-sumpah “rendahan” dan menggunakan nama Allah dengan kurang hormat serta bersumpah palsu demi namaNya. Pada waktu kita bersumpah terhadap sesuatu yang kita tidak tahu benar atau salah, namun kita berani bersumpah demi namaNya sehingga kita membuat Ia sebagai jaminan dan pendukung kebohongan, seolah-olah Dia adalah bapa kebohongan. Sebab Yesaya mengatakan “orang yang hendak bersumpah di bumi akan bersumpah demi Allah yang setia” (Yes. 65:16). Sumpah hanya diucapakan untuk sesuatu yang sungguh-sungguh benar di mana nama Allah layak disebutkan sebab Ia adalah Sang Kebenaran. Dalam khotbah di bukit Tuhan Yesus mengingatkan untuk tidak bersumpah demi nama Allah karena kita tidak bisa memastikan apakah yang kita ucapkan itu benar atau tidak, lebih mengatakan “ya” dan “tidak,” supaya kita tidak berdosa kepada Tuhan.

Aspek lain yang kerapkali menjadi pelanggaran hukum ini adalah perkataan sehari-hari. Media, khususnya film-film barat, sering menggunakan nama Tuhan sebagai ucapan kosong, seperti “O my God,” “Jesus!,” “Holy Ghost,” dsb. Tren ini membuat banyak orang mengucapkan nama Tuhan sebagai ekspresi-ekspresi emosi adalah hal wajar dan tidak berhubungan dengan Tuhan. Bahkan sebagian menggunakan nama Tuhan sebagai bagian dari kalimat-kalimat umpatan dan caci maki. Banyak anak-anak Tuhan terseret dalam kebiasaan kafir ini dan dengan entengnya menyebut nama Tuhan ketika mereka melihat sesuatu yang mengejutkan. Seperti yang dikatakan oleh hukum ini, “Allah memandang bersalah orang yang menyebut namaNya dengan sembarangan,” maka kebiasaan buruk memakai nama Tuhan dengan sia-sia mendatangkan hukuman bagi diri mereka sendiri seperti yang dikatakan nabi Yeremia “karena kutuk ini gersanglah negeri dan layulah padang-padang rumput di gurun; apa yang dikejar mereka adalah kejahatan” (Yer. 23:10). Penghakiman Allah adalah bagian mereka, entah di dunia ini atau di dalam kekekalan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.