Hukum Taurat: Hukum ke-4

"Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat: enam hari lamanya engkau akan bekerja dan melakukan segala pekerjaanmu, tetapi hari ketujuh adalah hari Sabat TUHAN, Allahmu; maka jangan melakukan sesuatu pekerjaan, engkau atau anakmu laki-laki, atau anakmu perempuan, atau hambamu laki-laki, atau hambamu perempuan, atau hewanmu atau orang asing yang di tempat kediamanmu. Sebab enam hari lamanya TUHAN menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya, dan Ia berhenti pada hari ketujuh; itulah sebabnya TUHAN memberkati hari Sabat dan menguduskannya." Keluaran 20:8-11

Allah adalah Allah yang tidak terikat oleh waktu sebab waktu adalah ciptaan Allah dan Ia berdaulat atas waktu. Allah menciptakan manusia dalam waktu dan manusia melakukan segala sesuatu di dalam waktu sehingga Allah menghendaki manusia yang berada di dalam waktu tersebut dapat menggunakan dan memanfaatkan waktu sesuai dengan apa yang telah ditentukanNya. Hukum keempat ini berbicara mengenai ketentuan Allah bagi manusia untuk mengisi waktu-waktu yang Allah sediakan. Menurut perintah keempat ini, waktu dibagi menjadi 2 bagian; “enam hari haruslah engkau bekerja,” dan “hari ketujuah adalah hari Sabat Tuhan.” Namun demikian keduanya tidak dilihat secara terpisah karena baik bekerja maupun memelihara sabat merupakan satu kesatuan perintah Tuhan dalam menggunakan waktu yang Allah sediakan. Sehingga memelihara sabat sama dengan memelihara 6 hari kerja, demikian pula sebaliknya, kita bergiat bekerja dalam 6 hari tetapi kita juga harus bergiat pada hari sabat bagi Allah. Aturan ini menuntut umat Allah untuk memenuhi panggilan dalam bekerja dan beribadah, keduanya sama-sama panggilan Allah sebab di dalam kedua hal tersebut Allah menyatakan providensinya kepada manusia.

Jika kita memperhatikan hukum ini dengan seksama, Allah tidak menghendaki manusia bermalas-malasan atau santai. Ia ingin manusia bekerja, secara literal, bukan 5 hari tetapi 6 hari. Sebab Allah memberikan 6 hari tersebut supaya manusia memanfaatkannya untuk bekerja. Setelah 6 hari bekerja manusia datang kepada Allah untuk beribadah. Jadi hukum keempat ini dengan gamblang menolak pandangan yang mengatakan bahwa bekerja adalah akibat dari dosa. Menurut hukum ini kita mengetahui bahwa sejak awal Allah merancang manusia untuk bekerja mengelola bumi, mengatur seluruh ciptaan dan memuliakan nama Allah. Bekerja adalah bagian dari manifestasi natur manusia sebagai mahkota ciptaan Allah. Arthur Pink dengan tegas mengatakan siapa yang tidak pernah bekerja tidak layak beribadah.

Bekerja merupakan mempersiapkan jalan untuk beribadah persis seperti ibadah untuk bekerja. Mengabaikan yang satu akan berdampak kepada yang lain sebab kedua hal ini berada dalam satu perintah untuk menunjukkan keduanya bersifat integral. Orang yang bekerja adalah orang yang beribadah dan orang yang beribadah adalah orang yang bekerja. Semakin rajin dan setia kita dalam melaksanakan tugas enam hari maka lebih lagi kita harus lebih menghargai hari ketujuh. Dengan demikian kita dapat memahami maksud Allah, bukan untuk mengekang kebebasan manusia tetapi justru sebaliknya memberikan pengaturan yang terbaik bagi kebaikan manusia. Sabat, bukan dirancang sebagai hari yang penuh beban atau aturan melainkan hari untuk bersukacita dan menikmati berkat Tuhan. Sabat dirancang untuk kebaikan manusia sebab “hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat” (Mar. 2:27).

“hari ketujuh adalah hari Sabat TUHAN, Allahmu”

Arthur Pink menyatakan bahwa Alkitab tidak pernah mengatakan “hari ketujuh dalam seminggu,” tetapi hanya “hari ketujuh,” yaitu hari berikutnya setelah 6 hari bekerja. Orang-orang Yahudi menafsirkannya sebagai hari Sabtu, tetapi bagi orang Kristen, hari ketujuh itu mengacu pada hari lain (Ibr. 4:8), yakni hari pertama dalam seminggu, sebab perayaan Sabat bagi teologi Kristen bukan hanya merayakan karya penciptaan tetapi lebih dari itu merayakan karya penebusan Allah bagi manusia yang terjadi pada hari minggu. Gereja mula-mula biasa menyebut hari minggu, sejak kebangkitan Kristus, sebagai hari Tuhan. Mereka juga mulai berkumpul dan memecah-mecahkan roti pada hari minggu, seperti yang dicatat oleh Kis. 20:7, “pada hari pertama dalam minggu itu… kami berkumpul untuk memecah-mecahkan roti.” Apakah dalam Sabat Kristen tidak diperbolehkan bekerja seperti Sabat Yahudi? Sebagian besar orang Kristen konsevatif percaya bahwa hari Sabat adalah hari peristirahatan, bukan hanya dari rekreasi atau melakukan kesenangan sendiri (Yes. 58:13) tetapi juga dari seluruh pekerjaan. Siapapun membutuhkan suatu hari untuk beristirahat. Dalam beberapa gereja yang memelihara sabat dengan ketat biasanya mereka memasak seluruh makanan pada hari sabtu kemudian memanaskannya pada hari Minggu sehingga mereka dapat lebih bebas untuk beribadah kepada Allah.

Mengingat Sabat dan menguduskannya merupakan suatu bentuk penghormatan kepada Allah. Sebab kita memberikan satu hari yang khusus (kudus; dipisahkan) untuk Allah. Hari itu kita harus melakukan kontemplasi, meditasi, dan adorasi. Mengapa harus? Karena perintah ini melarang manusia mengabaikan tugas mereka pada hari sabat. Sehingga umat Allah tidak boleh lalai mengerjakan tugas dan tanggung jawabnya kepada Allah pada hari yang dikuduskan tersebut. John Calvin mengatakan bahwa tujuan perintah ini diberikan adalah supaya manusia mati terhadap kecenderungan diri dan pekerjaannya sehingga manusia dapat merenungkan Kerajaan Allah, beribadah kepadaNya dan bermeditasi menurut cara yang dikehendakiNya.

“jangan melakukan sesuatu pekerjaan… sebab enam hari lamanya TUHAN menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya, dan Ia berhenti pada hari ketujuh”
Umat Allah dilarang bekerja karena Allah sudah memberikan waktu-waktu di mana manusia bisa bekerja. Bentuk pekerjaan apa yang dimaksud tidak dibahas pada bagian ini. Para rabi Yahudi merumuskan definisi pekerjaan dalam bentuk sistematis dengan menggunakan referensi bagian Alkitab yang menyinggung mengenai sabat. Secara umum, teologi Kristen mendefinisikan pekerjaan sebagai “usual work,” yakni pekerjaan dan aktifitas yang biasa dilakukan selama dalam 6 hari kerja tersebut. Dalam PB, Yesus juga tidak memberikan banyak definisi kerja yang dimaksud oleh hukum keempat. Tetapi dalam perdebatan Yesus dengan orang-orang Farisi mengenai sabat, secara eksplisit Yesus menyebutkan mengenai berbuat baik dan menolong orang lain tepat seperti yang sering Ia lakukan pada hari Sabat (Matt 12:12; Mark 3:4; Luke 6:9). Suatu kali Yesus menyembuhkan orang lumpuh pada hari sabat dan menyuruhnya mengangkat tilam dan berjalan (Mar. 2:9), kemudian orang-orang Yahudi menegur orang itu karena tidak diperbolehkan mengangkat tilam pada hari itu (Yoh. 5:10) sehingga orang-orang Yahudi itu marah kepada Yesus sebab Ia memerintahkan orang lain melanggar Sabat. Menanggapi orang-orang Yahudi itu Yesus berkata “Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Akupun bekerja juga” (Yoh. 5:17). Jadi “jangan bekerja” bukan berarti manusia tidak boleh melakukan apapun, justru jawaban Yesus memberikan pengajaran kepada kita bahwa pada hari Sabat Yesus justru melakukan banyak perbuatan baik, Ia menyembuhkan orang-orang pada hari Sabat. Calvin mengatakan bahwa salah satu alasan Allah memberikan Sabat adalah supaya manusia menyisihkan pekerjaan mereka sendiri guna mengijinkan Tuhan untuk bekerja di dalam mereka. Supaya manusia tidak lari dari jalan-jalan Tuhan dan mengerti bagaimana manusia seharusnya hidup seturut kehendakNya. Sabat mutlak diperlukan oleh manusia untuk beristirahat dari seluruh pekerjaannya dan kembali mencari tuntunan Sang Pencipta. Calvin menambahkan bahwa hukum ini menyatakan bahwa ada hari yang khusus untuk berkumpul, untuk mendengar hukum-hukum Allah dan melakukan upacara atau setidaknya untuk merenungkan karya-karya Allah sehingga melalui peringatan ini umat Allah menjadi terlatih dalam kesalehan.

“engkau atau anakmu… atau hambamu… atau hewanmu atau orang asing yang di tempat kediamanmu”
Hukum ini memberi perintah bukan saja kepada orang yang mengerti dan mempunyai perjanjian dengan Allah tetapi juga kepada seluruh orang dan hewan yang berada dalam otoritas mereka (anak, hamba, orang asing dan hewan). Hal ini menunjukkan bahwa hukum sabat bukan saja berlaku kepada manusia tetapi juga kepada seluruh ciptaan Tuhan yang mencakup hewan dan pada bagian lain, tanah (2 Kor. 36:21). Allah, Sang Pemberi hukum, adalah Allah yang menciptakan alam semesta sehingga Ia telah merancangkan sabat menjadi bagian dari seluruh ciptaanNya. Dalam hal ini manusia sebagai kepala ciptaan diberikan otoritas untuk mengatur dan memberlakukan sabat kepada ciptaan Tuhan. Sehingga hukum ini mengintruksikan manusia untuk memperhatikan orang-orang dan hewan yang berada dalam otoritas mereka.

Aturan yang diperintahkan adalah berhenti bekerja. Sebab Allah sudah memberikan waktu untuk bekerja dan istirahat adalah bagian yang sama pentingnya dengan bekerja. Tidak ada yang tidak perlu istirahat. Bekerja melampaui batas kemampuan diri tanpa isitirahat adalah pelanggaran terhadap hukum Allah. Oleh sebab itu setiap umat Allah harus mengatur diri dan semua orang yang berada dalam otoritasnya sedemikian rupa supaya dapat bekerja dengan baik pada waktu yang sudah ditentukan dan harus memberikan istirahat kepada mereka secukupnya. Bekerja tanpa istirahat adalah tindakan yang unlawful.

Mengapa Allah berbicara tentang cakupan otoritas? Dunia yang berdosa adalah dunia yang cenderung memberontak kepada Allah. Duta Allah di dalam dunia ini adalah umat perjanjianNya, yaknit sekelompok orang yang dikuduskan untuk taat kepada firmanNya. Hukum sabat adalah hukum yang berhubungan dengan natur ciptaan bukan hanya untuk sekelompok orang. Oleh sebab itu umat Allah diperintahkan untuk semampunya dalam otoritas dan kemampuan mereka membawa semua orang mentaati hukum ini. Semua orang yang bekerja padanya diberikan istirahat dan kepada koleganya yang tidak mematuhi hukum ini hendaknya juga menghentikan segala bentuk pekerjaan supaya semua orang dan ciptaan Allah mendapatkan sabat seperti rancangan Allah yang semula. Sebab alasan Tuhan dalam memberikan perintah ini adalah pekerjaan penciptaan sehingga hukum ini diberikan dan berlaku untuk kebaikan semua ciptaan dan umat Allah mempunyai tanggung jawab dalam hal tersebut.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.