Hukum Taurat: Pendahuluan

Secara prinsip seluruh bagian Alkitab dapat disebut sebagai buku manual pembaharuan Allah. Sebab setiap yang tertulis di dalamnya merupakan firman Allah yang bertujuan untuk membaharui hidup manusia yang telah jatuh dalam dosa. Tepat seperti konsep ortodoks mengenai wahyu Allah, wahyu khusus diberikan Allah karena manusia telah jatuh dalam dosa sehingga kerusakan akibat dosa membuat manusia tidak mampu mengenal Allah yang benar melalui wahyu umum. Namun di dalam keseluruh kitab suci yang Allah berikan kepada manusia, Allah menyatakan kehendakNya dalam bagian-bagian yang lebih detil. Dalam pengertian tertentu, kita dapat membedakan mana yang disebut sebagai hukum dan mana bagian yang disebut Injil kasih karunia.

Dalam perspektif kristiani, hidup berarti hubungan – antara Allah dan manusia. Sebagai Pencipta manusia, Allah sangat mengetahui bagaimana manusia seharunya hidup. Seluruh keberadaan, kecendrungan, kesukaan dan segala hal yang berhubungan dengan manusia dirancang sedemikian rupa oleh Sang Khalik. Itulah sebabnya Dialah satu-satunya pihak yang paling mengetahui bagaimana manusia seharusnya menjalani hidupnya. Alkitab menyatakan bahwa cetak biru bagi hidup manusia adalah dinyatakan dalam Sepuluh Perintah Allah yang Ia berikan kepada orang-orang Yahudi melalui Musa di Sinai sekitar tiga belas abad sebelum Kristus datang. Hukum tersebut dapat disebut juga sebagai The Plain Man’s Guide to Ethics. Selain sebagai guidance, Decalogue turut berfungsi sebagai ukuran (standart) untuk memberikan penilaian dan apakah tindak tanduk manusia itu benar atau tidak. Bahasa Ibrani menggunakan istilah “torah” untuk menyebutkan “hukum.” Tetapi kata torah itu sendiri mengandung arti intruksi orang tua yang baik kepada anak-anaknya dan dalam konteks Ams. 1:8 dan 6:20, kata torah mengadung arti pengajaran orang tua. Jadi, walaupun dapat berperan sebagai hukum yang menghakimi pada dasarnya Taurat adalah bahasa kasih Allah kepada manusia.

Lalu Allah mengucapkan segala firman ini: “Akulah TUHAN, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan. Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku.” Keluaran 20:1-3

Konteks, gaya dan bahasa yang terdapat dalam Sepuluh Perintah Tuhan menyiratkan adanya pembagian Perintah Allah ini ke dalam dua kelompok yang berbeda. Bagian pertama, mengatur hubungan antara Tuhan dan setiap orang Israel secara individu, yang kedua mengatur hubungan manusia dengan manusia. Kelompok pertama dicirikan dengan penggunaan kalimat "TUHAN, Allahmu," sebanyak 5x sementara yang kedua tidak mengandung referensi kepada-Nya. Selain itu, ada fakta yang mencolok bahwa dokumen dibuka dengan “TUHAN Allahmu” dan ditutup dengan “sesamamu.” Kelompok hukum yang pertama menunjukkan kewajiban agama yang unik, yakni hubungan antara manusia dengan Allahnya, hubungan yang diikat dalam suatu perjanjian. Sementara itu kelompok hukum yang kedua terdiri dari larangan-larangan yang merupakan aplikasi universal dan jika diperhatikan hukum-hukum ini memiliki banyak kesamaan dengan literatur kuno lainnya. Namun perbedaan yang mencolok adalah larangan-larangan tersebut, di Israel, merupakan perintah/ kewajiban yang datang dari Allah bukan sekedar buah hikmat manusia. Sebagian besar agama wahyu mengajarkan hal yang serupa meskipun tidak dalam formula hukum seperti Taurat.

Pada waktu Hukum Allah ini diberikan, Allah tidak menyebutnya sebagai 10 hukum dan teks aslinya tidak memberikan penomoran seperti yang dikenal sekarang. Oleh sebab itu terdapat perbedaan penomoran terhadap hukum-hukum yang dilatarbelakangi oleh tradisi penafsiran masing-masing kelompok. Secara mendasar pemikiran yang menentukan penomoran itu adalah
  1. Apakah ayat 2 adalah sebuah deklarasi independen setara dengan yang lain atau hanya pengenalan untuk seluruh dokumen.
  2. Apakah ayat 3 dan 4 lainnya diperlakukan sebagai satu hukum saja atau dua perintah yang berbeda.
Manyikapi pertanyaan ini, tradisi rabbi Yahudi menyetujui poin pertama mengingat pemahaman aseret ha-devarim sebagai yang mengakui bahwa hukum tersebut berjumlah sepuluh. Pendekatan tentang penomoran ini juga diutarakan oleh Philo dari Alexandria dalam tulisannya Dasa Titah (Decalogue) dan juga oleh Josephus; yang juga mencerminkan pendekatan tradisi Yahudi awal. Mereka mengelompokkan ayat 3 sebagai perintah yang pertama dan ayat 4-6 digabungkan menjadi perintah yang kedua. Roma Katolik dan Lutheran mempunyai pendekatan yang berbeda, kedua denominasi ini menafsirkan ayat 3-6 sebagai hukum pertama dan membagi ayat 17 menjadi dua hukum. Setidaknya ada 2 hal yang perlu dipahami untuk memahami Sepuluh Taurat Tuhan ini:
  • Kristus berkata dalam Khotbah di Bukit (Matius 5:17) bahwa ia datang bukan untuk menghapuskan hukum Taurat, tetapi untuk memenuhinya dan membantu orang lain untuk melakukan semua yang Allah perintahkan dalam hukumNya. Apa Yesus yang ubah atau bantah adalah eksposisi tidak tepat mengenai hukum tersebut dan bukan hukum itu sendiri (Matius 5:21-48; 15:1-9). Dengan memberikan eksposisi benar, ia menyatakan kembali hukum yang Allah berikan melalui Musa itu. Sementara itu Khotbah di Bukit itu sendiri merupakan suatu penjabaran dari tema-tema Dasa Titah dalam konteks kristiani.
  • Jika hukum yang Allah berikan dinyatakan dalam bentuk negatif maka implikasi positifnya juga berlaku. Katekismus Besar Westminster menuliskannya demikian “di mana dosa dilarang, tugas yang sebaliknya diperintahkan.”
Pernyataan pendahuluan atau pengantar Dasa Titah ini sangat unik sebab tidak spesifikasi kepada siapa sebenarnya Taurat ini ditujukan. Namun keunikan ini sekaligus memberikan suatu pemahaman yang lebih kompleks, sebab deklarasi Ilahi ini menjadi meluas bukan hanya kepada sekelompok orang yang mendengarnya pada waktu itu. Sehingga di satu sisi Taurat bisa dipahami ditujukan bagi “semua orang” sebagai entitas korporasi, suatu kesatuan psikis, yang masuk ke dalam hubungan perjanjian dengan Allah. Di sisi lain, setiap anggota dalam komunitas perjanjian tersebut merujuk kepada individu-individu, seperti yang ditegaskan secara tekstual dengan konsisiten dalam penggunaan orang kedua tunggal (engkau).

Dalam legenda para rabi Yahudi, Dasa Titah diberikan Allah kepada semua orang di seluruh muka bumi hanya untuk ditolak oleh mereka. Itulah sebabnya proklamasi hukum tersebut dilakukan di padang gurun dan bukan di dalam batas-batas kebangsaan apapun demi menyoroti sifat universalitas hukum tersebut. Ke-universilatisan dari hukum ini dinyatakan juga dalam penerjemahan Dasa Titah secara simultan ke dalam semua bahasa manusia. Itulah sebabnya Hukum Taurat tidak dipahami sebagai hukum yang hanya berlaku kepada bangsa Israel saja tetapi bagi semua orang. Sehingga Taurat, seperti yang dikatakan Paulus, menjadi sebuah alat penghakiman atas semua manusia serta menyatakan bahwa mereka semua telah berdosa kepada Allah karena tidak hidup sesuai dengan hukum tersebut.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.