Kisah Kegelapan (Matius 27: 45-56 )

Paragraf Mat 27:45-56 memiliki ide utama “YESUS MATI”. Isi dari paragraf ini adalah sebuah cerita atau kisah kematian Yesus yang dapat saya bagi menjadi 7 scenes atau peristiwa yang sangat jelas. Tiga scenes sebelum Yesus mati di atas kayu salib (45-49), satu scene Yesus mati yang menjadi sentralnya (50) dan tiga scenes berikutnya terjadi setelah Yesus mati (51-56).
Scenes dapat digambarkan sebagai berikut:
Langit menjadi gelap (45);
Tangisan Yesus yang sangat keras (46)
Olok-olokan dari kerumunan orang (47-49)
Yesus mati (50)
Kesaksian dari kerumunan orang yaitu perempuan-perempuan (55-56)
Pengakuan kepala pasukan dan para prajurit (54)
Gempa bumi (51-53)

The pivot point of the paragraf atau ide utama dari paragraf di atas adalah Yesus mati. Pertanyaan yang akan kita renungkan bersama adalah apa makna dari peristiwa Yesus mati?
Saya tidak akan menyinggung jawaban dogmatis bahwa Yesus mati bagi kita adalah untuk menyelamatkan: dengan cara menggantikan kita dan sekaligus memenuhi tuntutan keadilan dan kasih Allah. Namun jawaban yang mau kita renungkan adalah jawaban reflektif. Bukan berarti dogmatis tidak penting, namun reflektif seringkali terlupakan oleh kita.

Saya merasa sungguh tidak layak membicarakan kisah ini. Karena kisah ini adalah kisah paling agung di dalam sejarah. Siapakah saya? Siapakah kita sehingga kita boleh tahu, membaca, dan menyelami akan kisah ini? Ini kisah puncak kasih dan pengorbanan Allah melalui Yesus Kristus. Kisah puncak ini bukan kisah hebat, heroik ataupun memukau. Tapi kisah ini adalah kisah sedih, kisah gelap, kisah kelabu dan kisah yang bodoh bagi sebagian orang. Saya mau mengajak kita merenungkan satu sisi dari kisah ini yaitu kisah gelap.

Kisah ini adalah kisah kegelapan. Bahkan matahari yang seharusnya bersinar terik di tengah jam 12 siang menjadi gelap, ini menunjukkan alam pun turut berduka, sedih. Siang yang gelap. Kontras dan penuh paradoks. Alam menunjukkan hal ini.

Kegelapan bertambah ketika banyak orang berbondong-bondong kumpul sepanjang jalan dolorosa menuju Golgota untuk mencela, menghina dan mengolok-olok Dia. Setelah puas, mereka pulang, terlebih karena kegelapan datang, kini kegelapan diliputi kesepian dan kesunyian yang luar biasa di Golgota.

Kegelapan yang paling gelap dirasakan oleh Yesus Kristus adalah tangisan Yesus yang sangat keras. Sepertinya mustahil Dia masih bisa berteriak. Bukankah tubuh, darah-Nya telah habis? Disiksa sepanjang hari. Kesakitan yang tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Ini adalah kesakitan di tengah kegelapan. Begitu kelam dan menyedihkan.

Di tengah kesakitan, bukankah biasanya seseorang perlu pendampingan orang lain? Yesus dipaku di atas kayu salib seharusnya membutuhkan Allah Bapa. Kesaksian dan kekuatan dari Allah Bapa sangat diperlukan, bukan? Tetapi pada saat perlu, Kristus mengatakan, “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” Ini adalah kegelapan. Di saat perlu, justru ditinggalkan.

Kristus tidak memanggil “Bapa” seperti ucapan pertama, “Ya, Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” Dia memanggil “Allah” oleh karena Dia sadar statusnya berdiri sebagai orang berdosa. Dia sebagai pengganti orang berdosa. Kristus dijadikan berdosa karena kita.

“Mengapa Engkau meninggalkan Aku?” Ini adalah satu pertanyaan yang menunjukkan bahwa Yesus sedang menanggung dosa seluruh manusia. Allah menutup muka-Nya terhadap Kristus. Allah adalah Allah yang adil, sehingga pada waktu Kristus mengangkut dosa manusia, Dia tidak menerima penyertaan dari Allah Bapa. Murka Allah berkehendak meremukkan Dia. Dia menderita sampai setuntas-tuntasnya. Peristiwa ini adalah kegelapan yang paling gelap di dalam kisah.

Pertanyaan “Mengapa” adalah pertanyaan yang sulit kita jawab. Mengapa Yesus harus ditinggalkan Allah Bapa? Sulit kita jawab, penuh kesesakan, dan tidak ada jawaban. Ini adalah gambaran kegelapan, gambaran neraka. Neraka berarti ditinggal oleh Allah. Dipalingkan muka Bapa yang penuh kasih untuk selama-lamanya. Saya harap kita semua tidak menjadi orang seperti ini.
Kita tidak mau dipalingkan muka oleh Allah. Kita tidak mau menjadi orang yang tidak lagi ditegur, dinasihati, dibimbing oleh Allah. Kita tidak mau dibiarkan selama-lamanya tanpa ada yang menegur dan menasehati kita. Kita tidak mau ditinggalkan orang-orang yang mengasihi kita. Gambaran neraka adalah gambaran ketidakpedulian, meninggalkan, membiarkan dosa itu terjadi. Gambaran neraka adalah gambaran tanpa tegur dan nasihat. Gambaran nereka adalah gambaran kegelapan, tidak ada lagi persaudaraan. Kita semua di sini adalah saudara. Kita semua di sini adalah sahabat satu dengan yang lain. Tidak ada satu orang pun yang harus disisihkan atau ditinggalkan oleh yang lain. Saudara perhatikan apakah di dalam diri kita ada gambaran neraka? Gambaran yang acuh tidak acuh, tidak peduli, tidak mau ditegur, membiarkan dosa itu terjadi, kecurigaan, tuduhan. Atau kita mau menciptakan gambaran sorgawi? Gambaran yang penuh compassion/belas kasihan, kepedulian, pengorbanan, penghargaan dan penuh persahabatan. Saudara mari kita mengerti situasi Yesus pada saat itu.

Pertanyaan ini juga adalah pertanyaan dengan jiwa yang sangat kelu. Kalimat ini membuktikan bahwa Kristus sudah turun ke dalam tempat yang paling dalam, menerima hukuman paling kejam. Hukuman neraka harus timpa kepada Anak Allah yang tidak berdosa. Kristus pernah menerima siksaan dan pernah menerima hukuman nereka menanggung dosa kita sampai mengatakan perkataan “My God, my God, why hast thou forsaken Me?” Itu seruan dari neraka, itu seruan yang keluar dari hukuman keadilan yang diterima karena kejahatan.

Perkataan Kristus adalah perkataan kelam sekaligus perkataan yang penuh cinta sampai akhir hayat. Dia mengalami satu pengadilan ilahi dan satu kekejaman hukuman neraka yang seharusnya kita terima. Di sini buktinya cinta Tuhan Yesus pada kita.

Kisah ini akan menjadi kisah yang gelap saja, jikalau kita tidak melihat dibalik kisah ini adalah kisah cinta Tuhan kepada manusia. Kisah cinta sampai akhir hayat adalah kisah yang tak pernah dilupakan sejarah umat manusia.

Mintalah cinta Tuhan dan Dia akan berikan kepada kita semua.Siapapun yang percaya pada perkataan ini dan mematuhi Kristus, dia tidak dibuang oleh Bapa sampai selamanya. Puji Tuhan! Amin!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.