Sistem Pemerintahan dan Jabatan Gereja

Sistem pemerintahan gereja, secara umum, dapat dibagi menjadi tiga kelompok besar, yaitu kongregasional (congregational), episkopal (episcopal) dan presbiterian (prebyterian). Namun dalam prakteknya ada beberapa bentuk variasi penggabungan dari sistem-sistem yang ada. Sehingga terkadang sulit bagi kita untuk mengidentifikasi secara spesifik sistem apa yang diterapkan oleh suatu gereja, karena dalam beberapa hal mereka menganut episkopal tetapi pada aspek-aspek tertentu mereka akan menggunakan sistem yang lain. Namun demikian kita perlu memahami sistem-sistem pokok dalam pemerintahan gereja.



A. Sistem Pemerintahan Episkopal
Nama episkopal berasal dari kata Yunani episkopos yang berarti “overseer/ penilik” (kata ini juga diterjemahkan menjadi bishop dan uskup) dan menyatakan bahwa gereja diatur dan dipimpin oleh (para) bishop. Bentuk konkret dari sistem pemerintahan gereja ini agak berbeda pada beberapa gereja. Misalnya dalam gereja Methodist dan Lutheran, gereja dipimpin oleh seorang bishop yang menjadi pemimpin tunggal atas seluruh gereja-gereja lokal ada. Denominasi/ sinode/ gereja yang lain mempunyai bishop yang berbeda. Struktur yang lebih kompleks terdapat dalam gereja Anglikan dan gereja Katolik Roma. Seluruh gereja Roma Katolik dibawah pimpinan seorang Paus namun masih memiliki sistem keuskupan dalam wilayah-wilayah tertentu.

Dalam sistem pemerintahan gereja episkopal, otoritas dan kewenangan terletak pada bishop yang mengawasi sekelompok gereja, bukan hanya satu gereja lokal. Bishop adalah orang yang memiliki otoritas yang untuk menahbiskan ministers atau imam (priest). Katolik Roma mengatakan bawwa kewenangan bishop ini diperoleh melalui suksesi apostolik dari rasul-rasul pertama. Jadi kuasa itu dilanjutkan secara estafet oleh bishop berdasarkan Matius 16:18-19. Gereja Methodis dan Lutheran tidak mengakui otoritas melalui suksesi apostolik seperti Katolik. Sistem suksesi apostolik muncul pada abad kedua dan para penganutnya mengklaim dukungan alkitabiah dari posisi Yakobus di gereja Yerusalem dan sesuai dengan pernyataan Paulus dalam suratnya kepada Timotius dan Titus mengenai posisi dan otoritas mereka dalam mengangkat penatua.

B. Sistem Pemerintahan Kongregasional.
Sistem kongregasional ini dapat disebut sebagai sistem independent karena sistem ini menegaskan bahwa “setiap gereja lokal adalah suatu badan lengkap, yang tidak tergantung dengan badan lain, bahkan tidak memiliki hubungan pemerintahan dengan gereja yang lain. Dalam sistem ini, kekuasaan gereja sepenuhnya berada pada anggota Jemaat, yang memiliki kekuasaan untuk mengatur dirinya sendiri secara independen dan penuh.” Otoritas pemerintahan gereja tidak terletak pada individu maupun perwakilan individu melainkan seluruh jemaat lokal. Dua hal yang sangat ditekankan oleh sistem pemerintahan gereja ini adalah otonomi dan demokrasi. Para pelayan gereja (pejabat gereja) adalah jabatan fungsional untuk melayani Firman, mengajar dan melaksanakan urusan gereja semata-mata. Apabila ada komunikasi yang dikehendaki oleh gereja sejenis, maka mereka menyelesaikannya dengan mengadakan konsili, yang hanya mengeluarkan “pernyataan” yang tidak mengikat satu dengan yang lainnya. Tidak ada otoritas di luar gereja lokal, meskipun dalam satu nama gereja, yang memiliki wewenang atau pengaruh terhadap gereja lokal tersebut sebab pemerintahan gereja bersifat demokratis dari jemaat lokal tersebut. Sehingga setiap anggota jemaat turut membuat keputusan dan memerintah gereja. Konsep ini lahir dari pernyataan Alkitab yang mengatakan bahwa setiap orang percaya adalah imamat yang rajani (1 Pet 2:9). Denominasi yang menganut sistem pemerintahan ini adalah Baptis, Evangelical Free, Congregational dan sebagian Lutheran.

Dukungan alkitabiah bagi sistem pemerintahan kongregasional adalah catatan Lukas yang menyebutkan bahwa jemaat itu terlibat dalam pemilihan itu diaken (Kis 6:3-5) dan para penatua (Kis. 14:23); seluruh jemaat turut mengutus Barnabas (Kis 11:22) dan Titus (2 Kor 8:19) serta menerima Paulus dan Barnabas (Kis 14:27; 15:4); seluruh jemaat terlibat dalam keputusan-keputusan tentang sunat (Kis 15:25); disiplin dilakukan oleh seluruh gereja ( 1 Kor 5:12;. 2 Kor. 2:6-7, 2 Tes. 3:14); semua orang percaya bertanggung jawab untuk doktrin yang benar dengan menguji roh (1 Yoh. 4:1) sebab mereka bisa melakukan hal-hal itu karena mereka memiliki pengurapan (1 Yoh. 2:20).

C. Sistem Pemerintahan Presbiterian.
Istilah presbiterian berasal dari kata Yunani presbuteros yang berarti “penatua.” Dalam pemerintahan gereja sistem presbiterian ini, setiap gereja lokal adalah independen satu dengan dan dari yang lain, tetapi mereka diikat oleh suatu “ketentuan normatif yang sama dan pengakuan iman yang sama.” Sistem ini menegaskan bahwa setiap Jemaat dapat melakukan pelayanannya sendiri yang dipimpin oleh pendetanya, termasuk memanggil pendeta yang dikehendakinya yang diteguhkan oleh presbiteri yang terdiri dari pendeta dan penatua yang mewakili gereja-gereja lokal. John Calvin, sebagai tokoh yang merumuskan sistem ini mengakui adanya jabatan-jabatan gerejawi seperti para “gembala (pendeta), guru, diaken (the deacon) dan penatua (the presbyter atau the elder). Dalam sistem ini gereja dipimpin oleh para penatua. Perbedaan yang mencolok dengan sistem Kongregasional adalah Presbiterian menekankan perwakilan jemaat yakni para penatua yang diangkat atau dipilih oleh jemaat. Jadi otoritas tertinggi dalam satu gereja lokal adalah kemajelisan penatua dan satu majelis penatua memimpin satu gereja lokal. Di atas majelis penatua terdapat sinode dan di atas sinode terdapat konferensi umum sebagai sidang tertingi. Majelis penatua ini adalah gabungan antara minister dan orang awam.

Jabatan-Jabatan Gerejawi
Dan Ialah yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar, untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus. Efesus 4:11-12

Paulus secara jelas mengatakan adanya jabatan-jabatan dalam gereja yang bertujuan untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan Tuhan. Jabatan-jabatan tersebut adalah (1) rasul, (2) nabi, (3) penginjil, (4) gembala dan (5) guru. Ketiga jabatan yang pertama ini digolongkan oleh Calvin sebagai jabatan yang extraordinary (luar biasa) karena ketiga jabatan inilah yang mengokohkan berdirinya gereja di tengah-tengah dunia dan menuliskan wahyu khusus Allah kepada manusia. Dua jabatan yang pertama tidak lagi dilanjutkan karena jabatan tersebut hanya ada pada masa-masa tertentu saja. Hanya ada 3 jabatan yang masih berlaku sampai sekarang, yakni penginjil, gembala dan guru.

Penginjil adalah jabatan yang lebih rendah dari pada rasul dan nabi tetapi jabatan yang paling tinggi dalam jabatan tetap. Bahkan penginjil adalah jabatan gereja yang turut bersama-sama dengan rasul dan nabi mengokohkan gereja mula-mula. Jabatan ini memang tidak terlalu populer dalam gereja sekarang bahkan cenderung dianggap sebagai junior. Namun bagi Paulus adalah jabatan yang paling tinggi lebih dari gembala dan guru. Menurut Calvin, orang-orang seperti Lukas, Timotius, Titus dan kemungkinan 70 murid yang diutus Kristus (Lukas 10:1) tergolong para penginjil.

Jabatan selanjutnya adalah gembala dan guru yang sangat kuat hubungannya dengan gereja. Tanpa 2 jabatan ini gereja tidak mungkin berjalan. Kedua jabatan ini ada di dalam gereja, perbedaannya adalah guru (pengajara) tidak turut dalam menjalankan disiplin gereja dan sakramen ataupun memberikan peringatan kepada jemaat. Guru hanya bertanggung jawab dalam penafsiran yang alkitabiah dan menjaga doktrin yang murni di antara orang-orang percaya.

Calvin mengatakan bahwa ada kesamaanan tugas antara jabatan rasul dengan gembala. Tugas yang dilakukan para rasul pada jamannya adalah tugas yang sekarang dikerjakan oleh para gembala, perbedaannya terletak pada cakupan. Para rasul bertanggung jawab atas penggembalaan gereja di seluruh dunia tetapi gembala bertugas hanya pada satu kawanan domba yang dipercayakan kepadanya. Tetapi gembala yang bertugas ditetapkan untuk bertugas dalam gereja mereka masing-masing tersebut tetapi bisa membantu gereja yang lain - jika ada masalah yang membutuhkan kehadirannya atau memerlukan saran, guna menjaga perdamaian antara gereja. Oleh sebab itu, Calvin mengatakan bahwa perlu adanya aturan untuk setiap gembala jemaat yang terikat dan bertanggung penuh atas domba yang dipercayakan kepadanya namun tetap bisa membantu gereja lain tanpa ikatan. Hal ini bertujuan agar pelayanan gereja tidak terjadi tumpang tindih dan demi ketidaktertiban pekerjaan Tuhan.

Jabatan-jabatan gereja ini bukanlah ketetepan manusia tetapi ditetapkan oleh Allah sendiri. Sebab Paulus dan Barnabas “menetapkan penatua-penatua bagi jemaat” dalam masing-masing gereja di Listra, Ikonium dan Antiokhia (Kis. 14:21-23). Paulus juga memerintahkan Titus untuk “menetapkan penatua-penatua di setiap kota” (Titus 1:5). Jadi di satu tempat Paulus berbicara tentang bishop di Filipi (Fil 1:1) di lain tempat ia menyebut Arkhipus sebagai bishop di Kolose (Kol 4:17). Dalam catatan Lukas terdapat khotbah Paulus kepada penatua gereja di Efesus (Kis. 20:18-19).

Alkitab menggunakan jabatan “bishop”, “penatua,” “gembala/ pendeta,” dan “pelayan/ minister,” secara interchangeable (saling bergantian). Bagi pelayan Firman biasanya digunakan istilah bishop. Pada waktu Paulus meminta Titus untuk menetapkan penatua-penatua di setiap kota ada pernyataan “sebab sebagai pengatur rumah Allah seorang penilik jemaat (bishop) harus tidak bercacat (Titus 1:7, 1 Tim 3:1). Di tempat lain Paulus memberi salam kepada sejumlah bishop dalam satu gereja (Fil 1:1). Dalam Kisah Para Rasul disebutkan adanya sidang penatua Efesus (Kis. 20:17) yang ia sebut sebagai bishop (penilik/ overseer) (Kis. 20:28).

Jadi Alkitab sendiri menyatakan bahwa pelayan firman dibatasi hanya kepada jabatan tertentu saja yakni para bishop. Dalam surat kepada jemaat di Efesus Paulus tidak menyebutkan lagi ada jabatan yang menerima tugas pelayanan firman. Tetapi dalam Roma 12:7-8 dan 1 Kor. 12:28 Paulus menyebutkan (selain rasul, nabi dan pengajar) ada orang-orang yang memperoleh karunia untuk “(1)mengadakan mujizat, untuk menyembuhkan, (2)untuk melayani, (3)untuk memimpin, dan (4)untuk berkata-kata dalam bahasa roh.” Calvin mengatakan bahwa hanya tinggal 2 dari 4 tugas yang tetap dalam setiap masa (bukan temporal) bagi jabatan ini yakni memimpin (memerintah) dan melayani (orang miskin). Orang-orang yang memerintah gereja ini (selain rasul, nabi dan pengajar; 1 Kor. 12:28), menurut Calvin, dipilih dari jemaat untuk tugas mengawasi moral hidup jemaat dan menerapkan disiplin gereja bersama para bishop (pelayan firman).

Pelayanan untuk melayani orang-orang miskin diberikan kepada diaken. Keberadaan jabatan ini pertama kali disebutkan oleh Lukas dalam Kis. 6:3 berhubung pada waktu timbul “sungut-sungut di antara orang-orang Yahudi yang berbahasa Yunani terhadap orang-orang Ibrani, karena pembagian kepada janda-janda mereka diabaikan dalam pelayanan sehari-hari” (Kis 6:1). Para waktu itu tugas melayani orang miskin ditangani oleh para rasul dan berhubung “jumlah murid makin bertambah” maka mereka kewalahan melakukan tanggung jawab mereka. Lalu para rasul mengatakan “kami tidak merasa puas, karena kami melalaikan Firman Allah untuk melayani meja” sehingga mereka meminta dipilih 7 orang untuk diangkat menjadi diaken. Tugas utama mereka adalah melayani meja yakni melayani janda-janda, orang miskin dan termasuk orang sakit. Kelompok janda diperjelas oleh Paulus dalam suratnya kepada Timotius; “yang didaftarkan sebagai janda, hanyalah mereka yang tidak kurang dari 60 tahun, yang hanya satu kali bersuami dan yang terbukti telah melakukan pekerjaan yang baik…” (1 Tim. 5:9-12) sebab mereka semua adalah tanggug jawab gereja.

Bagaimana para pemimpin gereja (penatua) dipilih?
Paulus telah menuliskan kriteria-kriteria untuk memilih para penilik (bishop) yang tertuang dalam Titus 1:7 dan 1 Tim. 3:1-7. Secara singkat orang-orang yang boleh dipilih untuk menjabat jabatan tersebut adalah orang-orang memiliki doktrin yang sehat, hidup yang suci, tidak terkenal sebagai orang yang bermasalah sehingga bisa memberikan masalah kepada pelayanan (1 Timotius 3:2-3, Titus 1:7-8). Persyaratan yang kurang lebih sama berlaku untuk diaken dan para penatua (1 Timotius 3:8-13). Selain kriteria tersebut, orang-orang ini harus juga memiliki kemampuan dan keterampulan untuk mengerjakan tugas yang akan mereka emban dalam pelayanan gereja. Sebab Kristus sendiri, sebelum mengutus para murid, Ia memperlengkapi mereka semua dengan hal-hal penting yang harus mereka miliki untuk mengerjakan tugas tersebut (Lukas 21:15, 24:49, Markus 16:15-18, Kis 1:8). Satu teladan yang dicatat oleh Lukas mengenai pemilihan para penatua adalah dengan berdoa dan berpuasa memohon pimpinan Tuhan (Kis 14:23). Hal ini menunjukkan adanya suatu keseriusan dari jemaat untuk memilih orang-orang yang tepat untuk memimpin gereja sesuai kehendak Allah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.