Eksposisi Injil Yohanes 1:3-5 --- Logos dan Penciptaan

"3 Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan. 4 Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia. 5 Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya."

Perbedaan makna “pada mulanya” antara Kej. 1:1 dengan Yoh 1:1 adalah dalam Kejadian “pada mulanya” mengacu pada awal mula eksistensi alam semesta yakni diciptakan oleh Allah. Permulaan segala sesuatu yang disebut ada adalah Allah, Sang Pencipta. Namun dalam Yoh 1:1 “pada mulanya” lebih mundur ke belakang (dalam pengertian waktu) yaitu mengacu pada eksistensi Allah, khususnya Logos, yang sudah ada sebelum segala sesuatu ada. Yoh 1:1 membicarakan eksistensi Allah yang kekal dan Kej 1:1 membicarakan karya penciptaan Allah sebagai mula dari segala sesuatu yang ada. Oleh sebab itu ayat yang paralel dengan Kej 1:1 adalah Yoh 1:3, karena bagian ini sama-sama menjelaskan karya penciptaan oleh Elohim (Theos). Namun dalam Injil Yohanes, terdapat keterangan yang lebih spesifik, bahwa pelaku penciptaan alam semesta adalah Pribadi Logos.

Penciptaan Logos bersifat Creatio ex nihilo
Ayat 3 dituliskan oleh Yohanes dalam 2 bentuk, positif (through him all things were made) dan negatif (without him nothing was made that has been made). Perubahan tenses dari were made menjadi has been made merupakan perubahan yang menunjukkan the act of creation. Pada awalnya adalah ketiadaan, namun Logos menjadikan sesuatu menjadi ada dari yang tidak ada. Penciptaan adalah suatu karya yang unik hanya dilakukan oleh Allah dan sifat dari peciptaan haruslah creatio ex nihilo, penciptaan yang tidak bersifat ex nihilo tidak dapat digolongkan penciptaan. Penciptaan memberikan implikasi-implikasi penting dalam seluruh doktrin Kristen, diantaranya mengimplikasikan perbedaan esensi antara Pencipta dan ciptaan, kebergantungan ciptaan kepada Pencipta, kedaulatan Pencipta atas ciptaan, adanya limitasi ciptaan, dll.

Istilah dan konsep creation ex nihilo pertama kali dimunculkan secara eksplisit dan jelas oleh Theophilus of Antioch (c.185) dalam komentarnya terhadap kitab Kejadian, ia mengatakan: “God has created everything out of nothing into being.” Kemudian konsep ini diterima oleh Tertulianus dan Hippolytus namun pada waktu itu belum seluruh gereja menerima pandangan tersebut. Setelah abad ke-4, ketika Agustinus menerima konsep penciptaan dari ketiadaan maka gereja secara universal menerimanya sebagai sifat penciptaan alam semesta. Pandangan ini tidak banyak mengalami perdebatan dan tidak masuk dalam agenda-agenda konsili-konsili gereja dan diterima oleh para pemikir Kristen pada umumnya, seperti Anselmus, Aquinas, Luther, Zwingli dan John Calvin. Bahkan konsep creatio ex nihilo menurut Geisler merupakan pandangan ortodkos dari kelompok theist selain Kristen, yakni Islam dan Yudaisme.

Doktrin creatio ex nihilo berakar dari kata בָּרָא (baca: bara -- verb qal perfect 3rd person mas sing) yang memiliki makna split, divide, cut (dalam bentuk Piel, Yos 17:15, 18), to fashion, bring forth dan create. Alkitab secara konsisten menggunakan kata tersebut hanya kepada perbuatan Allah, tidak pernah menggunakannya kepada manusia. Jadi Alkitab sendiri menyatakan bahwa kata bara unik sebagai karya Allah yang sama sekali berbeda dengan tindakan makhluk ciptaan apapun. Namun kata ini sendiri, secara literal tidak cukup memberikan makna atau nuansa bahwa penciptaan itu bersifat “out of nothing.” Pemahaman “out of nothing” muncul dengan perbandingan dengan 2 Makabe 7:28 yang mengatakan “God made heaven and earth and everything in them out of nonbeing (Vulgata: fecit ex nihilo).” Allah menciptakan segala sesuatu; langit, bumi, laut dan segala isinya (Kel 20:11, Neh 9:6, dll) dari yang tidak ada menjadi ada. Apa yang disebut materi berasal dari ketiadaan, bukan dengan sendirinya tetapi diciptakan menjadi ada oleh Allah. Hanya Allah satu-satunya yang ada sejak dari permulaan yang tidak dicipta oleh siapapun.

Alkitab tidak pernah menjelaskan bahwa ketiadaan (nihilo) adalah source, father atau principle of being. Jadi ketiadaan bukanlah preeksistensi dari alam semesta. Preposisi ex tidak dimengerti sebagai designate (the cause) tetapi exclude. Penyebab dari penciptaan adalah Allah dan ciptaan pada awalnya tidak ada namun menjadi ada oleh karena Allah berkuasa menjadikan. Awal yang tiada (nihil) memberikan natur kepada ciptaan, yakni ciptaan bersifat dependen kepada PenciptaNya. Karena segala keberadaan ciptaan, termasuk manusia, bersandar kepada kuasa Sang Pencipta. Oleh sebab itu doktrin creatio ex nihilo mengajarkan atribut kedaulatan Allah absolut dan kebergantungan mutlak ciptaan kepada Allah. Untuk menegaskan konsep yang penting ini Bavinck menuliskan “if only a single particle were not created out of nothing, God would not be God.” Jadi meskipun istilah creatio ex nihilo tidak tertulis dalam kanon Alkitab, konsep ini merupakan konsep yang tersirat kuat dan sangat mendasar dalam seluruh kerangka iman Kristen.

Implikasi dari konsep creatio ex nihilo adalah Allah berbeda dengan ciptaan secara esensial. Yohanes membedakan dengan tegas antara esensi Allah dengan ciptaan termasuk manusia. Logos adalah subjek penciptaan namun Ia berbeda dengan ciptaanNya. Ciptaan Allah tidak mengandung Allah atau memiliki unsur-unsur tertentu dari natur Allah. Allah sama sekali berbeda dengan ciptaanNya. Creatio ex nihilo (creation out of nothing) tidak sama dengan creation out of God yang dianut oleh Panteisme. Karena Panteisme percaya bahwa segala sesuatu yang ada berasal dari Allah dan segala sesuatu adalah Allah, atau segala sesuatu memiliki unsur Allah.

Apakah Penciptaan hanya dilakukan oleh Pribadi Logos saja?
Bagian Alkitab yang lain memberikan catatan bahwa Allah menciptakan dunia melalui Allah Anak (Maz 33:6; Ams 8:22; Yoh 1:3; 5:17; 1 Kor 8:6; Kol 1:15-17; Ibr 1:3) dan melalui RohNya (Kej 1:2, Maz 33:6, Ayub 26:13; 33:4; Maz 104:30; Yes 40:13, Luk 1:35). Di dalam ayat-ayat ini, Anak dan Roh Kudus tidak dipandang sebagai secondary cause tetapi sebagai Agen-agen yang independen bersama-sama dengan Allah Bapa mengerjakan penciptaan ini. Ketiga Pribadi Allah ini adalah Allah yang Esa. Seluruh pekerjaan penciptaan dikerjakan oleh ketiga Pribadi Allah. Bavinck menggambarkan kerjasama tersebut demikian, “Father is spoken of as the first cause, the Son as the one by whom all things are created, and the Holy Spirit as the immanent cause of life and movement in the universe… The creation proceeds from the Father through the Son in the Spirit so that, in the Spirit and through the Son it may return to the Father.” Pandangan mengenai penciptaan sebagai pekerjaan dari ketiga Pribadi Allah Tritunggal dikembangkan oleh Athanasius dan tiga bapak gereja dari Kapadokia serta Agustinus yang kemudian diterima sebagai pandangan yang ortodoks oleh gereja.


Life and Light
"Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia"
Carson mengatakan “life and light are almost universal religious symbol.” Kemungkinan Yohanes menggunakan kedua terminologi tersebut untuk menyatakan bahwa Logos adalah jawaban atas seluruh pertanyaan sifat keagamaan manusia. Manusia membutuhkan hidup dan terang dan keduanya ada di dalam Kristus. Pada pasal-pasal selanjutnya nanti Yesus (Logos) sendiri mengatakan bahwa Ia adalah terang dunia (8:12; 9:5) dan hidup (11:25; 14:6). Selain sebagai simbol relijius yang universal ‘life’ dan ‘light’ juga terdapat di dalam konsep Taurat dimana keduanya diasosiasikan dengan jewish sources. Sehingga dengan menuliskan ayat 4 ini Yohanes mencoba mengikatkan konsep dan kebutuhan manusia akan hidup dan terang kepada Logos.

Para ahli menghubungkan ayat 4 ini dengan 5:26 “Sebab sama seperti Bapa mempunyai hidup dalam diri-Nya sendiri, demikian juga diberikan-Nya Anak mempunyai hidup dalam diri-Nya sendiri.” Karena itu penjelasan bahwa di dalam Logos ada hidup memiliki pengertian the Word/ Son shares in the life-existing life of God. Hubungan Allah dan Logos menjadi hubungan yang unik yakni Bapa dan Anak, hubungan ini memang tidak dijelaskan pada awal Injil ini namun nanti Yohanes akan menjelaskannya lebih dalam. Leon Morris melihat kalimat “hidup itu adalah terang manusia” dalam hubungan dengan konsep PL yang menyatakan Allah sebagai sumber dari terang dan hidup, misalnya Mazmur 36:9 “Sebab pada-Mu ada sumber hayat, di dalam terang-Mu kami melihat terang.” Pembacaan ayat ini dari perspektif Mazmur hanya menjelaskan bahwa Logos itu sendiri adalah sumber hidup manusia, dan juga terang bagi manusia.

Hidup dan terang tidak memiliki perbedaan makna yang signifikan, sama seperti yang dijelaskan oleh Carson bahwa kedua terminologi tersebut hanya simbol agama yang universal. Pada pasal-pasal selanjutnya konsep Yesus adalah terang akan menjadi sangat jelas. Tetapi pada ayat ini Yohanes hanya menyiapkan jalan dalam pikiran pembaca melalui Injil ini bahwa Yesus adalah life-bringer dan light-bearer.

Kata ‘light’ (terang) pertama kali muncul dalam Kej 1:3 “let there be light.” Allah (Theos/ Elohim) yang dalam konteks Yohanes mengacu pada Pribadi Logos, merupakan pencipta terang dan tentu saja menjadi sumber terang itu sendiri. Jadi alusi-alusi ini menjadi pesan Yohanes untuk mengatakan bahwa Logos adalah Pencipta, sumber hidup dan sumber terang bagi manusia. Dalam keseluruhan Injilnya, Yohanes menggunakan istilah life (hidup) sebanyak 28 kali, dan hampir seluruhnya mengacu kepada Yesus Kristus sebagai sumber kehidupan bagi manusia. Penggunaan kata hidup yang berulang-ulang memberikan suatu tema yang kuat dalam Injil Yohanes mengenai Yesus yang adalah Logos sebagai sumber kehidupan bagi manusia. Bahkan dalam tujuan penulisan Injil ini , Yohanes menuliskan “semuanya itu kutuliskan kepada kamu, supaya kamu yang percaya kepada nama Anak Allah, tahu, bahwa kamu memiliki hidup yang kekal."

Yohanes menegaskan bahwa Logos yang ia perkenalkan dalam Injilnya bukan saja memiliki hidup dalam diriNya tetapi juga berkuasa untuk memberikan kehidupan kepada siapa saja yang Ia kehendaki. Ia menguasai kehidupan itu sepenuhnya dan kehidupan yang Ia miliki bukan hidup yang diberikan kepadaNya tetapi Ia sendiri adalah sumber kehidupan tersebut. Tidak ada yang mampu mengambil kehidupan tersebut dari diriNya. Manusia bisa mati, karena manusia memiliki kehidupan yang sifatnya diberikan, bukan bersumber dari diri sendiri dan suatu waktu hidup itu akan diambil dari manusia. Hidup manusia bisa terhenti karena manusia tidak menguasai dan tidak kuasa untuk menentukan hidupnya sendiri. Hal ini sangat terbukti karena manusia tidak tahu kapan hidupnya berakhir, apakah ia akan mati hari ini atau besok adalah misteri bagi manusia.

Manusia pasti mati, tetapi Logos sanggup membangkitkan manusia dari kematian. Kematian bukanlah hal yang menakutkan bagi Logos, karena kematian tidak mampu menguasai Logos seperti kematian itu menguasai manusia. Maut yang menjadi momok bagi manusia itu takluk di bawah kaki Kristus sehingga Ia sendiri berkuasa untuk membebaskan manusia dari maut. Logos sanggup membangkitkan orang-orang yang mati untuk hidup kembali. Satu kisah penting yang muncul dalam tulisan Yohanes ini adalah catatan sejarah mengenai Yesus, Sang Logos, membangkitkan Lazarus yang sudah meninggal selama 4 hari. Ia membuktikan bahwa Ia sanggup memberikan nafas kehidupan kepada seseorang yang tubuhnya sudah membusuk. Yesus mengembalikan kehidupan Lazarus kembali normal seperti sedia kala. Memang Lazarus akhirnya mati kembali, namun Yesus menjanjikan suatu kebangkitan yang berbeda dengan kebangkitan yang Ia lakukan kepada Lazarus, suatu kebangkitan dari kematian menuju hidup yang tidak akan binasa selama-lamanya yakni hidup yang kekal. Logos adalah sang hidup yang mampu memberikan hidup yang kekal dan tidak seorang pun yang bisa memberikan apa yang Yesus berikan.

Life and Darkness
"Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya"
Dari peristiwa alamiah kita dapat mengerti bahwa fungsi terang adalah melenyapkan kegelapan. Terang dan gelap merupakan thesis dan antithesis, keduanya saling bertolang belakang. Tema peperangan gelap dan terang merupakan tema yang sangat penting dalam Injil Yohanes. Yohanes mengidentikkan kegelapan dengan perbuatan jahat (3:19) dan Yesus adalah terang yang datang bagi manusia tetapi manusia lebih menyukai kegelapan. Kemudian di pasal 8, Yesus mengajak orang banyak untuk mengikut Dia supaya manusia tidak lagi berjalan dalam kegelapan (8:12). Kegelapan membuat manusia kehilangan arah, kegelapan membuat manusia buta sehingga mereka tidak mengetahui apa yang ada disekitar mereka. Manusia dalam kegelapan tidak akan pernah dapat mencapai tujuan mereka. Karena itulah Logos berinkarnasi dan membawa terang itu ke dalam dunia. Keberadaan Yesus dalam dunia berarti dunia sedang diterangi oleh Terang dari Surga (12:35). Perkataan Yesus “walk while you have the Light” merupakan bagian yang memperjelas inkarnasi Sang Logos menjadi manusia.

Sejak ayat 1 sampai 4 (Yoh 1:1-4) Yohanes selalu menggunakan past tense, (In Him was life, and the life was the Light of men) namun pada ayat ini Yohanes menggunakan bentuk present tense (the Light shines). Yesus Kristus, sejak pre-eksistensi, adalah terang bagi manusia karena Dia adalah sumber terang yang sejati, namun pada waktu ia berinkarnasi terang itu hadir secara nyata di dunia, menerangi dunia yang gelap sehingga perbuatan yang jahat itu menjadi terlihat. Karena itulah inkarnasi Logos dalam dunia juga adalah misi untuk membawa terang ke dalam dunia supaya manusia tidak lagi hidup dalam kegelapan. Ayat 5 ini merupakan ayat pertama yang memberikan indikasi bahwa Logos yang ada sejak semula itu berinkarnasi dalam dunia manusia.

Peperangan terang dan gelap bukanlah peperangan 2 kekuatan yang sama kuat. Secara alamiah kita dapat melihat bahwa gelap bukanlah sebuah eksistensi, gelap hanyalah sebuah kondisi ketiadaan terang. Gelap menguasai jika dan hanya jika tidak ada terang. Namun ketika terang muncul kegelapan tidak mempunyai kuasa untuk melawan, kegelapan akan sirna ketika. Oleh karena itu Yohanes juga mengatakan bahwa kuasa kegelapan tidak akan pernah mampu mengalahkan Terang yang turun ke dunia.

DOWNLOAD PDF


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.