Sukacita dan Damai

SUKACITA DAN DAMAI
Filipi 4:4 “Senantiasa bergembiralah sepenuhnya dalam persekutuanmu dengan Allah. Aku mengatakan sekali lagi, bersukacitalah.”
Filipi 4:5-7 “Tunjukkanlah kesabaranmu kepada semua orang. Tuhan sudah dekat. Janganlah kuatir terhadap apapun. Tetapi di dalam semua doamu mintahlah kepada Allah apa yang kamu butuhkan. Dan ketika kamu berdoa, berdoalah dengan hati yang penuh ucapan syukur kepada Allah. Maka kamu akan mendapatkan kedamaian yang diberikan Allah yang melampaui pemahaman manusia melalui persekutuan di dalam Kristus Yesus. Kedamaian itu akan melindungi pikiran, perasaan dan kehendakmu.”
Filipi 4:4 dan 4:5-7 adalah dua nasihat Paulus kepada jemaat Filipi. Dua nasihat ini adalah bagian dari lima nasihat Paulus kepada jemaat Filipi. Kelima nasihat ini terdapat di 4:1-9. Kelima nasihat itu adalah:
(A) Nasihat untuk terus berjuang dengan bersandar kepada Allah.
(B) Nasihat untuk saling bersatu karena Injil.
(C) Nasihat bersukacita di dalam persekutuan dengan Allah.
(D) Nasihat tidak khawatir di tengah kesulitan oleh karena ada kedamaian dari Allah.
(E) Nasihat untuk memikirkan dan melakukan apa yang telah dipelajari dari Paulus.
Renungan kali ini akan fokus pada nasihat ketiga (C) dan keempat (D).
Nasihat ketiga adalah bersukacita di dalam persekutuan dengan Allah.
Nasihat keempat adalah tidak khawatir di tengah kesulitan oleh karena ada kedamaian dari Allah.
Kata kunci dari kedua nasihat di atas adalah “sukacita,” “tidak khawatir,” “doa” dan “kedamaian.”
Paulus menasihati “bersukacitalah,” “tidak khawatir di tengah kesulitan,” “berdoalah” maka “kedamaian dari Allah akan melindungi pikiran, perasaan dan kehendakmu.”
Nasihat yang sederhana dan sangat manusiawi. Manusia perlu bergembira, mencurahkan seluruh isi hati yang peluh kepada sang Penciptanya, dan mendapatkan ketenangan dari-Nya supaya seluruh fakultinya tidak roboh, jiwa pun menjadi tenang dan damai. Paulus sungguh mengerti akan hal ini.
Saya mencoba menghubungkan nasihat Paulus ini dengan sebuah peristiwa nyata 2000 tahun lalu. Sebuah peristiwa seorang perawan yang sudah bertunangan dengan seorang bernama Yusuf dari keluarga Daud, Maria namanya, mendapat pesan dari Malaikat Gabriel (Luk 1:26-38). Pesannya: "Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh anugerah di hadapan Allah. Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus.” Maria keheranan dan tidak mungkin hal ini bisa terjadi. Dia masih perawan, namun akan mengandung dan melahirkan. Sehingga dia bertanya kepada sang malaikat, “Bagaimana caranya, padahal aku masih perawan?” Tetapi jawab malaikat, “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah yang Mahatinggi akan menaungi engkau,… Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil.” Intinya adalah: pesan malaikat pasti terjadi dan Maria harus siap menerima kenyataan dia akan hamil di luar pernikahan. Maria berkata, “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.”
Perkataan Maria menyiratkan sebuah ketaatan. Namun dibalik ketaatan Maria ada kesulitan besar yang dia hadapi. Bagaimana dengan calon suaminya, Yusuf, bisa menerima hal ini? Injil Matius melengkapi cerita dari Lukas ini. Setelah Malaikat Gabriel pergi, skenario cerita beralih pada Yusuf (baca Mat 1:18-25). Yusuf tahu dan hendak menceraikan Maria secara diam-diam, supaya Maria tidak dicemarkan di depan umum. Namun, malaikat Tuhan datang dalam mimpi Yusuf dan niat tersebut tidak terlaksana. Yusuf menikahi Maria yang sedang hamil.
Peristiwa “Maria hamil” adalah peristiwa penuh anugerah namun penuh kesulitan; penuh keheranan namun juga penuh ketaatan. Perasaan dan pikiran Maria bercampur aduk.
Di saat jiwa manusia bercampur aduk, kata Paulus, “Bersukacitalah di dalam Tuhan,” “Tidak khawatir di tengah kesulitan,” dan “berdoalah dengan hati yang penuh ucapan syukur.” Dan itulah yang dilakukan oleh Maria. Jikalau kita baca Lukas 1:46-55 merupakan untaian kata-kata Maria yang mencerminkan seluruh ungkapan isi hati Maria yang penuh gembira, bebas dari kekhawatiran kepada Allahnya. Maria memperoleh ketenangan dan kedamaian Natal yang pertama kali. Dia adalah orang pertama yang merasakan sukacita dan damai Natal.
Saudara-saudaraku, nasihat Paulus dan peristiwa Maria memperoleh sukacita dan damai Natal dari Allah, sepertinya sulit kita alami saat sekarang ini. Pertanyaan yang penting di sini bukan “mengapa” melainkan “bagaimana” kita merasakan seperti yang Maria rasakan, “bagaimana” kita menuruti nasihat Paulus ini.
Kembali kepada teks Filipi 4:4-7. Konteks jemaat adalah ketidakharmonisan dan ketidaksatuan jemaat. Ada berbagai permasalahan dan kesulitan dalam internal jemaat Filipi. Nasihat Paulus jelas di dalam teks, namun bagaimana mungkin itu dilaksanakan di tengah konteks demikian. Di tengah permasalahan, harus bersukacita, berdoa, bersabar, dan tidak khawatir.
Saya merenungi nasihat Paulus ini dan mendapatkan beberapa prinsip penting:
1. Allah lebih sayang kepada jiwa kita, daripada permasalahan dan kesulitan yang dihadapi setiap manusia. Sehingga ayat 6 dan 7 dituliskan, “Tetapi di dalam semua doamu mintahlah kepada Allah apa yang kamu butuhkan. Dan ketika kamu berdoa, berdoalah dengan hati yang penuh ucapan syukur kepada Allah. Maka kamu akan mendapatkan kedamaian yang diberikan Allah yang melampaui pemahaman manusia melalui persekutuan di dalam Kristus Yesus. Kedamaian itu akan melindungi pikiran, perasaan dan kehendakmu.” Allah menyediakan diri-Nya untuk mendengar setiap keluh kesah umat-Nya. Allah juga memberikan kedamaian di hati umat-Nya.
2. Sukacita dan damai melampaui segala permasalahan hidup manusia. Sukacita dan damai tidak bersifat kondisional. Di tengah kesulitan, manusia bisa mengalami sukacita dan damai seperti yang dialami Maria. Bagaimana bisa? Seperti dituliskan, kedamaian dan sukacita berasal dari Allah dalam persekutuanmu dengan Kristus Yesus. Kedamaian dan sukacita merupakan pemberian ilahi, tidak bisa dibuat-buat, melampaui pemahaman manusia, dan bersifat sangat personal dalam persekutuan dengan Kristus. Kedamaian dan sukacita yang otentik ada di dalam relasi dengan Allah dan Kristus. Permasalahan manusia tidak menghilangkan rasa sukacita dan damai di hati.
3. Sukacita, tidak khawatir, bersabar, berdoa dan merasakan damai merupakan makanan bagi jiwa untuk menghadapi segala permasalahan hidup manusia. Makanan bagi jiwa menjadi semacam kekuatan jiwa bagi pikiran, perasaan dan kehendak yang kita pakai setiap hari. Nasihat Paulus ini bukanlah kesemuan rohani atau sekedar nasihat rohani yang tidak mengerti beratnya kehidupan manusia. Tentu saja kita tidak boleh hidup dalam kesemuan rohani. Kesemuan rohani tidak memberikan kita modal menghadapi realita kehidupan, namun menjebak kita ke dalam kesemuan hidup.

Saudara-saudaraku, di moment Natal, bagaimana kita mendapatkan sukacita dan damai Natal? Kita perlu merenungkan ketiga hal di atas dan menerapkan nasihat Paulus ini dalam hati sanubari kita. Selamat Natal 2010.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.