Eksposisi Injil Yohanes 1:3-5 --- Logos dan Penciptaan

"3 Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan. 4 Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia. 5 Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya."

Perbedaan makna “pada mulanya” antara Kej. 1:1 dengan Yoh 1:1 adalah dalam Kejadian “pada mulanya” mengacu pada awal mula eksistensi alam semesta yakni diciptakan oleh Allah. Permulaan segala sesuatu yang disebut ada adalah Allah, Sang Pencipta. Namun dalam Yoh 1:1 “pada mulanya” lebih mundur ke belakang (dalam pengertian waktu) yaitu mengacu pada eksistensi Allah, khususnya Logos, yang sudah ada sebelum segala sesuatu ada. Yoh 1:1 membicarakan eksistensi Allah yang kekal dan Kej 1:1 membicarakan karya penciptaan Allah sebagai mula dari segala sesuatu yang ada. Oleh sebab itu ayat yang paralel dengan Kej 1:1 adalah Yoh 1:3, karena bagian ini sama-sama menjelaskan karya penciptaan oleh Elohim (Theos). Namun dalam Injil Yohanes, terdapat keterangan yang lebih spesifik, bahwa pelaku penciptaan alam semesta adalah Pribadi Logos.

Penciptaan Logos bersifat Creatio ex nihilo
Ayat 3 dituliskan oleh Yohanes dalam 2 bentuk, positif (through him all things were made) dan negatif (without him nothing was made that has been made). Perubahan tenses dari were made menjadi has been made merupakan perubahan yang menunjukkan the act of creation. Pada awalnya adalah ketiadaan, namun Logos menjadikan sesuatu menjadi ada dari yang tidak ada. Penciptaan adalah suatu karya yang unik hanya dilakukan oleh Allah dan sifat dari peciptaan haruslah creatio ex nihilo, penciptaan yang tidak bersifat ex nihilo tidak dapat digolongkan penciptaan. Penciptaan memberikan implikasi-implikasi penting dalam seluruh doktrin Kristen, diantaranya mengimplikasikan perbedaan esensi antara Pencipta dan ciptaan, kebergantungan ciptaan kepada Pencipta, kedaulatan Pencipta atas ciptaan, adanya limitasi ciptaan, dll.

Istilah dan konsep creation ex nihilo pertama kali dimunculkan secara eksplisit dan jelas oleh Theophilus of Antioch (c.185) dalam komentarnya terhadap kitab Kejadian, ia mengatakan: “God has created everything out of nothing into being.” Kemudian konsep ini diterima oleh Tertulianus dan Hippolytus namun pada waktu itu belum seluruh gereja menerima pandangan tersebut. Setelah abad ke-4, ketika Agustinus menerima konsep penciptaan dari ketiadaan maka gereja secara universal menerimanya sebagai sifat penciptaan alam semesta. Pandangan ini tidak banyak mengalami perdebatan dan tidak masuk dalam agenda-agenda konsili-konsili gereja dan diterima oleh para pemikir Kristen pada umumnya, seperti Anselmus, Aquinas, Luther, Zwingli dan John Calvin. Bahkan konsep creatio ex nihilo menurut Geisler merupakan pandangan ortodkos dari kelompok theist selain Kristen, yakni Islam dan Yudaisme.

Doktrin creatio ex nihilo berakar dari kata בָּרָא (baca: bara -- verb qal perfect 3rd person mas sing) yang memiliki makna split, divide, cut (dalam bentuk Piel, Yos 17:15, 18), to fashion, bring forth dan create. Alkitab secara konsisten menggunakan kata tersebut hanya kepada perbuatan Allah, tidak pernah menggunakannya kepada manusia. Jadi Alkitab sendiri menyatakan bahwa kata bara unik sebagai karya Allah yang sama sekali berbeda dengan tindakan makhluk ciptaan apapun. Namun kata ini sendiri, secara literal tidak cukup memberikan makna atau nuansa bahwa penciptaan itu bersifat “out of nothing.” Pemahaman “out of nothing” muncul dengan perbandingan dengan 2 Makabe 7:28 yang mengatakan “God made heaven and earth and everything in them out of nonbeing (Vulgata: fecit ex nihilo).” Allah menciptakan segala sesuatu; langit, bumi, laut dan segala isinya (Kel 20:11, Neh 9:6, dll) dari yang tidak ada menjadi ada. Apa yang disebut materi berasal dari ketiadaan, bukan dengan sendirinya tetapi diciptakan menjadi ada oleh Allah. Hanya Allah satu-satunya yang ada sejak dari permulaan yang tidak dicipta oleh siapapun.

Alkitab tidak pernah menjelaskan bahwa ketiadaan (nihilo) adalah source, father atau principle of being. Jadi ketiadaan bukanlah preeksistensi dari alam semesta. Preposisi ex tidak dimengerti sebagai designate (the cause) tetapi exclude. Penyebab dari penciptaan adalah Allah dan ciptaan pada awalnya tidak ada namun menjadi ada oleh karena Allah berkuasa menjadikan. Awal yang tiada (nihil) memberikan natur kepada ciptaan, yakni ciptaan bersifat dependen kepada PenciptaNya. Karena segala keberadaan ciptaan, termasuk manusia, bersandar kepada kuasa Sang Pencipta. Oleh sebab itu doktrin creatio ex nihilo mengajarkan atribut kedaulatan Allah absolut dan kebergantungan mutlak ciptaan kepada Allah. Untuk menegaskan konsep yang penting ini Bavinck menuliskan “if only a single particle were not created out of nothing, God would not be God.” Jadi meskipun istilah creatio ex nihilo tidak tertulis dalam kanon Alkitab, konsep ini merupakan konsep yang tersirat kuat dan sangat mendasar dalam seluruh kerangka iman Kristen.

Implikasi dari konsep creatio ex nihilo adalah Allah berbeda dengan ciptaan secara esensial. Yohanes membedakan dengan tegas antara esensi Allah dengan ciptaan termasuk manusia. Logos adalah subjek penciptaan namun Ia berbeda dengan ciptaanNya. Ciptaan Allah tidak mengandung Allah atau memiliki unsur-unsur tertentu dari natur Allah. Allah sama sekali berbeda dengan ciptaanNya. Creatio ex nihilo (creation out of nothing) tidak sama dengan creation out of God yang dianut oleh Panteisme. Karena Panteisme percaya bahwa segala sesuatu yang ada berasal dari Allah dan segala sesuatu adalah Allah, atau segala sesuatu memiliki unsur Allah.

Apakah Penciptaan hanya dilakukan oleh Pribadi Logos saja?
Bagian Alkitab yang lain memberikan catatan bahwa Allah menciptakan dunia melalui Allah Anak (Maz 33:6; Ams 8:22; Yoh 1:3; 5:17; 1 Kor 8:6; Kol 1:15-17; Ibr 1:3) dan melalui RohNya (Kej 1:2, Maz 33:6, Ayub 26:13; 33:4; Maz 104:30; Yes 40:13, Luk 1:35). Di dalam ayat-ayat ini, Anak dan Roh Kudus tidak dipandang sebagai secondary cause tetapi sebagai Agen-agen yang independen bersama-sama dengan Allah Bapa mengerjakan penciptaan ini. Ketiga Pribadi Allah ini adalah Allah yang Esa. Seluruh pekerjaan penciptaan dikerjakan oleh ketiga Pribadi Allah. Bavinck menggambarkan kerjasama tersebut demikian, “Father is spoken of as the first cause, the Son as the one by whom all things are created, and the Holy Spirit as the immanent cause of life and movement in the universe… The creation proceeds from the Father through the Son in the Spirit so that, in the Spirit and through the Son it may return to the Father.” Pandangan mengenai penciptaan sebagai pekerjaan dari ketiga Pribadi Allah Tritunggal dikembangkan oleh Athanasius dan tiga bapak gereja dari Kapadokia serta Agustinus yang kemudian diterima sebagai pandangan yang ortodoks oleh gereja.


Life and Light
"Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia"
Carson mengatakan “life and light are almost universal religious symbol.” Kemungkinan Yohanes menggunakan kedua terminologi tersebut untuk menyatakan bahwa Logos adalah jawaban atas seluruh pertanyaan sifat keagamaan manusia. Manusia membutuhkan hidup dan terang dan keduanya ada di dalam Kristus. Pada pasal-pasal selanjutnya nanti Yesus (Logos) sendiri mengatakan bahwa Ia adalah terang dunia (8:12; 9:5) dan hidup (11:25; 14:6). Selain sebagai simbol relijius yang universal ‘life’ dan ‘light’ juga terdapat di dalam konsep Taurat dimana keduanya diasosiasikan dengan jewish sources. Sehingga dengan menuliskan ayat 4 ini Yohanes mencoba mengikatkan konsep dan kebutuhan manusia akan hidup dan terang kepada Logos.

Para ahli menghubungkan ayat 4 ini dengan 5:26 “Sebab sama seperti Bapa mempunyai hidup dalam diri-Nya sendiri, demikian juga diberikan-Nya Anak mempunyai hidup dalam diri-Nya sendiri.” Karena itu penjelasan bahwa di dalam Logos ada hidup memiliki pengertian the Word/ Son shares in the life-existing life of God. Hubungan Allah dan Logos menjadi hubungan yang unik yakni Bapa dan Anak, hubungan ini memang tidak dijelaskan pada awal Injil ini namun nanti Yohanes akan menjelaskannya lebih dalam. Leon Morris melihat kalimat “hidup itu adalah terang manusia” dalam hubungan dengan konsep PL yang menyatakan Allah sebagai sumber dari terang dan hidup, misalnya Mazmur 36:9 “Sebab pada-Mu ada sumber hayat, di dalam terang-Mu kami melihat terang.” Pembacaan ayat ini dari perspektif Mazmur hanya menjelaskan bahwa Logos itu sendiri adalah sumber hidup manusia, dan juga terang bagi manusia.

Hidup dan terang tidak memiliki perbedaan makna yang signifikan, sama seperti yang dijelaskan oleh Carson bahwa kedua terminologi tersebut hanya simbol agama yang universal. Pada pasal-pasal selanjutnya konsep Yesus adalah terang akan menjadi sangat jelas. Tetapi pada ayat ini Yohanes hanya menyiapkan jalan dalam pikiran pembaca melalui Injil ini bahwa Yesus adalah life-bringer dan light-bearer.

Kata ‘light’ (terang) pertama kali muncul dalam Kej 1:3 “let there be light.” Allah (Theos/ Elohim) yang dalam konteks Yohanes mengacu pada Pribadi Logos, merupakan pencipta terang dan tentu saja menjadi sumber terang itu sendiri. Jadi alusi-alusi ini menjadi pesan Yohanes untuk mengatakan bahwa Logos adalah Pencipta, sumber hidup dan sumber terang bagi manusia. Dalam keseluruhan Injilnya, Yohanes menggunakan istilah life (hidup) sebanyak 28 kali, dan hampir seluruhnya mengacu kepada Yesus Kristus sebagai sumber kehidupan bagi manusia. Penggunaan kata hidup yang berulang-ulang memberikan suatu tema yang kuat dalam Injil Yohanes mengenai Yesus yang adalah Logos sebagai sumber kehidupan bagi manusia. Bahkan dalam tujuan penulisan Injil ini , Yohanes menuliskan “semuanya itu kutuliskan kepada kamu, supaya kamu yang percaya kepada nama Anak Allah, tahu, bahwa kamu memiliki hidup yang kekal."

Yohanes menegaskan bahwa Logos yang ia perkenalkan dalam Injilnya bukan saja memiliki hidup dalam diriNya tetapi juga berkuasa untuk memberikan kehidupan kepada siapa saja yang Ia kehendaki. Ia menguasai kehidupan itu sepenuhnya dan kehidupan yang Ia miliki bukan hidup yang diberikan kepadaNya tetapi Ia sendiri adalah sumber kehidupan tersebut. Tidak ada yang mampu mengambil kehidupan tersebut dari diriNya. Manusia bisa mati, karena manusia memiliki kehidupan yang sifatnya diberikan, bukan bersumber dari diri sendiri dan suatu waktu hidup itu akan diambil dari manusia. Hidup manusia bisa terhenti karena manusia tidak menguasai dan tidak kuasa untuk menentukan hidupnya sendiri. Hal ini sangat terbukti karena manusia tidak tahu kapan hidupnya berakhir, apakah ia akan mati hari ini atau besok adalah misteri bagi manusia.

Manusia pasti mati, tetapi Logos sanggup membangkitkan manusia dari kematian. Kematian bukanlah hal yang menakutkan bagi Logos, karena kematian tidak mampu menguasai Logos seperti kematian itu menguasai manusia. Maut yang menjadi momok bagi manusia itu takluk di bawah kaki Kristus sehingga Ia sendiri berkuasa untuk membebaskan manusia dari maut. Logos sanggup membangkitkan orang-orang yang mati untuk hidup kembali. Satu kisah penting yang muncul dalam tulisan Yohanes ini adalah catatan sejarah mengenai Yesus, Sang Logos, membangkitkan Lazarus yang sudah meninggal selama 4 hari. Ia membuktikan bahwa Ia sanggup memberikan nafas kehidupan kepada seseorang yang tubuhnya sudah membusuk. Yesus mengembalikan kehidupan Lazarus kembali normal seperti sedia kala. Memang Lazarus akhirnya mati kembali, namun Yesus menjanjikan suatu kebangkitan yang berbeda dengan kebangkitan yang Ia lakukan kepada Lazarus, suatu kebangkitan dari kematian menuju hidup yang tidak akan binasa selama-lamanya yakni hidup yang kekal. Logos adalah sang hidup yang mampu memberikan hidup yang kekal dan tidak seorang pun yang bisa memberikan apa yang Yesus berikan.

Life and Darkness
"Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya"
Dari peristiwa alamiah kita dapat mengerti bahwa fungsi terang adalah melenyapkan kegelapan. Terang dan gelap merupakan thesis dan antithesis, keduanya saling bertolang belakang. Tema peperangan gelap dan terang merupakan tema yang sangat penting dalam Injil Yohanes. Yohanes mengidentikkan kegelapan dengan perbuatan jahat (3:19) dan Yesus adalah terang yang datang bagi manusia tetapi manusia lebih menyukai kegelapan. Kemudian di pasal 8, Yesus mengajak orang banyak untuk mengikut Dia supaya manusia tidak lagi berjalan dalam kegelapan (8:12). Kegelapan membuat manusia kehilangan arah, kegelapan membuat manusia buta sehingga mereka tidak mengetahui apa yang ada disekitar mereka. Manusia dalam kegelapan tidak akan pernah dapat mencapai tujuan mereka. Karena itulah Logos berinkarnasi dan membawa terang itu ke dalam dunia. Keberadaan Yesus dalam dunia berarti dunia sedang diterangi oleh Terang dari Surga (12:35). Perkataan Yesus “walk while you have the Light” merupakan bagian yang memperjelas inkarnasi Sang Logos menjadi manusia.

Sejak ayat 1 sampai 4 (Yoh 1:1-4) Yohanes selalu menggunakan past tense, (In Him was life, and the life was the Light of men) namun pada ayat ini Yohanes menggunakan bentuk present tense (the Light shines). Yesus Kristus, sejak pre-eksistensi, adalah terang bagi manusia karena Dia adalah sumber terang yang sejati, namun pada waktu ia berinkarnasi terang itu hadir secara nyata di dunia, menerangi dunia yang gelap sehingga perbuatan yang jahat itu menjadi terlihat. Karena itulah inkarnasi Logos dalam dunia juga adalah misi untuk membawa terang ke dalam dunia supaya manusia tidak lagi hidup dalam kegelapan. Ayat 5 ini merupakan ayat pertama yang memberikan indikasi bahwa Logos yang ada sejak semula itu berinkarnasi dalam dunia manusia.

Peperangan terang dan gelap bukanlah peperangan 2 kekuatan yang sama kuat. Secara alamiah kita dapat melihat bahwa gelap bukanlah sebuah eksistensi, gelap hanyalah sebuah kondisi ketiadaan terang. Gelap menguasai jika dan hanya jika tidak ada terang. Namun ketika terang muncul kegelapan tidak mempunyai kuasa untuk melawan, kegelapan akan sirna ketika. Oleh karena itu Yohanes juga mengatakan bahwa kuasa kegelapan tidak akan pernah mampu mengalahkan Terang yang turun ke dunia.

DOWNLOAD PDF


READ MORE - Eksposisi Injil Yohanes 1:3-5 --- Logos dan Penciptaan

Eksposisi Injil Yohanes 1:1-2 --- Logos dan Theos

"1 Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. 2 Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah."
Bagian ini merupakan salah satu catatan Alkitab yang sangat terkenal mengenai Yesus yang adalah Firman (Logos). Bagian yang singkat ini ditulis oleh Yohanes dalam suatu ketelitian yang luar biasa untuk memberikan makna yang sangat mendalam serta memberikan suatu ketegasan makna dalam teologia Kristen. Sehingga Kristus, fondasi dan inti iman kristen, menjadi kokoh menghadapi serangan para bidat dan liberalisme yang meragukan ke-Allah-an Yesus Kristus.

Catatan: Demi pengkajian yang detil dan teliti maka penulis terpaksa menggunakan bahasa asli dan terjemahan bahasa Inggris karena keterbatasan bahasa Indonesia dalam menjelaskan bagian ini.

Ἐν ἀρχῇ (in the beginning) ἦν (was) ὁ (the) λόγος (Word)
In the beginning (pada mulanya) mengingatkan pembaca Injil ini kepada kalimat pembuka kitab pertama PL., “In the beginning God created the heavens and the earth.” Kata yang digunakan dalam terjemahan LXX (Septuaginta) sama persis dengan yang digunakan oleh Yohanes. Kitab Kejadian menggunakan kata tersebut untuk mengacu kepada penciptaan segala sesuatu, oleh karena itu penggunaan yang sama oleh Yohanes merujuk/ beralusi pada tema yang sama, yakni penciptaan. Perbedaannya adalah Kej. 1:1 menggunakan kata kerja “menciptakan,” setelah in the beginning, yakni suatu karya atau pekerjaan Allah menciptakan langit dan bumi. Sementara itu dalam Injil Yohanes karya penciptaan seperti yang dimaksud oleh Kitab Kejadian baru dijelaskan di ayat 3. Jadi Yohanes sebenarnya menjelaskan makna In the beginning lebih mundur dari pada kitab Kejadian. Ia ingin mengatakan bahwa Ada yang sudah berada (exist) sebelum Allah melakukan pekerjaan penciptaan tersebut, yakni eksistensi Logos. Ἐν ἀρχῇ ἦν (was) ὁ λόγος menerangkan Logos adalah Being yang eksis pada mulanya, sebelum segala ciptaan ada.

Setelah Ἐν ἀρχῇ Yohanes menggunakan kata benda dengan definite article (ὁ λόγος, bukan hanya λόγος). Penggunaan definite article sangat signifikan karena Yohanes ingin menunjukkan bahwa Logos adalah Person. Oleh karena itu kata in the beginning dalam bagian ini mengacu pada "era" sebelum penciptaan ada, sebelum segala sesuatu ada maka Logos telah menjadi awal dari segalanya. Apa yang disebut ada, tidak ada dengan sendirinya tetapi “menjadi ada” karena diciptakan, sementara Logos tidak diciptakan dan Ia ada (exist) dengan sendirinya. Justru Dialah yang membuat apa yang ada menjadi ada. Leon Morris menyimpulkannya “there never was a time when Logos was not, there never was a thing that did not depend on him in its existence.” Siapakah Logos itu menurut kalimat ini? Logos dapat dimengerti dari hubungan tema dalam penggunaan Ἐν ἀρχῇ dalam Yoh 1:1 dan Kej 1:1. Dalam Kej 1:1 Aktor penciptaan adalah Allah (אֱלֹהִים) sementara dalam Yoh 1:3 yang dinyatakan sebagai aktor penciptaan alam semesta adalah Logos. Maka dapat disimpulkan bahwa Logos dalam Yoh 1:1 adalah Allah Pencipta langit dan bumi yang sama dengan Allah di dalam Kej 1.

καὶ (and) ὁ λόγος (the Word) ἦν (was) πρὸς (toward/ fellowship with) τὸν (the) θεόν (God)
Lebih lanjut Sang Logos, dengan definite article, dijelaskan telah mempunyai persekutuan/ bersama-sama (fellowship) bersama dengan Sang Theos (dengan definite article) juga dalam konteks in the beginning.

Sebelumnya telah dijelaskan bahwa Logos dalam Yoh 1:1 adalah אֱלֹהִים (baca: Elohim) pencipta yang dalam terjemahan LXX menggunakan ὁ θεὸς (nominative – subject). Logos (Firman) adalah Theos tetapi sekarang Yohanes mengatakan bahwa Sang Logos atau Sang Firman (The Word) sejak pada mulanya, bersekutu dengan The God (Sang Allah). Apakah Yohanes inkonsisten dengan penjelasan sebelumnya? Disinilah penggunaan definite article menjadi sangat signifikan. Logos, dengan definite article, adalah Pribadi yang eksis sejak kekal dan Theos, dengan definite article, juga adalah Pribadi yang sudah eksis pada waktu Logos eksis. Keduanya sudah eksis sebelum Logos menciptakan segala sesuatu. Jadi The God dan The Word adalah 2 Pribadi yang telah eksis sebelum segala sesuatu ada.

Kata πρὸς secara umum memiliki arti to, toward, with. Namun dalam penggunaannya, kata ini dapat memiliki beberapa arti tergantung pada konteks penggunaannya. Konteks penggunaan kata ini secara umum terbagi menjadi 3 bentuk pemakaian, yaitu
(1). with the genitive to the advantage of, necessary for Ac 27:34.
(2). with the dative near, at, by Mk 5:11; Lk 19:37; John 18:16; 20:11f; around Rv. 1:13.
(3). with the accusative.

Dalam Yoh 1:1 kata πρὸς digunakan dengan accusative (τὸν θεόν), namun penggunaan dengan accusative masih memiliki 7 bentuk pengertian salah satunya adalah dalam menjelaskan relasi. Yohanes secara spesifik dan teliti menempatkan kata πρὸς with the accusative in company untuk menunjukkan bahwa Logos dan Theos eksis bersama-sama sejak pada mulanya dan bukan saja eksis tetapi Logos dan Theos berada dalam suatu persekutuan yang khusus. Hal ini didukung oleh bentuk penggunaan yang sama dalam bagian Alkitab yang lain: Are not His sisters here with us? (Mar 6:3); Every day I was with you (Mar 14:49); at home with the Lord (2 Kor 5:8); wished to keep with me (Fil 13); he eternal life, which was with the Father (1 Yoh 1:2). Karena itu Carson mengatakan πρὸς (baca:pros) may mean ‘with’ only when person is with person, usually in some fairly intimate relationship. And that suggests that John may already be pointing out, rather subtly, that the ‘Word’ he is talking about is a person, with God and therefore distinguishable from God, and enjoying a personal relationship with him.”

καὶ (and) θεὸς (God) ἦν (was) ὁ λόγος (the Word)
Dalam hubungan dengan Kej 1:1 telah disimpulkan bahwa Logos adalah Elohim (teks Ibrani) atau Theos (LXX) yang menciptakan langit dan bumi. Namun dalam Yoh 1:1, Yohanes kembali menegaskan pengertian tersebut secara eksplisit. Bagian ketiga dari kalimat ini menjelaskan bahwa Pribadi Logos adalah Allah. Apa perbedaannya dengan kalimat sebelumnya? Di sini Yohanes tidak menggunakan definite article sehingga Theos bukan mengacu kepada Pribadi Theos melainkan esensi/ substansi Theos. Penjelasan yang detil ini memang tidak terlau jelas terlihat dalam Alkitab terjemahan bahasa Indonesia yang secara struktur bahasa tidak menggunakan definite article.

Melalui teks ini Yohanes ingin mengatakan bahwa The Word ada sejak semua sebelum segala sesuatu ada, Ia bereksistensi sejak dalam kekekalan dan Ia bukan ciptaan. Dalam eksistensi yang kekal tersebut The Word bersama-sama dengan The God dalam persekutuan yang khusus dan kekal. Adanya persekutuan antar The Word dan The God menunjukkan bahwa keduanya berbeda (dapat dibedakan). Tetapi The Word sama dengan The God dalam satu hal yakni ke-Allah-an. The Word dan The God adalah God yang mengacu pada kesamaan esensi, yakni esensi Allah.

οὗτος ((this one/ he) ἦν (was) ἐν ἀρχῇ (in the beginning) πρὸς (toward/ fellowship with) τὸν θεόν (the God)
Ayat 2 ini seperti sebuah pengulangan dari Ayat 1 bagian kedua. Perbedaannya adalah di ayat 2 ada penambahan “in the beginning.” Pengulangan ini dilakukan oleh Yohanes supaya para pembaca sungguh-sungguh mengerti apa yang ia maksudkan pada ayat 1. Alasan lain yang disebutkan para ahli mengenai pengulangan fellowship antara Logos dan Allah adalah eksistensi keduanya adalah in the beginning, namun keduanya tidak beroposisi. Jadi Logos dan Allah bukanlah dewa-dewa yang saling berperang satu dengan lain. Logos dan Allah eksis dan berada dalam persekutuan yang harmonis sejak dari kekekalan.

DOWNLOAD PDF
READ MORE - Eksposisi Injil Yohanes 1:1-2 --- Logos dan Theos

Bersabar dalam Penderitaan (Yakobus 5:7-11)

Istilah yang kerap kali muncul dalam perikop ini adalah μακροθυμέω (makrothumeo, have patient). Kata ini (dan variansi deklensinya) muncul sebanyak 4 kali. Kemudian kata yang mempunyai makna serupa juga muncul sebanyak 2 kali dalam perikop ini, yakni ὑπομονή (hupomone, patience, endurance). Kemunculan istilah kesabaran hingga 6 kali dalam 5 ayat ini menunjukkan bahwa Yakobus sangat menekankan tema ini dan ia menuliskannya supaya pembacanya mempraktekkan kesabaran (Davids). Ia melihat hal ini adalah hal yang sangat penting bagi jemaat yang menerima suratnya dan diberikan tekanan dengan repetisi yang cukup banyak.


Perikop ini adalah bagian awal dari narasi penutup surat Yakobus (Davids). Jadi Yakobus menutup suratnya dengan menekankan kembali apa yang telah ia katakan di awal suratnya yakni bertahan dan sabar dalam pergumulan dan berbagai-bagai pencobaan. Menurut para ahli perikop ini tidak bisa dipisahkan dengan perikop sebelumnya (5:1-6) dan harus dipahami sebagai bagian bagian yang utuh. Sehingga masalah penderitaan yang dimaksudkan di sini berhubungan dengan kejahatan yang dilakukan oleh orang-orang kaya.

7 Karena itu bersabarlah saudara-saudara sampai kedatangan Tuhan (the coming of the Lord). Lihat! Seorang petani menantikan buah yang berharga dari tanah, bersabar terhadap hal tersebut, sampai ia menerima hujan awal dan hujan akhir. 8 Kamu juga harus bersabar dan teguhkanlah hatimu, karena kedatangan Tuhan sudah dekat!
Yakobus meresponi pergumulan penderitaan jemaat dengan menyatakan adanya present judgment terhadap orang-orang kaya. Kesimpulan ini diperoleh dengan menghubungkannya dengan perikop sebelumnya yang menyatakan bahwa penghakiman terhadap orang-orang kaya sudah dimulai. Jadi penghukuman atas mereka adalah suatu bentuk pertolongan Tuhan bagi mereka yang sedang dalam pergumulan bahwa Allah tidak meninggalkan mereka. Namun demikian para pembaca harus terus bertekun dalam kesabaran menghadapi semua penderitaan tersebut. Sebab kesabaran, pada awal surat ini, diindikasikan sebagai kebajikan yang dihasilkan dari berbagai-bagai pencobaan (1:2-4, 12). Sehingga hanya dengan tetap bertahan dalam penderitaanlah mereka bisa menghasilkan kebajikan.

Sampai kapan mereka harus bersabar menghapi penderitaan dan pencobaan? Sampai hari kedatangan Tuhan (atau sampai mereka dipanggil Tuhan). Kedatangan Tuhan mengandung pengharapan. Pengharapan di mana seluruh pergumulan dan penderitaan akan selesai dan mereka akan merima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah bagi mereka yang tahan uji (Yak. 1:12).Masalahnya menunggu hari kedatangan Tuhan adalah sebuah proses yang panjang (2 Petrus 3), bahkan waktu tersebut tidak terprediksi karena hari Tuhan datang seperti pencuri pada waktu malam (1 Tes. 5:2, 2 Pet. 3:10). Oleh karena itu Yakobus perlu memberikan pembacanya teladan kesabaran dari kehidupan sehari-hari.

Nama Yesus (atau Kristus, atau Yesus Kristus) hanya muncul dalam 2 ayat pertama kemudian tidak pernah muncul lagi dalam keseluruhan surat Yakobus. Meskipun Yakobus menggunakan nama itu sangat minim tetapi istilah kedatangan Tuhan yang dimaksud olehnya mengacu pada kedatangan Kristus.

ἰδοὺ (behold!, lihat!) merupakan kata yang cukup sering digunakan oleh penulis PB untuk menekankan sesuatu dan mengajak para pembaca konsentrasi pada suatu hal. Di sini Yakobus mengajak jemaat untuk memperhatikan kehidupan petani dan belajar dari kesabaran yang mereka miliki ketika mereka menanam dan menantikan hasilnya. Petani yang dimaksud bukanlah pekerja bayaran yang bekerja untuk sebuah pertanian, melainkan petani kecil yang memiliki tanah pertanian yang tidak terlalu besar. Petani kecil biasanya menanam tanamannya dengan hati-hati dan penuh pengharapan untuk panen. Kehidupan keluarga seorang petani sangat tergantung pada hasil panen. Jadi petani selalu mengharapkan (wait for, expect) suatu masa depan yang sesuai harapan. Ia adalah orang yang sangat mengerti betapa berharganya hasil panen tersebut sehingga ia perlu melatih kesabarannya apapun yang terjadi. Ia sabar menunggu dengan mata pengharapan bahwa suatu waktu akan datang masa panen. Penantian tersebut akan terus berlangsung hingga hujan awal dan hujan akhir.

Baik hujan awal (Oktober-November atau Desember-Januari) maupun hujan akhir (Maret-April) sangat diperlukan untuk pertumbuhan tanaman. Kondisi petani yang seperti ini unik hanya terjadi di daerah ujung timur Mediterania. Sebagian ahli (Dibelius, Marshall, Hukum) mengklaim bahwa hal ini hanyalah sebuah gambaran tradisional yang dicatat oleh penulis secara sepintas karena Kel. 11:14 (… Ia akan memberikan… hujan awal dan hujan akhir) yang merupakan bagian dari Shema yang dibaca setiap hari oleh orang Yahudi. Namun sebagian ahli yang lain (Hadidian, Kittel, Mayor, Adamson dan Oesterley) berpendapat bahwa hujan awal dan akhir mengacu pada situasi daerah Palestina. Argumen-argumen yang mendukung pandangan kedua ini adalah: (1) elipsis dari ὑετὸν (“hueton” – hujan, dalam Yak. 5:18) lebih memungkinkan sebagai gaya bahasa daerah Yakobus (bnd. 3:11) daripada dihubungkan dengan kitab suci, shema; (2) tidak ada bukti dalam literatur para rabi dan literature Yahudi lainnya serta para Bapa Apostolik atau apologis awal bahwa gambaran ini digunakan di luar Palestina atau dalam tradisi Kristen; (3) tema-tema ayat-ayat yang dikutip tidak cocok dengan tema kesabaran dalam Yakobus; dan (4) konteks keseluruhan ini dan di 5:1-6 sesuai dengan situasi pertanian di Palestina sebelum 70 M. Jadi yang terbaik adalah dengan melihat teks ini sebagai gambaran alamiah dari seorang penulis yang familiar dengan pergumulan dan kesabaran para petani menantikan hujan bagi tanaman mereka.

Pesan menanti dan sabar mengandung nuansa tetap bekerja. Jadi selama para petani tersebut menunggu mereka tetap bekerja dan mengolah tanah. Oleh sebab itu kesabaran dalam pergumulan bukanlah suatu tindakan yang pasif tetapi juga aktif. Mereka tidak hanya berdiam tetapi juga terus mengerjakan apa yang menjadi bagian mereka. Selama Tuhan belum datang maka mereka masih harus bekerja. Sebab pada bagian lain, Paulus menegur jemaat Tesalonika yang menjadi pasif karena kekeliruan memahami konsep kedatangan Tuhan yang sudah dekat, akibatnya mereka menjadi pasif dan tidak bekerja (2 Tes. 3:10-11).

Analogi kesabaran tentang petani sudah selesai. Yakobus kemudian mengulang kalimat imperatif pada ayat sebelumnya “kamu juga harus bersabar,” sebab para petani telah memberikan teladan kesabaran dalam pengharapan akan datangnya hujan bagi tanamannya sehingga para pembaca Yakobus juga akan bersabar sampai kedatangan Tuhan.

Pernyataan “kedatangan Tuhan” memberikan nuansa bahwa generasi mereka mungkin saja adalah generasi yang terakhir karena kedarangan Tuhan memang sudah sangat dekat. Namun “waktu yang singkat” itu bukanlah penekanan Yakobus dalam suratnya, sebab tidak seorang pun yang tahu kapan Tuhan akan datang. Sehingga yang terpenting adalah bagaimana sikap mereka dalam menantikan kedatangan Tuhan yang semakin mendekat tersebut. Sehingga inti dari pernyataan ini adalah Yakobus mengajak jemaat untuk hidup dalam pengharapan akan Tuhan dan menantikannya dengan setia dan sabar meskipun harus menghadapi penderitaan.

9 Saudara-saudara, janganlah kamu bersungut-sungut dan saling mempersalahkan, supaya kamu jangan dihukum. Lihat! Hakim telah berdiri di ambang pintu.
Di dalam ayat ini kesabaran dipraktekkan dalam bentuk “tidak bersungut-sungut saling mempersalahkan/ κατ ἀλλήων.” Dalam teks LXX (PL dalam bahasa Yunani), istilah κατ ἀλλήων adalah ekspresi yang sering digunakan oleh Ayub, Yesaya, dan Yehezkiel. Pada dasarnya dalam penderitaan orang percaya masih diberikan ruang untuk mengadu atau “berkeluh kesah” kepada Tuhan seperti yang sering dilakukan oleh para pemazmur. Namun di sini Yakobus melarang mereka untuk bersungut-sungut dan saling menghakimi satu dengan yang lain. Karena sikap demikian justru akan cenderung menghancurkan dari pada membangun. Alasan mengapa perintah ini sangat penting adalah “hakim telah berdiri di depan pintu.” Ide ini diperkenalkan oleh kata ἰδού (“idou”/ behold!), yakni sebuah partikel yang lebih kuat dari γάρ (“gar”/ for) untuk menarik perhatian, meskipun bila diperhatikan dalam pasal ini penulis tidak menggunakan kata γάρ dan ada kemungkinan hal ini ada preferensi gaya penulisan Yakobus.

Seperti yang sudah disebutkan di atas, penderitaan dan pergumulan jemaat muncul oleh karena penindasan dari pihak orang-orang kaya namun peringatan Yakobus kepada mereka adalah “jangan mengeluh” dan “jangan saling menyalahkan.” Sepertinya Yakobus mengingatkan bahwa orang-orang kaya, meskipun kerapkali menindas dan mengakibatkan penderitaan bagi orang-orang miskin, tetaplah saudara di dalam Kristus (Nystrom). Kebencian yang muncul di antara mereka tidak boleh membuat mereka menghakimi satu dengan yang lain. Hanya ada Satu Hakim, yakni Kristus. Dia adalah satu-satunya yang memiliki hak untuk menghakimi dan memberika hukuman. Manusia memiliki distorsi yang sangat besar untuk menjadi hakim atas sesamanya. Karena itu jemaat harus menyadari bahwa Sang Hakim telah berdiri di depan pintu dan siap menghakimi, mereka harus melepaskannya dan memberikan penghakiman kepada Dia. Pada pasal sebelumnya Yakobus juga menyebutkan istilah hakim dan mengatakan hanya ada satu hakim dan Ia adalah pembuat hukum dan Pribadi yang berkuasa untuk menyelamatkan dan membinasakan (Yak. 4:12). Hakim itu akan membela mereka yang benar dan ia juga akan memberikan penghakiman atas mereka yang bersalah terhadap hukumNya.

10 Saudara-saudara, turutilah teladan penderitaan dan kesabaran para nabi yang telah berbicara demi nama Tuhan.
Yakobus memberikan suatu teladan yang kerapkali muncul dalam kitab suci mengenai ketekunan dalam penderitaan. Hampir seluruh nabi Tuhan yang melayani Tuhan dan memberitakan firmanNya menghadapi pergumulan dan penderitaan yang hebat. Mereka semua berjuang, bertahan dan bersabar dalam penderitaan selama mereka melakukan panggilan Allah dalam hidup mereka. Yakobus menuliskan “nabi yang telah berbicara demi nama Tuhan,” untuk menegaskan bahwa penderitaan yang mereka alami bukanlah akibat kesalahan mereka sendiri. Penderitaan tersebut muncul dalam tugas yang berasal dari Tuhan.

Memberikan contoh dan kebajikan dari teladan seseorang adalah salah cara argumentasi yang penting pada masa kuno, sehingga Yakobus tidak mengabaikan memberikan contoh-contoh kesabaran yang telah dimanifestasikan oleh para nabi. Dalam khotbah di bukit Yesus juga menggunakan contoh penderitaan para nabi sebagai contoh (Matt. 5:10–12). Sebab sama seperti para nabi yang dianiaya dalam pelayanan mereka, jemaat pembaca surat Yakobus juga berada dalam kehendak Allah meskipun menderita. Penderitaan pada dirinya sendiri bukanlah buah dari dosa dan ketidaksetiaan, sehingga mereka yang berada dalam pergumulan dan penderitaan belum tentu karena mereka tidak setia kepada Allah. Justru sebaliknya, Paulus menyatakan “setiap orang yang mau hidup beribadah di dalam Kristus Yesus akan menderita aniaya” (2 Tim. 3:12).

Apa keteladanan yang diberikan oleh para nabi dalam penderitaan mereka? Keteladanan tersebut mendorong mereka untuk mengingatkan bahwa Tuhan peduli ketika mereka menghadapi penderitaan karena Allah. Elia menyampaikan pesan Tuhan bahwa hujan tidak akan turun selam 3 tahun namun Allah memeliharanya di tepi sungai kerit melalui burung gagak Kemudian pada waktuNya, Allah memberikan kemenangan kepada Elia atas nabi-nabi Baal. Memang ada sebagian para nabi yang tidak mendapatkan “pertolongan” Tuhan pada waktu itu sehingga mereka mati namun Allah tetaplah Allah yang peduli yang akan memberikan mereka upah atas apa yang mereka lakukan bagi Allah. Sehingga meskipun pada saat ini, pembaca Yakobus mengalami pergumulan Allah akan memberikan perolongan pada waktuNya. Meskipun seolah-olah Allah tidak menolong mereka harus tetap setia sebab seperti para nabi yang sabar menderita bagi Tuhan hendaklah mereka juga melakukan hal yang demikian.

11 Sesungguhnya kami menyebut mereka berbahagia, yaitu mereka yang telah bertekun; kamu telah mendengar tentang ketekunan Ayub dan kamu telah tahu apa yang pada akhirnya (τέλος) disediakan Tuhan baginya, karena Tuhan maha penyayang dan penuh belas kasihan.
Ayub, salah satu tokoh kitab suci yang disebutkan Yakobus sebagai teladan ketekunan menimbulkan kebingungan kepada para ahli sebagai contoh orang yang sabar dalam penderitaan sebab Ayub memiliki banyak catatan kepahitan kepada Allah (7:11–16; 10:18; 23:2; 30:20–23). Sebagian para ahli berpendapat latar belakang penulisan Yakobus mengenai Ayub ini adalah dengan memperkirakan bahwa Yakobus menarik kesimpulan dari catatan kitab apokrifa The Testament of Job yang menggambarkan Ayub yang sabar dalam penderitaan sementara isterinya mengeluh kepadanya dan Allah. Namun hipotesa terhadap latar belakang pemikiran Yakobus tentang Ayub ini terlalu dangkal dan kitab kanon jauh lebih berotoritas dari pada apokrifa. Catatan tentang Ayub, dalam kitab kanon, yang bergumul dan berkeluh kesah kepada Allah sebenarnya tidak menunjukkan Ayub yang buruk atau gagal dalam kesabaran.Keluhan yang keluar dari mulut Ayub sama dengan keluhan para pemazmur sehingga ucapan-ucapan Ayub terhadap penderitaannya adalah buah dari pergumulan imannya kepada Allah, bukan keluhan dan tangisan orang yang kehilangan iman. Sehingga pada bagian akhir kitab Ayub Allah akhirnya memulihkan keadaan Ayub baik kesehatan, keluarga maupun harta bendanya. Sebab kepada teman-teman Ayub Allah berkata “sebab kamu tidak berkata benar tentang Aku seperti hamba-Ku Ayub” (Ayub 42:8).

Pembaca Yakobus telah mendengar (ἠκούσατε) ketabahan Ayub dan telah melihat (εἴδετε) bahwa Tuhan pada akhirnya memberikan upah bagi mereka yang tahan uji. . Beberapa penafsir memahami τέλος sebagai “hasil” atau “output,” sehingga setelah bertekun dalam penderitaannya ia memperoleh hasil atau buahnya, yakni semuanya dikembalikan oleh Tuhan (Ayub 42:12-17). Sehingga hal ini menunjukkan bahwa berkat adalah janji bagi semua orang yang dapat bertahan sampai akhir dan mereka akan menerma berkat itu sebelum pergumulan itu berakhir. Pandangan ini jelas menentang anggapan yang berkata bahwa upah dari Allah selalu diterima pada waktu orang tersebut sudah meninggal atau sampai Tuhan datang kembali. Dalam kedaulatanNya, Allah mampu memberkati mereka selama mereka masih di dalam dunia ini. Namun Yakobus tidak sedang mempersempit makna berkat hanya pada aspek materi saja, meskipun dalam konteks Ayub, Allah memulihkannya secara material.

Bertahan dalam pencobaan pada dirinya sendiri adalah berkat dari pada Tuhan. Jadi orang Kristen yang bergumul dalam penderitaan tidak boleh hanya memiliki pengharapan akan sesuatu yang akan diterima diakhir tetapi juga melihat bahwa penderitaan itu sendiri menghasilkan ketekunan dan kedewasaan. Tetapi sebaliknya orang Kristen tidak boleh juga mengabaikan apa yang Allah janjikan bagi mereka yang teguh berdiri hingga akhir. Sebab penggunaan bentuk ὑπομένειν (kesabaran, - aorist participle) menunjukkan bahwa atribut berkat hanya berlaku bagi orang-orang yang ada di masa lalu sebagai rujukan kepada mereka yang berdiri teguh hingga akhir. Pikiran ini menyiratkan bahwa hal ini adalah berkat khusus dari Allah tertunda bagi mereka yang masih hidup. Hanya mereka yang telah bertahan sampai akhir bisa disebut “berbahagia.”Sehingga para nabi yang telah meninggal, termasuk Ayub, dan orang- orang Kristen yang setia di masa lalu harus disebut sebagai “orang yang berbahagia/ diberkati.” Secara sederhana Yakobus ingin mengatakan “mereka yang bertekun sampai akhir tidak akan kehilangan upah mereka,” dan Allah telah membuktikannya kepada para nabiNya dan Ayub.

Artikel mengenai Ayub klik di sini


Bibliography

  • Davids, P. H., NIGTC: James. Grand Rapids: Eerdmans, 1982.
  • Nystrom, David P. NIVAC, NT: James. Grand Rapids: Zondervan, 1997.
  • Keener, C. S., The IVP Bible background commentary : New Testament. Downers Grove, Ill.: InterVarsity Press, 1993
  • Wiersbe, W. W., The Bible Exposition Commentary. Wheaton, Ill.: Victor Books, 1989.
  • Martin, R. P., WBC: James. Dallas: Word, 2002.


The Epistle of James (New International Commentary on the New Testament)  The NIV Application Commentary: James  The IVP Bible Background Commentary: New Testament  Word Biblical Commentary Vol. 36, John (revised), (beasley-murray)
READ MORE - Bersabar dalam Penderitaan (Yakobus 5:7-11)