ALLAH MENJAGA KEUTUHAN UMATNYA (MATIUS 18:12-14)

Teks (Versi USBS4)
12 Τί ὑμῖν δοκεῖ; ἐὰν γένηταί τινι ἀνθρώπῳ ἑκατὸν πρόβατα καὶ πλανηθῇ ἓν ἐξ αὐτῶν, οὐχὶ ἀφήσει τὰ ἐνενήκοντα ἐννέα ἐπὶ τὰ ὄρη καὶ πορευθεὶς ζητεῖ τὸ πλανώμενον; 13 καὶ ἐὰν γένηται εὑρεῖν αὐτό, ἀμὴν λέγω ὑμῖν ὅτι χαίρει ἐπ᾽ αὐτῷ μᾶλλον ἢ ἐπὶ τοῖς ἐνενήκοντα ἐννέα τοῖς μὴ πεπλανημένοις.14 οὕτως οὐκ ἔστιν θέλημα ἔμπροσθεν τοῦ πατρὸς ὑμῶν τοῦ ἐν οὐρανοῖς ἵνα ἀπόληται ἓν τῶν μικρῶν τούτων.

Penelitian Naskah
Ayat 14. Kata u`mw/n digolongkan oleh UBS4 kategori {C} artinya keraguan terhadap keaslian teks cukup tinggi. Varian lain adalah mou. Menurut Metzger, “Between the readings “your Father” and “my Father” it is difficult to decide. The latter, though strongly attested, probably reflects the influence of tou/ patro,j mou in ver. 10 (compare also ver. 35). The reading h`mw/n (D* and a few other witnesses) is probably itacism for u`mw/n.”

Terjemahan Literal
12 Apa yang kamu pikirkan? Jika seseorang memiliki 100 ekor domba, dan 1 dari mereka tersesat, bukankah dia akan meninggalkan 99 ekor domba di pegunungan dan pergi mencari yang tersesat? 13 Dan jika dia menemukannya, sungguh aku berkata kepadamu bahwa dia bersukacita atas 1 ekor domba itu lebih daripada (bersukacita) atas 99 ekor domba yang tidak tersesat. 14 Demikian juga, itu adalah bukan keinginan di hadapan Bapamu di Surga supaya satu dari yang kecil ini binasa.

Terjemahan Dinamis
12 Apa pendapatmu? Ada seorang gembala memiliki 100 ekor domba. Namun ketika dia menggembalakan, 1 dari mereka hilang dari kawanan domba. Bukankah si gembala akan meninggalkan 99 ekor domba di pegunungan dan pergi mencari 1 ekor yang hilang tersebut? 13 Akhirnya, dia menemukan 1 ekor domba yang hilang itu dan dia bersukacita untuk 1 ekor domba tersebut. Dia lebih bersukacita untuk 1 ekor domba itu dibandingkan dia bersukacita untuk 99 ekor domba yang tidak tersesat. 14 Hal yang sama juga dialami Bapa di Surga. Dia tidak menginginkan satu dari umat-Nya ini binasa.
Struktur Perumpamaan
Perumpamaan di atas dibagi menjadi dua bagian besar yaitu:
A. Pengajaran Perumpamaan:
- Pembukaan perumpamaan: Pertanyaan Yesus kepada murid-muridnya: Apa pendapatmu?
- Penjelasan perumpamaan: Hal yang sama juga dialami Bapa di Surga yaitu:
1. Dia tidak menginginkan satu dari umat-Nya ini binasa.
B. Narasi Perumpamaan:
- Cerita yang dibangun dari peristiwa-peristiwa berikut ini:
1. Ada seorang gembala memiliki 100 ekor domba.
2. Ketika dia menggembalakan 100 ekor domba, ada 1 dari mereka yang hilang dari kawanan domba.
3. Si gembala meninggalkan 99 ekor domba di pegunungan.
4. Si gembala mencari 1 ekor domba yang hilang tersebut.
5. Si gembala menemukan 1 ekor domba yang hilang tersebut.
6. Si gembala lebih bersukacita untuk 1 ekor domba tersebut daripada bersukacita untuk 99 ekor domba yang tidak tersesat.

Survei Pustaka
Para ahli menafsirkan perumpamaan ini dari berbagai fokus pembacaan seperti pada domba, gembala, dan domba dan gembala. Pertama, fokus pada domba (Schweizer, Gundry, dan Bruner) yang menekankan domba yang hilang namun ditemukan kembali. Kedua, fokus pada gembala (Jeremias, Linnemann, Hultgren, Hagner, Keener, Schnackenburg, Wenham, Barton, dan Barus). Barus memfokuskan pada gembala dengan berbagai karakterisasinya. Pertama, keharusan mencari domba yang hilang. Gembala mencari domba yang hilang semata-mata karena domba tersebut. Pencarian merupakan satu keharusan. Alasan pencarian tidak terletak pada domba tetapi pada gembala itu sendiri. Apakah kesedihan gembala yang mendalam atas hilangnya domba merupakan alasan pencarian domba? Mungkin saja. Kedua, sukacita ketika menemukan domba yang hilang. Menemukan domba yang hilang merupakan peristiwa penting sehingga menimbulkan sukacita. Gembala sangat bersukacita saat menemukan domba hilang merupakan bukti kesungguhan dan keseriusan pencariannya. Jadi, gembala harus mencari domba yang hilang karena dorongan kesedihan mendalam sehingga ketika menemukannya, ia sangat bersukacita. Di dalam konsep teologis Barus menyatakan perumpamaan gembala gigih membukakan dua perbuatan Allah dalam hubungan dengan umat-Nya. Pertama, Allah mencari yang hilang. Allah tidak ingin ada yang binasa. Inilah sebabnya mengapa Allah pasti mencari jemaat yang tersesat dan hilang. Kedua, Allah bersukacita saat menemukan jemaat yang hilang. Hubungan Allah dan umat-Nya mendapat bentuk nyata melalui hubungan sesama jemaat. Relasi sesama jemaat harus merupakan cermin relasi Allah dan umat-Nya. Jadi, jemaat juga harus gigih mencari dan membawa kembali anggota jemaat yang hilang yaitu jemaat yang meninggalkan persekutuan jemaat. Ketiga, fokus pada domba dan gembala (Blomberg). Blomberg melihat ada 3 buah pesan perumpamaan yaitu pertama, sama seperti gembala mencari domba hilang dengan giat, demikian juga Allah mengambil inisiatif untuk mencari dan menyelamatkan orang berdosa yang hilang. Kedua, sama seperti penemuan domba yang hilang menimbulkan sukacita, demikian juga keselamatan manusia yang sesat menimbulkan sukacita. Ketiga, sama seperti keberadaan 99 domba bukan menjadi alasan untuk tidak mencari domba yang hilang, demikian juga umat Allah tidak akan pernah puas dengan jumlah besar sehingga tidak lagi mencari yang hilang.

Analisis Narasi Perumpamaan
Tujuan menganalisis narasi perumpamaan adalah mendapatkan tema atau pokok cerita perumpamaan. Premis/tesis dalam studi perumpamaan ini adalah gabungan antara tokoh (karakter) dan peristiwa (prolog (mulai cerita) – konflik (puncak/perumitan cerita) – epilog (akhir cerita)) menghasilkan tema atau pokok cerita. Analisis narasi ini akan dibagi dalam tiga tahap yaitu analisis peristiwa, tokoh dan peristiwa dan tokoh.
A. Analisis Peristiwa
Analisis peristiwa dilakukan dengan tiga tahap. Pertama, peristiwa awal yaitu seorang gembala memiliki 100 ekor domba, namun ketika dia sedang menggembalakan domba-dombanya, ada 1 ekor domba yang hilang dari kawanan domba. Kedua, peristiwa beralih ke puncak yaitu si gembala domba meninggalkan 99 ekor domba dan mencari 1 ekor domba yang hilang tersebut. Ketiga, peristiwa beralih ke akhir yaitu si gembala akhirnya menemukan domba yang dicari dan dia pun lebih bersukacita untuk 1 ekor domba tersebut daripada untuk 99 ekor domba yang tidak hilang. Ringkasnya, peristiwa-peristiwa awal sampai akhir adalah peristiwa keberhasilan gembala menjaga atau mempertahankan 100 ekor dombanya.
B. Analisis Tokoh
Tokoh di dalam narasi perumpamaan cuma satu yaitu gembala domba. Apa yang dilakukan oleh gembala domba di dalam narasi? Dia menggembalakan 100 ekor dombanya, meninggalkan 99 ekor domba, mencari 1 ekor domba yang hilang, menemukannya, dan bersukacita untuk 1 ekor domba tersebut lebih daripada untuk 99 ekor domba yang tidak hilang. Ketika terjadi permasalahan yaitu kehilangan 1 ekor domba, dia meninggalkan domba-domba yang lain dan mencari 1 ekor domba itu. Hasilnya adalah dia mendapatkan kembali 1 ekor tersebut dan membuat domba-dombanya menjadi utuh 100 ekor. Tujuan dia mencari 1 ekor domba yang hilang adalah bukan semata-mata mendapatkan 1 ekor itu kembali, namun lebih dari itu yaitu untuk mempertahankan keutuhan 100 ekor domba. Seratus ekor domba itu adalah tanggung jawab gembala untuk menggembalakannya. Karakter seperti apa yang melekat pada tokoh gembala ini? Berdasarkan tindakan-tindakan yang dia lakukan dari peristiwa awal sampai akhir, karakter utama gembala adalah dia berusaha menjaga atau mempertahankan keutuhan 100 ekor domba. Dia adalah gembala yang bertanggung jawab. Tanggung jawabnya terlihat ketika dia mencari dan menemukan 1 ekor domba yang hilang sehingga keutuhan 100 ekor domba tetap terjaga. Sukacita adalah respon yang wajar dari hasil usahanya mempersatukan kembali 1 ekor domba ke kawanan domba lainnya. Jadi, karakter utama gembala domba adalah usaha menjaga keutuhan 100 ekor domba atau domba yang dipercayakan kepadanya.
C. Analisis Peristiwa & Tokoh
Dalam analisis ini kita akan mendapatkan tema narasi perumpamaan. Tema dibangun dari peristiwa dan karakter. Peristiwa di dalam narasi adalah peristiwa keberhasilan gembala menjaga atau mempertahankan 100 ekor dombanya. Karakter dari tokoh adalah usaha menjaga keutuhan 100 ekor domba atau domba yang dipercayakan kepadanya. Jadi, tema narasi perumpamaan adalah usaha menjaga atau mempertahankan keutuhan 100 ekor domba yang berhasil.

Konsep Teologis
Berdasarkan struktur perumpamaan di atas, pengajaran di dalam perumpamaan terdiri atas pembukaan dan penjelasan perumpamaan. Tema pengajaran sekaligus menjadi tema perumpamaan. Tema pengajaran terdiri atas bagian pembukaan dan penjelasan perumpamaan. Pembukaan perumpamaan di atas adalah sebuah pertanyaan “Apa pendapatmu?” Pertanyaan ini adalah untuk melibatkan pendengar dan menarik perhatian pendengar agar lebih serius memikirkan cerita yang akan disampaikan. Pembukaan perumpamaan mengandung rumusan perumpamaan secara implisit “sama seperti” dan ini terlihat jelas di bagian penjelasan perumpamaan “hal yang sama juga dialami Bapamu di Surga.” Pembukaan perumpamaan sama dengan tema narasi perumpamaan. Oleh karena itu, tema pengajaran sama dengan tema narasi perumpamaan yang ditambah dengan penjelasan perumpamaan. Tema narasi perumpamaan adalah usaha menjaga atau mempertahankan keutuhan 100 ekor domba yang berhasil. Penjelasan perumpamaan menekankan peristiwa yang sama dialami oleh Bapa di Surga yaitu keinginan mempertahankan keutuhan umat-Nya. Ini menunjukkan tokoh si gembala di dalam narasi diumpamakan seperti Bapa di Surga di dalam penjelasan perumpamaan. Jadi, tema pengajaran perumpamaan adalah usaha Allah menjaga atau mempertahankan keutuhan umat-Nya yang berhasil. Usaha apa yang dilakukan oleh Allah di dalam menjaga atau mempertahankan keutuhan umat-Nya? Tuhan Yesus mengajarkan dua usaha yaitu meninggalkan dan mencari. Afi,hmi ‘meninggalkan’ verba yang sama dipakai oleh Matius ketika Petrus, Andreas, Yakobus dan Yohanes meninggalkan pekerjaan mereka dan kemudian mengikuti Yesus (4:20,22). Meninggalkan pekerjaan mereka yang lazim dan melakukan sesuatu yang lain di dalam dua konteks (murid-murid mengikuti Yesus dan gembala mencari 1 ekor domba tersesat) Matius tadi terjadi karena ada sesuatu yang lebih penting dan mendesak untuk dikerjakan. Matius menggunakan verba ini untuk menggambarkan kepada pembaca bahwa ada dua prioritas atau pilihan yang harus dipilih oleh pelaku. Dan Matius menuliskan jelas bahwa pilihan melakukan sesuatu yang lain menjadi yang terpenting dan mendesak. Dan itu yang dilakukan oleh pelaku. Meninggalkan mengandung makna memilih prioritas yang tepat. Hal ini terjadi karena pelaku menyadari ada sesuatu yang lebih penting untuk dikerjakan. Begitu juga dengan Allah Bapa. Allah tahu ada sesuatu yang lebih penting untuk dikerjakan. Apa itu? Yaitu Allah mencari yang tersesat. Verba zhte,w dalam konteks ini berarti mencari apa yang hilang. Dalam hal ini berarti usaha menemukan kembali apa yang menjadi miliknya. Di dalam tulisan Matius, arti verba ini hanya terdapat di ayat ini (18:12). Bandingkan juga dengan Lukas 19:10 “Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.” Anak Manusia datang ke dunia untuk mencari apa yang menjadi milik-Nya kembali yaitu orang-orang kudus pilihan Allah. Anak manusia menyelamatkan mereka yang hilang. Hal yang sama juga di dalam konteks Matius ini yaitu Allah berusaha menemukan kembali mereka yang tersesat atau hilang. Mereka di sini adalah orang-orang kudus pilihan Allah atau orang percaya. Allah tidak menginginkan tidak satupun umat pilihan-Nya tersesat sehingga Allah mencari mereka. Semuanya ini menunjukkan kasih Allah yang begitu besar. Mencari mengandung makna usaha menemukan kembali apa yang menjadi miliknya dan usaha mencari ini didorong oleh kasih yaitu keinginan tidak ada seorang pun dari miliknya binasa. Usaha meninggalkan dan mencari memberikan hasil yaitu menemukan. Menemukan menunjukkan usaha Allah mempertahankan keutuhan umat-Nya yang berhasil yang disertai dengan perasaan sukacita besar.

Aplikasi
Umat sangat perlu menyadari bahwa Allah berusaha mempertahankan keutuhan umat-Nya. Allah memiliki kasih yang begitu besar yaitu keinginan tidak ada seorang pun dari milik-Nya ini binasa. Allah tentu memiliki keinginan bahwa umat-Nya juga melakukan hal yang sama. Aplikasi bagi umat Allah sekarang ini adalah dua hal yaitu pertama, umat Allah harus berani mengambil keputusan meninggalkan sesuatu yang lazim untuk mengerjakan hal yang jauh lebih penting. Umat Allah harus menyadari bahwa mencari saudara yang tersesat atau hilang adalah jauh lebih penting daripada memprioritaskan hal-hal lain. Mengapa? Karena Allah juga melakukan yang sama. Saudara yang tersesat adalah saudara seiman yang hilang dari persekutuan atau kumpulan jemaat. Mencari mereka menjadi prioritas terpenting dibandingkan saudara seiman lain yang tidak tersesat. Kedua, meninggalkan dan mencari didorong oleh kasih yaitu keinginan tidak ada seorang pun anggota persekutuan jemaat itu binasa. Mereka bisa tersesat oleh karena faktor luar maupun dalam. Faktor luar seperti ajaran sesat atau hal-hal lainnya. Faktor dalam bisa karena keinginan sendiri meninggalkan persekutuan jemaat (18:8-9) dan tidak lagi pernah masuk di dalam persekutuan. Umat Allah harus menyadari dan memprioritaskan mereka untuk menariknya kembali ke dalam persekutuan. Itulah yang diinginkan oleh Allah kepada umat-Nya. Namun, ingat dorongan kasih yaitu keinginan tidak ada seorang pun dari milik umat Allah binasa menjadi faktor kunci dalam menemukan mereka kembali.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.