Matius 18:23-35 BELAS KASIHAN YANG TIDAK DITERAPKAN MENDATANGKAN HUKUMAN

Pendahuluan
Tulisan ini adalah sebuah analisis perumpamaan Tuhan Yesus di Matius 18:23-35. Pendekatan analisis dalam tulisan ini adalah pendekatan naratif. Pendekatan naratif menekankan analisis cerita perumpamaan. Analisis cerita dimulai dari membuat struktur dan terjemahan teks, pengumpulan data dari teks, analisis kisah melalui tahap analisis peristiwa, tokoh, dan analisis peristiwa dan tokoh. Tujuan analisis cerita adalah mendapatkan tema narasi di dalam perumpamaan tersebut. Tesis untuk mendapatkan tema cerita adalah gabungan antara tokoh (karakter) dan peristiwa (prolog (mulai cerita) – konflik (puncak/perumitan cerita) – epilog (akhir cerita)). Setelah mendapatkan temanya, penulis menjelaskan tema tersebut dalam kerangka atau konsep teologis khususnya di dalam konteks kitab Matius. Selanjutnya, penjabaran teologis ini akan diuraikan lagi menjadi aplikasi bagi pembaca atau jemaat kontemporer.

Teks (versi UBS4)
23 Διὰ τοῦτο ὡμοιώθη ἡ βασιλεία τῶν οὐρανῶν ἀνθρώπῳ βασιλεῖ, ὃς ἠθέλησεν συνᾶραι λόγον μετὰ τῶν δούλων αὐτοῦ. 24 ἀρξαμένου δὲ αὐτοῦ συναίρειν προσηνέχθη αὐτῷ εἷς ὀφειλέτης μυρίων ταλάντων. 25 μὴ ἔχοντος δὲ αὐτοῦ ἀποδοῦναι ἐκέλευσεν αὐτὸν ὁ κύριος πραθῆναι καὶ τὴν γυναῖκα καὶ τὰ τέκνα καὶ πάντα ὅσα ἔχει, καὶ ἀποδοθῆναι. 26 πεσὼν οὖν ὁ δοῦλος προσεκύνει αὐτῷ λέγων, Μακροθύμησον ἐπ᾽ ἐμοί, καὶ πάντα ἀποδώσω σοι. 27 σπλαγχνισθεὶς δὲ ὁ κύριος τοῦ δούλου ἐκείνου ἀπέλυσεν αὐτὸν καὶ τὸ δάνειον ἀφῆκεν αὐτῷ. 28 ἐξελθὼν δὲ ὁ δοῦλος ἐκεῖνος εὗρεν ἕνα τῶν συνδούλων αὐτοῦ, ὃς ὤφειλεν αὐτῷ ἑκατὸν δηνάρια, καὶ κρατήσας αὐτὸν ἔπνιγεν λέγων, Ἀπόδος εἴ τι ὀφείλεις. 29 πεσὼν οὖν ὁ σύνδουλος αὐτοῦ παρεκάλει αὐτὸν λέγων, Μακροθύμησον ἐπ᾽ ἐμοί, καὶ ἀποδώσω σοι. 30 ὁ δὲ οὐκ ἤθελεν ἀλλὰ ἀπελθὼν ἔβαλεν αὐτὸν εἰς φυλακὴν ἕως ἀποδῷ τὸ ὀφειλόμενον. 31 ἰδόντες οὖν οἱ σύνδουλοι αὐτοῦ τὰ γενόμενα ἐλυπήθησαν σφόδρα καὶ ἐλθόντες διεσάφησαν τῷ κυρίῳ ἑαυτῶν πάντα τὰ γενόμενα. 32 τότε προσκαλεσάμενος αὐτὸν ὁ κύριος αὐτοῦ λέγει αὐτῷ, Δοῦλε πονηρέ, πᾶσαν τὴν ὀφειλὴν ἐκείνην ἀφῆκά σοι, ἐπεὶ παρεκάλεσάς με• 33 οὐκ ἔδει καὶ σὲ ἐλεῆσαι τὸν σύνδουλόν σου, ὡς κἀγὼ σὲ ἠλέησα; 34 καὶ ὀργισθεὶς ὁ κύριος αὐτοῦ παρέδωκεν αὐτὸν τοῖς βασανισταῖς ἕως οὗ ἀποδῷ πᾶν τὸ ὀφειλόμενον. 35 Οὕτως καὶ ὁ πατήρ μου ὁ οὐράνιος ποιήσει ὑμῖν, ἐὰν μὴ ἀφῆτε ἕκαστος τῷ ἀδελφῷ αὐτοῦ ἀπὸ τῶν καρδιῶν ὑμῶν.

Penelitian Naskah
Ayat 26. Kata λέγων oleh UBS4 dikategorikan {A} berarti teks ini secara yakin dapat dikatakan asli. Varian lain seperti λέγων, Kύριε tidak dianggap asli karena bacaan ini lebih panjang sehingga kemungkinan besar ditambahkan oleh penyalin pada waktu itu.

Terjemahan Literal
23 Oleh karena itu, Kerajaan Surga sama seperti seorang raja yang hendak mengadakan perhitungan dengan pelayan-pelayannya. 24 Ketika ia mulai menghitung, seorang penghutang diperhadapkan kepadanya sebesar 10 ribu talenta. 25 Namun, si penghutang tidak memiliki apa-apa untuk melunasi, raja itu memerintahkan dia untuk dijual beserta istri dan anak-anaknya serta seluruh yang dia miliki untuk melunasi hutangnya. 26 Maka pelayan itu menyembah dia dengan bersujud di hadapannya dan berkata, “Bersabarlah terhadap aku dan aku akan melunaskan segala hutangku kepadamu.” 27 Selanjutnya, raja dari pelayan itu membebaskannya dan membatalkan hutangnya karena digerakkan oleh belas kasihan. 28 Namun, ketika pelayan itu keluar, dia bertemu satu dari rekan-rekan pelayannya, rekan pelayan itu berhutang kepada pelayan itu seratus dinar, dan pelayan itu mencekiknya dengan cara menangkap dan berkata, “Bayarlah apapun hutangmu.” 29 Maka rekan pelayan itu memohon sangat dengan bersujud di hadapannya dan berkata, “Bersabarlah terhadap aku dan aku akan melunaskannya kepadamu.” 30 Tetapi pelayan itu tidak menginginkannya dan pergi menyerahkannya ke dalam penjara sampai dia melunaskan hutangnya. 31 Maka ketika rekan-rekan pelayannya melihat apa yang terjadi sangat bersedih dan mereka pergi melaporkan kepada rajanya segala yang terjadi. 32 Selanjutnya, raja itu memanggil pelayan itu dan berkata kepadanya, “Hai pelayan jahat, semua hutangmu itu telah aku hapuskan untukmu karena engkau memohon sangat kepadaku; 33 dan tidak seharusnyakah kamu berbelas kasihan kepada rekan pelayanmu seperti aku berbelas kasihan kepadamu?” 34 Dan raja itu marah dan menyerahkan dia kepada algojo-algojo sampai dia melunaskan semua hutangnya. 35 Maka, Bapa-Ku yang di surga akan berbuat dengan cara seperti ini kepadamu, jika kamu masing-masing tidak mengampuni saudara-saudarimu dari hatimu.

Terjemahan Dinamis
23. Oleh karena itu, Hal Kerajaan Surga diumpamakan seperti cerita berikut. Ada seorang raja hendak mengadakan perhitungan terhadap pegawai-pegawainya. 24 Di tengah perhitungan, raja itu menemukan seorang pegawainya berhutang sebesar 10.000 talenta. 25 Namun, si pegawai itu tidak memiliki uang untuk melunasi hutangnya kepada raja. Lalu, raja itu memberikan perintah kepadanya: jual dirimu, keluargamu, dan seluruh hartamu untuk melunasi hutangmu. 26 Mendengar hal ini, lalu si pegawai tu langsung menyembah dan bersujud di hadapan raja. Si pegawai memohon dengan sangat kepada raja dengan berkata, “Bersabarlah terhadap aku dan aku akan melunaskan semua hutangku kepadamu.” 27 Melihat hal tersebut, si raja berbelas kasihan kepadanya sehingga membebaskan dan membatalkan semua hutangnya. Si pegawai itu pun bebas sekarang. 28 Namun, ketika dia keluar, dia bertemu dengan rekan sesama pegawai yang berhutang 100 dinar. Si pegawai langsung datang menangkap dan mencekiknya. Si pegawai itu berkata, “Bayarlah semua hutangmu kepadaku.” 29 Lalu, rekan pegawai itu pun bersujud dan memohon dengan sangat kepadanya. Katanya, “Bersabarlah terhadap aku dan aku akan melunaskan semua hutangku kepadamu.” 30 Namun, si pegawai itu menolak permohonannya dan menjebloskan rekannya itu ke dalam penjara sampai dia bisa melunaskan semua hutangnya. 31 Peristiwa ini dilihat oleh rekan-rekan lain pegawai itu. Mereka menjadi sangat sedih. Lalu, mereka melaporkan peristiwa tersebut kepada rajanya. 32-33 Setelah mendengar laporan tersebut, si raja langsung memanggil si pegawai tersebut. Si raja berkata kepadanya, “Hai kamu pegawai yang tidak berbelas kasihan, bukankah seharusnya kamu berbelas kasihan kepada rekanmu itu seperti aku telah berbelas kasihan kepadamu?” 34 Akhirnya raja itu pun murka kepadanya dan menghukum dia dengan menyerahkanya kepada algojo-algojo sampai dia bisa melunaskan semua hutangnya. 35 Bapa di surga akan lakukan hal yang sama kepadamu jikalau kamu masing-masing tidak mengampuni saudara-saudarimu dari segenap hidupmu.

Struktur Perumpamaan
Perumpamaan di atas dibagi menjadi dua bagian besar yaitu:
A. Pengajaran Perumpamaan:
- Pembukaan perumpamaan: Hal Kerajaan Surga sama seperti narasi perumpamaan
- Penjelasan perumpamaan: Hal yang sama Bapa di surga akan lakukan kepadamu:
1. Jikalau kamu masing-masing tidak mengampuni saudara
saudarimu dari segenap hidupmu.
a. Narasi Perumpamaan:
- Cerita yang dibangun dari peristiwa-peristiwa berikut ini:
1. Ada seorang raja hendak mengadakan perhitungan terhadap pegawai-pegawainya.
2. Di tengah perhitungan, raja itu menemukan seorang pegawainya berhutang sebesar 10.000 talenta.
3. Si pegawai itu tidak memiliki uang untuk melunasi hutangnya kepada raja.
4. Raja itu memberikan perintah kepadanya: jual dirimu, keluargamu, dan seluruh hartamu untuk melunasi hutangmu.
5. Mendengar hal ini, lalu si pegawai tu langsung menyembah dan bersujud di hadapan raja.
6. Si pegawai memohon dengan sangat kepada raja dengan berkata, “Bersabarlah terhadap aku dan aku akan melunaskan semua hutangku kepadamu.”
7. Melihat hal tersebut, si raja berbelas kasihan kepadanya sehingga membebaskan dan membatalkan semua hutangnya.
8. Si pegawai itu pun bebas sekarang.
9. Ketika pegawai itu keluar, dia bertemu dengan rekan sesama pegawai yang berhutang 100 dinar.
10. Si pegawai langsung datang menangkap dan mencekiknya.
11. Si pegawai itu menagih hutangnya.
12. Rekan pegawai itu pun bersujud dan memohon dengan sangat kepadanya. Katanya, “Bersabarlah terhadap aku dan aku akan melunaskan semua hutangku kepadamu.”
13. Si pegawai itu menolak permohonannya dan menjebloskan rekannya itu ke dalam penjara sampai dia bisa melunaskan semua hutangnya.
14. Rekan-rekan lain pegawai itu melihat peristiwa tersebut.
15. Mereka menjadi sangat sedih.
16. Mereka melaporkan peristiwa tersebut kepada rajanya.
17. Setelah mendengar laporan tersebut, si raja langsung memanggil si pegawai tersebut.
18. Si raja berkata kepadanya, “Hai kamu pegawai yang tidak berbelas kasihan, bukankah seharusnya kamu berbelas kasihan kepada rekanmu itu seperti aku telah berbelas kasihan kepadamu?”
19. Akhirnya raja itu pun murka kepadanya dan menghukum dia dengan menyerahkanya kepada algojo-algojo sampai dia bisa melunaskan semua hutangnya.

Survei Pustaka
Menurut Armand Barus, sejarah penafsiran perumpamaan Matius 18:23-35 ada dua yaitu pertama, perumpamaan pengampunan mengajarkan tentang Allah (Jeremias, Schweizer, Goulder, Schnackenburg). Kedua, perumpamaan pengampunan mengajarkan tentang moralitas warga Kerajaan Surga (Linnemann, Strecker, Wenham, Hultgren). Mayoritas penafsir termasuk Barus menafsirkan perumpamaan ini adalah pengajaran tentang pengampunan tanpa batas. Barus menegaskan bahwa pengampunan tanpa batas ini melihat Allah dan warga Kerajaan Surga sebagai subjek sehingga ada penekanan pada dimensi teologis dan etis. Ringkasnya, mayoritas penafsir menegaskan bahwa perumpamaan ini adalah pengajaran tentang pengampunan tanpa batas. Pembacaan berikut akan sedikit berbeda melihat perumpamaan ini. Tulisan ini akan merevisi tafsiran-tafsiran yang ada dengan menggunakan tesis peristiwa dan tokoh sebagai pembawa tema bacaan.

Analisis Narasi Perumpamaan
Tujuan menganalisis narasi perumpamaan adalah mendapatkan tema atau pokok cerita perumpamaan. Premis/tesis dalam studi perumpamaan ini adalah gabungan antara tokoh (karakter) dan peristiwa (prolog (mulai cerita) – konflik (puncak/perumitan cerita) – epilog (akhir cerita)) menghasilkan tema atau pokok cerita. Analisis narasi ini akan dibagi dalam tiga tahap yaitu analisis peristiwa, tokoh dan peristiwa dan tokoh.
Analisis Peristiwa
Berdasarkan peristiwa-peristiwa di dalam narasi perumpamaan di atas, cerita ini dapat dibagi menjadi 3 episode.
1. Episode pertama dibagi menjadi:
- peristiwa awal: peristiwa nomor 1-2
- peristiwa puncak: peristiwa nomor 3-6
- peristiwa akhir: peristiwa nomor 7-8
2. Episode kedua dibagi menjadi:
- peristiwa awal: peristiwa nomor 9
- peristiwa puncak: peristiwa nomor 10-12
- peristiwa akhir: peristiwa nomor 13
3. Episode ketiga dibagi menjadi:
- peristiwa awal: peristiwa nomor 14-16
- peristiwa puncak: peristiwa nomor 17-18
- peristiwa akhir: peristiwa nomor 19
Episode pertama adalah peristiwa penagihan dan pembebasan hutang karena belas kasihan. Episode kedua adalah peristiwa yang tidak menunjukkan atau menerapkan belas kasihan. Episode ketiga adalah peristiwa konsekuensi dari perbuatan yang tidak menunjukkan belas kasihan. Episode pertama adalah peristiwa awal. Episode kedua adalah peristiwa puncak. Episode ketiga adalah peristiwa akhir.
Analisis Tokoh
Tokoh-tokoh di dalam kisah terdiri atas: raja, pegawai, rekan pegawai, rekan-rekan pegawai, anak dan isteri pegawai, dan algojo-algojo. Analisis tokoh akan difokuskan kepada tokoh yang memiliki lakuan bertujuan. Dalam hal ini, tokoh-tokoh tersebut adalah raja, pegawai, rekan pegawai, dan rekan-rekan pegawai. Di dalam episode pertama di atas, tokoh raja adalah tokoh utama. Episode kedua, tokoh pegawai adalah tokoh utama. Episode ketiga, tokoh raja adalah tokoh utama. Jadi, tokoh raja dan pegawai adalah tokoh utama atau sentral di dalam narasi ini, dan tokoh rekan pegawai dan rekan-rekan pegawai adalah tokoh penentang dan pembantu. Tokoh raja memiliki karakter utama sebagai tokoh yang penuh belas kasihan. Episode pertama menunjukkan karakter belas kasihan dan dipertegas kembali di episode ketiga yang memberikan penghukuman kepada orang yang tidak membagikan belas kasihan. Tokoh pegawai memiliki karakter utama sebagai tokoh tidak punya belas kasihan sama sekali walaupun dia sudah menerima belas kasihan dari raja. Tokoh rekan pegawai merupakan penentang tokoh pegawai. Tokoh rekan-rekan pegawai merupakan pembantu tokoh raja.
Analisis Peristiwa dan Tokoh
Dalam analisis ini kita akan mendapatkan tema narasi perumpamaan. Tema dibangun dari peristiwa dan karakter. Peristiwa di dalam narasi di atas adalah peristiwa menerima belas kasihan dan tidak menerapkannya mendatangkan hukuman. Karakter utama di dalam tokoh adalah belas kasihan. Jadi, tema cerita ini adalah belas kasihan yang tidak diterapkan mendatangkan hukuman. “Belas kasihan” merupakan karakter utama dari para tokoh. “Yang tidak diterapkan” menunjukkan peristiwa awal sampai puncak yaitu menerima belas kasihan namun tidak dibagikan kepada orang lain. “Hukuman” menunjukkan peristiwa akhir cerita.

Konsep Teologis
Berdasarkan struktur perumpamaan di atas, pengajaran di dalam perumpamaan terdiri atas pembukaan dan penjelasan perumpamaan. Tema pengajaran sekaligus menjadi tema perumpamaan. Tema pengajaran terdiri atas bagian pembukaan dan penjelasan perumpamaan. Pembukaan menunjukkan tema pengajaran sama dengan tema narasi. Penjelasan perumpamaan memberikan penjelasan tambahan terhadap tema pengajaran. Jadi, tema pengajaran sama dengan tema narasi perumpamaan ditambah dengan penjelasan perumpamaan. Tema pengajaran perumpamaan adalah belas kasihan yang tidak diterapkan mendatangkan hukuman. Lalu, apa kaitannya dengan tambahan penjelasan perumpamaan tentang pengampunan dari segenap hati? Belas kasihan merupakan cara atau solusi untuk melakukan pengampunan dari segenap hati. Konteks perumpamaan ini adalah pertanyaan Rasul Petrus tentang pengampunan (Matius 18:21-22) dan penjelasan perumpamaan kembali menegaskan tentang pengampunan. Isi atau tema perumpamaan adalah solusi untuk melakukan pengampunan. Pembukaan perumpamaan dengan kata “oleh karena itu” menghubungkan teks Matius 18:21-23 dan Matius 18:23-35. Tuhan Yesus sedang mengajarkan murid-murid-Nya cara melakukan pengampunan tanpa batas yaitu dengan menerima belas kasihan dan membagikan belas kasihan. Menerima belas kasihan tentu dari Allah. Membagikan belas kasihan tentu kepada sesama. Apa buktinya kalau murid-murid Yesus telah membagikan belas kasih? Buktinya adalah pengampunan tanpa batas. Allah akan memberikan penghukuman kepada mereka yang tidak mengampuni orang lain dari hati. Mengapa? Karena mereka tidak membagikan belas kasih yang sudah diterima dari Allah. Mengampuni tanpa batas menjadi bukti nyata kalau mereka telah diberi belas kasih dan membagikan belas kasih. Tanpa adanya belas kasih dari hati, maka tidak akan ada pengampunan. Namun, tanpa diberi belas kasih, maka tidak akan bisa membagikan belas kasih sehingga pengampunan tidak akan terjadi. Jadi, perumpamaan Matius 18: 23-35 adalah solusi atau cara mengampuni tanpa batas di dalam Matius 18:21-22.
Diberi belas kasih untuk membagikan belas kasih dalam wujud pengampunan tanpa batas menjadi ajaran pokok dari Matius 18:21-35. Jika umat Allah melanggar, tidak mengampuni, maka penghukuman telah tersedia. Hal ini berarti menuntut umat Allah untuk senantiasa memiliki hati yang penuh belas kasih. Tanpa hati yang penuh belas kasih maka pengampunan tidak akan terjadi dan penghukuman telah menanti.
Ayat 27, kata belas kasih “splagnizomai” digerakkan oleh belas kasihan sehingga mengalami atau memiliki belas kasihan terhadap seseorang. Di dalam tulisan Matius seperti 9:36; 14:14; 15:32; 20:34, yang menjadi subjek belas kasih adalah Yesus dan objek dari belas kasih adalah orang-orang banyak yaitu mereka yang lemah, terlantar, sakit dan lapar. Rasul Matius mau mengajarkan bahwa lihat teladan Yesus di dalam perbuatan berbelas kasih dengan cara membimbing atau menjadi gembala, menyembuhkan, memberi pemuasan kebutuhan jasmani. Perbuatan berbelas kasih yang dilakukan oleh Yesus dilakukan berbagai cara. Dua kebutuhan pokok dipenuhi atau diperhatikan Yesus yaitu kebutuhan jasmani dan rohani. Di dalam konteks pasal 18 atau perumpamaan, belas kasihan yang diberikan berakhir dalam wujud pengampunan tanpa batas. Ini memperkaya wujud belas kasihan. Belas kasihan bisa dilakukan dalam wujud membimbing, memberi makan, menyembuhkan dan bahkan mengampuni tanpa batas. Jemaat harus belajar berbelas kasih dengan mengikuti teladan yang ditunjukkan oleh Yesus. Belajar berbelas kasih adalah belajar dari perbuatan yang dilakukan oleh Yesus.
Ayat 33, kata belas kasih “eleew” berbelas kasih. Di dalam tulisan Matius seperti 9:27; 15:22; 17:15; 20:30,31 mengajarkan kepada jemaat untuk meminta belas kasih atau memohon belas kasih kepada Yesus. Mengapa kepada Yesus? Karena Yesus yang empunya belas kasih. Buktinya? Dia bisa membagikan belas kasih itu kepada orang-orang yang membutuhkan dalam berbagai cara. Matius 5:7 mengajarkan buah berbelas kasih yaitu mendapatkan belas kasih. Ada relasi mutualisme yang saling menguntungkan. Kesimpulannya: meminta atau memohon belas kasih kepada Yesus, maka kita akan diberi belas kasih, dan belas kasih yang kita peroleh kita bagikan kepada orang lain yang membutuhkan dan sebagai buahnya kita memperoleh belas kasih dari mereka.
Kesimpulan: belajar berbelas kasih kasih kepada Yesus dengan cara memohon/meminta belas kasih kepada Yesus maka akan diberikan belas kasih. Belas kasih yang diberikan wajiblah dibagikan kepada orang lain yang membutuhkan dan sebagai buahnya kita memperoleh belas kasih dari mereka. Jika kita tidak membagikan belas kasih yang kita peroleh, maka penghukuman yang akan kita peroleh. Belas kasih adalah solusi untuk melakukan pengampunan. Tanpa belas kasih maka tidak akan ada pengampunan. Teks 18:21-22 adalah tentang pengampunan dan menjadi konteks dari perumpamaan ini. Perumpamaan ini mengajarkan bagaimana seseorang mengampuni. Belas kasih menjadi cara efektif untuk melakukan pengampunan seperti yang diajarkan Yesus di Matius 18:22.

Aplikasi
Perumpamaan di atas mengajarkan satu hal penting bagi kehidupan orang percaya masa kini yaitu memiliki hati berbelas kasih. Konteks kehidupan jemaat saat ini begitu kompleks. Persaingan di segala bidang kehidupan memacu kita bersikap achievement oriented dan pelahan-lahan melupakan relasi antar manusia. Manusia memandang sesamnya seperti I-it – meminjam istilah dari Martin Buber. Sisi kemanusiaan terkikis oleh perkembangan zaman. Sehingga banyak orang di sekitar kita hidup dalam berbagai tekanan, depresi, kekosongan, kesepian dan absurditas akan hidup ini. Manusia saling berlomba mencapai target tertentu dan tidak sadar melukai dan mengorbankan manusia yang lain. Manusia sekarang tidak atau kurang mengalami kehangatan relasi antar personal manusia itu sendiri. Di tengah kekompleksan kehidupan, melalui tulisan ini penulis mengajak pembaca berhenti sejenak memikirkan pengampunan. Pengampunan adalah perbaikan relasi antar manusia yang retak dan hancur. Tanpa pengampunan, maka tidak ada humanitas yang bisa berkembang karena berhenti pada konflik. Pengampunan mengajarkan kita menerapkan belas kasihan. Adakah belas kasihan di tengah kehidupan ini? Umat Allah diajak oleh Tuhan Yesus untuk memberikan belas kasihan kepada mereka yang membutuhkan. Memberikan belas kasihan bukan hanya merasa kasihan kepada mereka yang membutuhkan, namun lebih jauh lagi adalah mengampuni. Tanpa belas kasihan, tidak mungkin ada pengampunan yang diberikan. Belas kasihan menjadi sebuah kebutuhan sekarang ini. Ketika kita hendak menjadi terang dan garam di dunia ini, maka belas kasihan menjadi semacam sumbu dan perasa yang mewarnai relasi antar manusia. Manusia mendapatkan kehangatan terang dan perasa /tidak hambar di dalam kehidupan ini. Belas kasihan memberikan secercah harapan kepada manusia untuk hidup lebih manusiawi lagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.