Eksposisi Injil Yohanes 1:3-5 --- Logos dan Penciptaan

Oleh: Ridwanta Manogu

"3 Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan. 4 Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia. 5 Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya."

Perbedaan makna “pada mulanya” antara Kej. 1:1 dengan Yoh 1:1 adalah dalam Kejadian “pada mulanya” mengacu pada awal mula eksistensi alam semesta yakni diciptakan oleh Allah. Permulaan segala sesuatu yang disebut ada adalah Allah, Sang Pencipta. Namun dalam Yoh 1:1 “pada mulanya” lebih mundur ke belakang (dalam pengertian waktu) yaitu mengacu pada eksistensi Allah, khususnya Logos, yang sudah ada sebelum segala sesuatu ada. Yoh 1:1 membicarakan eksistensi Allah yang kekal dan Kej 1:1 membicarakan karya penciptaan Allah sebagai mula dari segala sesuatu yang ada. Oleh sebab itu ayat yang paralel dengan Kej 1:1 adalah Yoh 1:3, karena bagian ini sama-sama menjelaskan karya penciptaan oleh Elohim (Theos). Namun dalam Injil Yohanes, terdapat keterangan yang lebih spesifik, bahwa pelaku penciptaan alam semesta adalah Pribadi Logos.

Penciptaan Logos bersifat Creatio ex nihilo
Ayat 3 dituliskan oleh Yohanes dalam 2 bentuk, positif (through him all things were made) dan negatif (without him nothing was made that has been made). Perubahan tenses dari were made menjadi has been made merupakan perubahan yang menunjukkan the act of creation. Pada awalnya adalah ketiadaan, namun Logos menjadikan sesuatu menjadi ada dari yang tidak ada. Penciptaan adalah suatu karya yang unik hanya dilakukan oleh Allah dan sifat dari peciptaan haruslah creatio ex nihilo, penciptaan yang tidak bersifat ex nihilo tidak dapat digolongkan penciptaan. Penciptaan memberikan implikasi-implikasi penting dalam seluruh doktrin Kristen, diantaranya mengimplikasikan perbedaan esensi antara Pencipta dan ciptaan, kebergantungan ciptaan kepada Pencipta, kedaulatan Pencipta atas ciptaan, adanya limitasi ciptaan, dll.

Istilah dan konsep creation ex nihilo pertama kali dimunculkan secara eksplisit dan jelas oleh Theophilus of Antioch (c.185) dalam komentarnya terhadap kitab Kejadian, ia mengatakan: “God has created everything out of nothing into being.” Kemudian konsep ini diterima oleh Tertulianus dan Hippolytus namun pada waktu itu belum seluruh gereja menerima pandangan tersebut. Setelah abad ke-4, ketika Agustinus menerima konsep penciptaan dari ketiadaan maka gereja secara universal menerimanya sebagai sifat penciptaan alam semesta. Pandangan ini tidak banyak mengalami perdebatan dan tidak masuk dalam agenda-agenda konsili-konsili gereja dan diterima oleh para pemikir Kristen pada umumnya, seperti Anselmus, Aquinas, Luther, Zwingli dan John Calvin. Bahkan konsep creatio ex nihilo menurut Geisler merupakan pandangan ortodkos dari kelompok theist selain Kristen, yakni Islam dan Yudaisme.

Doktrin creatio ex nihilo berakar dari kata בָּרָא (baca: bara -- verb qal perfect 3rd person mas sing) yang memiliki makna split, divide, cut (dalam bentuk Piel, Yos 17:15, 18), to fashion, bring forth dan create. Alkitab secara konsisten menggunakan kata tersebut hanya kepada perbuatan Allah, tidak pernah menggunakannya kepada manusia. Jadi Alkitab sendiri menyatakan bahwa kata bara unik sebagai karya Allah yang sama sekali berbeda dengan tindakan makhluk ciptaan apapun. Namun kata ini sendiri, secara literal tidak cukup memberikan makna atau nuansa bahwa penciptaan itu bersifat “out of nothing.” Pemahaman “out of nothing” muncul dengan perbandingan dengan 2 Makabe 7:28 yang mengatakan “God made heaven and earth and everything in them out of nonbeing (Vulgata: fecit ex nihilo).” Allah menciptakan segala sesuatu; langit, bumi, laut dan segala isinya (Kel 20:11, Neh 9:6, dll) dari yang tidak ada menjadi ada. Apa yang disebut materi berasal dari ketiadaan, bukan dengan sendirinya tetapi diciptakan menjadi ada oleh Allah. Hanya Allah satu-satunya yang ada sejak dari permulaan yang tidak dicipta oleh siapapun.

Alkitab tidak pernah menjelaskan bahwa ketiadaan (nihilo) adalah source, father atau principle of being. Jadi ketiadaan bukanlah preeksistensi dari alam semesta. Preposisi ex tidak dimengerti sebagai designate (the cause) tetapi exclude. Penyebab dari penciptaan adalah Allah dan ciptaan pada awalnya tidak ada namun menjadi ada oleh karena Allah berkuasa menjadikan. Awal yang tiada (nihil) memberikan natur kepada ciptaan, yakni ciptaan bersifat dependen kepada PenciptaNya. Karena segala keberadaan ciptaan, termasuk manusia, bersandar kepada kuasa Sang Pencipta. Oleh sebab itu doktrin creatio ex nihilo mengajarkan atribut kedaulatan Allah absolut dan kebergantungan mutlak ciptaan kepada Allah. Untuk menegaskan konsep yang penting ini Bavinck menuliskan “if only a single particle were not created out of nothing, God would not be God.” Jadi meskipun istilah creatio ex nihilo tidak tertulis dalam kanon Alkitab, konsep ini merupakan konsep yang tersirat kuat dan sangat mendasar dalam seluruh kerangka iman Kristen.

Implikasi dari konsep creatio ex nihilo adalah Allah berbeda dengan ciptaan secara esensial. Yohanes membedakan dengan tegas antara esensi Allah dengan ciptaan termasuk manusia. Logos adalah subjek penciptaan namun Ia berbeda dengan ciptaanNya. Ciptaan Allah tidak mengandung Allah atau memiliki unsur-unsur tertentu dari natur Allah. Allah sama sekali berbeda dengan ciptaanNya. Creatio ex nihilo (creation out of nothing) tidak sama dengan creation out of God yang dianut oleh Panteisme. Karena Panteisme percaya bahwa segala sesuatu yang ada berasal dari Allah dan segala sesuatu adalah Allah, atau segala sesuatu memiliki unsur Allah.

Apakah Penciptaan hanya dilakukan oleh Pribadi Logos saja?
Bagian Alkitab yang lain memberikan catatan bahwa Allah menciptakan dunia melalui Allah Anak (Maz 33:6; Ams 8:22; Yoh 1:3; 5:17; 1 Kor 8:6; Kol 1:15-17; Ibr 1:3) dan melalui RohNya (Kej 1:2, Maz 33:6, Ayub 26:13; 33:4; Maz 104:30; Yes 40:13, Luk 1:35). Di dalam ayat-ayat ini, Anak dan Roh Kudus tidak dipandang sebagai secondary cause tetapi sebagai Agen-agen yang independen bersama-sama dengan Allah Bapa mengerjakan penciptaan ini. Ketiga Pribadi Allah ini adalah Allah yang Esa. Seluruh pekerjaan penciptaan dikerjakan oleh ketiga Pribadi Allah. Bavinck menggambarkan kerjasama tersebut demikian, “Father is spoken of as the first cause, the Son as the one by whom all things are created, and the Holy Spirit as the immanent cause of life and movement in the universe… The creation proceeds from the Father through the Son in the Spirit so that, in the Spirit and through the Son it may return to the Father.” Pandangan mengenai penciptaan sebagai pekerjaan dari ketiga Pribadi Allah Tritunggal dikembangkan oleh Athanasius dan tiga bapak gereja dari Kapadokia serta Agustinus yang kemudian diterima sebagai pandangan yang ortodoks oleh gereja.


Life and Light
"Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia"
Carson mengatakan “life and light are almost universal religious symbol.” Kemungkinan Yohanes menggunakan kedua terminologi tersebut untuk menyatakan bahwa Logos adalah jawaban atas seluruh pertanyaan sifat keagamaan manusia. Manusia membutuhkan hidup dan terang dan keduanya ada di dalam Kristus. Pada pasal-pasal selanjutnya nanti Yesus (Logos) sendiri mengatakan bahwa Ia adalah terang dunia (8:12; 9:5) dan hidup (11:25; 14:6). Selain sebagai simbol relijius yang universal ‘life’ dan ‘light’ juga terdapat di dalam konsep Taurat dimana keduanya diasosiasikan dengan jewish sources. Sehingga dengan menuliskan ayat 4 ini Yohanes mencoba mengikatkan konsep dan kebutuhan manusia akan hidup dan terang kepada Logos.

Para ahli menghubungkan ayat 4 ini dengan 5:26 “Sebab sama seperti Bapa mempunyai hidup dalam diri-Nya sendiri, demikian juga diberikan-Nya Anak mempunyai hidup dalam diri-Nya sendiri.” Karena itu penjelasan bahwa di dalam Logos ada hidup memiliki pengertian the Word/ Son shares in the life-existing life of God. Hubungan Allah dan Logos menjadi hubungan yang unik yakni Bapa dan Anak, hubungan ini memang tidak dijelaskan pada awal Injil ini namun nanti Yohanes akan menjelaskannya lebih dalam. Leon Morris melihat kalimat “hidup itu adalah terang manusia” dalam hubungan dengan konsep PL yang menyatakan Allah sebagai sumber dari terang dan hidup, misalnya Mazmur 36:9 “Sebab pada-Mu ada sumber hayat, di dalam terang-Mu kami melihat terang.” Pembacaan ayat ini dari perspektif Mazmur hanya menjelaskan bahwa Logos itu sendiri adalah sumber hidup manusia, dan juga terang bagi manusia.

Hidup dan terang tidak memiliki perbedaan makna yang signifikan, sama seperti yang dijelaskan oleh Carson bahwa kedua terminologi tersebut hanya simbol agama yang universal. Pada pasal-pasal selanjutnya konsep Yesus adalah terang akan menjadi sangat jelas. Tetapi pada ayat ini Yohanes hanya menyiapkan jalan dalam pikiran pembaca melalui Injil ini bahwa Yesus adalah life-bringer dan light-bearer.

Kata ‘light’ (terang) pertama kali muncul dalam Kej 1:3 “let there be light.” Allah (Theos/ Elohim) yang dalam konteks Yohanes mengacu pada Pribadi Logos, merupakan pencipta terang dan tentu saja menjadi sumber terang itu sendiri. Jadi alusi-alusi ini menjadi pesan Yohanes untuk mengatakan bahwa Logos adalah Pencipta, sumber hidup dan sumber terang bagi manusia. Dalam keseluruhan Injilnya, Yohanes menggunakan istilah life (hidup) sebanyak 28 kali, dan hampir seluruhnya mengacu kepada Yesus Kristus sebagai sumber kehidupan bagi manusia. Penggunaan kata hidup yang berulang-ulang memberikan suatu tema yang kuat dalam Injil Yohanes mengenai Yesus yang adalah Logos sebagai sumber kehidupan bagi manusia. Bahkan dalam tujuan penulisan Injil ini , Yohanes menuliskan “semuanya itu kutuliskan kepada kamu, supaya kamu yang percaya kepada nama Anak Allah, tahu, bahwa kamu memiliki hidup yang kekal."

Yohanes menegaskan bahwa Logos yang ia perkenalkan dalam Injilnya bukan saja memiliki hidup dalam diriNya tetapi juga berkuasa untuk memberikan kehidupan kepada siapa saja yang Ia kehendaki. Ia menguasai kehidupan itu sepenuhnya dan kehidupan yang Ia miliki bukan hidup yang diberikan kepadaNya tetapi Ia sendiri adalah sumber kehidupan tersebut. Tidak ada yang mampu mengambil kehidupan tersebut dari diriNya. Manusia bisa mati, karena manusia memiliki kehidupan yang sifatnya diberikan, bukan bersumber dari diri sendiri dan suatu waktu hidup itu akan diambil dari manusia. Hidup manusia bisa terhenti karena manusia tidak menguasai dan tidak kuasa untuk menentukan hidupnya sendiri. Hal ini sangat terbukti karena manusia tidak tahu kapan hidupnya berakhir, apakah ia akan mati hari ini atau besok adalah misteri bagi manusia.

Manusia pasti mati, tetapi Logos sanggup membangkitkan manusia dari kematian. Kematian bukanlah hal yang menakutkan bagi Logos, karena kematian tidak mampu menguasai Logos seperti kematian itu menguasai manusia. Maut yang menjadi momok bagi manusia itu takluk di bawah kaki Kristus sehingga Ia sendiri berkuasa untuk membebaskan manusia dari maut. Logos sanggup membangkitkan orang-orang yang mati untuk hidup kembali. Satu kisah penting yang muncul dalam tulisan Yohanes ini adalah catatan sejarah mengenai Yesus, Sang Logos, membangkitkan Lazarus yang sudah meninggal selama 4 hari. Ia membuktikan bahwa Ia sanggup memberikan nafas kehidupan kepada seseorang yang tubuhnya sudah membusuk. Yesus mengembalikan kehidupan Lazarus kembali normal seperti sedia kala. Memang Lazarus akhirnya mati kembali, namun Yesus menjanjikan suatu kebangkitan yang berbeda dengan kebangkitan yang Ia lakukan kepada Lazarus, suatu kebangkitan dari kematian menuju hidup yang tidak akan binasa selama-lamanya yakni hidup yang kekal. Logos adalah sang hidup yang mampu memberikan hidup yang kekal dan tidak seorang pun yang bisa memberikan apa yang Yesus berikan.

Life and Darkness
"Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya"
Dari peristiwa alamiah kita dapat mengerti bahwa fungsi terang adalah melenyapkan kegelapan. Terang dan gelap merupakan thesis dan antithesis, keduanya saling bertolang belakang. Tema peperangan gelap dan terang merupakan tema yang sangat penting dalam Injil Yohanes. Yohanes mengidentikkan kegelapan dengan perbuatan jahat (3:19) dan Yesus adalah terang yang datang bagi manusia tetapi manusia lebih menyukai kegelapan. Kemudian di pasal 8, Yesus mengajak orang banyak untuk mengikut Dia supaya manusia tidak lagi berjalan dalam kegelapan (8:12). Kegelapan membuat manusia kehilangan arah, kegelapan membuat manusia buta sehingga mereka tidak mengetahui apa yang ada disekitar mereka. Manusia dalam kegelapan tidak akan pernah dapat mencapai tujuan mereka. Karena itulah Logos berinkarnasi dan membawa terang itu ke dalam dunia. Keberadaan Yesus dalam dunia berarti dunia sedang diterangi oleh Terang dari Surga (12:35). Perkataan Yesus “walk while you have the Light” merupakan bagian yang memperjelas inkarnasi Sang Logos menjadi manusia.

Sejak ayat 1 sampai 4 (Yoh 1:1-4) Yohanes selalu menggunakan past tense, (In Him was life, and the life was the Light of men) namun pada ayat ini Yohanes menggunakan bentuk present tense (the Light shines). Yesus Kristus, sejak pre-eksistensi, adalah terang bagi manusia karena Dia adalah sumber terang yang sejati, namun pada waktu ia berinkarnasi terang itu hadir secara nyata di dunia, menerangi dunia yang gelap sehingga perbuatan yang jahat itu menjadi terlihat. Karena itulah inkarnasi Logos dalam dunia juga adalah misi untuk membawa terang ke dalam dunia supaya manusia tidak lagi hidup dalam kegelapan. Ayat 5 ini merupakan ayat pertama yang memberikan indikasi bahwa Logos yang ada sejak semula itu berinkarnasi dalam dunia manusia.

Peperangan terang dan gelap bukanlah peperangan 2 kekuatan yang sama kuat. Secara alamiah kita dapat melihat bahwa gelap bukanlah sebuah eksistensi, gelap hanyalah sebuah kondisi ketiadaan terang. Gelap menguasai jika dan hanya jika tidak ada terang. Namun ketika terang muncul kegelapan tidak mempunyai kuasa untuk melawan, kegelapan akan sirna ketika. Oleh karena itu Yohanes juga mengatakan bahwa kuasa kegelapan tidak akan pernah mampu mengalahkan Terang yang turun ke dunia.

DOWNLOAD PDF


Eksposisi Injil Yohanes 1:1-2 --- Logos dan Theos

Oleh: Ridwanta Manogu

"1 Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. 2 Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah."
Bagian ini merupakan salah satu catatan Alkitab yang sangat terkenal mengenai Yesus yang adalah Firman (Logos). Bagian yang singkat ini ditulis oleh Yohanes dalam suatu ketelitian yang luar biasa untuk memberikan makna yang sangat mendalam serta memberikan suatu ketegasan makna dalam teologia Kristen. Sehingga Kristus, fondasi dan inti iman kristen, menjadi kokoh menghadapi serangan para bidat dan liberalisme yang meragukan ke-Allah-an Yesus Kristus.

Catatan: Demi pengkajian yang detil dan teliti maka penulis terpaksa menggunakan bahasa asli dan terjemahan bahasa Inggris karena keterbatasan bahasa Indonesia dalam menjelaskan bagian ini.

Ἐν ἀρχῇ (in the beginning) ἦν (was) ὁ (the) λόγος (Word)
In the beginning (pada mulanya) mengingatkan pembaca Injil ini kepada kalimat pembuka kitab pertama PL., “In the beginning God created the heavens and the earth.” Kata yang digunakan dalam terjemahan LXX (Septuaginta) sama persis dengan yang digunakan oleh Yohanes. Kitab Kejadian menggunakan kata tersebut untuk mengacu kepada penciptaan segala sesuatu, oleh karena itu penggunaan yang sama oleh Yohanes merujuk/ beralusi pada tema yang sama, yakni penciptaan. Perbedaannya adalah Kej. 1:1 menggunakan kata kerja “menciptakan,” setelah in the beginning, yakni suatu karya atau pekerjaan Allah menciptakan langit dan bumi. Sementara itu dalam Injil Yohanes karya penciptaan seperti yang dimaksud oleh Kitab Kejadian baru dijelaskan di ayat 3. Jadi Yohanes sebenarnya menjelaskan makna In the beginning lebih mundur dari pada kitab Kejadian. Ia ingin mengatakan bahwa Ada yang sudah berada (exist) sebelum Allah melakukan pekerjaan penciptaan tersebut, yakni eksistensi Logos. Ἐν ἀρχῇ ἦν (was) ὁ λόγος menerangkan Logos adalah Being yang eksis pada mulanya, sebelum segala ciptaan ada.

Setelah Ἐν ἀρχῇ Yohanes menggunakan kata benda dengan definite article (ὁ λόγος, bukan hanya λόγος). Penggunaan definite article sangat signifikan karena Yohanes ingin menunjukkan bahwa Logos adalah Person. Oleh karena itu kata in the beginning dalam bagian ini mengacu pada "era" sebelum penciptaan ada, sebelum segala sesuatu ada maka Logos telah menjadi awal dari segalanya. Apa yang disebut ada, tidak ada dengan sendirinya tetapi “menjadi ada” karena diciptakan, sementara Logos tidak diciptakan dan Ia ada (exist) dengan sendirinya. Justru Dialah yang membuat apa yang ada menjadi ada. Leon Morris menyimpulkannya “there never was a time when Logos was not, there never was a thing that did not depend on him in its existence.” Siapakah Logos itu menurut kalimat ini? Logos dapat dimengerti dari hubungan tema dalam penggunaan Ἐν ἀρχῇ dalam Yoh 1:1 dan Kej 1:1. Dalam Kej 1:1 Aktor penciptaan adalah Allah (אֱלֹהִים) sementara dalam Yoh 1:3 yang dinyatakan sebagai aktor penciptaan alam semesta adalah Logos. Maka dapat disimpulkan bahwa Logos dalam Yoh 1:1 adalah Allah Pencipta langit dan bumi yang sama dengan Allah di dalam Kej 1.

καὶ (and) ὁ λόγος (the Word) ἦν (was) πρὸς (toward/ fellowship with) τὸν (the) θεόν (God)
Lebih lanjut Sang Logos, dengan definite article, dijelaskan telah mempunyai persekutuan/ bersama-sama (fellowship) bersama dengan Sang Theos (dengan definite article) juga dalam konteks in the beginning.

Sebelumnya telah dijelaskan bahwa Logos dalam Yoh 1:1 adalah אֱלֹהִים (baca: Elohim) pencipta yang dalam terjemahan LXX menggunakan ὁ θεὸς (nominative – subject). Logos (Firman) adalah Theos tetapi sekarang Yohanes mengatakan bahwa Sang Logos atau Sang Firman (The Word) sejak pada mulanya, bersekutu dengan The God (Sang Allah). Apakah Yohanes inkonsisten dengan penjelasan sebelumnya? Disinilah penggunaan definite article menjadi sangat signifikan. Logos, dengan definite article, adalah Pribadi yang eksis sejak kekal dan Theos, dengan definite article, juga adalah Pribadi yang sudah eksis pada waktu Logos eksis. Keduanya sudah eksis sebelum Logos menciptakan segala sesuatu. Jadi The God dan The Word adalah 2 Pribadi yang telah eksis sebelum segala sesuatu ada.

Kata πρὸς secara umum memiliki arti to, toward, with. Namun dalam penggunaannya, kata ini dapat memiliki beberapa arti tergantung pada konteks penggunaannya. Konteks penggunaan kata ini secara umum terbagi menjadi 3 bentuk pemakaian, yaitu
(1). with the genitive to the advantage of, necessary for Ac 27:34.
(2). with the dative near, at, by Mk 5:11; Lk 19:37; John 18:16; 20:11f; around Rv. 1:13.
(3). with the accusative.

Dalam Yoh 1:1 kata πρὸς digunakan dengan accusative (τὸν θεόν), namun penggunaan dengan accusative masih memiliki 7 bentuk pengertian salah satunya adalah dalam menjelaskan relasi. Yohanes secara spesifik dan teliti menempatkan kata πρὸς with the accusative in company untuk menunjukkan bahwa Logos dan Theos eksis bersama-sama sejak pada mulanya dan bukan saja eksis tetapi Logos dan Theos berada dalam suatu persekutuan yang khusus. Hal ini didukung oleh bentuk penggunaan yang sama dalam bagian Alkitab yang lain: Are not His sisters here with us? (Mar 6:3); Every day I was with you (Mar 14:49); at home with the Lord (2 Kor 5:8); wished to keep with me (Fil 13); he eternal life, which was with the Father (1 Yoh 1:2). Karena itu Carson mengatakan πρὸς (baca:pros) may mean ‘with’ only when person is with person, usually in some fairly intimate relationship. And that suggests that John may already be pointing out, rather subtly, that the ‘Word’ he is talking about is a person, with God and therefore distinguishable from God, and enjoying a personal relationship with him.”

καὶ (and) θεὸς (God) ἦν (was) ὁ λόγος (the Word)
Dalam hubungan dengan Kej 1:1 telah disimpulkan bahwa Logos adalah Elohim (teks Ibrani) atau Theos (LXX) yang menciptakan langit dan bumi. Namun dalam Yoh 1:1, Yohanes kembali menegaskan pengertian tersebut secara eksplisit. Bagian ketiga dari kalimat ini menjelaskan bahwa Pribadi Logos adalah Allah. Apa perbedaannya dengan kalimat sebelumnya? Di sini Yohanes tidak menggunakan definite article sehingga Theos bukan mengacu kepada Pribadi Theos melainkan esensi/ substansi Theos. Penjelasan yang detil ini memang tidak terlau jelas terlihat dalam Alkitab terjemahan bahasa Indonesia yang secara struktur bahasa tidak menggunakan definite article.

Melalui teks ini Yohanes ingin mengatakan bahwa The Word ada sejak semua sebelum segala sesuatu ada, Ia bereksistensi sejak dalam kekekalan dan Ia bukan ciptaan. Dalam eksistensi yang kekal tersebut The Word bersama-sama dengan The God dalam persekutuan yang khusus dan kekal. Adanya persekutuan antar The Word dan The God menunjukkan bahwa keduanya berbeda (dapat dibedakan). Tetapi The Word sama dengan The God dalam satu hal yakni ke-Allah-an. The Word dan The God adalah God yang mengacu pada kesamaan esensi, yakni esensi Allah.

οὗτος ((this one/ he) ἦν (was) ἐν ἀρχῇ (in the beginning) πρὸς (toward/ fellowship with) τὸν θεόν (the God)
Ayat 2 ini seperti sebuah pengulangan dari Ayat 1 bagian kedua. Perbedaannya adalah di ayat 2 ada penambahan “in the beginning.” Pengulangan ini dilakukan oleh Yohanes supaya para pembaca sungguh-sungguh mengerti apa yang ia maksudkan pada ayat 1. Alasan lain yang disebutkan para ahli mengenai pengulangan fellowship antara Logos dan Allah adalah eksistensi keduanya adalah in the beginning, namun keduanya tidak beroposisi. Jadi Logos dan Allah bukanlah dewa-dewa yang saling berperang satu dengan lain. Logos dan Allah eksis dan berada dalam persekutuan yang harmonis sejak dari kekekalan.

DOWNLOAD PDF

Bersabar dalam Penderitaan (Yakobus 5:7-11)

Oleh: Ridwanta Manogu

Istilah yang kerap kali muncul dalam perikop ini adalah μακροθυμέω (makrothumeo, have patient). Kata ini (dan variansi deklensinya) muncul sebanyak 4 kali. Kemudian kata yang mempunyai makna serupa juga muncul sebanyak 2 kali dalam perikop ini, yakni ὑπομονή (hupomone, patience, endurance). Kemunculan istilah kesabaran hingga 6 kali dalam 5 ayat ini menunjukkan bahwa Yakobus sangat menekankan tema ini dan ia menuliskannya supaya pembacanya mempraktekkan kesabaran (Davids). Ia melihat hal ini adalah hal yang sangat penting bagi jemaat yang menerima suratnya dan diberikan tekanan dengan repetisi yang cukup banyak.


Perikop ini adalah bagian awal dari narasi penutup surat Yakobus (Davids). Jadi Yakobus menutup suratnya dengan menekankan kembali apa yang telah ia katakan di awal suratnya yakni bertahan dan sabar dalam pergumulan dan berbagai-bagai pencobaan. Menurut para ahli perikop ini tidak bisa dipisahkan dengan perikop sebelumnya (5:1-6) dan harus dipahami sebagai bagian bagian yang utuh. Sehingga masalah penderitaan yang dimaksudkan di sini berhubungan dengan kejahatan yang dilakukan oleh orang-orang kaya.

7 Karena itu bersabarlah saudara-saudara sampai kedatangan Tuhan (the coming of the Lord). Lihat! Seorang petani menantikan buah yang berharga dari tanah, bersabar terhadap hal tersebut, sampai ia menerima hujan awal dan hujan akhir. 8 Kamu juga harus bersabar dan teguhkanlah hatimu, karena kedatangan Tuhan sudah dekat!
Yakobus meresponi pergumulan penderitaan jemaat dengan menyatakan adanya present judgment terhadap orang-orang kaya. Kesimpulan ini diperoleh dengan menghubungkannya dengan perikop sebelumnya yang menyatakan bahwa penghakiman terhadap orang-orang kaya sudah dimulai. Jadi penghukuman atas mereka adalah suatu bentuk pertolongan Tuhan bagi mereka yang sedang dalam pergumulan bahwa Allah tidak meninggalkan mereka. Namun demikian para pembaca harus terus bertekun dalam kesabaran menghadapi semua penderitaan tersebut. Sebab kesabaran, pada awal surat ini, diindikasikan sebagai kebajikan yang dihasilkan dari berbagai-bagai pencobaan (1:2-4, 12). Sehingga hanya dengan tetap bertahan dalam penderitaanlah mereka bisa menghasilkan kebajikan.

Sampai kapan mereka harus bersabar menghapi penderitaan dan pencobaan? Sampai hari kedatangan Tuhan (atau sampai mereka dipanggil Tuhan). Kedatangan Tuhan mengandung pengharapan. Pengharapan di mana seluruh pergumulan dan penderitaan akan selesai dan mereka akan merima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah bagi mereka yang tahan uji (Yak. 1:12).Masalahnya menunggu hari kedatangan Tuhan adalah sebuah proses yang panjang (2 Petrus 3), bahkan waktu tersebut tidak terprediksi karena hari Tuhan datang seperti pencuri pada waktu malam (1 Tes. 5:2, 2 Pet. 3:10). Oleh karena itu Yakobus perlu memberikan pembacanya teladan kesabaran dari kehidupan sehari-hari.

Nama Yesus (atau Kristus, atau Yesus Kristus) hanya muncul dalam 2 ayat pertama kemudian tidak pernah muncul lagi dalam keseluruhan surat Yakobus. Meskipun Yakobus menggunakan nama itu sangat minim tetapi istilah kedatangan Tuhan yang dimaksud olehnya mengacu pada kedatangan Kristus.

ἰδοὺ (behold!, lihat!) merupakan kata yang cukup sering digunakan oleh penulis PB untuk menekankan sesuatu dan mengajak para pembaca konsentrasi pada suatu hal. Di sini Yakobus mengajak jemaat untuk memperhatikan kehidupan petani dan belajar dari kesabaran yang mereka miliki ketika mereka menanam dan menantikan hasilnya. Petani yang dimaksud bukanlah pekerja bayaran yang bekerja untuk sebuah pertanian, melainkan petani kecil yang memiliki tanah pertanian yang tidak terlalu besar. Petani kecil biasanya menanam tanamannya dengan hati-hati dan penuh pengharapan untuk panen. Kehidupan keluarga seorang petani sangat tergantung pada hasil panen. Jadi petani selalu mengharapkan (wait for, expect) suatu masa depan yang sesuai harapan. Ia adalah orang yang sangat mengerti betapa berharganya hasil panen tersebut sehingga ia perlu melatih kesabarannya apapun yang terjadi. Ia sabar menunggu dengan mata pengharapan bahwa suatu waktu akan datang masa panen. Penantian tersebut akan terus berlangsung hingga hujan awal dan hujan akhir.

Baik hujan awal (Oktober-November atau Desember-Januari) maupun hujan akhir (Maret-April) sangat diperlukan untuk pertumbuhan tanaman. Kondisi petani yang seperti ini unik hanya terjadi di daerah ujung timur Mediterania. Sebagian ahli (Dibelius, Marshall, Hukum) mengklaim bahwa hal ini hanyalah sebuah gambaran tradisional yang dicatat oleh penulis secara sepintas karena Kel. 11:14 (… Ia akan memberikan… hujan awal dan hujan akhir) yang merupakan bagian dari Shema yang dibaca setiap hari oleh orang Yahudi. Namun sebagian ahli yang lain (Hadidian, Kittel, Mayor, Adamson dan Oesterley) berpendapat bahwa hujan awal dan akhir mengacu pada situasi daerah Palestina. Argumen-argumen yang mendukung pandangan kedua ini adalah: (1) elipsis dari ὑετὸν (“hueton” – hujan, dalam Yak. 5:18) lebih memungkinkan sebagai gaya bahasa daerah Yakobus (bnd. 3:11) daripada dihubungkan dengan kitab suci, shema; (2) tidak ada bukti dalam literatur para rabi dan literature Yahudi lainnya serta para Bapa Apostolik atau apologis awal bahwa gambaran ini digunakan di luar Palestina atau dalam tradisi Kristen; (3) tema-tema ayat-ayat yang dikutip tidak cocok dengan tema kesabaran dalam Yakobus; dan (4) konteks keseluruhan ini dan di 5:1-6 sesuai dengan situasi pertanian di Palestina sebelum 70 M. Jadi yang terbaik adalah dengan melihat teks ini sebagai gambaran alamiah dari seorang penulis yang familiar dengan pergumulan dan kesabaran para petani menantikan hujan bagi tanaman mereka.

Pesan menanti dan sabar mengandung nuansa tetap bekerja. Jadi selama para petani tersebut menunggu mereka tetap bekerja dan mengolah tanah. Oleh sebab itu kesabaran dalam pergumulan bukanlah suatu tindakan yang pasif tetapi juga aktif. Mereka tidak hanya berdiam tetapi juga terus mengerjakan apa yang menjadi bagian mereka. Selama Tuhan belum datang maka mereka masih harus bekerja. Sebab pada bagian lain, Paulus menegur jemaat Tesalonika yang menjadi pasif karena kekeliruan memahami konsep kedatangan Tuhan yang sudah dekat, akibatnya mereka menjadi pasif dan tidak bekerja (2 Tes. 3:10-11).

Analogi kesabaran tentang petani sudah selesai. Yakobus kemudian mengulang kalimat imperatif pada ayat sebelumnya “kamu juga harus bersabar,” sebab para petani telah memberikan teladan kesabaran dalam pengharapan akan datangnya hujan bagi tanamannya sehingga para pembaca Yakobus juga akan bersabar sampai kedatangan Tuhan.

Pernyataan “kedatangan Tuhan” memberikan nuansa bahwa generasi mereka mungkin saja adalah generasi yang terakhir karena kedarangan Tuhan memang sudah sangat dekat. Namun “waktu yang singkat” itu bukanlah penekanan Yakobus dalam suratnya, sebab tidak seorang pun yang tahu kapan Tuhan akan datang. Sehingga yang terpenting adalah bagaimana sikap mereka dalam menantikan kedatangan Tuhan yang semakin mendekat tersebut. Sehingga inti dari pernyataan ini adalah Yakobus mengajak jemaat untuk hidup dalam pengharapan akan Tuhan dan menantikannya dengan setia dan sabar meskipun harus menghadapi penderitaan.

9 Saudara-saudara, janganlah kamu bersungut-sungut dan saling mempersalahkan, supaya kamu jangan dihukum. Lihat! Hakim telah berdiri di ambang pintu.
Di dalam ayat ini kesabaran dipraktekkan dalam bentuk “tidak bersungut-sungut saling mempersalahkan/ κατ ἀλλήων.” Dalam teks LXX (PL dalam bahasa Yunani), istilah κατ ἀλλήων adalah ekspresi yang sering digunakan oleh Ayub, Yesaya, dan Yehezkiel. Pada dasarnya dalam penderitaan orang percaya masih diberikan ruang untuk mengadu atau “berkeluh kesah” kepada Tuhan seperti yang sering dilakukan oleh para pemazmur. Namun di sini Yakobus melarang mereka untuk bersungut-sungut dan saling menghakimi satu dengan yang lain. Karena sikap demikian justru akan cenderung menghancurkan dari pada membangun. Alasan mengapa perintah ini sangat penting adalah “hakim telah berdiri di depan pintu.” Ide ini diperkenalkan oleh kata ἰδού (“idou”/ behold!), yakni sebuah partikel yang lebih kuat dari γάρ (“gar”/ for) untuk menarik perhatian, meskipun bila diperhatikan dalam pasal ini penulis tidak menggunakan kata γάρ dan ada kemungkinan hal ini ada preferensi gaya penulisan Yakobus.

Seperti yang sudah disebutkan di atas, penderitaan dan pergumulan jemaat muncul oleh karena penindasan dari pihak orang-orang kaya namun peringatan Yakobus kepada mereka adalah “jangan mengeluh” dan “jangan saling menyalahkan.” Sepertinya Yakobus mengingatkan bahwa orang-orang kaya, meskipun kerapkali menindas dan mengakibatkan penderitaan bagi orang-orang miskin, tetaplah saudara di dalam Kristus (Nystrom). Kebencian yang muncul di antara mereka tidak boleh membuat mereka menghakimi satu dengan yang lain. Hanya ada Satu Hakim, yakni Kristus. Dia adalah satu-satunya yang memiliki hak untuk menghakimi dan memberika hukuman. Manusia memiliki distorsi yang sangat besar untuk menjadi hakim atas sesamanya. Karena itu jemaat harus menyadari bahwa Sang Hakim telah berdiri di depan pintu dan siap menghakimi, mereka harus melepaskannya dan memberikan penghakiman kepada Dia. Pada pasal sebelumnya Yakobus juga menyebutkan istilah hakim dan mengatakan hanya ada satu hakim dan Ia adalah pembuat hukum dan Pribadi yang berkuasa untuk menyelamatkan dan membinasakan (Yak. 4:12). Hakim itu akan membela mereka yang benar dan ia juga akan memberikan penghakiman atas mereka yang bersalah terhadap hukumNya.

10 Saudara-saudara, turutilah teladan penderitaan dan kesabaran para nabi yang telah berbicara demi nama Tuhan.
Yakobus memberikan suatu teladan yang kerapkali muncul dalam kitab suci mengenai ketekunan dalam penderitaan. Hampir seluruh nabi Tuhan yang melayani Tuhan dan memberitakan firmanNya menghadapi pergumulan dan penderitaan yang hebat. Mereka semua berjuang, bertahan dan bersabar dalam penderitaan selama mereka melakukan panggilan Allah dalam hidup mereka. Yakobus menuliskan “nabi yang telah berbicara demi nama Tuhan,” untuk menegaskan bahwa penderitaan yang mereka alami bukanlah akibat kesalahan mereka sendiri. Penderitaan tersebut muncul dalam tugas yang berasal dari Tuhan.

Memberikan contoh dan kebajikan dari teladan seseorang adalah salah cara argumentasi yang penting pada masa kuno, sehingga Yakobus tidak mengabaikan memberikan contoh-contoh kesabaran yang telah dimanifestasikan oleh para nabi. Dalam khotbah di bukit Yesus juga menggunakan contoh penderitaan para nabi sebagai contoh (Matt. 5:10–12). Sebab sama seperti para nabi yang dianiaya dalam pelayanan mereka, jemaat pembaca surat Yakobus juga berada dalam kehendak Allah meskipun menderita. Penderitaan pada dirinya sendiri bukanlah buah dari dosa dan ketidaksetiaan, sehingga mereka yang berada dalam pergumulan dan penderitaan belum tentu karena mereka tidak setia kepada Allah. Justru sebaliknya, Paulus menyatakan “setiap orang yang mau hidup beribadah di dalam Kristus Yesus akan menderita aniaya” (2 Tim. 3:12).

Apa keteladanan yang diberikan oleh para nabi dalam penderitaan mereka? Keteladanan tersebut mendorong mereka untuk mengingatkan bahwa Tuhan peduli ketika mereka menghadapi penderitaan karena Allah. Elia menyampaikan pesan Tuhan bahwa hujan tidak akan turun selam 3 tahun namun Allah memeliharanya di tepi sungai kerit melalui burung gagak Kemudian pada waktuNya, Allah memberikan kemenangan kepada Elia atas nabi-nabi Baal. Memang ada sebagian para nabi yang tidak mendapatkan “pertolongan” Tuhan pada waktu itu sehingga mereka mati namun Allah tetaplah Allah yang peduli yang akan memberikan mereka upah atas apa yang mereka lakukan bagi Allah. Sehingga meskipun pada saat ini, pembaca Yakobus mengalami pergumulan Allah akan memberikan perolongan pada waktuNya. Meskipun seolah-olah Allah tidak menolong mereka harus tetap setia sebab seperti para nabi yang sabar menderita bagi Tuhan hendaklah mereka juga melakukan hal yang demikian.

11 Sesungguhnya kami menyebut mereka berbahagia, yaitu mereka yang telah bertekun; kamu telah mendengar tentang ketekunan Ayub dan kamu telah tahu apa yang pada akhirnya (τέλος) disediakan Tuhan baginya, karena Tuhan maha penyayang dan penuh belas kasihan.
Ayub, salah satu tokoh kitab suci yang disebutkan Yakobus sebagai teladan ketekunan menimbulkan kebingungan kepada para ahli sebagai contoh orang yang sabar dalam penderitaan sebab Ayub memiliki banyak catatan kepahitan kepada Allah (7:11–16; 10:18; 23:2; 30:20–23). Sebagian para ahli berpendapat latar belakang penulisan Yakobus mengenai Ayub ini adalah dengan memperkirakan bahwa Yakobus menarik kesimpulan dari catatan kitab apokrifa The Testament of Job yang menggambarkan Ayub yang sabar dalam penderitaan sementara isterinya mengeluh kepadanya dan Allah. Namun hipotesa terhadap latar belakang pemikiran Yakobus tentang Ayub ini terlalu dangkal dan kitab kanon jauh lebih berotoritas dari pada apokrifa. Catatan tentang Ayub, dalam kitab kanon, yang bergumul dan berkeluh kesah kepada Allah sebenarnya tidak menunjukkan Ayub yang buruk atau gagal dalam kesabaran.Keluhan yang keluar dari mulut Ayub sama dengan keluhan para pemazmur sehingga ucapan-ucapan Ayub terhadap penderitaannya adalah buah dari pergumulan imannya kepada Allah, bukan keluhan dan tangisan orang yang kehilangan iman. Sehingga pada bagian akhir kitab Ayub Allah akhirnya memulihkan keadaan Ayub baik kesehatan, keluarga maupun harta bendanya. Sebab kepada teman-teman Ayub Allah berkata “sebab kamu tidak berkata benar tentang Aku seperti hamba-Ku Ayub” (Ayub 42:8).

Pembaca Yakobus telah mendengar (ἠκούσατε) ketabahan Ayub dan telah melihat (εἴδετε) bahwa Tuhan pada akhirnya memberikan upah bagi mereka yang tahan uji. . Beberapa penafsir memahami τέλος sebagai “hasil” atau “output,” sehingga setelah bertekun dalam penderitaannya ia memperoleh hasil atau buahnya, yakni semuanya dikembalikan oleh Tuhan (Ayub 42:12-17). Sehingga hal ini menunjukkan bahwa berkat adalah janji bagi semua orang yang dapat bertahan sampai akhir dan mereka akan menerma berkat itu sebelum pergumulan itu berakhir. Pandangan ini jelas menentang anggapan yang berkata bahwa upah dari Allah selalu diterima pada waktu orang tersebut sudah meninggal atau sampai Tuhan datang kembali. Dalam kedaulatanNya, Allah mampu memberkati mereka selama mereka masih di dalam dunia ini. Namun Yakobus tidak sedang mempersempit makna berkat hanya pada aspek materi saja, meskipun dalam konteks Ayub, Allah memulihkannya secara material.

Bertahan dalam pencobaan pada dirinya sendiri adalah berkat dari pada Tuhan. Jadi orang Kristen yang bergumul dalam penderitaan tidak boleh hanya memiliki pengharapan akan sesuatu yang akan diterima diakhir tetapi juga melihat bahwa penderitaan itu sendiri menghasilkan ketekunan dan kedewasaan. Tetapi sebaliknya orang Kristen tidak boleh juga mengabaikan apa yang Allah janjikan bagi mereka yang teguh berdiri hingga akhir. Sebab penggunaan bentuk ὑπομένειν (kesabaran, - aorist participle) menunjukkan bahwa atribut berkat hanya berlaku bagi orang-orang yang ada di masa lalu sebagai rujukan kepada mereka yang berdiri teguh hingga akhir. Pikiran ini menyiratkan bahwa hal ini adalah berkat khusus dari Allah tertunda bagi mereka yang masih hidup. Hanya mereka yang telah bertahan sampai akhir bisa disebut “berbahagia.”Sehingga para nabi yang telah meninggal, termasuk Ayub, dan orang- orang Kristen yang setia di masa lalu harus disebut sebagai “orang yang berbahagia/ diberkati.” Secara sederhana Yakobus ingin mengatakan “mereka yang bertekun sampai akhir tidak akan kehilangan upah mereka,” dan Allah telah membuktikannya kepada para nabiNya dan Ayub.

Artikel mengenai Ayub klik di sini


Bibliography

  • Davids, P. H., NIGTC: James. Grand Rapids: Eerdmans, 1982.
  • Nystrom, David P. NIVAC, NT: James. Grand Rapids: Zondervan, 1997.
  • Keener, C. S., The IVP Bible background commentary : New Testament. Downers Grove, Ill.: InterVarsity Press, 1993
  • Wiersbe, W. W., The Bible Exposition Commentary. Wheaton, Ill.: Victor Books, 1989.
  • Martin, R. P., WBC: James. Dallas: Word, 2002.


The Epistle of James (New International Commentary on the New Testament)  The NIV Application Commentary: James  The IVP Bible Background Commentary: New Testament  Word Biblical Commentary Vol. 36, John (revised), (beasley-murray)

Hamba yang tidak mau mengampuni (Matius 18:21-35)

Oleh: Ridwanta Manogu

Dalam tradisi Yahudi suatu kesalahan yang sama hanya bisa diampuni sebanyak 3 kali. Tradisi ini berakar dari perkataan Rabi Yoma yang mengatakan: “if a man commits a transgression, the first, second and third time he is forgiven, the fourth time he is not forgiven.” (jika seseorang melakukan sebuah pelanggaran hukum, untuk yang pertama kali, kedua dan ketiga, dia akan diampuni, tetapi pelanggaran yang keempat kali ia tidak akan diampuni lagi). Petrus mencoba untuk menunjukkan suatu sikap yang lebih baik dari pada para Rabi Yahudi menggandakan jumlah pengampunan itu dari 3 menjadi 7 kali kemudian menanyakannya kepada Yesus, apakah cukup sampai 7 kali? Tuhan Yesus tidak melihat pengampunan seperti para rabi atau Petrus melihat.



Pengampunan bukan masalah berapa kali akan mengampuni, oleh karena itu Yesus memberikan jawaban yang berbeda: “bukan 7 kali” melainkan “tujuh puluh tujuh kali” atau beberapa penafsir menerjemahkan “tujuh puluh kali tujuh kali.” Bagi Yesus pengampunan berarti sikap sepenuh hati dan konstan. Perkalian yang diungkapkan Yesus bukan menunjuk pada jumlah perkalian angka-angka tertentu karena Yesus sedang tidak berbicara mengenai berapa kali orang percaya harus mengampuni. Yesus sedang berbicara tentang pengampunan yang terus menerus harus dilakukan oleh orang-orang percaya. Yesus sedang menekankan bahwa pengampunan orang percaya bersifat tidak terbatas atau dengan kata lain hidup mengampuni adalah gaya hidup murid-murid Kristus.


Pertanyaan penting yang perlu diajukan berkaitan dengan hal ini adalah: “apakah mungkin manusia mengampuni kesalahan orang lain secara tidak terbatas dan terus menerus?” Sebelum menjawab pertanyaan ini kita perlu kembali kepada pertanyaan Petrus. Pada waktu itu Petrus sedang memberikan contoh mengenai berapa kali ia harus mengampuni saudaranya (Petrus menyebutnya “my brother”) yang berdosa melawan dia. Hal ini merupakan kesalahan yang sangat serius dan mungkin sangat menyakitkan. Karena disakiti oleh orang yang lebih dekat atau dikasihi akan terasa jauh lebih sakit dari pada dilakukan oleh orang lain yang tidak terlalu dikasihi. Tetapi Yesus mengatakan bahwa murid-murid harus mengampuni bukan sampai 7 kali tetapi tidak terbatas. Pengampunan hingga tidak terbatas sepertinya suatu gambaran yang terlalu ideal dan ada di awan-awan sehingga sangat sulit untuk dipercaya terjadi secara faktual. Namun Yesus sendiri yang membantah perkataan Petrus, bukan 7 kali tetapi tidak terbatas. Realitanya memang tidak mudah menemukan pengampuanan yang tidak terbatas seperti ini. Tetapi jika Yesus yang mengatakannya dan menekankan hal ini kepada murid-murid maka hal ini merupakan kerinduan Kristus kepada murid-muridNya berkaitan dengan pengampuan. Oleh sebab itu Yesus memulai perumpamaanNya dengan mengatakan bahwa semuanya ini merupakan hal kerajaan Surga.

Pengampunan dan Analogi Hutang
Perumpamaan yang Yesus gunakan sangat ekstrim (hiperbola), jumlah 10.000 talenta adalah uang yang terlalu banyak jumlahnya. Sebagai perbandingan, Josephus, sejarawan Yahudi mencatat bahwa pada waktu itu Palestina memberikan pajak sebesar 8000 talenta. Ia juga mengatakan Raja Antipas menerima 200 talenta sebagai pajak dari daerah Perea dan Galilea dan Archelaus menerima 600 talenta sebagai pajak di daerah kekuasannya. Jadi jika dibandingkan dengan jumlah pajak atau upeti pada masa itu maka berhutang sejumlah 10.000 talenta merupakan jumlah yang sangat-sangat besar dan mustahil. Mendengar angka tersebut kemungkinan besar orang-orang yang mendengar perumpamaan Yesus tertawa karena hal tersebut terlalu ekstrim, tetapi justru pada angka yang terlalu ekstrim itulah Yesus memberikan pesan yang kuat dalam perumpamaan ini. Bagi orang yang mendengarkan perumpamaan ini, hamba tersebut adalah hamba yang bodoh bisa memiliki hutang sedemikian besar dan raja tersebut adalah raja yang bodoh karena melepaskan hamba itu begitu saja dengan jumlah angka yang terlalu besar untuk diampuni begitu saja. Perintah sang raja untuk menjadikan isteri dan anak-anak hamba tersebut menjadi budak merupakan sebuah ekspresi dari kemarahannya karena hambanya telah berhutang terlalu banyak tetapi tidak sanggup membayarnya. Jika hamba itu harus bekerja menjadi budak maka hutang tersebut baru akan terbayar selama 250.000 tahun. Jika saja ia harus bekerja, isterinya harus bekerja, dan ia mempunyai 3 anak yang bisa bekerja maka mereka berlima akan bekerja selama 50.000 tahun barulah hutang itu terlunasi, dan tentu saja hal ini mustahil. Meresponi kasus ini Yesus mengatakan bahwa raja itu berbelas kasihan kepada hambanya itu setelah ia memohon pengampunan. Raja itu memiliki belas kasihan dan membebaskannya dari segala hutang yang melilitnya, semuanya dibebaskan sehingga ia sama sekali tidak berhutang kepada raja itu.

Melalui perumpaman bagian pertama ini Yesus ingin mengajarkan bahwa pengampunan merupakan hal yang sangat penting dalam dunia yang berdosa dimana seluruh umat manusia adalah manusia yang berdosa dan sesungguhnya semua manusia membutuhkan pengampunan akan dosa dan orang-orang yang ada disekeliling orang percaya adalah orang-orang yang akan terus menerus berbuat dosa sehingga murid-murid Kristus perlu memanifestasikan pengampunan terhadap mereka semua.

Menurut seorang teolog (Leon Morris) hamba yang dimaksud dalam bagian ini bukanlah budak melainkan salah seorang pejabat tinggi yang dipercayakan jumlah uang yang sangat banyak namun gagal mengelolanya sehingga raja tersebut melakukan perhitungan dengannya. Uang raja atau tuannya itu harus ia pertanggungjawabkan dan ia disebut berhutang kepada tuannya itu. Jadi yang dituntut oleh si raja untuk dibayar adalah apa yang menjadi miliknya dan si hamba dianggap bersalah karena telah menggunakannya/ memakainya dan ia wajib mengembalikannya. Analogi hubungan hutang-piutang seperti inilah yang disebut Yesus sebagai tuntutan mengampuni. Dosa atau kesalahan diperhitungkan sebagai hutang. Jika kita bersalah kepada seseorang maka kita berhutang kepadanya dan hutang membuat hubungan menjadi tidak lagi sejajar melainkan menjadi “raja” dan “hamba.” Si penghutang menjadi hamba dan si pemiutang menjadi raja. Hal ini cukup jelas dalam perumpamaan ini. Pada waktu teman si hamba yang berhutang 10.000 talenta itu memaksa temannya membayar hutangnya yang hanya 100 dinar itu, temannya itu memohon belas kasihan dan mengucapkan permohonan yang sama persis dengan permohonan si hamba yang pertama kepada raja: “sabarlah dahulu, hutangku itu akan kulunaskan.” Padahal mereka berdua sama-sama hamba yang bekerja kepada tuan yang sama, secara status tidak ada yang lebih tinggi dan berhak memperlakukan yang lain dengan kasar seolah-olah dirinya adalah tuan. Hutang yang ada di antara mereka telah membuat hubungan itu menjadi bertingkat.

Mengampuni karena telah Diampuni
Sang raja terpaksa memerintahkan untuk menjual si hamba beserta isteri dan anak-anaknya karena ia tidak bisa membayar lunas hutang-hutangnya, meskipun menjual ia beserta seluruh keluarganya menjadi budak tidak akan mampu melunaskan hutang-hutangnya namun setidaknya, hal itu bisa membayar sebagian dari hutang-hutang itu. Seperti yang sudah dijelaskan di atas jikalau saja ia beserta keluarganya (misalnya berjumlah 5 orang) bekerja maka hutangnya baru terbayar 50.000 tahun kemudian. Sebenarnya tidak ada satu bentuk usaha apapun yang dapat dilakukan oleh si hamba ini untuk dapat membayar hutangnya. Namun ketika sang raja memerintahkan untuk menjual ia dan keluarganya menjadi budak, ia sujud menyembah (proskuneo) kepada sang raja sambil memohon kesabaran sang raja dan mengatakan bahwa ia akan membayar seluruh hutang-hutangnya. Permohonan sang hamba merupakan hal yang tidak masuk akal, meskipun ia sujud menyembah dan memohon kesabaran sang raja, hutang itu mustahil dan tidak akan pernah sanggup ia bayar sampai kapanpun selama ia hidup. Tetapi ia tetap berani mengatakan bahwa ia akan membayar seluruh hutang tersebut dan meminta sang raja untuk sabar, mengulur waktu lebih panjang baginya (have patience!). Di ayat 27 Yesus menceritakan bahwa sang raja tergerak oleh belas kasihan kepada hambanya itu kemudian ia menghapuskan hutang hambanya itu sehingga hamba itu tidak perlu menjadi budak atau membayar sepeserpun dari hutang-hutang itu semuanya dianggap lunas. Hutang sebesar 10.000 talenta itu ditiadakan.

Setelah menerima pengampunan yang tidak terkira besarnya, hamba itu bertemu dengan hamba yang lain dan berhutang kepadanya sebesar 100 dinar. Angka ini sebenarnya tergolong besar, yakni sama dengan gaji kerja 100 hari, namun jika dibandingkan dengan hutangnya kepada raja sangat jauh sekali perbedaannya (sebagai perbandingan 1 talenta = 6000 dinar). Ia memaksa temannya itu untuk membayar hutang itu sambil mencekiknya. Apa respon temannya yang berhutang itu? Ia mengatakan kalimat yang persis dengan apa yang telah diucapkan oleh hamba yang berhutang 10.000 talenta: “sabarlah dahulu, hutangku itu akan kulunaskan” (ayat 29). Perbedaan kalimat itu (ayat 29) dengan ayat 26 adalah tidak ada kata “seluruh/ semua.” Jika saja ia mau bersabar dan memberi waktu lebih lagi, temannya itu kemungkinan besar bisa membayar. Sementara ia yang tidak mungkin membayar saja mengucapkan kalimat yang sama persis. Namun ia tidak mau mendengar permohonan temannya itu sehingga ia memasukkannya ke dalam penjara.

Kesimpulan singkat tentang hamba ini, ia adalah hamba yang jahat dan tidak mengenal belas kasihan. Ia diampuni 10.000 talenta yang tidak mungkin ia bayar bagaimanapun cara dan usahanya tetapi ia tidak mau bersabar kepada temannya yang sebenarnya masih mungkin sanggup membayar hutangnya. Ia tidak memiliki belas kasihan, ia tidak mengerti bahwa ia telah diampuni begitu besar dan tidak terbatas. Ketika sang raja yang telah memberikan pengampunan 10.000 talenta itu mendengar perbuatan hambanya itu ia menyebut hamba itu jahat. Dalam pandangan si raja seharusnya ia mengampuni sebagaimana raja itu telah mengampuninya. Tidak mengampuni dipandang sebagai ketidakadilan oleh sang raja, karena ia sebenarnya telah memberikan pengampunan yang tidak terbatas dan tak mungkin terbayar tetapi hamba tersebut tidak rela memberikan pengampunan terhadap hutang yang tidak seberapa. Jumlah hutang hamba yang tidak mengampuni digambarkan teramat sangat besar untuk menunjukkan bahwa tidak mungkin ada orang yang lebih besar dari pada hutang itu, tetapi hutang itu dihapuskan dan raja itu menuntut hanya melakukan hal yang sama.

Orang-orang percaya adalah kelompok orang-orang yang telah ditebus dari dosa dan upah dosa adalah maut (kematian kekal). Apakah ada tindakan manusia yang dapat menebus dosanya atau sanggup menyelamatkan dirinya dari hukuman kekal? TIDAK! Tetapi Kristus melakukan penebusan dan pembayaran hutang itu dengan nyawaNya supaya orang-orang percaya tidak dihukum melainkan memperoleh hidup yang kekal. Oleh karena itu kelompok orang yang ditebus adalah kelompok orang yang seharusnya mewartakan, memberitakan, menyaksikan pengampunan Allah yang tidak terbatas pada dirinya dengan mengampuni orang yang bersalah kepada mereka. Sehingga murid-murid atau gereja Tuhan menjadi cahaya dan saluran pengampunan Allah kepada dunia yang telah jatuh dalam dosa.

Perumpamaan tentang 2 orang anak & penggarap kebun anggur (Matius 21:28-46)

Oleh: Ridwanta Manogu

Perumpamaan tentang dua orang anak (21:28-32) dan penggarap kebun anggur (21:22-46) merupakan dua perumpamaan yang Yesus sampaikan ketika ia mengajar di Bait Allah. Pada waktu itu Ia berdialog dengan imam-imam kepala serta tua-tua bangsa Yahudi (21:23-27) dan mereka menanyakan dengan kuasa siapa/ manakah Yesus melakukan mujizat dan berbagai tindakan yang Ia lakukan? Namun Yesus tidak menjawab pertanyaan itu, justru Ia balik mengajukan pertanyaan kepada mereka, “dari manakah asalnya baptisan Yohanes dari Surga atau dari manusia?” Imam-imam kepala dan tua-tua Yahudi yang licik itu tidak mampu memberikan jawaban karena mereka ingin mencari aman. Mereka takut mengakui bahwa baptisan Yohanes berasal dari manusia karena akan dihakimi masa di sisi yang lain mereka tidak berani mengatakan bahwa baptisan itu berasal dari surga sebab mereka sendiri menolak Yohanes Pembaptis.



Kelompok kaum agamawan ini sebenarnya tidak peduli dengan kehendak Tuhan, mereka tidak memikirkan apa yang Allah kehendaki bagi mereka. Mereka hanya memikirkan kepentingan diri mereka sendiri. Para pemuka agama Yahudi ini membangun kebenaran mereka sendiri sehingga mereka tidak takluk pada kebenaran Allah (Rom. 10:3). Keagamaan bangsa Yahudi yang dipimpin oleh imam-imam yang seperti ini merupakan agama yang berkutat dan berpusat pada hukum manusia dan bukan kepada Allah. Agama hanyalah legalitas hukum yang cenderung munafik. Mereka mengakui Allah tetapi bukan Allah yang ada di dalam kitab suci, walaupun Allah tersebut kerap kali disebut sebagai Allah yang dimaksud, namun mereka “menciptakan” allah lain, yang lebih sesuai dengan keinginan mereka. Alhasil, meskipun Allah telah berbicara kepada mereka berkali-kali melalui para nabinya bangsa ini tetap menolak Allah, karena Allah yang diberitakan dan dihadirkan oleh para nabi tersebut tidak sesuai apa yang mereka harapkan selama ini.

Dalam kasus perbincangan para imam kepala dengan Yesus, jawaban mereka kepada Allah tidak didasarkan kepada kebenaran Allah yang berada dalam kitab suci. Mereka tidak menyukai Yohanes yang lantang berbicara tentang dosa dan kesalahan secara terang-terangan. Yohanes Pembaptis menelanjangi dosa-dosa kemunafikan kelompok agamawan. Namun orang banyak mengakuinya sebagai nabi Allah dan rakyat Israel datang kepadanya untuk dibaptis. Selama Yohanes Pembaptis melayani, ia telah membuat kesan yang mendalam pada sebagian besar orang-orang Yahdui. Tidak satu nabi pun yang muncul di Israel selama berabad-abad, dan Yohanes telah datang dalam tradisi nabi-nabi kuno, memanggil semua orang kembali untuk bertobat dan mencari pengampunan dari segala dosa mereka. Banyak orang yang meresponi panggilan pertobatan Yohanes bahkan orang-orang yang tidak mengikuti perkaataan Yohanes pun yakin bahwa ia adalah seorang nabi. Berhubung tidak ada posisi yang aman dalam hal ini maka mereka memutuskan untuk mengambil posisi tidak menjawab. Posisi tersebut lahir dari jiwa-jiwa yang insecure dan tidak peduli dengan kebenaran.

Kepada sesuatu yang mereka dan orang banyak tahu adalah benar, mereka tidak mau mengakuinya sebagai kebenaran. Jelas di sini terlihat suatu kebebalan hati oleh karena dosa telah menguasai kelompok agamawan ini. Mereka memanggku jabatan-jabatan suci tetapi hidup mereka tidak suci. Mereka membuat keputusan-keputusan penting bagi pekerjaan Tuhan tetapi hidup sebagi musuh-musuh Tuhan. Hal ini sangat perlu untuk diwaspadai, karena orang-orang Farisi yang bebal ini adalah orang-orang yang juga buta. Mereka tidak mampu melihat kesalahan fatal yang ada dalam diri mereka. Sebaliknya dengan liciknya mereka menggunakan jabatan-jabatan agamawi mereka untuk meloloskan tujuan mereka melenyakkan Yesus, membunuh Anak Allah yang selalu membongkar dosa-dosa mereka. Dalam konteks demikianlah perumpamaan-perumpaan ini Yesus sampaikan.

PERUMPAMAAN TENTANG 2 ORANG ANAK

Perumpamaan ini adalah unik tulisan Matius, Injil-injil yang lain tidak menuliskan perumpamaan ini. Yesus menyampaikan ilustrasi ini untuk menyatakan betapa pentingnya berbuat apa yang baik dari pada sekedar mengatakan apa yang baik. Matius tidak memberikan penjelasan apakah perumpamaan ini langsung Tuhan Yesus katakan untuk meresponi pertanyaan imam-imam kepada dan tua-tua tentang sumber otoritas atau ada jedah waktu di antaranya. Meskipun tidak ada indikasi waktu yang sangat berdekatan namun Matius menempatkannya secara kronologis tepat setelah perdebatan mengenai otoritas dan menyebutkan nama Yohanes dalam penjelasan perumpamaan ini. Jadi perumpamaan ini masih bisa dimengerti untuk memberikan jawaban kelanjutan mengenai ketidakpercayaan para pemuka agama kepada Yohanes Pembaptis dan Yesus.

Perumpamaan ini dimulai dengan pertanyaan “apakah pendapatmu tentang ini?” (21:28). Suatu pertanyaan yang mengundang para pendengar Yesus untuk memikirkan perumpamaan ini dari perspektif mereka, perspektif dari orang-orang yang sebenarnya menjadi salah satu karakter dalam kisah tersebut. Hal seperti ini bertujuan untuk membawa orang-orang yang melakukan kesalahan keluar dari dirinya sendiri dan mencoba menilai perbuatan mereka sendiri dalam perspektif yang baru (perspektif yang cenderung netral). Sehingga mereka bisa melihat kesalahan mereka sendiri yang selama ini tidak bisa mereka lihat ketika mereka melihatnya dari dalam diri sendiri. Hal yang persis sama pernah terjadi pada Raja Daud. Daud sangat marah kepada seorang karakter (tokoh) ilustrasi Natan yakni orang kaya yang mempunyai banyak domba tetapi mengambil satu-satunya domba milik keluarga miskin ketika ia kedatangan tamu. Daud murka kepada karakter di dalam cerita tersebut padahal tokoh itu adalah dirinya sendiri. Demikian pula halnya imam-imam kepala dan tua-tua ini diajak berpikir dan menilai suatu perumpamaan yang tanpa mereka sadari sebenarnya menggambarkan diri mereka sendiri. Hal ini dilakukan oleh Natan dan Tuhan Yesus karena manusia jauh lebih mudah melihat kesalahan orang lain dari pada melihat kesalahannya sendiri. Oleh sebab itu Yesus mengucapkan suatu pepatah: “Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui?” (Mat 7:3).

Menjawab ‘tidak’ tetapi melakukan (28-29)
Ada seseorang yang mempunyai 2 orang anak. Pada hari itu ia menyuruh anaknya yang sulung untuk pergi ke kebun anggur. Anak ini menjawab “tidak mau.” Di mulut anak ini tidak mau menuruti apa kata orang tuanya. Secara verbal anak itu menolak perkataan ayahnya, ia tidak taat kepada ayahnya. Namun sesudah itu; Alkitab Yunani menggunakan kata usteros yang berarti “later, afterwards,” anak sulung itu berubah pikiran (metameletheis). Kata “later, afterwards” menunjukkan bahwa ia mulai memikirkan ulang apa yang telah ia katakan kepada ayahnya, terdapat jedah waktu yang ia ambil untuk mengintrospeksi jawabannya yang menolak taat kepada ayahnya sendiri. Setelah dalam jedah waktu itu ia berpikir dan merenung ia mengambil keputusan untuk berubah. Kata metameletheis (berubah pikiran) mempunyai konotasi “regret/ menyesal” yang juga digunakan oleh Matius dalam 27:3. Jadi si sulung menyesal telah mengucapkan jawaban ekspresi ketidaktaatan kepada ayahnya (verbal). Tetapi ia menyesal telah melakukannya kemudian berubah taat secara tindakan. Matius tidak mencatat ia meminta maaf kepada bapanya karena ketidaktaatannya secara verbal. Poin Yesus melalui karakter si sulung ini adalah secara verbal (pada awalnya) ia tidak mengatakan apa yang baik dan tidak taat tetapi sekarang (akhirnya) ia melakukan kehendak bapanya.

Menjawab ‘ya’ tetapi tidak melakukan (30)
Selain kepada si sulung, karakter ayah dalam perumpamaan ini juga meminta kepada anaknya yang bungsu untuk pergi ke kebun anggur dan bekerja di sana. Si bungsu menjawab “saya” (Yun: ego) yang merupakan singkatan dari “idou ego” yang berarti “here am I,” yakni jawaban yang dapat diartikan “ya, saya mau pergi.” Jawaban verbal dari anak yang kedua ini menyatakan bahwa ia mau melakukan apa yang bapanya kehendaki. Namun, Yesus langsung melanjutkan bahwa anak yang mengatakan “ya saya mau” ini tidak melakukan apa yang diperintahkan oleh bapanya. Ia hanya mengatakan apa yang baik saja (verbal) tetapi ia sama sekali tidak taat kepada bapanya. Mulutnya mengatakan “ya” tetapi perbuatannya berkata “tidak.”

Makna Perumpamaan: Melakukan Kehendak Bapa
Setelah Yesus menyampaikan perumpamaan ini ia bertanya “siapakah dari antara 2 orang ini yang melakukan kehendak ayahnya?” bukan “siapa yang menjawab ‘ya’ kepada ayahnya?” Melalui pertanyaan inilah Yesus mengajak orang-orang yang mendengarkannya untuk berpikir secara jernih dan benar, karakter yang seperti apa yang sebenarnya Allah inginkan dari orang-orang yang mendengarkan firman Tuhan tersebut. Bukan orang-orang yang sekedar mendengarkan firman Tuhan, bukan pula orang yang sekedar memperkatakan firman Tuhan atau setuju bahwa firman Tuhan itu baik, tetapi yang terpenting dari semuanya adalah orang tersebut melakukan kebenaran firman Tuhan tersebut. Pesan ini menjadi semakin kuat karena Matius tidak menyebutkan apa yang harus dikerjakan oleh si sulung dan si bungsu di kebun anggur. Jenis dan bentuk pekerjaan tersebut diabaikan karena tidak signifikan dan bisa mengalihkan fokus dari poin perumpamaan. Yang terpenting adalah apakah mereka melakukan apa yang diperintahkan oleh ayah mereka atau tidak. Taat kepada perintah dan bukan pada jenis pekerjaannya.

Melalui ayat penutup, ayat 32, Yesus ingin meyakinkan tidak ada kesalahmengertian dari poin perumpamaan yang ia berikan, oleh karena itu Yesus kembali kepada permasalahan mengenai Yohanes Pembaptis guna mempertegas dan memperjelas pesan perumpamaannya. Kelompok-kelompok pemungut cukai dan wanita-wanita sundal percaya kepada perkataan Yohanes namun para pemimpin agama yang berdebat dengan Yesus tidak percaya meskipun mereka telah melihat dan mendengar Yohanes Pembaptis. Pada bagian yang lain Matius juga mencatat hal yang mirip, dimana banyak orang yang berseru “Tuhan, Tuhan” tetapi mereka tidak melakukan kehendak Bapa di Surga (Mat 7:21). Yesus mengatakan dengan tegas dan keras bahwa Allah tidak mengenal orang-orang yang seperti demikian. Menyebut nama Tuhan, aktif melayani Tuhan, mengetahui konsep-konsep teologi yang dalam dan jabatan gerejawi yang tinggi tidak memberikan jaminan seseorang mengenal Tuhan. Prinsip yang Yesus ajakan sangat sederhana, hanya orang yang melakukan kehendak Bapa di Surga saja yang berhak masuk ke dalam kerajaan Surga. Mulut dan janji-janji kepada Tuhan tidak berkontribusi apa-apa. Para pelaku kehendak Bapa adalah orang-orang yang bukan saja mengenal namaNya tetapi juga bergumul, berjuang untuk melakukan kehendak Bapa. Pergumulan dan perjuangan untuk melakukan kehendak Allah lahir karena mereka mengenal Allah dan pengenalan yang sejati itu membawa mereka pada kerinduan untuk melakukan kehendak Pribadi yang mereka kasihi.

Secara prinsip ketiga perumpamaan yang Yesus sampaikan pada pasal 21-22 ini memiliki pesan yang serupa, yakni: para pemungut cukai dan orang-orang berdosa yang terbuang sekarang telah bertobat dan menjadi orang-orang yang melakukan kehendak Allah, sementara mereka yang dekat dengan firman Allah jauh dari keselamatan karena mereka hanya sibuk mendengarkan dan memperkatakan tetapi tidak melakukan kehendak Allah.

Perumpamaan ini menampilkan 3 karakter, yakni ayah, anak sulung dan anak bungsu. Karakter ayah mendatangi 2 orang anaknya dan ia mengatakan hal yang persis sama (21:30), yakni “anakku, pergi dan bekerjalah hari ini dalam kebun anggur” (21:28). Jadi sang ayah tidak mengharapkan banyak hal dalam perkataannya ini, ia ingin hari itu ada yang pergi untuk bekerja di kebun anggurnya dan ia meminta anaknya melakukan pekerjaan tersebut. Awalnya ia datang kepada si sulung, tetapi anaknya itu menolak dengan mengatakan “tidak,” (terjemahan LAI berbeda dengan teks Yunani UBS4, LAI mencatat bahwa si sulung mengatakan “ya” tetapi tidak melakukan, sementara teks UBS4 mengatakan hal yang sebaliknya). Karena itu ia pergi kepada anaknya yang bungsu dan menjawab “ya.” Pada waktu ia meminta anaknya pergi ke kebun anggur, ia mendapatkan 2 jawaban yang kontras, namun harapan si ayah bukanlah sekedar jawaban tetapi siapa yang pergi ke kebung anggur untuk bekerja. Karena menjawab “ya” atau “tidak” bukanlah masalah, meskipun menjawab “tidak” kepada orang tua yang meminta adalah tindakan kasar dalam tradisi Yahudi, namun yang terlebih penting dari semuanya itu adalah perbuatan. Jadi karakter ayah hanya membutuhkan “tindakan pergi” atau “tidak pergi,” dan respon di awal diabaikan.

Seperti yang sudah dibahas sebelumnya, Yesus mengawali perumpamaanNya dengan mengatakan “apa pendapatmu tentang ini”? Sebuah kalimat netral yang memberikan kesempatan semua orang berkomentar secara objektif tentang perumpamaan tersebut. Hasilnya imam-imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi penuh dengki itu mampu menjawab pertanyaan Yesus dengan benar. Mereka tahu bahwa yang benar adalah si bungsu, meskipun diawal bersikap tidak sopan dengan mengatakan “tidak” tetapi ia menyesal dan akhirnya melakukan kehendak ayahnya. Kaum agamawan itu tahu bahwa poin perumpamaan itu adalah “siapa yang melakukan kehendak bapa.” Sekarang pertanyaan, yang sekaligus makna perumpamaan itu, diajukan kepada mereka; apakah mereka melakukan kehendak Allah atau tidak?

Yesus menyebut Yohanes pembaptis sebagai orang yang datang untuk menunjukkan kebenaran kepada kaum agamawan tersebut, tetapi mereka tidak mau mendengarkan apa yang dikatakan Yohanes. Mengakui bahwa Yohanes adalah nabi yang benar mereka juga tidak berani karena mereka tidak suka dengan koreksi-koreksi Yohanes. Yesus membandingkan kelompok para imam ini dengan kelompok para pendosa, pemungut cukai dan perempuan sundal. Kelompok yang kedua ini akan mendahului kelompok “suci” itu masuk ke surga. Mengapa? Alasannya sederhana karena para imam-imam kepala yang rajin melayani di Bait Allah dan mahir dalam hal kitab suci itu tidak melakukan kehendak Allah. Mereka hanyalah orang-orang jahat berjubah agama yang tidak peduli dengan kebenaran Allah apalagi melakukannya.

Dalam khotbah-khotbahnya, Yohanes Pembaptis menyatakan bahwa orang yang bertobat haruslah menghasilkan buat pertobatan yang nyata (3:8). Oleh karena itu Yesus tidak mungkin menyebut pemungut cukai dan orang-orang berdosa lainnya sebagai orang yang telah melakukan kehendak Bapa tanpa mereka menghasilkan buah yang nyata pada waktu Yesus menyampaikan perumpamaan itu. Tidak diragukan lagi orang-orang berdosa yang percaya kepada pemberitaan Yohanes Pembaptis dan Yesus sudah menunjukkan buah-buah yang nyata bahwa mereka telah bertobat dan mulai hidup dengan benar. Salah satunya Matius, seorang pemungut cukai yang menulis Injil ini, telah meninggalkan dosa dan menjadi murid Yesus. Orang-orang yang dulunya digolongkan sebagai orang-orang berdosa sekarang ini sudah masuk dalam proses pembelajaran mengenal Allah dan hidup melakukan kehendak-kehendakNya. Buah dari pelayanan Yohanes Pembaptis ini sebenarnya diketahui dan disaksikan oleh para pemuka agama Yahudi, namun semuanya itu tidak memberikan dampak apa-apa kepada mereka karena mereka hanya berkata-kata apa yang “baik” tetapi tidak melakukannya.


PERUMPAMAAN PENGGARAP KEBUN ANGGUR
Kisah perumpamaan tentang penggarap anggur ini diawali dengan kalimat “dengarkanlah suatu perumpamaan yang lain.” Kalimat ini jelas mengindikasikan bahwa perumpamaan sebelumnya (tentang 2 orang anak) paralel dengan perumpamaan penggarap kebun anggur ini. Sehingga makna kedua perumpamaan ini meskipun tidak sama persis bersifat paralel; mengandung makna yang kurang lebih sama dan saling memperlengkapi.

Mengikuti pendekatan penafsiran fokus pada karakter maka makna perumpamaan diperoleh dengan menelaah apa yang dilakukan dan dikatakan oleh karakter. Karakter pertama adalah tuan tanah. Dia adalah pemilik tanah dan inisiator perkebunan tersebut. Pada awalnya ia adalah seorang pemilik tanah, kemudian dengan usahanya sendiri ia membuka kebun anggurnya. Karakter ini dijelaskan sebagai orang yang bekerja sepenuhnya untuk kebun anggur tersebut. Karena ia bukan saja membuat tanahnya ditanami pohon anggur tetapi ia membuat pagar untuk kebun tersebut supaya kebun itu terlindung dari hewan-hewan yang mengganggu. Kemudian ia menggali lubang untuk memeras anggur, yakni lubang yang biasanya dibuat dari batu sebagai wadah anggur tersebut diinjak/ dihancurkan guna memperoleh air anggur. Selain itu karakter juga mendirikan menara jaga dalam kebun itu untuk mengawasi jika ada perampok, hewan pengganggu dan mengawasi seluruh area kebun. Jadi si tuan tanah melakukan segala sesuatu yang bisa ia lakukan untuk menghasilkan sebuah kebun anggur yang baik dan keseluruhan kebun itu adalah milikinya dan dibangun olehnya. Setelah semuanya baik dan lengkap ia menyewakan kebun itu penggarap-penggarap dan ia sendiri berangkat ke luar negeri. Dari apa yang sudah ia lakukan terhadap kebun anggur itu jelas ia menginginkan yang terbaik dari kebun itu dan mengharapkan para peggarap itu melanjutkan apa yang sudah ia dikerjakan oleh tuan tanah dengan memelihara dan menjaga kebun anggur tersebut hingga berbuah.

Pada masa kebun anggur tersebut hampir menghasilkan, ia menyuruh hamba-hambanya untuk datang kepada para penggarap untuk mengambil bagiannya, sebab tuan tanah tersebut sedang berada di luat negeri. Ia adalah pemilik tanah dan pemilik kebun dan tentu saja ia berhak sepenuhnya atas kebun tersebut. Ketika hamba-hamba tuan itu datang para penggarap itu membunuh mereka. Padahal para penggarapa itu tidak melakukan apa-apa selain menjaga dan menunggu hingga berbuah. Segala sesuatu dalam kebun anggur itu dikerjakan oleh si pemilik.

Berhubung utusannya yang pertama dibunuh ia mengirimkan lagi hamba-hamba yang lebih banyak mungkin dengan harapan supaya para penggarap tersebut takut dan sadar atas apa yang mereka lakukan sebelumnya. Tetapi nasib hamba-hamba yang diutus kedua kali ini tidak berbeda dengan teman-teman mereka sebelumnya. Selanjutnya tuan tanah itu mengirimkan utusan yang lain, bukan lagi hamba melainkan anaknya sendiri dengan pemikiran para penggarap itu akan segan dengan anaknya. Namun ketika mereka melihat bahwa anaknya sendiri yang datang maka orang-orang tamak itu justru berusaha ingin membunuhnya supaya merekalah yang mendapatkan warisan dari tuan tanah itu. Akhirnya tuan tanah tersebut datang sendiri ke kebun anggurnya dan membinasakan kelompok orang-orang jahat yang telah membunuh hamba-hamba dan anaknya yang datang dengan maksud baik. Tuan tanah digambarkan sebagai sang pemilik dan yang memulai segala sesuatu dalam kebun anggur tersebut. Ia memiliki harapan kepada para penggarap tersebut untuk mengerjakan tugas mereka dengan baik dan memberikan apa yang menjadi bagiannya sebagai pemilik dari kebun anggur tersebut. Karakter tuan kebun anggur ini juga seorang yang sabar terhadap kejahatan para penggarap kebun anggur. Setelah hamba-hambanya dibunuh ia masih mengirimkan anaknya, namun sayangnya anak tersebut juga dibunuh oleh karena itu ia akan memberikan hukuman kepada penggarap-penggarapa jahat tersebut.

Karakter Penggarap Kebun Anggur

  • Menerima tawaran untuk menggarap
  • Tidak memberikan apa yang menjadi bagian dari pemilik kebun anggur
  • Membunuh hamba-hamba pemilik kebun anggur
  • Membunuh anak tuan tanah

Menurut konteks cerita dan perumpamaan yang paralel dengan bagian ini sebenarnya makna yang disampaikan oleh karakter sudah cukup jelas. Para penggarap kebun anggur bukanlah pemilik, mereka hanya orang yang dipekerjakan untuk menjaga kebun anggur hingga berbuah. Mereka tidak mengambil bagian dalam saham ataupun usaha pembuatan kebun anggur itu, mereka adalah karyawan. Mereka bukanlah orang-orang yang punya kelebihan apa-apa atau orang yang memiliki hubungan tertentu dengan pemilik kebun, mereka hanya diajak untuk mengambil bagian dalam kebun anggur yang sebenarnya telah tuntas dikerjakan si tuan tanah. Hanya tinggal menunggu panen. Namun mereka tidak menunjukkan sikap yang benar sebagai pekerja. Pada waktu kebun anggur itu mereka tidak memberikan apa yang seharusnya mereka berikan kepada pemilik kebun. Bukannya berterima kasih karena diajak mengambil bagian dari kebun itu mereka malah bertindak kejam dengan memukul, melempari dengan batu dan membunuh utusan-utusan yang ingin mengambil bagian sang tuan. Terakhir anak si tuan tanah itu juga mereka bunuh dengan pikiran mereka ingin mengambil alih hak waris. Jadi mereka membunuh semua utusan termasuk anak tuan tanah karena mereka menginginkan hasilnya, mereka ingin mengambil sesuatu yang bukan hak dan bagian mereka dari kebun anggur tersebut.

Istilah-istilah ini (memukul, melempari dengan batu dan membunuh) merupakan kata-kata yang sering diidentikkan dengan sikap orang Israel terhadap para nabi Tuhan. Jadi cerita ini meskipun tidak boleh diterjemahkan secara alegori namun telah memberikan indikasi yang cukup jelas, yakni mengarah pada perjalanan bangsa Israel yang kerapkali bertindak kejam kepada para utusan Tuhan. Imam-imam dan tua-tua Yahudi itu sadar bahwa yang dimaksudkan dalam perumpamaan itu adalah mereka. Makna perumpamaan melalui identifikasi karakter menjadi semakin jelas, berarti para pemuka agama tersebut adalah orang-orang yang mengambil bagian apa yang bukan milik mereka dengan melakukan kejahatan terhadap semua utusan Tuhan. Sebenarnya mereka hanyalah pesuruh yang dipekerjakan tetapi mereka telah mengambil alih pekerjaan Tuhan menjadi milik mereka. Mereka menolak semua utusan Tuhan karena mereka ingin mengambil semua bagian. Setelah ditegur melalui perumpaan yang mereka sadari artinya, imam-imam dan tua-tua Yahudi tetap mengeraskan hati dan bertindak sebagai orang-orang yang kejam dan tidak mau mengenal Allah. Kristus adalah Anak Allah yang datang setelah para nabi ditolak oleh bangsanya sendiri, umat Allah. Kedatangan Anak Allah itu pun tidak menggerakkan kesadaran kelompok ini, padahal Ia datang untuk mengingatkan mereka.

Kaum agamawan, khususnya para pemimpin gereja tidak boleh lengah dengan apa yang Yesus ajarkan ini. Semua orang yang dipercayakan memimpin pekerjaan Tuhan dan umatNya bukanlah para pemilik, melainkan pesuruh yang dipekerjakan. Allah adalah Allah yang bertanggung jawab untuk segala sesuatu berhubungan dengan pertumbuhan umatNya. Oleh sebab itu para pemimpin hanya diberikan kepercayaan untuk “menggembalakan” bukan “memiliki.” Sikap hati yang ingin menguasai atau duduk sebagai tuan atas pekerjaan Tuhan akan bermuara pada “pembunuhan” terhadap pekerjaan Tuhan itu sendiri. Hanya Kristus kepala gereja dan biarlah setiap orang yang dipercayakan duduk di “kursi Musa” bertindak secara tepat sesuai arahan Sang Kepala.

2 Jenis Hikmat (Yakobus 3:13-18)

Oleh: Ridwanta Manogu

Kehidupan seorang Kristen tidak berada dalam kesendirian tetapi dalam persekutuan dengan komunitas di mana Allah menempatkannya. Komunitas tersebut adalah gereja, tubuh Yesus Kristus. Panggilan bagi gereja di tengah-tengah dunia adalah memancarkan cahaya Injil Kristus. Supaya orang percaya dapat berfungsi dengan baik dalam bagian mereka masing-masing maka orang-orang percaya membutuhkan hikmat dan pengertian dari Allah. Yakobus, sebelumnya, telah memberitahukan para pembacanya bagaimana cara memperoleh hikmat, “hendaklah ia memintakannya kepada Allah” (1:5). Sebab Allah adalah sumber hikmat yang sejati dan segala anugerah yang sempurna datangnya selalu dari atas (1:17). Namun pada bagian ini, Yakobus membahas mengenai dua jenis hikmat dan mengkontraskannya. Tema hikmat dalam perikop ini terlihat jelas dalam penulisan yang menggunakan istilah σοφία // σοφός (hikmat) pada narasi awal (ay. 13) dan berakhir di ay. 17. Hikmat yang pertama adalah hikmat yang bukan datang dari atas dan hikmat yang kedua adalah hikmat yang dari atas, hikmat yang sejati.



13 Siapakah di antara kamu yang bijak dan berbudi? Baiklah ia dengan cara hidup yang baik menyatakan perbuatannya oleh hikmat yang lahir dari kelemahlembutan.
Yakubus mengawali bagian ini dengan pertanyaan retorika mengenai siapa yang berhikmat (bijak) dan berpengertian (LAI: “bijak dan berbudi”). Istilah “bijak/berhikmat” (σοφός) dapat berhubungan langsung dengan guru (guru “yang bijaksana” adalah rabi) tetapi istilah “berpengertian” (ἐπιστήμων) bisa merujuk kepada siapa pun yang mengaku memiliki pengetahuan dan pemahaman esoterik (= pengetahuan yang hanya diketahui dan dipahami oleh beberapa orang tertentu saja). Kombinasi dari kedua istilah dalam ayat ini kemungkinan dipengaruhi oleh LXX, yakni istilah-istilah yang dekat dengan sinonim catatan Ulangan (1:13, 15; 4:6; Dan 5:12). Dalam Ulangan 1:13, 15; 4:6, kombinasi mengacu kepada pemimpin-pemimpin, karena itu ada yang menafsirkan bahwa hal ini ditujukan kepada para pemimpin, tetapi referensi umum kitab Ulangan adalah umat Israel secara luas. Dengan demikian, gambaran”hikmat dan beperngertian” secara khusus berlaku bagi guru-guru atau para pemimpin, tetapi secara umum mencakup semua orang dalam komunitas tersebut.

Menurut para ahli, alasan bagian ini ditulis karena adanya beberapa orang pemimpin gadungan yang berpikir bahwa mereka diberikan hikmat dan memiliki pengertian yang lebih. Namun pengajaran dan perkataan (lidah) mereka yang justru menghasilkan perpecahan dalam gereja. Sehingga Yakobus mengajukan sebuah pertanyaan “Siapakah di antara kamu yang bijak dan berbudi?” Pertanyaan ini adalah sebuah tantangan bagi sebagian orang yang merasa bijak dan berpengertian untuk mendemonstrasikan hal tersebut dalam bentuk perbuatan yang nyata; “Let him show it by his good life.”

Yakobus melihat kehidupan kekristenan sebagai sesuatu yang utuh dan integratif. Di pasal sebelumnya (pasal 2), Yakobus juga memberikan tantangan yang serupa, yakni “tunjukkanlah kepadaku imanmu itu tanpa perbuatan, dan aku akan menunjukkan kepadamu imanku dari perbuatan-perbuatanku” (Yak. 2:18). Apa yang ada di dalam akan termanifestasi keluar dengan sendirinya. Iman yang benar akan tampak dalam perbuatan, demikian pula halnya hikmat dan pengertian yang berasal dari atas akan tampak dalam perbuatan dan perkataan. Secara teologis, kita memahaminya sebagai natur ciptaan baru, oleh karena itu suatu jenis pohon dapat dikenal dari buahnya. Pohon yang baik akan menghasilkan buah yang baik, hikmat yang dari atas akan tampil keluar dalam bentuk perbuatan yang nyata pula.

Yakobus mendorong orang bijak untuk menunjukkan dengan perbuatan bahwa mereka telah menerima karunia kebijaksanaan; “Let him show by his good behavior his deeds.” Yakobus nampaknya mengindikasikan bahwa di dalam jemaat orang-orang bijak (berhikmat) dan berpengertian adalah minoritas. Namun mereka yang berhikmat dan bijak tersebut dinasihati untuk menunjukkannya dalam perkataan dan perbuatan bahwa mereka memang bijaksana. Yakobus menggunakan kata kerja imperatif (δείκνυμι - deiknumi) yang secara literal berarti “as drawing attention to something point out, show, cause to see.” Supaya mereka yang bijak dan berpengertian menegaskan hal tersebut melalui perilaku sehari-hari.

Apa yang Yakobus maksudkan dengan mendemonstrasikan (δείκνυμι - deiknumi) “kehidupan yang baik”?
τὰ ἔργα (his deeds) αὐτοῦ ἐν πραΰτητι σοφίας (in the gentleness of wisdom). Penekanan dalam ayat ini berada pada karakteristik kebijaksanaan yang digambarkan sebagai kebijakan yang lemah lembut. Kelemahlembutan di sini dipahami juga sebagai kerendahan hati sebagai kontras dari arogansi memiliki hikmat dan pengetahuan. Kata lemah lembut yang digunakan oleh Yakobus, selain pada ayat ini, disebutkan juga dalam Yak. 1:21 “terimalah dengan lemah lembut firman…” Lemah lembut adalah suatu sikap, yang juga disebutkan sebagai salah satu ucapan bahagia, menerima dengan rendah hati. Menerima firman dengan lemah lembut berarti mau memberi diri untuk berubah seturut apa yang dikatakan oleh firman Tuhan. Sehingga dengan menyatakan hikmat dan pengertian dalam perbuatan yang lemah lembut dan kerendahan hati yang nyata akan menyatakan siapa saja yang sebenarnya orang-orang yang berhikmat dan berpengertian yang sejati. Sebab “actions speak louder than words.”

14 Jika kamu menaruh perasaan iri hati dan kamu mementingkan diri sendiri, janganlah kamu memegahkan diri dan janganlah berdusta melawan kebenaran!
Kontras dari kelemahlembutan yang dikendalikan oleh hikmat adalah hati yang penuh dengan “iri hati dan… mementingkan diri sendiri.” Catatan yang serupa dengan tulisan Yakobus ini adalah surat Paulus kepada jemaat di Galatia, ketika Paulus berbicara tentang buah roh yang salah satunya adalah kelemahlembutan (Gal. 5:22-23a) kemudian menyebutkan kontrasnya, yakni perbuatan daging; kepentingan diri sendiri (Gal. 5:19). Jadi sebelum menyebutkan secara eksplisit adanya 2 jenis hikmat, Yakobus sendiri sudah menyatakan secara implisit bahwa iri hati dan mementingkan diri sendiri adalah buah perbuatan daging sementara kelemahlembutan adalah buah dari hikmat yang dari atas, yakni sama dengan buah roh dalan tulisan Paulus. Menurut Simon Kistemaker, sebagai seorang gembala yang berpengalaman, Yakobus mengetahui bahwa di antara anggota gereja terdapat beberapa orang yang menghidupi semangat kepahitan iri hati dan mementingkan diri sendiri.

Pada waktu hati manusia (4:8), pusat kehendak dan emosi, dikuasai oleh iri hati, maka persaingan yang destruktif dan terjerat dalam dosa mengingini milik lain tidak dapat terhindarkan. Iri hati berfokus pada harta orang lain dan hubungan. Keinginan untuk meniru dan melebihi yang lain, bahkan jika mungkin berarti mencuri dari orang tersebut. Sikap yang jahat ini akan menghancurkan hubungan dalam gereja; hubungan manusia-manusia, dan manusia-Allah. Yakobus menggunakan bentuk jamak “kamu” dan menunjukkan perbuatan mereka telah memanifestasikan ciri-ciri tersebut perbuatan daging. Sehingga Yakobus mengingatkan bahwa hal-hal tersebut akan memberi dampak yang negatif dan destruktif.

Apabila sikap yang destruktif ini hadir di hati para pembacanya, Yakobus menyuruh mereka berhenti membanggakan diri. Jika tidak mereka akan menyangkal kebenaran yang mereka imani. Sekarang para pendengarnya harus menjernihkan pikiran dan hati mereka untuk berhenti menghidupi sikap yang salah dan berhenti meninggikan diri dengan klaim-klaim yang membesarkan diri sendiri. Penekanan Yakobus ini tersebar dalam surat ini; “Jangan mengatakan bahwa kamu memiliki iman. Jangan berbicara tentang penghakiman Allah seolah-olah engkau tahu hal itu (bdk. 2:12-13; 4:11-12). Jangan mengklaim karunia dari Allah seolah-olah engkau percaya padaNya (1:7). Jangan berpura-pura mengenal kasih Allah karena engkau tidak menunjukkannya kepada sesama (2:8).” Semua pernyataan-pernyataan meninggikan diri tersebut hanyalah kebohongan dan pelanggaran terhadap kebenaran. Sebab semua sikap hidup yang sungguh-sungguh berasal dari Tuhan atau buah yang benar dari pengenalan akan Allah, menampilkan kehidupan yang rendah hati, mengosongkan diri dan tidak membesar-besarkan diri. Iri hati adalah dosa yang melibatkan perampasan “pengetahuan baik dan jahat” milik Allah seperti yang disebutkan oleh Yakobus dalam Yak. 2:1-4, di mana sikap memandang muka adalah buah dari pikiran jahat. Ketika mereka melakukan pembedaan dengan memandang muka, maka pada waktu itu mereka telah menjadikan diri mereka sendiri hakim yang berhak menilai orang lain.

15 Itu bukanlah hikmat yang datang dari atas, tetapi dari dunia, dari nafsu manusia, dari setan-setan.
Istilah hikmat dari atas jelas mengacu pada hikmat dari Bapa, seperti yang telah disebutkan Yakobus dalam 1:17. Namun penjelasan Yakobus dalam ayat sebelumnya adalah ciri dari hikmat yang bukan dari atas. Yakobus dengan tegas menyebutnya sebagai hikmat yang berasal dari dunia, nafsu manusia dan dari setan. Hikmat dari atas, sudah pasti, bukanlah hikmat manusia, melainkan anugerah Allah yang diberikan kepada manusia. Seperti yang sudah dijelaskan, hikmat tersebut diperoleh dengan memintanya kepada Tuhan dengan iman dan bukan dalam kebimbangan (1:6). Yakobus ingin menunjukkan kepada jemaat bahwa hikmat yang dipamerkan oleh orang-orang yang merasa berhikmat tidak ada hubungannya hikmat Allah. Sebab hikmat yang menghasilkan iri hati dan keberpihakan (memandang muka dan status sosial) adalah hikmat yang mempunyai sumber berbeda, yakni dari setan. Kontras di antara keduanya ditunjukkan dengan kata άλλά (“halla” – tetapi).

ἐπίγειος (epigeios) mengandung arti “earthbound” (lit., “earthly”). Meskipun istilah ini dapat memiliki makna netral (Yoh. 3:12; 1 Kor. 15:40) namun pada umumnya kata tersebut mempunyai konotasi negatif. Sebagai kontras antara hikmat yang berasal dari bawah (κατέρχεσθαι) dan yang dari atas (ἄνωθεν), maka hikmat yang menyebabkan masalah adalah yang bersifat “duniawi". Hal ini menegaskan sifat dari hikmat yang berasal dari dunia, dan dalam paralelisme dengan 1 Kor. 1:20; 2:5, 6, yang mencerminkan sikap orang-orang yang bermusuhan dengan Allah (4:4), sepertinya masalah yang dibahas mencerminkan 2:1-7, di mana jemaat yang ada lebih terlihat duniawi dari pada terlihat sebagai umat Allah. Lebih khususnya sifat-sifat duniawi tersirat dalam ἐπίγειος (epigeios) yang dibahas dalam 4:1-18.

Ψυχικός (psukhikos) yang mengandung arti “unspiritual,” berasal dari kata benda ψυχή (psukhe) dicatat di sini dan di bagian lain hanya dalam 1 Kor. 2:14; 15:44, 46; Yudas 19. Kata ini mempunyai nuansa makna “tanpa Roh” atau “tidak rohani.” Agak sulit untuk memahami kata ini namun, secara literal dapat dimengerti sebagai tindakan yang tidak dilahirkan dalam pimpinan Roh Kudus. Paulus menyatakan bahwa keinginan daging merupakan kontas keinginan Roh (Gal. 5:17). Apabila dikaitkan dengan konsep Paulus tersebut, maka Ψυχικός (psukhikos) mengandung arti sebagai hikmat yang bersifat kedagingan atau untuk kepentingan diri sendiri.

Istilah δαιμονιώδης (daimoniodes) yang berarti “demonic” hanya ditemukan di sini dalam seluruh PB. Beberapa ahli menafsirkan bahwa Yakobus menyatakan perilaku yang dijelaskan dalam 3:14 hanya "mirip" dengan perilaku setan. Kelakuan buruk dari orang-orang yang sedang diserang oleh Yakobus dibandingkan dengan perbuatan setan (2:19). Tetapi sebagian ahli berpendapat bahwa perilaku orang-orang yang bersangkutan dianggap sebagai pengaruh “hasutan” setan. Sebab pengaruh kekuatan si jahat dalam Perjanjian Baru berkaitan dengan pemikiran dan tindakan yang menentang Allah (2 Tes. 2:9; 1 Tim. 4:1; Why. 6:13-1). Salah satu contoh konretnya adalah lidah, menurut Yak. 3:6, adalah anggota tubuh yang sulit dijinakkan dan berasal dari daerah setan; “dinyalakan oleh api neraka.” Sepertinya bagian ini berhubungan erat dengan akibat-akibat negatif yang disebabkan oleh lidah.

16 Sebab di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat.
Bagian ini seperti mengulang apa yang sudah disebutkan sebelumnya, sehingga ayat ini mempunyai hubungan yang dekat dengan ay. 14-15. Iri hati (ζῆλος) dan mementingkan diri sendiri (ἐριθεία) disebutkan dalam ay.14 sebagai karakteristik orang-orang yang mengklaim memiliki “hikmat”. Kemudian Yakobus lebih lanjut menyebut bahwa hikmat tersebut adalah hikmat yang palsu dan digambarkan sebagai nonheavenly, unspiritual, dan ungodly. Di ayat 16 ini Yakobus menunjukkan bahwa hasil dari perbuatan yang seperti initidak menghasilkan apa-apa bagi tubuh Kristus,orang-orang percaya. Justru dampaknya kontra-produktif, yakni destruktif dan menghasilkan masalah. Kata “kekacauan” (ἀκαταστασία) dalam bentuk kata benda mengandung makna “kondisi yang rusuh.” Dalam bentuk kata sifat, yang terdapat juga dalam 1:8; 3:8 (ἀκατάστατος), mengadung arti orang yang labil (bimbang) dan tidak mampu menguasai diri dari dosa lidah, yakni orang-orang yang “mendua hati” dan “berlidah ganda.”

Yakobus terbeban dan merindukan kesatuan jemaat, tapi sayangnya dampak dari dosa lidah, nafsu duniawi, sikap yang memandang muka justru menghasilkan perpecahan dan kekacauan dalam jemaat. Dampaknya kehadiran dosa tersebut sangat besar, selain kekacauan dan kontra-produktif, iri hati dan mementingkan diri sendiri menjadi sumber atau stimulan bagi segala macam perbuatan jahat yang mungkin tidak didaftarkan seluruhnya oleh Yakobus. Sebab hal-hal tersebut menjadi pohon kejahatan yang akan menghasilkan berbagai buah-buah kejahatan.

Seperti prinsip yang dipegang oleh Yakobus dalam keseluruhan suratnya ini, “tindakan mencerminkan sikap,” dan ayat ini sebenarnya menyebutkan daftar kejahatan internal. Dari tindakan-tindakan luar akan terdeteksi apa yang di dalam, dengan mengetahui apa yang ada di dalam, maka perbuatan yang akan termaifestasi dapat diprediksi. Jadi sangat jelas, semua “hikmat” yang menghasilkan perpecahan, kekacauan dan berbagai kejahatan merupakan hikmat yang berasal dari dunia dan tidak boleh hadir dalam gereja. Manajemen gereja yang dipimpin oleh hikmat duniawi akan menggiring gereja menuju kehancuran dan hanya menghasilkan kejahatan. Di sinilah Yakobus menekankan signifikansi pentingnya hikmat yang dari atas bagi gereja dan membuang hikmat palsu yang “menghancurkan” gereja.

17 Tetapi hikmat yang dari atas adalah pertama-tama murni, selanjutnya pendamai, peramah, penurut, penuh belas kasihan dan buah-buah yang baik, tidak memihak dan tidak munafik.
Pada waktu hikmat yang dari atas bekerja dalam kehidupan orang percaya hikmat tersebut akan membuahkan kebajikan yang kait mengait dengan kebajikan-kebajian yang lain. Tanda yang pertama dan utama dari hikmat yang dari atas adalah kemurnian (ἁγνή). Sangat tidak kebetulan Yakobus memulai daftar ciri hikmat yang sejati dengan kemurnian/ kesucian. Sebab hal tersebut merupakan karakteristik firman Allah (Maz 12:6; 19:8). Orang yang suci dan murni adalah orang yang bebas dari cacat moral dan spiritual yang merupakan tanda dari mendua hati. Ibadah yang murni (1:27) mengandung hikmat yang benar sebagai sumber kemurniannya. Sebab kemurnian tersebut (1:27 - dalam ibadah) adalah buah hikmat surgawi. Dalam khotbah di bukit, orang-orang yang memiliki kemurnian hati (suci hati), adalah murid-murid Kristus yang berbahagia karena mereka akan melihat Allah (Mat. 5:8). Untuk menjadi murni, orang percaya harus memisahkan diri dari pencemaran hikmat duniawi dan salah satu aspek dari ibadah yang murni adalah menjaga diri dari pencemaran dunia (1:27). Namun orang percaya yang masih hidup dalam dunia, memiliki kecendrungan untuk dipimpin, suatu waktu, oleh hikmat dunia sehingga Yakobus dalam ayat-ayat selanjutnya juga mengingatkan agar mereka mendekat kepada Allah untuk menyucikan diri (4:8). Hikmat yang murni mengkompromikan kebaikan dan berkat Allah untuk kepentingan diri sendiri. Justru sebaliknya, hikmat surgawi yang murni teraplikasi dalam perbuatan nyata mengasihi sesama tanpa memandang muka.

Selanjutnya, Yakobus mendaftarkan, manifestasi sikap dan perilaku dari hikmat yang dari atas pendamai, peramah, penurut, penuh belas kasihan dan buah-buah yang baik, tidak memihak dan tidak munafik. Tiga pertama dari sifat-sifat ini adalah istilah yang hanya digunakan oleh Yakobus dalam suratnya. Sifat-sifat ini menggambarkan orang-orang mempunyai status namun yang peduli terhadap orang lain dan yang bersedia untuk tunduk dan belajar dari orang lain. Daftar sikap ini sangat kontras dengan kepahitan, iri hati dan egois serta ambisi untuk menjadi paling rohani. Karakter-karakter yang lain bersamaan dengan intruksi Yakobus sebelum-sebelumnya, tersebar dalam seluruh surat Yakobus, membentuk suatu gambaran yang lebih utuh. Menghasilkan buah-buah yang baik mengingatkan natur yang baru (3:12) sehingga jelas bahwa dari buahlah suatu pohon dapat dikenal. Buah-buah yang baik hanya dihasilkan oleh orang-orang yang baik. Tidak memihak dan tidak munafik membentuk suatu prinsip penilaian terhadap orang lain secara proper. Dengan demikian jemaat dapat saling membangun tanpa memandang muka dan iman dapat diaplikasikan dengan tepat dan baik.

18 Dan buah yang terdiri dari kebenaran ditaburkan dalam damai (oleh) mereka yang mengadakan damai.
Yakobus menyebut orang yang memiliki hikmat surgawi sebagai “pembawa damai.” Dalam dunia pertanian, pembawa damai digambarkan seperti orang yang menaburkan benih-benih kedamaian. Sama seperti Allah, yang juga menaburkan benih firman yang hidup (Mat. 13:19), maka orang percaya menabur perbuatan yang penuh damai akan menuai kebenaran. Menabur dalam damai adalah perbuatan-perbuatan yang berbelaskasihan dan tuaian yang dimaksud adalah buah-buah yang baik yang dicatat dalam ayat sebelumnya. Penggunaan kata “menghasilkan” atau “tuaian” dalam hubungan ini adalah gambaran yang mengagumkan dari kesuburan kehidupan yang berhikmat. Bijak atau berhikmat dalam menabur benih perdamaian menghasilkan multiplikasi perbuatan yang benar bagi seluruh anggota gereja. Gereja yang kaya akan misi pendamaian, yakni pelayanan penginjilan, diakonia bagi orang miskin, konseling, hospitality bagi orang asing, menyediakan tempat berteduh bagi yang membutuhkan, mengutus misionaris untuk memberitakan Injil, dll. akan membuat gereja tersebut kaya akan buah-buah kebenaran.


Bibliography

  • Davids, P. H. The Epistle of James: A commentary on the Greek text. Grand Rapids: Eerdmans, 1982.
  • Kistemaker, S. J., & Hendriksen, W. New Testament commentary: Exposition of James and the Epistles of John. Grand Rapids: Baker, 2001.
  • Martin, R. P. Word Biblical Commentary: James. Dallas: Word, Incorporated, 2002.
  • Richardson, K. A. The New American Commentary: James. Nashville: Broadman & Holman Publishers, 1997.