Analisis Kernel: Terjemahan Efesus 2:8-9

Menurut Nida, "Kernels are the basic structural elements out of which the language builds its elaborate surface structure." Sederhananya, kernel adalah sebuah kalimat dengan pola atau struktur paling mendasar yang ditransformasi dari surface structure (wacana yang tertulis atau diucapkan). Transformasinya disebut back-tranformation. Back-transformation is a grammatical process by which the surface structure of a discourse is analyzed, by the application of rigorous rules, into its underlying kernels in the same language. Beberapa rules atau langkah-langkahnya adalah (1) mengidentifikasi the basic structural elements dari setiap kata yang ada di dalam surface structure ke dalam semantic categories seperti event (E) (yang diwakili oleh verba), object (O) (yang diwakili oleh nomina), abstract (A) (yang diwakili oleh adjektiva dan adverbia), dan relational (R) (yang diwakili oleh konjungsi dan preposisi), (2) membuat eksplisit structural elements yang implisit untuk melengkapi kernel, (3) membuat kernel, (4) mengelompokkan kernel berdasarkan semantic relations, (5) semantic relations yang ada dipakai untuk menterjemahkan ke bahasa target. Sebagai contoh, Efesus 2:8-9:
Langkah 1: THi (A) GAR (R) CARITI (E) ESTE SESWSMENOI (E) DIA (R) PISTEWS (E); KAI (R) TOUTO (E) OUK (A) EX (R) hUMWN (O), QEOU (O) TO (A) DWRON (E); OUK (A) EX (R) ERGWN (E), hINA (R) MH (A) TIS (O) KAUCHSHTAI (E).
Langkah 2: beberapa implisit elemen yang perlu ditambahkan: Allah (sebagai subjek dari CARITI dan SESWSMENOI), kamu (sebagai subjek dari PISTEWS), menyelamatkan (sebagai predikat dengan hUMWN sebagai subjek), kamu (sebagai objek dari TO DWRON dan subjek ERGWN).
Langkah 3:
Ada 7 kernels yang tercatat di sini:
1. Allah memberikan anugerah-Nya.
2. Allah menyelamatkan kamu.
3. Kamu percaya.
4. Kamu tidak menyelamatkan dirimu sendiri.
5. Allah memberikannya kepadamu
6. Kamu tidak mengusahakannya.
7. Tidak ada seorangpun memegahkan diri.
Langkah 4:
Semantic relations dari kernels di atas adalah sebagai berikut.
1. Kernel 1 adalah cara dari peristiwa di kernel 2.
2. Kernel 3 adalah instrumen dari peristiwa di kernel 2.
3. Kernel 4 adalah kontras dengan kernel 2.
4. Kernel 5 adalah kontras dengan kernel 4 dan sebuah konfirmasi dan penekanan dari kernel 2.
5. Kernel 6 adalah penjelasan tambahan terhadap kernel 4.
6. Kernel 7 adalah hasil dari kernel 1-6.
Langkah 5:
"Allah memberikan anugerah-Nya kepada kamu, dan dengan cara ini kamu selamat melalui kepercayaanmu kepada Dia. Kamu sendiri tidak dapat menyelamatkan dirimu sendiri. Namun, Allah memberikan keselamatan itu kepadamu. Kamu tidak memperolehnya lewat usahamu. Sehingga tidak ada seorang pun dapat memegahkan dirinya atas apa yang Allah telah kerjakan."
READ MORE - Analisis Kernel: Terjemahan Efesus 2:8-9

Matius 18:23-35 BELAS KASIHAN YANG TIDAK DITERAPKAN MENDATANGKAN HUKUMAN

Pendahuluan
Tulisan ini adalah sebuah analisis perumpamaan Tuhan Yesus di Matius 18:23-35. Pendekatan analisis dalam tulisan ini adalah pendekatan naratif. Pendekatan naratif menekankan analisis cerita perumpamaan. Analisis cerita dimulai dari membuat struktur dan terjemahan teks, pengumpulan data dari teks, analisis kisah melalui tahap analisis peristiwa, tokoh, dan analisis peristiwa dan tokoh. Tujuan analisis cerita adalah mendapatkan tema narasi di dalam perumpamaan tersebut. Tesis untuk mendapatkan tema cerita adalah gabungan antara tokoh (karakter) dan peristiwa (prolog (mulai cerita) – konflik (puncak/perumitan cerita) – epilog (akhir cerita)). Setelah mendapatkan temanya, penulis menjelaskan tema tersebut dalam kerangka atau konsep teologis khususnya di dalam konteks kitab Matius. Selanjutnya, penjabaran teologis ini akan diuraikan lagi menjadi aplikasi bagi pembaca atau jemaat kontemporer.

Teks (versi UBS4)
23 Διὰ τοῦτο ὡμοιώθη ἡ βασιλεία τῶν οὐρανῶν ἀνθρώπῳ βασιλεῖ, ὃς ἠθέλησεν συνᾶραι λόγον μετὰ τῶν δούλων αὐτοῦ. 24 ἀρξαμένου δὲ αὐτοῦ συναίρειν προσηνέχθη αὐτῷ εἷς ὀφειλέτης μυρίων ταλάντων. 25 μὴ ἔχοντος δὲ αὐτοῦ ἀποδοῦναι ἐκέλευσεν αὐτὸν ὁ κύριος πραθῆναι καὶ τὴν γυναῖκα καὶ τὰ τέκνα καὶ πάντα ὅσα ἔχει, καὶ ἀποδοθῆναι. 26 πεσὼν οὖν ὁ δοῦλος προσεκύνει αὐτῷ λέγων, Μακροθύμησον ἐπ᾽ ἐμοί, καὶ πάντα ἀποδώσω σοι. 27 σπλαγχνισθεὶς δὲ ὁ κύριος τοῦ δούλου ἐκείνου ἀπέλυσεν αὐτὸν καὶ τὸ δάνειον ἀφῆκεν αὐτῷ. 28 ἐξελθὼν δὲ ὁ δοῦλος ἐκεῖνος εὗρεν ἕνα τῶν συνδούλων αὐτοῦ, ὃς ὤφειλεν αὐτῷ ἑκατὸν δηνάρια, καὶ κρατήσας αὐτὸν ἔπνιγεν λέγων, Ἀπόδος εἴ τι ὀφείλεις. 29 πεσὼν οὖν ὁ σύνδουλος αὐτοῦ παρεκάλει αὐτὸν λέγων, Μακροθύμησον ἐπ᾽ ἐμοί, καὶ ἀποδώσω σοι. 30 ὁ δὲ οὐκ ἤθελεν ἀλλὰ ἀπελθὼν ἔβαλεν αὐτὸν εἰς φυλακὴν ἕως ἀποδῷ τὸ ὀφειλόμενον. 31 ἰδόντες οὖν οἱ σύνδουλοι αὐτοῦ τὰ γενόμενα ἐλυπήθησαν σφόδρα καὶ ἐλθόντες διεσάφησαν τῷ κυρίῳ ἑαυτῶν πάντα τὰ γενόμενα. 32 τότε προσκαλεσάμενος αὐτὸν ὁ κύριος αὐτοῦ λέγει αὐτῷ, Δοῦλε πονηρέ, πᾶσαν τὴν ὀφειλὴν ἐκείνην ἀφῆκά σοι, ἐπεὶ παρεκάλεσάς με• 33 οὐκ ἔδει καὶ σὲ ἐλεῆσαι τὸν σύνδουλόν σου, ὡς κἀγὼ σὲ ἠλέησα; 34 καὶ ὀργισθεὶς ὁ κύριος αὐτοῦ παρέδωκεν αὐτὸν τοῖς βασανισταῖς ἕως οὗ ἀποδῷ πᾶν τὸ ὀφειλόμενον. 35 Οὕτως καὶ ὁ πατήρ μου ὁ οὐράνιος ποιήσει ὑμῖν, ἐὰν μὴ ἀφῆτε ἕκαστος τῷ ἀδελφῷ αὐτοῦ ἀπὸ τῶν καρδιῶν ὑμῶν.

Penelitian Naskah
Ayat 26. Kata λέγων oleh UBS4 dikategorikan {A} berarti teks ini secara yakin dapat dikatakan asli. Varian lain seperti λέγων, Kύριε tidak dianggap asli karena bacaan ini lebih panjang sehingga kemungkinan besar ditambahkan oleh penyalin pada waktu itu.

Terjemahan Literal
23 Oleh karena itu, Kerajaan Surga sama seperti seorang raja yang hendak mengadakan perhitungan dengan pelayan-pelayannya. 24 Ketika ia mulai menghitung, seorang penghutang diperhadapkan kepadanya sebesar 10 ribu talenta. 25 Namun, si penghutang tidak memiliki apa-apa untuk melunasi, raja itu memerintahkan dia untuk dijual beserta istri dan anak-anaknya serta seluruh yang dia miliki untuk melunasi hutangnya. 26 Maka pelayan itu menyembah dia dengan bersujud di hadapannya dan berkata, “Bersabarlah terhadap aku dan aku akan melunaskan segala hutangku kepadamu.” 27 Selanjutnya, raja dari pelayan itu membebaskannya dan membatalkan hutangnya karena digerakkan oleh belas kasihan. 28 Namun, ketika pelayan itu keluar, dia bertemu satu dari rekan-rekan pelayannya, rekan pelayan itu berhutang kepada pelayan itu seratus dinar, dan pelayan itu mencekiknya dengan cara menangkap dan berkata, “Bayarlah apapun hutangmu.” 29 Maka rekan pelayan itu memohon sangat dengan bersujud di hadapannya dan berkata, “Bersabarlah terhadap aku dan aku akan melunaskannya kepadamu.” 30 Tetapi pelayan itu tidak menginginkannya dan pergi menyerahkannya ke dalam penjara sampai dia melunaskan hutangnya. 31 Maka ketika rekan-rekan pelayannya melihat apa yang terjadi sangat bersedih dan mereka pergi melaporkan kepada rajanya segala yang terjadi. 32 Selanjutnya, raja itu memanggil pelayan itu dan berkata kepadanya, “Hai pelayan jahat, semua hutangmu itu telah aku hapuskan untukmu karena engkau memohon sangat kepadaku; 33 dan tidak seharusnyakah kamu berbelas kasihan kepada rekan pelayanmu seperti aku berbelas kasihan kepadamu?” 34 Dan raja itu marah dan menyerahkan dia kepada algojo-algojo sampai dia melunaskan semua hutangnya. 35 Maka, Bapa-Ku yang di surga akan berbuat dengan cara seperti ini kepadamu, jika kamu masing-masing tidak mengampuni saudara-saudarimu dari hatimu.

Terjemahan Dinamis
23. Oleh karena itu, Hal Kerajaan Surga diumpamakan seperti cerita berikut. Ada seorang raja hendak mengadakan perhitungan terhadap pegawai-pegawainya. 24 Di tengah perhitungan, raja itu menemukan seorang pegawainya berhutang sebesar 10.000 talenta. 25 Namun, si pegawai itu tidak memiliki uang untuk melunasi hutangnya kepada raja. Lalu, raja itu memberikan perintah kepadanya: jual dirimu, keluargamu, dan seluruh hartamu untuk melunasi hutangmu. 26 Mendengar hal ini, lalu si pegawai tu langsung menyembah dan bersujud di hadapan raja. Si pegawai memohon dengan sangat kepada raja dengan berkata, “Bersabarlah terhadap aku dan aku akan melunaskan semua hutangku kepadamu.” 27 Melihat hal tersebut, si raja berbelas kasihan kepadanya sehingga membebaskan dan membatalkan semua hutangnya. Si pegawai itu pun bebas sekarang. 28 Namun, ketika dia keluar, dia bertemu dengan rekan sesama pegawai yang berhutang 100 dinar. Si pegawai langsung datang menangkap dan mencekiknya. Si pegawai itu berkata, “Bayarlah semua hutangmu kepadaku.” 29 Lalu, rekan pegawai itu pun bersujud dan memohon dengan sangat kepadanya. Katanya, “Bersabarlah terhadap aku dan aku akan melunaskan semua hutangku kepadamu.” 30 Namun, si pegawai itu menolak permohonannya dan menjebloskan rekannya itu ke dalam penjara sampai dia bisa melunaskan semua hutangnya. 31 Peristiwa ini dilihat oleh rekan-rekan lain pegawai itu. Mereka menjadi sangat sedih. Lalu, mereka melaporkan peristiwa tersebut kepada rajanya. 32-33 Setelah mendengar laporan tersebut, si raja langsung memanggil si pegawai tersebut. Si raja berkata kepadanya, “Hai kamu pegawai yang tidak berbelas kasihan, bukankah seharusnya kamu berbelas kasihan kepada rekanmu itu seperti aku telah berbelas kasihan kepadamu?” 34 Akhirnya raja itu pun murka kepadanya dan menghukum dia dengan menyerahkanya kepada algojo-algojo sampai dia bisa melunaskan semua hutangnya. 35 Bapa di surga akan lakukan hal yang sama kepadamu jikalau kamu masing-masing tidak mengampuni saudara-saudarimu dari segenap hidupmu.

Struktur Perumpamaan
Perumpamaan di atas dibagi menjadi dua bagian besar yaitu:
A. Pengajaran Perumpamaan:
- Pembukaan perumpamaan: Hal Kerajaan Surga sama seperti narasi perumpamaan
- Penjelasan perumpamaan: Hal yang sama Bapa di surga akan lakukan kepadamu:
1. Jikalau kamu masing-masing tidak mengampuni saudara
saudarimu dari segenap hidupmu.
a. Narasi Perumpamaan:
- Cerita yang dibangun dari peristiwa-peristiwa berikut ini:
1. Ada seorang raja hendak mengadakan perhitungan terhadap pegawai-pegawainya.
2. Di tengah perhitungan, raja itu menemukan seorang pegawainya berhutang sebesar 10.000 talenta.
3. Si pegawai itu tidak memiliki uang untuk melunasi hutangnya kepada raja.
4. Raja itu memberikan perintah kepadanya: jual dirimu, keluargamu, dan seluruh hartamu untuk melunasi hutangmu.
5. Mendengar hal ini, lalu si pegawai tu langsung menyembah dan bersujud di hadapan raja.
6. Si pegawai memohon dengan sangat kepada raja dengan berkata, “Bersabarlah terhadap aku dan aku akan melunaskan semua hutangku kepadamu.”
7. Melihat hal tersebut, si raja berbelas kasihan kepadanya sehingga membebaskan dan membatalkan semua hutangnya.
8. Si pegawai itu pun bebas sekarang.
9. Ketika pegawai itu keluar, dia bertemu dengan rekan sesama pegawai yang berhutang 100 dinar.
10. Si pegawai langsung datang menangkap dan mencekiknya.
11. Si pegawai itu menagih hutangnya.
12. Rekan pegawai itu pun bersujud dan memohon dengan sangat kepadanya. Katanya, “Bersabarlah terhadap aku dan aku akan melunaskan semua hutangku kepadamu.”
13. Si pegawai itu menolak permohonannya dan menjebloskan rekannya itu ke dalam penjara sampai dia bisa melunaskan semua hutangnya.
14. Rekan-rekan lain pegawai itu melihat peristiwa tersebut.
15. Mereka menjadi sangat sedih.
16. Mereka melaporkan peristiwa tersebut kepada rajanya.
17. Setelah mendengar laporan tersebut, si raja langsung memanggil si pegawai tersebut.
18. Si raja berkata kepadanya, “Hai kamu pegawai yang tidak berbelas kasihan, bukankah seharusnya kamu berbelas kasihan kepada rekanmu itu seperti aku telah berbelas kasihan kepadamu?”
19. Akhirnya raja itu pun murka kepadanya dan menghukum dia dengan menyerahkanya kepada algojo-algojo sampai dia bisa melunaskan semua hutangnya.

Survei Pustaka
Menurut Armand Barus, sejarah penafsiran perumpamaan Matius 18:23-35 ada dua yaitu pertama, perumpamaan pengampunan mengajarkan tentang Allah (Jeremias, Schweizer, Goulder, Schnackenburg). Kedua, perumpamaan pengampunan mengajarkan tentang moralitas warga Kerajaan Surga (Linnemann, Strecker, Wenham, Hultgren). Mayoritas penafsir termasuk Barus menafsirkan perumpamaan ini adalah pengajaran tentang pengampunan tanpa batas. Barus menegaskan bahwa pengampunan tanpa batas ini melihat Allah dan warga Kerajaan Surga sebagai subjek sehingga ada penekanan pada dimensi teologis dan etis. Ringkasnya, mayoritas penafsir menegaskan bahwa perumpamaan ini adalah pengajaran tentang pengampunan tanpa batas. Pembacaan berikut akan sedikit berbeda melihat perumpamaan ini. Tulisan ini akan merevisi tafsiran-tafsiran yang ada dengan menggunakan tesis peristiwa dan tokoh sebagai pembawa tema bacaan.

Analisis Narasi Perumpamaan
Tujuan menganalisis narasi perumpamaan adalah mendapatkan tema atau pokok cerita perumpamaan. Premis/tesis dalam studi perumpamaan ini adalah gabungan antara tokoh (karakter) dan peristiwa (prolog (mulai cerita) – konflik (puncak/perumitan cerita) – epilog (akhir cerita)) menghasilkan tema atau pokok cerita. Analisis narasi ini akan dibagi dalam tiga tahap yaitu analisis peristiwa, tokoh dan peristiwa dan tokoh.
Analisis Peristiwa
Berdasarkan peristiwa-peristiwa di dalam narasi perumpamaan di atas, cerita ini dapat dibagi menjadi 3 episode.
1. Episode pertama dibagi menjadi:
- peristiwa awal: peristiwa nomor 1-2
- peristiwa puncak: peristiwa nomor 3-6
- peristiwa akhir: peristiwa nomor 7-8
2. Episode kedua dibagi menjadi:
- peristiwa awal: peristiwa nomor 9
- peristiwa puncak: peristiwa nomor 10-12
- peristiwa akhir: peristiwa nomor 13
3. Episode ketiga dibagi menjadi:
- peristiwa awal: peristiwa nomor 14-16
- peristiwa puncak: peristiwa nomor 17-18
- peristiwa akhir: peristiwa nomor 19
Episode pertama adalah peristiwa penagihan dan pembebasan hutang karena belas kasihan. Episode kedua adalah peristiwa yang tidak menunjukkan atau menerapkan belas kasihan. Episode ketiga adalah peristiwa konsekuensi dari perbuatan yang tidak menunjukkan belas kasihan. Episode pertama adalah peristiwa awal. Episode kedua adalah peristiwa puncak. Episode ketiga adalah peristiwa akhir.
Analisis Tokoh
Tokoh-tokoh di dalam kisah terdiri atas: raja, pegawai, rekan pegawai, rekan-rekan pegawai, anak dan isteri pegawai, dan algojo-algojo. Analisis tokoh akan difokuskan kepada tokoh yang memiliki lakuan bertujuan. Dalam hal ini, tokoh-tokoh tersebut adalah raja, pegawai, rekan pegawai, dan rekan-rekan pegawai. Di dalam episode pertama di atas, tokoh raja adalah tokoh utama. Episode kedua, tokoh pegawai adalah tokoh utama. Episode ketiga, tokoh raja adalah tokoh utama. Jadi, tokoh raja dan pegawai adalah tokoh utama atau sentral di dalam narasi ini, dan tokoh rekan pegawai dan rekan-rekan pegawai adalah tokoh penentang dan pembantu. Tokoh raja memiliki karakter utama sebagai tokoh yang penuh belas kasihan. Episode pertama menunjukkan karakter belas kasihan dan dipertegas kembali di episode ketiga yang memberikan penghukuman kepada orang yang tidak membagikan belas kasihan. Tokoh pegawai memiliki karakter utama sebagai tokoh tidak punya belas kasihan sama sekali walaupun dia sudah menerima belas kasihan dari raja. Tokoh rekan pegawai merupakan penentang tokoh pegawai. Tokoh rekan-rekan pegawai merupakan pembantu tokoh raja.
Analisis Peristiwa dan Tokoh
Dalam analisis ini kita akan mendapatkan tema narasi perumpamaan. Tema dibangun dari peristiwa dan karakter. Peristiwa di dalam narasi di atas adalah peristiwa menerima belas kasihan dan tidak menerapkannya mendatangkan hukuman. Karakter utama di dalam tokoh adalah belas kasihan. Jadi, tema cerita ini adalah belas kasihan yang tidak diterapkan mendatangkan hukuman. “Belas kasihan” merupakan karakter utama dari para tokoh. “Yang tidak diterapkan” menunjukkan peristiwa awal sampai puncak yaitu menerima belas kasihan namun tidak dibagikan kepada orang lain. “Hukuman” menunjukkan peristiwa akhir cerita.

Konsep Teologis
Berdasarkan struktur perumpamaan di atas, pengajaran di dalam perumpamaan terdiri atas pembukaan dan penjelasan perumpamaan. Tema pengajaran sekaligus menjadi tema perumpamaan. Tema pengajaran terdiri atas bagian pembukaan dan penjelasan perumpamaan. Pembukaan menunjukkan tema pengajaran sama dengan tema narasi. Penjelasan perumpamaan memberikan penjelasan tambahan terhadap tema pengajaran. Jadi, tema pengajaran sama dengan tema narasi perumpamaan ditambah dengan penjelasan perumpamaan. Tema pengajaran perumpamaan adalah belas kasihan yang tidak diterapkan mendatangkan hukuman. Lalu, apa kaitannya dengan tambahan penjelasan perumpamaan tentang pengampunan dari segenap hati? Belas kasihan merupakan cara atau solusi untuk melakukan pengampunan dari segenap hati. Konteks perumpamaan ini adalah pertanyaan Rasul Petrus tentang pengampunan (Matius 18:21-22) dan penjelasan perumpamaan kembali menegaskan tentang pengampunan. Isi atau tema perumpamaan adalah solusi untuk melakukan pengampunan. Pembukaan perumpamaan dengan kata “oleh karena itu” menghubungkan teks Matius 18:21-23 dan Matius 18:23-35. Tuhan Yesus sedang mengajarkan murid-murid-Nya cara melakukan pengampunan tanpa batas yaitu dengan menerima belas kasihan dan membagikan belas kasihan. Menerima belas kasihan tentu dari Allah. Membagikan belas kasihan tentu kepada sesama. Apa buktinya kalau murid-murid Yesus telah membagikan belas kasih? Buktinya adalah pengampunan tanpa batas. Allah akan memberikan penghukuman kepada mereka yang tidak mengampuni orang lain dari hati. Mengapa? Karena mereka tidak membagikan belas kasih yang sudah diterima dari Allah. Mengampuni tanpa batas menjadi bukti nyata kalau mereka telah diberi belas kasih dan membagikan belas kasih. Tanpa adanya belas kasih dari hati, maka tidak akan ada pengampunan. Namun, tanpa diberi belas kasih, maka tidak akan bisa membagikan belas kasih sehingga pengampunan tidak akan terjadi. Jadi, perumpamaan Matius 18: 23-35 adalah solusi atau cara mengampuni tanpa batas di dalam Matius 18:21-22.
Diberi belas kasih untuk membagikan belas kasih dalam wujud pengampunan tanpa batas menjadi ajaran pokok dari Matius 18:21-35. Jika umat Allah melanggar, tidak mengampuni, maka penghukuman telah tersedia. Hal ini berarti menuntut umat Allah untuk senantiasa memiliki hati yang penuh belas kasih. Tanpa hati yang penuh belas kasih maka pengampunan tidak akan terjadi dan penghukuman telah menanti.
Ayat 27, kata belas kasih “splagnizomai” digerakkan oleh belas kasihan sehingga mengalami atau memiliki belas kasihan terhadap seseorang. Di dalam tulisan Matius seperti 9:36; 14:14; 15:32; 20:34, yang menjadi subjek belas kasih adalah Yesus dan objek dari belas kasih adalah orang-orang banyak yaitu mereka yang lemah, terlantar, sakit dan lapar. Rasul Matius mau mengajarkan bahwa lihat teladan Yesus di dalam perbuatan berbelas kasih dengan cara membimbing atau menjadi gembala, menyembuhkan, memberi pemuasan kebutuhan jasmani. Perbuatan berbelas kasih yang dilakukan oleh Yesus dilakukan berbagai cara. Dua kebutuhan pokok dipenuhi atau diperhatikan Yesus yaitu kebutuhan jasmani dan rohani. Di dalam konteks pasal 18 atau perumpamaan, belas kasihan yang diberikan berakhir dalam wujud pengampunan tanpa batas. Ini memperkaya wujud belas kasihan. Belas kasihan bisa dilakukan dalam wujud membimbing, memberi makan, menyembuhkan dan bahkan mengampuni tanpa batas. Jemaat harus belajar berbelas kasih dengan mengikuti teladan yang ditunjukkan oleh Yesus. Belajar berbelas kasih adalah belajar dari perbuatan yang dilakukan oleh Yesus.
Ayat 33, kata belas kasih “eleew” berbelas kasih. Di dalam tulisan Matius seperti 9:27; 15:22; 17:15; 20:30,31 mengajarkan kepada jemaat untuk meminta belas kasih atau memohon belas kasih kepada Yesus. Mengapa kepada Yesus? Karena Yesus yang empunya belas kasih. Buktinya? Dia bisa membagikan belas kasih itu kepada orang-orang yang membutuhkan dalam berbagai cara. Matius 5:7 mengajarkan buah berbelas kasih yaitu mendapatkan belas kasih. Ada relasi mutualisme yang saling menguntungkan. Kesimpulannya: meminta atau memohon belas kasih kepada Yesus, maka kita akan diberi belas kasih, dan belas kasih yang kita peroleh kita bagikan kepada orang lain yang membutuhkan dan sebagai buahnya kita memperoleh belas kasih dari mereka.
Kesimpulan: belajar berbelas kasih kasih kepada Yesus dengan cara memohon/meminta belas kasih kepada Yesus maka akan diberikan belas kasih. Belas kasih yang diberikan wajiblah dibagikan kepada orang lain yang membutuhkan dan sebagai buahnya kita memperoleh belas kasih dari mereka. Jika kita tidak membagikan belas kasih yang kita peroleh, maka penghukuman yang akan kita peroleh. Belas kasih adalah solusi untuk melakukan pengampunan. Tanpa belas kasih maka tidak akan ada pengampunan. Teks 18:21-22 adalah tentang pengampunan dan menjadi konteks dari perumpamaan ini. Perumpamaan ini mengajarkan bagaimana seseorang mengampuni. Belas kasih menjadi cara efektif untuk melakukan pengampunan seperti yang diajarkan Yesus di Matius 18:22.

Aplikasi
Perumpamaan di atas mengajarkan satu hal penting bagi kehidupan orang percaya masa kini yaitu memiliki hati berbelas kasih. Konteks kehidupan jemaat saat ini begitu kompleks. Persaingan di segala bidang kehidupan memacu kita bersikap achievement oriented dan pelahan-lahan melupakan relasi antar manusia. Manusia memandang sesamnya seperti I-it – meminjam istilah dari Martin Buber. Sisi kemanusiaan terkikis oleh perkembangan zaman. Sehingga banyak orang di sekitar kita hidup dalam berbagai tekanan, depresi, kekosongan, kesepian dan absurditas akan hidup ini. Manusia saling berlomba mencapai target tertentu dan tidak sadar melukai dan mengorbankan manusia yang lain. Manusia sekarang tidak atau kurang mengalami kehangatan relasi antar personal manusia itu sendiri. Di tengah kekompleksan kehidupan, melalui tulisan ini penulis mengajak pembaca berhenti sejenak memikirkan pengampunan. Pengampunan adalah perbaikan relasi antar manusia yang retak dan hancur. Tanpa pengampunan, maka tidak ada humanitas yang bisa berkembang karena berhenti pada konflik. Pengampunan mengajarkan kita menerapkan belas kasihan. Adakah belas kasihan di tengah kehidupan ini? Umat Allah diajak oleh Tuhan Yesus untuk memberikan belas kasihan kepada mereka yang membutuhkan. Memberikan belas kasihan bukan hanya merasa kasihan kepada mereka yang membutuhkan, namun lebih jauh lagi adalah mengampuni. Tanpa belas kasihan, tidak mungkin ada pengampunan yang diberikan. Belas kasihan menjadi sebuah kebutuhan sekarang ini. Ketika kita hendak menjadi terang dan garam di dunia ini, maka belas kasihan menjadi semacam sumbu dan perasa yang mewarnai relasi antar manusia. Manusia mendapatkan kehangatan terang dan perasa /tidak hambar di dalam kehidupan ini. Belas kasihan memberikan secercah harapan kepada manusia untuk hidup lebih manusiawi lagi.
READ MORE - Matius 18:23-35 BELAS KASIHAN YANG TIDAK DITERAPKAN MENDATANGKAN HUKUMAN

ALLAH MENJAGA KEUTUHAN UMATNYA (MATIUS 18:12-14)

Teks (Versi USBS4)
12 Τί ὑμῖν δοκεῖ; ἐὰν γένηταί τινι ἀνθρώπῳ ἑκατὸν πρόβατα καὶ πλανηθῇ ἓν ἐξ αὐτῶν, οὐχὶ ἀφήσει τὰ ἐνενήκοντα ἐννέα ἐπὶ τὰ ὄρη καὶ πορευθεὶς ζητεῖ τὸ πλανώμενον; 13 καὶ ἐὰν γένηται εὑρεῖν αὐτό, ἀμὴν λέγω ὑμῖν ὅτι χαίρει ἐπ᾽ αὐτῷ μᾶλλον ἢ ἐπὶ τοῖς ἐνενήκοντα ἐννέα τοῖς μὴ πεπλανημένοις.14 οὕτως οὐκ ἔστιν θέλημα ἔμπροσθεν τοῦ πατρὸς ὑμῶν τοῦ ἐν οὐρανοῖς ἵνα ἀπόληται ἓν τῶν μικρῶν τούτων.

Penelitian Naskah
Ayat 14. Kata u`mw/n digolongkan oleh UBS4 kategori {C} artinya keraguan terhadap keaslian teks cukup tinggi. Varian lain adalah mou. Menurut Metzger, “Between the readings “your Father” and “my Father” it is difficult to decide. The latter, though strongly attested, probably reflects the influence of tou/ patro,j mou in ver. 10 (compare also ver. 35). The reading h`mw/n (D* and a few other witnesses) is probably itacism for u`mw/n.”

Terjemahan Literal
12 Apa yang kamu pikirkan? Jika seseorang memiliki 100 ekor domba, dan 1 dari mereka tersesat, bukankah dia akan meninggalkan 99 ekor domba di pegunungan dan pergi mencari yang tersesat? 13 Dan jika dia menemukannya, sungguh aku berkata kepadamu bahwa dia bersukacita atas 1 ekor domba itu lebih daripada (bersukacita) atas 99 ekor domba yang tidak tersesat. 14 Demikian juga, itu adalah bukan keinginan di hadapan Bapamu di Surga supaya satu dari yang kecil ini binasa.

Terjemahan Dinamis
12 Apa pendapatmu? Ada seorang gembala memiliki 100 ekor domba. Namun ketika dia menggembalakan, 1 dari mereka hilang dari kawanan domba. Bukankah si gembala akan meninggalkan 99 ekor domba di pegunungan dan pergi mencari 1 ekor yang hilang tersebut? 13 Akhirnya, dia menemukan 1 ekor domba yang hilang itu dan dia bersukacita untuk 1 ekor domba tersebut. Dia lebih bersukacita untuk 1 ekor domba itu dibandingkan dia bersukacita untuk 99 ekor domba yang tidak tersesat. 14 Hal yang sama juga dialami Bapa di Surga. Dia tidak menginginkan satu dari umat-Nya ini binasa.
Struktur Perumpamaan
Perumpamaan di atas dibagi menjadi dua bagian besar yaitu:
A. Pengajaran Perumpamaan:
- Pembukaan perumpamaan: Pertanyaan Yesus kepada murid-muridnya: Apa pendapatmu?
- Penjelasan perumpamaan: Hal yang sama juga dialami Bapa di Surga yaitu:
1. Dia tidak menginginkan satu dari umat-Nya ini binasa.
B. Narasi Perumpamaan:
- Cerita yang dibangun dari peristiwa-peristiwa berikut ini:
1. Ada seorang gembala memiliki 100 ekor domba.
2. Ketika dia menggembalakan 100 ekor domba, ada 1 dari mereka yang hilang dari kawanan domba.
3. Si gembala meninggalkan 99 ekor domba di pegunungan.
4. Si gembala mencari 1 ekor domba yang hilang tersebut.
5. Si gembala menemukan 1 ekor domba yang hilang tersebut.
6. Si gembala lebih bersukacita untuk 1 ekor domba tersebut daripada bersukacita untuk 99 ekor domba yang tidak tersesat.

Survei Pustaka
Para ahli menafsirkan perumpamaan ini dari berbagai fokus pembacaan seperti pada domba, gembala, dan domba dan gembala. Pertama, fokus pada domba (Schweizer, Gundry, dan Bruner) yang menekankan domba yang hilang namun ditemukan kembali. Kedua, fokus pada gembala (Jeremias, Linnemann, Hultgren, Hagner, Keener, Schnackenburg, Wenham, Barton, dan Barus). Barus memfokuskan pada gembala dengan berbagai karakterisasinya. Pertama, keharusan mencari domba yang hilang. Gembala mencari domba yang hilang semata-mata karena domba tersebut. Pencarian merupakan satu keharusan. Alasan pencarian tidak terletak pada domba tetapi pada gembala itu sendiri. Apakah kesedihan gembala yang mendalam atas hilangnya domba merupakan alasan pencarian domba? Mungkin saja. Kedua, sukacita ketika menemukan domba yang hilang. Menemukan domba yang hilang merupakan peristiwa penting sehingga menimbulkan sukacita. Gembala sangat bersukacita saat menemukan domba hilang merupakan bukti kesungguhan dan keseriusan pencariannya. Jadi, gembala harus mencari domba yang hilang karena dorongan kesedihan mendalam sehingga ketika menemukannya, ia sangat bersukacita. Di dalam konsep teologis Barus menyatakan perumpamaan gembala gigih membukakan dua perbuatan Allah dalam hubungan dengan umat-Nya. Pertama, Allah mencari yang hilang. Allah tidak ingin ada yang binasa. Inilah sebabnya mengapa Allah pasti mencari jemaat yang tersesat dan hilang. Kedua, Allah bersukacita saat menemukan jemaat yang hilang. Hubungan Allah dan umat-Nya mendapat bentuk nyata melalui hubungan sesama jemaat. Relasi sesama jemaat harus merupakan cermin relasi Allah dan umat-Nya. Jadi, jemaat juga harus gigih mencari dan membawa kembali anggota jemaat yang hilang yaitu jemaat yang meninggalkan persekutuan jemaat. Ketiga, fokus pada domba dan gembala (Blomberg). Blomberg melihat ada 3 buah pesan perumpamaan yaitu pertama, sama seperti gembala mencari domba hilang dengan giat, demikian juga Allah mengambil inisiatif untuk mencari dan menyelamatkan orang berdosa yang hilang. Kedua, sama seperti penemuan domba yang hilang menimbulkan sukacita, demikian juga keselamatan manusia yang sesat menimbulkan sukacita. Ketiga, sama seperti keberadaan 99 domba bukan menjadi alasan untuk tidak mencari domba yang hilang, demikian juga umat Allah tidak akan pernah puas dengan jumlah besar sehingga tidak lagi mencari yang hilang.

Analisis Narasi Perumpamaan
Tujuan menganalisis narasi perumpamaan adalah mendapatkan tema atau pokok cerita perumpamaan. Premis/tesis dalam studi perumpamaan ini adalah gabungan antara tokoh (karakter) dan peristiwa (prolog (mulai cerita) – konflik (puncak/perumitan cerita) – epilog (akhir cerita)) menghasilkan tema atau pokok cerita. Analisis narasi ini akan dibagi dalam tiga tahap yaitu analisis peristiwa, tokoh dan peristiwa dan tokoh.
A. Analisis Peristiwa
Analisis peristiwa dilakukan dengan tiga tahap. Pertama, peristiwa awal yaitu seorang gembala memiliki 100 ekor domba, namun ketika dia sedang menggembalakan domba-dombanya, ada 1 ekor domba yang hilang dari kawanan domba. Kedua, peristiwa beralih ke puncak yaitu si gembala domba meninggalkan 99 ekor domba dan mencari 1 ekor domba yang hilang tersebut. Ketiga, peristiwa beralih ke akhir yaitu si gembala akhirnya menemukan domba yang dicari dan dia pun lebih bersukacita untuk 1 ekor domba tersebut daripada untuk 99 ekor domba yang tidak hilang. Ringkasnya, peristiwa-peristiwa awal sampai akhir adalah peristiwa keberhasilan gembala menjaga atau mempertahankan 100 ekor dombanya.
B. Analisis Tokoh
Tokoh di dalam narasi perumpamaan cuma satu yaitu gembala domba. Apa yang dilakukan oleh gembala domba di dalam narasi? Dia menggembalakan 100 ekor dombanya, meninggalkan 99 ekor domba, mencari 1 ekor domba yang hilang, menemukannya, dan bersukacita untuk 1 ekor domba tersebut lebih daripada untuk 99 ekor domba yang tidak hilang. Ketika terjadi permasalahan yaitu kehilangan 1 ekor domba, dia meninggalkan domba-domba yang lain dan mencari 1 ekor domba itu. Hasilnya adalah dia mendapatkan kembali 1 ekor tersebut dan membuat domba-dombanya menjadi utuh 100 ekor. Tujuan dia mencari 1 ekor domba yang hilang adalah bukan semata-mata mendapatkan 1 ekor itu kembali, namun lebih dari itu yaitu untuk mempertahankan keutuhan 100 ekor domba. Seratus ekor domba itu adalah tanggung jawab gembala untuk menggembalakannya. Karakter seperti apa yang melekat pada tokoh gembala ini? Berdasarkan tindakan-tindakan yang dia lakukan dari peristiwa awal sampai akhir, karakter utama gembala adalah dia berusaha menjaga atau mempertahankan keutuhan 100 ekor domba. Dia adalah gembala yang bertanggung jawab. Tanggung jawabnya terlihat ketika dia mencari dan menemukan 1 ekor domba yang hilang sehingga keutuhan 100 ekor domba tetap terjaga. Sukacita adalah respon yang wajar dari hasil usahanya mempersatukan kembali 1 ekor domba ke kawanan domba lainnya. Jadi, karakter utama gembala domba adalah usaha menjaga keutuhan 100 ekor domba atau domba yang dipercayakan kepadanya.
C. Analisis Peristiwa & Tokoh
Dalam analisis ini kita akan mendapatkan tema narasi perumpamaan. Tema dibangun dari peristiwa dan karakter. Peristiwa di dalam narasi adalah peristiwa keberhasilan gembala menjaga atau mempertahankan 100 ekor dombanya. Karakter dari tokoh adalah usaha menjaga keutuhan 100 ekor domba atau domba yang dipercayakan kepadanya. Jadi, tema narasi perumpamaan adalah usaha menjaga atau mempertahankan keutuhan 100 ekor domba yang berhasil.

Konsep Teologis
Berdasarkan struktur perumpamaan di atas, pengajaran di dalam perumpamaan terdiri atas pembukaan dan penjelasan perumpamaan. Tema pengajaran sekaligus menjadi tema perumpamaan. Tema pengajaran terdiri atas bagian pembukaan dan penjelasan perumpamaan. Pembukaan perumpamaan di atas adalah sebuah pertanyaan “Apa pendapatmu?” Pertanyaan ini adalah untuk melibatkan pendengar dan menarik perhatian pendengar agar lebih serius memikirkan cerita yang akan disampaikan. Pembukaan perumpamaan mengandung rumusan perumpamaan secara implisit “sama seperti” dan ini terlihat jelas di bagian penjelasan perumpamaan “hal yang sama juga dialami Bapamu di Surga.” Pembukaan perumpamaan sama dengan tema narasi perumpamaan. Oleh karena itu, tema pengajaran sama dengan tema narasi perumpamaan yang ditambah dengan penjelasan perumpamaan. Tema narasi perumpamaan adalah usaha menjaga atau mempertahankan keutuhan 100 ekor domba yang berhasil. Penjelasan perumpamaan menekankan peristiwa yang sama dialami oleh Bapa di Surga yaitu keinginan mempertahankan keutuhan umat-Nya. Ini menunjukkan tokoh si gembala di dalam narasi diumpamakan seperti Bapa di Surga di dalam penjelasan perumpamaan. Jadi, tema pengajaran perumpamaan adalah usaha Allah menjaga atau mempertahankan keutuhan umat-Nya yang berhasil. Usaha apa yang dilakukan oleh Allah di dalam menjaga atau mempertahankan keutuhan umat-Nya? Tuhan Yesus mengajarkan dua usaha yaitu meninggalkan dan mencari. Afi,hmi ‘meninggalkan’ verba yang sama dipakai oleh Matius ketika Petrus, Andreas, Yakobus dan Yohanes meninggalkan pekerjaan mereka dan kemudian mengikuti Yesus (4:20,22). Meninggalkan pekerjaan mereka yang lazim dan melakukan sesuatu yang lain di dalam dua konteks (murid-murid mengikuti Yesus dan gembala mencari 1 ekor domba tersesat) Matius tadi terjadi karena ada sesuatu yang lebih penting dan mendesak untuk dikerjakan. Matius menggunakan verba ini untuk menggambarkan kepada pembaca bahwa ada dua prioritas atau pilihan yang harus dipilih oleh pelaku. Dan Matius menuliskan jelas bahwa pilihan melakukan sesuatu yang lain menjadi yang terpenting dan mendesak. Dan itu yang dilakukan oleh pelaku. Meninggalkan mengandung makna memilih prioritas yang tepat. Hal ini terjadi karena pelaku menyadari ada sesuatu yang lebih penting untuk dikerjakan. Begitu juga dengan Allah Bapa. Allah tahu ada sesuatu yang lebih penting untuk dikerjakan. Apa itu? Yaitu Allah mencari yang tersesat. Verba zhte,w dalam konteks ini berarti mencari apa yang hilang. Dalam hal ini berarti usaha menemukan kembali apa yang menjadi miliknya. Di dalam tulisan Matius, arti verba ini hanya terdapat di ayat ini (18:12). Bandingkan juga dengan Lukas 19:10 “Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.” Anak Manusia datang ke dunia untuk mencari apa yang menjadi milik-Nya kembali yaitu orang-orang kudus pilihan Allah. Anak manusia menyelamatkan mereka yang hilang. Hal yang sama juga di dalam konteks Matius ini yaitu Allah berusaha menemukan kembali mereka yang tersesat atau hilang. Mereka di sini adalah orang-orang kudus pilihan Allah atau orang percaya. Allah tidak menginginkan tidak satupun umat pilihan-Nya tersesat sehingga Allah mencari mereka. Semuanya ini menunjukkan kasih Allah yang begitu besar. Mencari mengandung makna usaha menemukan kembali apa yang menjadi miliknya dan usaha mencari ini didorong oleh kasih yaitu keinginan tidak ada seorang pun dari miliknya binasa. Usaha meninggalkan dan mencari memberikan hasil yaitu menemukan. Menemukan menunjukkan usaha Allah mempertahankan keutuhan umat-Nya yang berhasil yang disertai dengan perasaan sukacita besar.

Aplikasi
Umat sangat perlu menyadari bahwa Allah berusaha mempertahankan keutuhan umat-Nya. Allah memiliki kasih yang begitu besar yaitu keinginan tidak ada seorang pun dari milik-Nya ini binasa. Allah tentu memiliki keinginan bahwa umat-Nya juga melakukan hal yang sama. Aplikasi bagi umat Allah sekarang ini adalah dua hal yaitu pertama, umat Allah harus berani mengambil keputusan meninggalkan sesuatu yang lazim untuk mengerjakan hal yang jauh lebih penting. Umat Allah harus menyadari bahwa mencari saudara yang tersesat atau hilang adalah jauh lebih penting daripada memprioritaskan hal-hal lain. Mengapa? Karena Allah juga melakukan yang sama. Saudara yang tersesat adalah saudara seiman yang hilang dari persekutuan atau kumpulan jemaat. Mencari mereka menjadi prioritas terpenting dibandingkan saudara seiman lain yang tidak tersesat. Kedua, meninggalkan dan mencari didorong oleh kasih yaitu keinginan tidak ada seorang pun anggota persekutuan jemaat itu binasa. Mereka bisa tersesat oleh karena faktor luar maupun dalam. Faktor luar seperti ajaran sesat atau hal-hal lainnya. Faktor dalam bisa karena keinginan sendiri meninggalkan persekutuan jemaat (18:8-9) dan tidak lagi pernah masuk di dalam persekutuan. Umat Allah harus menyadari dan memprioritaskan mereka untuk menariknya kembali ke dalam persekutuan. Itulah yang diinginkan oleh Allah kepada umat-Nya. Namun, ingat dorongan kasih yaitu keinginan tidak ada seorang pun dari milik umat Allah binasa menjadi faktor kunci dalam menemukan mereka kembali.
READ MORE - ALLAH MENJAGA KEUTUHAN UMATNYA (MATIUS 18:12-14)

Joy In the Lord (Philippians 4:10-11)

Text 4:10-11 is part of the macro text, especially in sub-section 4:10-20 4:10-14. Text 4:10-20 as a whole has a central idea: "The joy of the Philippians Paul because of the good in supporting the needs of his life." While the sub-section 4:10-14 text is "the joy of Paul to the Philippians' concern to him through the aid brought by Epaphroditus .
4:10-11 text discourse analysis result can be rewritten like this: "How much I rejoice in my life is communion with God because after so long time for you to have the opportunity again to show that you care about me, I know you really care about me,only you do not have a chance to show it to me. Do not think that I say this because I needed because I have learned to be content with what I have. "
Paul's joy is in communion with his God. His life is fellowship with God encouraged him rejoice. This explains Paul's intimate personal relationship with God. In addition, factors that harsh environmental conditions do not affect the sense of joy. In fact, he grew out of a sense of joy by the congregation concern over the conditions at hand.Paul did not deny that he needs the material offerings of the congregation and it was understood by the Philippians. Paul adds joy does not depend on the material or environmental conditions, because he has learned to be sufficient in all respects.
From this text we can reflect on some things. First, it turns out one aspect of the joy of the believer is a sense of caring for others in terms of satisfying material needs. But that does not satisfy the needs of the appliance itself became the joy someone drive itself but rather a sense of concern. Paul wrote at 4:11 firmly "Do not think that I say this because I needed because I have learned to be content with what I have."
Second, a sense of heartfelt concern for the Philippians Paul that he felt the excitement. And conversely the Philippians shows the existence of himself as a devout church and support what is taught by Paul (2:12; 4:9). This is actually a mutually happy relationship. The Dalai Lama also teaches the same, "When We Are Concerned mainly with our own interests, inevitably We tend to neglect others' interests. Because of this, preoccupation with our own interests-our own narrow desires, ambitions, and goals, undermines our ability to be compassionate. And since compassion is the source of happiness, self-centeredness That prevents us from attaining spiritual peace-peace of heart and mind, the which is the principal characteristic of lasting happiness. Conversely, the more We concern ourselves with Providing for others' well-being, the more meaningful our lives We changed from ourselves and the will of be happier. In Helping others, We Provide for our own happiness Because happiness is not, We find, an end in Itself. Rather it is a by-product of those actions We take for the benefit of others. Thus in serving others We serve ourselves. This is why I call Sometimes compassion "wise selfishness." ("A Call to Compassion." Encyclopædia Britannica. Encyclopaedia Britannica Ultimate Reference Suite. Chicago: Encyclopædia Britannica, 2010.)
Third, in Paul's writings a sense of concern for others that have an effect on each other happy relationships are not separated from communion with God. This actually points that always miss in our minds. The biggest joy is when people rejoice in the Lord. All the problems of human life come as time goes on. That's where the opportunity we show a sense of caring. But if we can take a moment to fellowship with Him the joy and peace to His will protect our thoughts and feelings (4:4-7). Allow me to quote Osward Chambers as a cover of this reflection, "If I am Devoted to the humanity only, I will from soon be exhausted and come to the place WHERE my love will of falter, but if I love Jesus Christ personally and passionately, I cans serve humanity though men treat me as a door-mat. The secret of a Disciple's life is Devotion to Jesus Christ, and the characteristic of the life is its unobtrusiveness. It is like a corn of wheat, the which falls into the ground and dies, but Presently it will from spring up and alter the whole landscape. "(" The Service of Passionate Devotion. "My Utmost for His Highest). Amen!

Hendi
STT Soteria Purwokerto
January 18, 2011
READ MORE - Joy In the Lord (Philippians 4:10-11)

Sukacita dan Damai

SUKACITA DAN DAMAI
Filipi 4:4 “Senantiasa bergembiralah sepenuhnya dalam persekutuanmu dengan Allah. Aku mengatakan sekali lagi, bersukacitalah.”
Filipi 4:5-7 “Tunjukkanlah kesabaranmu kepada semua orang. Tuhan sudah dekat. Janganlah kuatir terhadap apapun. Tetapi di dalam semua doamu mintahlah kepada Allah apa yang kamu butuhkan. Dan ketika kamu berdoa, berdoalah dengan hati yang penuh ucapan syukur kepada Allah. Maka kamu akan mendapatkan kedamaian yang diberikan Allah yang melampaui pemahaman manusia melalui persekutuan di dalam Kristus Yesus. Kedamaian itu akan melindungi pikiran, perasaan dan kehendakmu.”
Filipi 4:4 dan 4:5-7 adalah dua nasihat Paulus kepada jemaat Filipi. Dua nasihat ini adalah bagian dari lima nasihat Paulus kepada jemaat Filipi. Kelima nasihat ini terdapat di 4:1-9. Kelima nasihat itu adalah:
(A) Nasihat untuk terus berjuang dengan bersandar kepada Allah.
(B) Nasihat untuk saling bersatu karena Injil.
(C) Nasihat bersukacita di dalam persekutuan dengan Allah.
(D) Nasihat tidak khawatir di tengah kesulitan oleh karena ada kedamaian dari Allah.
(E) Nasihat untuk memikirkan dan melakukan apa yang telah dipelajari dari Paulus.
Renungan kali ini akan fokus pada nasihat ketiga (C) dan keempat (D).
Nasihat ketiga adalah bersukacita di dalam persekutuan dengan Allah.
Nasihat keempat adalah tidak khawatir di tengah kesulitan oleh karena ada kedamaian dari Allah.
Kata kunci dari kedua nasihat di atas adalah “sukacita,” “tidak khawatir,” “doa” dan “kedamaian.”
Paulus menasihati “bersukacitalah,” “tidak khawatir di tengah kesulitan,” “berdoalah” maka “kedamaian dari Allah akan melindungi pikiran, perasaan dan kehendakmu.”
Nasihat yang sederhana dan sangat manusiawi. Manusia perlu bergembira, mencurahkan seluruh isi hati yang peluh kepada sang Penciptanya, dan mendapatkan ketenangan dari-Nya supaya seluruh fakultinya tidak roboh, jiwa pun menjadi tenang dan damai. Paulus sungguh mengerti akan hal ini.
Saya mencoba menghubungkan nasihat Paulus ini dengan sebuah peristiwa nyata 2000 tahun lalu. Sebuah peristiwa seorang perawan yang sudah bertunangan dengan seorang bernama Yusuf dari keluarga Daud, Maria namanya, mendapat pesan dari Malaikat Gabriel (Luk 1:26-38). Pesannya: "Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh anugerah di hadapan Allah. Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus.” Maria keheranan dan tidak mungkin hal ini bisa terjadi. Dia masih perawan, namun akan mengandung dan melahirkan. Sehingga dia bertanya kepada sang malaikat, “Bagaimana caranya, padahal aku masih perawan?” Tetapi jawab malaikat, “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah yang Mahatinggi akan menaungi engkau,… Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil.” Intinya adalah: pesan malaikat pasti terjadi dan Maria harus siap menerima kenyataan dia akan hamil di luar pernikahan. Maria berkata, “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.”
Perkataan Maria menyiratkan sebuah ketaatan. Namun dibalik ketaatan Maria ada kesulitan besar yang dia hadapi. Bagaimana dengan calon suaminya, Yusuf, bisa menerima hal ini? Injil Matius melengkapi cerita dari Lukas ini. Setelah Malaikat Gabriel pergi, skenario cerita beralih pada Yusuf (baca Mat 1:18-25). Yusuf tahu dan hendak menceraikan Maria secara diam-diam, supaya Maria tidak dicemarkan di depan umum. Namun, malaikat Tuhan datang dalam mimpi Yusuf dan niat tersebut tidak terlaksana. Yusuf menikahi Maria yang sedang hamil.
Peristiwa “Maria hamil” adalah peristiwa penuh anugerah namun penuh kesulitan; penuh keheranan namun juga penuh ketaatan. Perasaan dan pikiran Maria bercampur aduk.
Di saat jiwa manusia bercampur aduk, kata Paulus, “Bersukacitalah di dalam Tuhan,” “Tidak khawatir di tengah kesulitan,” dan “berdoalah dengan hati yang penuh ucapan syukur.” Dan itulah yang dilakukan oleh Maria. Jikalau kita baca Lukas 1:46-55 merupakan untaian kata-kata Maria yang mencerminkan seluruh ungkapan isi hati Maria yang penuh gembira, bebas dari kekhawatiran kepada Allahnya. Maria memperoleh ketenangan dan kedamaian Natal yang pertama kali. Dia adalah orang pertama yang merasakan sukacita dan damai Natal.
Saudara-saudaraku, nasihat Paulus dan peristiwa Maria memperoleh sukacita dan damai Natal dari Allah, sepertinya sulit kita alami saat sekarang ini. Pertanyaan yang penting di sini bukan “mengapa” melainkan “bagaimana” kita merasakan seperti yang Maria rasakan, “bagaimana” kita menuruti nasihat Paulus ini.
Kembali kepada teks Filipi 4:4-7. Konteks jemaat adalah ketidakharmonisan dan ketidaksatuan jemaat. Ada berbagai permasalahan dan kesulitan dalam internal jemaat Filipi. Nasihat Paulus jelas di dalam teks, namun bagaimana mungkin itu dilaksanakan di tengah konteks demikian. Di tengah permasalahan, harus bersukacita, berdoa, bersabar, dan tidak khawatir.
Saya merenungi nasihat Paulus ini dan mendapatkan beberapa prinsip penting:
1. Allah lebih sayang kepada jiwa kita, daripada permasalahan dan kesulitan yang dihadapi setiap manusia. Sehingga ayat 6 dan 7 dituliskan, “Tetapi di dalam semua doamu mintahlah kepada Allah apa yang kamu butuhkan. Dan ketika kamu berdoa, berdoalah dengan hati yang penuh ucapan syukur kepada Allah. Maka kamu akan mendapatkan kedamaian yang diberikan Allah yang melampaui pemahaman manusia melalui persekutuan di dalam Kristus Yesus. Kedamaian itu akan melindungi pikiran, perasaan dan kehendakmu.” Allah menyediakan diri-Nya untuk mendengar setiap keluh kesah umat-Nya. Allah juga memberikan kedamaian di hati umat-Nya.
2. Sukacita dan damai melampaui segala permasalahan hidup manusia. Sukacita dan damai tidak bersifat kondisional. Di tengah kesulitan, manusia bisa mengalami sukacita dan damai seperti yang dialami Maria. Bagaimana bisa? Seperti dituliskan, kedamaian dan sukacita berasal dari Allah dalam persekutuanmu dengan Kristus Yesus. Kedamaian dan sukacita merupakan pemberian ilahi, tidak bisa dibuat-buat, melampaui pemahaman manusia, dan bersifat sangat personal dalam persekutuan dengan Kristus. Kedamaian dan sukacita yang otentik ada di dalam relasi dengan Allah dan Kristus. Permasalahan manusia tidak menghilangkan rasa sukacita dan damai di hati.
3. Sukacita, tidak khawatir, bersabar, berdoa dan merasakan damai merupakan makanan bagi jiwa untuk menghadapi segala permasalahan hidup manusia. Makanan bagi jiwa menjadi semacam kekuatan jiwa bagi pikiran, perasaan dan kehendak yang kita pakai setiap hari. Nasihat Paulus ini bukanlah kesemuan rohani atau sekedar nasihat rohani yang tidak mengerti beratnya kehidupan manusia. Tentu saja kita tidak boleh hidup dalam kesemuan rohani. Kesemuan rohani tidak memberikan kita modal menghadapi realita kehidupan, namun menjebak kita ke dalam kesemuan hidup.

Saudara-saudaraku, di moment Natal, bagaimana kita mendapatkan sukacita dan damai Natal? Kita perlu merenungkan ketiga hal di atas dan menerapkan nasihat Paulus ini dalam hati sanubari kita. Selamat Natal 2010.
READ MORE - Sukacita dan Damai

Perumpamaan Pembangun Rumah (Matius 7:24-27)

Matius 7:27-27
Teks (versi TB):
24"Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. 25 Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu. 26 Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir. 27 Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya."


Teks di atas saya buat di dalam beberapa proposisi sebagai berikut:
(1)Setiap orang mendengar perkataan Yesus dan melakukannya sama seperti
(homoiwthesetai) orang bijaksana (tunggal)mendirikan rumahnya di atas batu
(2)Orang bijaksana mendirikan rumah di atas batu
(3)Datang hujan, banjir dan angin melanda rumah orang itu
(4)Tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu
(5)Setiap orang mendengar perkataan Yesus dan tidak melakukannya sama seperti
(homoiwthesetai) orang bodoh (tunggal) mendirikan rumahnya di atas pasir
(6)Orang bodoh mendirikan rumah di atas pasir
(7)Datang hujan, banjir dan angin melanda rumah itu
(8)Dan rumah itu rubuh dan hebat kerusakannya

Dari proposisi (1)-(8) menghasilkan 6 proposisi baru berikut:
(9)Setiap orang sama-sama (memiliki kesempatan sama) mendengar perkataan Yesus (1&5)
(10)Namun terjadi dua respon berbeda: ada orang yang melakukan perkataan Yesus dan
ada orang yang tidak melakukan perkatan Yesus (1 & 5)
Proposisi(9) dan (10) adalah pengajaran perumpamaan yang diumpamakan "sama seperti" narasi perumpamaan berikut:
(11)Ada dua macam orang sama-sama mendirikan rumah (2 & 6)
(12)Namun terjadi dua pilihan fondasi berbeda di dalam mendirikan rumah: yang satu
memilih di atas batu dan yang satu lagi memilih di atas pasir (2 & 6)
Kemudian:
(13)Ada bencana (hujan, banjir dan angin) yang melanda kedua rumah itu (3 & 7)
(14)Dan terjadi dua kejadian berbeda: rumah di atas batu tidak rubuh dan rumah di
atas pasir rubuh dan rusak (4 & 8)

Dari proposisi (9)-(14) akan menghasilkan 2 kesimpulan proposisi berikut:
(15)Orang yang mengantisipasi atau mempersiapkan diri menghadapi bahaya bencana
adalah orang bijaksana (11, 12, 13 & 14)
(16)Orang yang tidak mengantisipasi atau mempersiapkan diri menghadapi bahaya
bencana adalah orang bodoh (11, 12, 13 & 14)
Kemudian:
(17)Orang yang mendengar perkataan Yesus dan melakukannya adalah orang yang bisa
mengantisipasi atau mempersiapkan diri menghadapi bahaya bencana dan dia disebut
orang bijaksana (9, 10 & 15)
(18)Orang yang mendengar perkataan Yesus dan tidak melakukannya adalah orang yang
tidak bisa mengantisipasi atau mempersiapkan diri menghadapi bahaya bencana dan
dia disebut orang bodoh (9, 10 & 16)

Aplikasi:
1.Orang kristen yang melakukan perkataan Yesus dalam hidupnya lebih terlatih memberi respons yang tepat dan benar ketika menghadapi krisis di dalam hidupnya sekarang.
2. Sebaliknya, orang Kristen yang tidak melakukan perkataan Yesus dalam hidupnya tidak dapat memberi respons yang tepat bahkan hancur ketika menghadapi kriris di dalam hidupnya.
3.Perumpamaan ini mengajarkan suseptibilitas seorang murid terhadap krisis. Seorang pengikut Kristus dengan mudah memberi respon terhadap badai bukan karena kemampuan dirinya tetapi karena dengan anugerah berdiri di atas perkataan Yesus. Perkataan Yesus memberinya kekuatan ketika diterpa badai atau krisis kehidupan.
4.Perumpamaan ini menjadi peringatan kepada orang Kristen yang tidak melakukan perkataan Yesus, walaupun dia sudah sering mendengar perkataan Yesus selama bertahun-tahun. Fondasi filsafat hidup yang kelihatan mudah dan indah akan menghancurkan hidup secara hebat saat diterjang badai kehidupan.
5.Perumpamaan ini menjadi penghiburan bagi pelaku firman sebaliknya menjadi peringatan bagi yang tidak melakukan firman Yesus. Khotbah Yesus di bukit diakhiri dengan peringatan sekaligus juga penghiburan.
READ MORE - Perumpamaan Pembangun Rumah (Matius 7:24-27)

Eksposisi Injil Yohanes 1:3-5 --- Logos dan Penciptaan

"3 Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan. 4 Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia. 5 Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya."

Perbedaan makna “pada mulanya” antara Kej. 1:1 dengan Yoh 1:1 adalah dalam Kejadian “pada mulanya” mengacu pada awal mula eksistensi alam semesta yakni diciptakan oleh Allah. Permulaan segala sesuatu yang disebut ada adalah Allah, Sang Pencipta. Namun dalam Yoh 1:1 “pada mulanya” lebih mundur ke belakang (dalam pengertian waktu) yaitu mengacu pada eksistensi Allah, khususnya Logos, yang sudah ada sebelum segala sesuatu ada. Yoh 1:1 membicarakan eksistensi Allah yang kekal dan Kej 1:1 membicarakan karya penciptaan Allah sebagai mula dari segala sesuatu yang ada. Oleh sebab itu ayat yang paralel dengan Kej 1:1 adalah Yoh 1:3, karena bagian ini sama-sama menjelaskan karya penciptaan oleh Elohim (Theos). Namun dalam Injil Yohanes, terdapat keterangan yang lebih spesifik, bahwa pelaku penciptaan alam semesta adalah Pribadi Logos.

Penciptaan Logos bersifat Creatio ex nihilo
Ayat 3 dituliskan oleh Yohanes dalam 2 bentuk, positif (through him all things were made) dan negatif (without him nothing was made that has been made). Perubahan tenses dari were made menjadi has been made merupakan perubahan yang menunjukkan the act of creation. Pada awalnya adalah ketiadaan, namun Logos menjadikan sesuatu menjadi ada dari yang tidak ada. Penciptaan adalah suatu karya yang unik hanya dilakukan oleh Allah dan sifat dari peciptaan haruslah creatio ex nihilo, penciptaan yang tidak bersifat ex nihilo tidak dapat digolongkan penciptaan. Penciptaan memberikan implikasi-implikasi penting dalam seluruh doktrin Kristen, diantaranya mengimplikasikan perbedaan esensi antara Pencipta dan ciptaan, kebergantungan ciptaan kepada Pencipta, kedaulatan Pencipta atas ciptaan, adanya limitasi ciptaan, dll.

Istilah dan konsep creation ex nihilo pertama kali dimunculkan secara eksplisit dan jelas oleh Theophilus of Antioch (c.185) dalam komentarnya terhadap kitab Kejadian, ia mengatakan: “God has created everything out of nothing into being.” Kemudian konsep ini diterima oleh Tertulianus dan Hippolytus namun pada waktu itu belum seluruh gereja menerima pandangan tersebut. Setelah abad ke-4, ketika Agustinus menerima konsep penciptaan dari ketiadaan maka gereja secara universal menerimanya sebagai sifat penciptaan alam semesta. Pandangan ini tidak banyak mengalami perdebatan dan tidak masuk dalam agenda-agenda konsili-konsili gereja dan diterima oleh para pemikir Kristen pada umumnya, seperti Anselmus, Aquinas, Luther, Zwingli dan John Calvin. Bahkan konsep creatio ex nihilo menurut Geisler merupakan pandangan ortodkos dari kelompok theist selain Kristen, yakni Islam dan Yudaisme.

Doktrin creatio ex nihilo berakar dari kata בָּרָא (baca: bara -- verb qal perfect 3rd person mas sing) yang memiliki makna split, divide, cut (dalam bentuk Piel, Yos 17:15, 18), to fashion, bring forth dan create. Alkitab secara konsisten menggunakan kata tersebut hanya kepada perbuatan Allah, tidak pernah menggunakannya kepada manusia. Jadi Alkitab sendiri menyatakan bahwa kata bara unik sebagai karya Allah yang sama sekali berbeda dengan tindakan makhluk ciptaan apapun. Namun kata ini sendiri, secara literal tidak cukup memberikan makna atau nuansa bahwa penciptaan itu bersifat “out of nothing.” Pemahaman “out of nothing” muncul dengan perbandingan dengan 2 Makabe 7:28 yang mengatakan “God made heaven and earth and everything in them out of nonbeing (Vulgata: fecit ex nihilo).” Allah menciptakan segala sesuatu; langit, bumi, laut dan segala isinya (Kel 20:11, Neh 9:6, dll) dari yang tidak ada menjadi ada. Apa yang disebut materi berasal dari ketiadaan, bukan dengan sendirinya tetapi diciptakan menjadi ada oleh Allah. Hanya Allah satu-satunya yang ada sejak dari permulaan yang tidak dicipta oleh siapapun.

Alkitab tidak pernah menjelaskan bahwa ketiadaan (nihilo) adalah source, father atau principle of being. Jadi ketiadaan bukanlah preeksistensi dari alam semesta. Preposisi ex tidak dimengerti sebagai designate (the cause) tetapi exclude. Penyebab dari penciptaan adalah Allah dan ciptaan pada awalnya tidak ada namun menjadi ada oleh karena Allah berkuasa menjadikan. Awal yang tiada (nihil) memberikan natur kepada ciptaan, yakni ciptaan bersifat dependen kepada PenciptaNya. Karena segala keberadaan ciptaan, termasuk manusia, bersandar kepada kuasa Sang Pencipta. Oleh sebab itu doktrin creatio ex nihilo mengajarkan atribut kedaulatan Allah absolut dan kebergantungan mutlak ciptaan kepada Allah. Untuk menegaskan konsep yang penting ini Bavinck menuliskan “if only a single particle were not created out of nothing, God would not be God.” Jadi meskipun istilah creatio ex nihilo tidak tertulis dalam kanon Alkitab, konsep ini merupakan konsep yang tersirat kuat dan sangat mendasar dalam seluruh kerangka iman Kristen.

Implikasi dari konsep creatio ex nihilo adalah Allah berbeda dengan ciptaan secara esensial. Yohanes membedakan dengan tegas antara esensi Allah dengan ciptaan termasuk manusia. Logos adalah subjek penciptaan namun Ia berbeda dengan ciptaanNya. Ciptaan Allah tidak mengandung Allah atau memiliki unsur-unsur tertentu dari natur Allah. Allah sama sekali berbeda dengan ciptaanNya. Creatio ex nihilo (creation out of nothing) tidak sama dengan creation out of God yang dianut oleh Panteisme. Karena Panteisme percaya bahwa segala sesuatu yang ada berasal dari Allah dan segala sesuatu adalah Allah, atau segala sesuatu memiliki unsur Allah.

Apakah Penciptaan hanya dilakukan oleh Pribadi Logos saja?
Bagian Alkitab yang lain memberikan catatan bahwa Allah menciptakan dunia melalui Allah Anak (Maz 33:6; Ams 8:22; Yoh 1:3; 5:17; 1 Kor 8:6; Kol 1:15-17; Ibr 1:3) dan melalui RohNya (Kej 1:2, Maz 33:6, Ayub 26:13; 33:4; Maz 104:30; Yes 40:13, Luk 1:35). Di dalam ayat-ayat ini, Anak dan Roh Kudus tidak dipandang sebagai secondary cause tetapi sebagai Agen-agen yang independen bersama-sama dengan Allah Bapa mengerjakan penciptaan ini. Ketiga Pribadi Allah ini adalah Allah yang Esa. Seluruh pekerjaan penciptaan dikerjakan oleh ketiga Pribadi Allah. Bavinck menggambarkan kerjasama tersebut demikian, “Father is spoken of as the first cause, the Son as the one by whom all things are created, and the Holy Spirit as the immanent cause of life and movement in the universe… The creation proceeds from the Father through the Son in the Spirit so that, in the Spirit and through the Son it may return to the Father.” Pandangan mengenai penciptaan sebagai pekerjaan dari ketiga Pribadi Allah Tritunggal dikembangkan oleh Athanasius dan tiga bapak gereja dari Kapadokia serta Agustinus yang kemudian diterima sebagai pandangan yang ortodoks oleh gereja.


Life and Light
"Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia"
Carson mengatakan “life and light are almost universal religious symbol.” Kemungkinan Yohanes menggunakan kedua terminologi tersebut untuk menyatakan bahwa Logos adalah jawaban atas seluruh pertanyaan sifat keagamaan manusia. Manusia membutuhkan hidup dan terang dan keduanya ada di dalam Kristus. Pada pasal-pasal selanjutnya nanti Yesus (Logos) sendiri mengatakan bahwa Ia adalah terang dunia (8:12; 9:5) dan hidup (11:25; 14:6). Selain sebagai simbol relijius yang universal ‘life’ dan ‘light’ juga terdapat di dalam konsep Taurat dimana keduanya diasosiasikan dengan jewish sources. Sehingga dengan menuliskan ayat 4 ini Yohanes mencoba mengikatkan konsep dan kebutuhan manusia akan hidup dan terang kepada Logos.

Para ahli menghubungkan ayat 4 ini dengan 5:26 “Sebab sama seperti Bapa mempunyai hidup dalam diri-Nya sendiri, demikian juga diberikan-Nya Anak mempunyai hidup dalam diri-Nya sendiri.” Karena itu penjelasan bahwa di dalam Logos ada hidup memiliki pengertian the Word/ Son shares in the life-existing life of God. Hubungan Allah dan Logos menjadi hubungan yang unik yakni Bapa dan Anak, hubungan ini memang tidak dijelaskan pada awal Injil ini namun nanti Yohanes akan menjelaskannya lebih dalam. Leon Morris melihat kalimat “hidup itu adalah terang manusia” dalam hubungan dengan konsep PL yang menyatakan Allah sebagai sumber dari terang dan hidup, misalnya Mazmur 36:9 “Sebab pada-Mu ada sumber hayat, di dalam terang-Mu kami melihat terang.” Pembacaan ayat ini dari perspektif Mazmur hanya menjelaskan bahwa Logos itu sendiri adalah sumber hidup manusia, dan juga terang bagi manusia.

Hidup dan terang tidak memiliki perbedaan makna yang signifikan, sama seperti yang dijelaskan oleh Carson bahwa kedua terminologi tersebut hanya simbol agama yang universal. Pada pasal-pasal selanjutnya konsep Yesus adalah terang akan menjadi sangat jelas. Tetapi pada ayat ini Yohanes hanya menyiapkan jalan dalam pikiran pembaca melalui Injil ini bahwa Yesus adalah life-bringer dan light-bearer.

Kata ‘light’ (terang) pertama kali muncul dalam Kej 1:3 “let there be light.” Allah (Theos/ Elohim) yang dalam konteks Yohanes mengacu pada Pribadi Logos, merupakan pencipta terang dan tentu saja menjadi sumber terang itu sendiri. Jadi alusi-alusi ini menjadi pesan Yohanes untuk mengatakan bahwa Logos adalah Pencipta, sumber hidup dan sumber terang bagi manusia. Dalam keseluruhan Injilnya, Yohanes menggunakan istilah life (hidup) sebanyak 28 kali, dan hampir seluruhnya mengacu kepada Yesus Kristus sebagai sumber kehidupan bagi manusia. Penggunaan kata hidup yang berulang-ulang memberikan suatu tema yang kuat dalam Injil Yohanes mengenai Yesus yang adalah Logos sebagai sumber kehidupan bagi manusia. Bahkan dalam tujuan penulisan Injil ini , Yohanes menuliskan “semuanya itu kutuliskan kepada kamu, supaya kamu yang percaya kepada nama Anak Allah, tahu, bahwa kamu memiliki hidup yang kekal."

Yohanes menegaskan bahwa Logos yang ia perkenalkan dalam Injilnya bukan saja memiliki hidup dalam diriNya tetapi juga berkuasa untuk memberikan kehidupan kepada siapa saja yang Ia kehendaki. Ia menguasai kehidupan itu sepenuhnya dan kehidupan yang Ia miliki bukan hidup yang diberikan kepadaNya tetapi Ia sendiri adalah sumber kehidupan tersebut. Tidak ada yang mampu mengambil kehidupan tersebut dari diriNya. Manusia bisa mati, karena manusia memiliki kehidupan yang sifatnya diberikan, bukan bersumber dari diri sendiri dan suatu waktu hidup itu akan diambil dari manusia. Hidup manusia bisa terhenti karena manusia tidak menguasai dan tidak kuasa untuk menentukan hidupnya sendiri. Hal ini sangat terbukti karena manusia tidak tahu kapan hidupnya berakhir, apakah ia akan mati hari ini atau besok adalah misteri bagi manusia.

Manusia pasti mati, tetapi Logos sanggup membangkitkan manusia dari kematian. Kematian bukanlah hal yang menakutkan bagi Logos, karena kematian tidak mampu menguasai Logos seperti kematian itu menguasai manusia. Maut yang menjadi momok bagi manusia itu takluk di bawah kaki Kristus sehingga Ia sendiri berkuasa untuk membebaskan manusia dari maut. Logos sanggup membangkitkan orang-orang yang mati untuk hidup kembali. Satu kisah penting yang muncul dalam tulisan Yohanes ini adalah catatan sejarah mengenai Yesus, Sang Logos, membangkitkan Lazarus yang sudah meninggal selama 4 hari. Ia membuktikan bahwa Ia sanggup memberikan nafas kehidupan kepada seseorang yang tubuhnya sudah membusuk. Yesus mengembalikan kehidupan Lazarus kembali normal seperti sedia kala. Memang Lazarus akhirnya mati kembali, namun Yesus menjanjikan suatu kebangkitan yang berbeda dengan kebangkitan yang Ia lakukan kepada Lazarus, suatu kebangkitan dari kematian menuju hidup yang tidak akan binasa selama-lamanya yakni hidup yang kekal. Logos adalah sang hidup yang mampu memberikan hidup yang kekal dan tidak seorang pun yang bisa memberikan apa yang Yesus berikan.

Life and Darkness
"Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya"
Dari peristiwa alamiah kita dapat mengerti bahwa fungsi terang adalah melenyapkan kegelapan. Terang dan gelap merupakan thesis dan antithesis, keduanya saling bertolang belakang. Tema peperangan gelap dan terang merupakan tema yang sangat penting dalam Injil Yohanes. Yohanes mengidentikkan kegelapan dengan perbuatan jahat (3:19) dan Yesus adalah terang yang datang bagi manusia tetapi manusia lebih menyukai kegelapan. Kemudian di pasal 8, Yesus mengajak orang banyak untuk mengikut Dia supaya manusia tidak lagi berjalan dalam kegelapan (8:12). Kegelapan membuat manusia kehilangan arah, kegelapan membuat manusia buta sehingga mereka tidak mengetahui apa yang ada disekitar mereka. Manusia dalam kegelapan tidak akan pernah dapat mencapai tujuan mereka. Karena itulah Logos berinkarnasi dan membawa terang itu ke dalam dunia. Keberadaan Yesus dalam dunia berarti dunia sedang diterangi oleh Terang dari Surga (12:35). Perkataan Yesus “walk while you have the Light” merupakan bagian yang memperjelas inkarnasi Sang Logos menjadi manusia.

Sejak ayat 1 sampai 4 (Yoh 1:1-4) Yohanes selalu menggunakan past tense, (In Him was life, and the life was the Light of men) namun pada ayat ini Yohanes menggunakan bentuk present tense (the Light shines). Yesus Kristus, sejak pre-eksistensi, adalah terang bagi manusia karena Dia adalah sumber terang yang sejati, namun pada waktu ia berinkarnasi terang itu hadir secara nyata di dunia, menerangi dunia yang gelap sehingga perbuatan yang jahat itu menjadi terlihat. Karena itulah inkarnasi Logos dalam dunia juga adalah misi untuk membawa terang ke dalam dunia supaya manusia tidak lagi hidup dalam kegelapan. Ayat 5 ini merupakan ayat pertama yang memberikan indikasi bahwa Logos yang ada sejak semula itu berinkarnasi dalam dunia manusia.

Peperangan terang dan gelap bukanlah peperangan 2 kekuatan yang sama kuat. Secara alamiah kita dapat melihat bahwa gelap bukanlah sebuah eksistensi, gelap hanyalah sebuah kondisi ketiadaan terang. Gelap menguasai jika dan hanya jika tidak ada terang. Namun ketika terang muncul kegelapan tidak mempunyai kuasa untuk melawan, kegelapan akan sirna ketika. Oleh karena itu Yohanes juga mengatakan bahwa kuasa kegelapan tidak akan pernah mampu mengalahkan Terang yang turun ke dunia.

DOWNLOAD PDF


READ MORE - Eksposisi Injil Yohanes 1:3-5 --- Logos dan Penciptaan